
Hari berikutnya Dira dan baby nya boleh pulang.... Awalnya Haris ingin menjemput mereka tapi karena sudah ada Sila dan Adit, maka Haris pun mengurungkan niatnya itu. Dia tau Sila kurang begitu suka padanya jika dia berdekatan dengan Dira.
"Assalamu'alaikum...nenek Hara pulang..." ucap Dira yang membuat Sila dan Adit saling berpandangan.
"Wa'alaikumsalam... Alhamdulillah... Neng Nitha sama cucu nenek sudah pulang..." sambut Bi Asih penuh suka cita. "Ayo semua masuk dan makan dulu...kalian semua pasti laper kan,sini biar si ganteng..." Bi Asih menggantung ucapannya.
"Hara nek...cucu nenek namanya Hara..." potong Dira.
"Hara? Jadi nama si ganteng ini Hara ya...? Duh nama yang bagus sekali..." ucap Bi Asih sambil netra tuanya tak lepas memandangi wajah ganteng Hara.
"Jadi nama baby mu Hara? Hara itu bukan singkatan dari Haris-Dira kan?" tanya Sila terdengar sedikit ketus dan penuh selidik.
"Idih...lu ngapain sih Sil? Bawaannya curiga dan su'udzon terus sama gue... Hara itu singkatan dari Hans dan Dira. Ya walaupun Mas Hans tidak mau mengakui dia sebagai putranya tapi kenyataannya dia adalah putra kandungnya... Otakku masih cukup waras untuk tidak membubuhkan nama orang lain di dalam nama anakku..." Netra Dira mulai kembali berkaca-kaca kala mengingat penolakan Hans padanya dan baby yang dikandungnya waktu itu. Dia juga sedikit kesal dengan ucapan Sila tadi.
"Duh maaf deh... jangan terus sedih dong... Gue kan tadi cuma becanda kali..." ucap Sila sambil berdiri dan memeluk Dira dari belakang lalu duduk disebelahnya. Sila benar-benar merasa bersalah karena ucapannya telah membuat Dira menjadi sedih.
"Bukan bermaksud membela siapa-siapa,tapi perlu lu tau kalo sebenarnya selama ini Kak Hans itu selalu nyariin kamu...Sebab dia kini sudah tau semuanya, tentang kebenaran dari prasangka buruknya padamu juga tentang kebenaran jika janin yang ada di kandungan lu itu adalah anaknya. Kak Hans sangat menyesali kebodohannya karena begitu mudahnya dia percaya sama omongan dan cerita Jessica, mantan pacarnya yang masih terobsesi dengan Kak Hans...." jelas Sila. Sementara Dira hanya diam tidak merespon semua penjelasan Sila tentang Hans, tangannya sibuk memainkan makan siang yang ada dipiringnya dengan pandangan kosong.
"Dir..." ucap Sila sambil memegang tangan Dira yang sedang bermain-main dengan makan siangnya. "Gue tau rasa sakit hati yang kau bawa saat lu datang ke sini. Gue juga tau betapa keterlaluannya sikap Kak Hans waktu itu... tapi bagaimana pun juga Kak Hans adalah papa kandungnya Hara,dia berhak tau jika lu sudah melahirkan putranya yang sangat sehat dan tampan... Pikiran lagi Dir, kesampingkan semua ego dan rasa sakit hati lu pada Kak Hans, demi Hara... karena Hara butuh kehadiran papanya di sampingnya... Pulanglah bersama kami, maafkanlah Kak Hans, atau kalau lu nggak mau pulang bersama kami, setidaknya biarkan gue kasih tau keberadaan lu di sini kepada Kak Hans...? Please Dir... gue hanya ingin yang terbaik buat lu dan anak lu..."
Dira masih tetap diam tak bergeming sedikitpun. Dia tau bahwa dalam tumbuh kembang Hara nantinya memang sangat membutuhkan kehadiran Hans sebagai papanya, tapi hatinya masih terasa sakit ketika dia mengingat semua perlakuan Hans padanya. Hingga selama sembilan bulan ini dia berada di sini sendiri tanpa seorang suami yang mendampingi dan membuat dia menjadi bahan gunjingan banyak orang juga menjadi pertimbangan Dira untuk tidak begitu saja menerima kehadiran Hans kembali. Dira masih diam tertunduk sedih, kemudian...
"Gue belum bisa jawab sekarang...Beri gue waktu untuk memikirkan semua ini terlebih dahulu..." Dira pun berdiri kemudian melangkah meninggalkan meja makan dan kedua sahabatnya yang masih berada di sana. Sementara dia pun segera masuk ke kamar tidurnya untuk menyambangi putranya.
Hara Andika Saputra
Dira membaringkan tubuhnya di samping Hara yang tengah terlelap dengan posisi miring ke arah putranya.
"Sayang... egois kah mama jika hingga detik ini mama masih belum bisa menerima papamu kembali bersama kita?" gumamnya sambil mengusap wajah putranya. Bersamaan dengan itu, butiran kristal bening pun lolos jatuh dari sudut netranya dan tidak lama kemudian Dira terisak di samping putranya.
"Kenapa neng...?"
__ADS_1
Saking fokusnya Dira pada anaknya sampai Dira tidak mengetahui ketika Bi Asih masuk ke dalam kamarnya. Dira menoleh lalu duduk kemudian memeluk Bi Asih yang telah berada disampingnya.
"Lakukan apapun itu sesuai dengan suara hati Neng Nitha... jangan memaksa untuk berbuat sesuatu hanya demi menyenangkan orang lain. Neng Nitha berhak menentukan jalan hidup Neng Nitha sendiri... selanjutnya biarkan takdir Allah yang menuntun langkah Neng Nitha menuju kebahagiaan hidup...Neng Nitha paham maksud bibi kan?" Dira menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
🌹🌹🌹
Di teras rumah...
"Ay...aku heran sama Dira...kok segitu bencinya dia sama Kak Hans, sampai-sampai dia tega membiarkan Kak Hans tidak mengetahui kelahiran Hara... Apa jangan-jangan sebenarnya Dira sudah mulai merasa nyaman dengan kehadiran dokter Haris ya?" Sila masih saja curiga adanya hubungan antara Dira dan Haris.
"Hush... jangan suka su'udzon sayang, apalagi sama sahabat sendiri..."
"Habisnya kemarin kamu lihat sendiri kan pas Dira masih berada di rumah sakit? Menurutku perhatian dokter Haris itu berlebihan untuk seorang dokter pada pasiennya. Terlalu naif jika kita menganggap tidak ada apa-apa di antara mereka..."
"Bukannya mereka mengakui bahwa hubungan mereka hanya sebatas sahabat?"
"Dan kamu percaya akan hal itu? Kalo aku mah enggak... Aku jadi kasian sama Kak Hans, dia sudah menyesali perbuatannya dan sudah pontang panting mencari keberadaan Dira, tapi di sini Dira malah asik-asik dengan orang lain..."
"Sayang tolong jaga bicaramu... jaga juga perasaan Dira... Biarkan dia menentukan sendiri jalan mana yang akan dia lalui. Jangan sampai ucapanmu kepada Dira itu membuat dia merasa terpojok dan merasa diprovokasi..." ucap Adit kepada Sila.
"Iya...menurutku alangkah bijaksananya jika kamu tidak ikut dalam urusan rumah tangga Dira dan Kak Hans terlalu jauh. Kasihan Dira nya... ya walaupun aku tau maksudmu sebenarnya itu baik..." ucap Adit hati-hati supaya Sila tidak marah atau pun tersinggung.
"Kamu nyalahin aku ay?"
Adit menggenggam tangan kekasihnya.
"Bukan nyalahin sayang...tapi aku hanya ngingetin. Kita bertiga itu kan bersahabat sudah sejak lama... dari sejak kita masih berseragam putih biru dan sejak dulu pula kita memang selalu ada buat Dira, ketika Dira menghadapi masa-masa sulitnya kita memang selalu menemani dan membantu Dira menyelesaikan masalahnya. Tapi masa sulit kali ini berbeda dari masa sulit Dira jaman dahulu. Ini menyangkut rumah tangga Dira dan Kak Hans, yang bukan kapasitas kita lagi untuk masuk ke dalamnya. Saat ini kita hanya bisa menyarankan tapi kita tidak bisa memaksakan..."
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Sila.
"Menunggu dan menghargai apapun keputusan Dira nanti... Tanpa memaksa dan tanpa berprasangka. Kita kenal betul kepribadian Dira itu seperti apa... aku percaya Dira akan tetap setia pada Kak Hans, apalagi sekarang ada Hara di antara mereka, semua hanya masalah waktu saja... Jangan sampai persahabatan kita menjadi canggung karna kita terlalu mendesak Dira untuk segera kembali pada Kak Hans... Paham?"
"Iya..." Sila menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "Terimakasih sudah mengingatkan aku ya ay..."
__ADS_1
"Iya..." Aditya pun kini yang ganti menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Sil...Dit...gue sudah punya keputuskan..." ucap Dira tiba-tiba membuat kedua sahabatnya itu terkejut.
"Apa keputusan lu?" tanya Sila, tapi Dira malah terdiam dan memandang Sila dengan intens.
"Apapun keputusan lu, gue dan Adit akan selalu mendukung lu..." ucap Sila lagi.
"Gue belum mau pulang ke Jakarta... tidak pulang bersama kalian atau pun pulang di jemput oleh Mas Hans. Gue justru memohon kepada kalian,agar tetap merahasiakan tempat tinggal gue sekarang, karena gue masih ingin menikmati ketenangan hidup gue di sini. Masalah Mas Hans... biarlah takdir Allah yang nanti menuntun kami untuk bertemu... Terimakasih atas perhatian kalian sama gue dan maaf jika gue belum bisa memenuhi keinginan kalian..,."
Dira ternyata masih belum mau bertemu dengan Hans, suaminya walaupun dalam hati kecilnya Dira begitu merindukannya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Hai Reader... terimakasih masih setia menanti kelanjutan cerita Author...
Maaf jika slow update ya...
Ayo tinggalkan jejak kalian dengan like,koment,vote N giftnya...
__ADS_1
Love U All...