
Hans keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya, membuat Dira melotot sejenak tapi kemudian segera membalikkan badan memunggungi suaminya sembari memalingkan wajahnya ke arah lain.
'Huh dasar om-om gila... apa maksudnya coba, keluar kamar mandi cuma pake handuk macam gitu. Mo pamer bentuk badannya? Tapi emang bagus sih...hi hi hi... Gue nggak nyangka, badan laki gue oke juga, tapi gue malu juga liat melihatnya, secara baru kali ini gue liat badan cowok telanjang gitu...'
"Lho kok malah balik badan sih? Kenapa juga harus memalingkan wajah?"
"Habisnya mas norak ih... kenapa sih tadi nggak sekalian bawa baju..." ucap Dira yang masih melihat ke arah lain.
"Ngapain mesti pake baju kalo pada akhirnya nanti juga bakal di lepas lagi..." ucap Hans yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam selimut Dira sambil memeluk erat tubuh istrinya dari belakang.
"Iiih apaan sih mas, nggak lucu deh... Dasar om-om mesum... " Dira menggeliat-geliat geli ketika suaminya mulai menciumi area tengkuk dan telinganya. Area yang menjadi salah satu kesukaan Hans, karena di area itulah... Dira selalu langsung merespon cepat keinginannya.
"Mesum sama istri sendiri kan nggak papa sayang... sudah halal ini..." Perlahan Hans membalikkan badan Dira,dan kini mereka sudah saling berhadapan. "Maafin mas ya sayang... Jangan marah-marah lagi ya... Mas itu sayang dan cintaaa banget sama kamu..." ucap Hans lirih dengan suara yang mulai terdengar parau dan deru nafas yang mulai terasa tidak beraturan. Sementara Dira hanya mampu menanggapi ucapan suaminya dengan anggukan kepalanya, karena dia pun kini sudah mulai ter*******ng dengan sentuhan-sentuhan lembut tangan suaminya yang sudah bergerilya sejak tadi.
Dan demi melihat istrinya yang sudah mulai membuka diri, Hans pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, disambarnya bibir istrinya... lalu dilu*******nya dengan lembut sambil tangannya terus mengabsen setiap inchi tubuh istrinya. Hingga pada akhirnya terjadilah pergulatan malam yang indah di antara mereka berdua.
🌹🌹🌹
Adzan Subuh berkumandang dengan merdunya, membuat dua insan yang sedang di landa asmara itu menggeliatkan tubuhnya dan mengerjapkan kedua netra mereka.
"Selamat pagi sayang..." ucap Hans menyapa belahan jiwanya.
"Selamat pagi mas..." Seutas senyum manis disuguhkan Dira untuk suaminya. Tapi bukannya bangun, Dira malah kembali melingkarkan tangannya ke tubuh suaminya.
"Hei... kenapa? Masih mau? Ini udah subuh loh..."
"Mau gini aja sebentar... boleh kan?"
"Boleh-boleh aja... tapi kalau ada yang bangun lagi, kamu harus tanggung jawab ya..." Dira seketika tersentak kaget mendengar ucapan suaminya. Dengan refleks, Dira pun kemudian mendorong tubuh Hans agar menjauh dan segera bangkit dari tempat tidur.
"Iih apaan sih... Ayo bangun terus mandi... keburu waktu subuhnya habis..." ucap Dira sambil mengambil kimononya.
"Ha ha ha... Mandi bareng ya sayang..." pinta Hans.
"Ogah ah...tar mandinya jadi lama..." Dira pun buru-buru ngeloyor pergi ke kamar mandi, tapi ternyata tangannya kalah cepat dengan gerakan Hans ketika Dira hendak menutup pintu kamar mandi.
"Maaaasss..." teriak Dira melihat keisengan suaminya. Hans yang masih tak berbusana pun segera masuk tanpa permisi ke kamar mandi dan akhirnya Dira pun tidak bisa menolak kemauan suaminya untuk mandi bersama setelah Hans juga meminta haknya kembali sebelum ritual mandi bersama di dalam sana.
Tidak ada yang aneh sebenarnya jika Hans seolah selalu haus untuk menyalurkan hasratnya kepada istrinya, karena biarpun pernikahan mereka sudah berumur lima tahun tapi selama itu juga mereka telah terpisah. Dan baru beberapa minggu ini mereka kembali bersama lagi.
"Sayang... bagaimana menurutmu jika kita agendakan untuk pergi berbulan madu?" tanya Hans sambil melipat sajadahnya.
"Pergi bertiga bersama Hara kan?"
__ADS_1
"Kok bertiga sih...ya berdua dong..." ucap Hans sambil memeluk Dira dari belakang dan menciumi bahu istrinya yang aroma tubuhnya kini seperti candu bagi Hans.
"Terus Hara gimana?" tanya Dira lagi sambil berusaha menghindar dari ciuman suaminya.
"Hara mah banyak yang ngurus... apalagi dia anaknya mandiri dan cerdas. Untuk anak usia empat tahun, Hara adalah anak yang kecerdasannya di atas rata-rata anak seusianya. Dia juga begitu gampang di beri pengertian... jadi kamu nggak perlu kuatir, sudah bisa dipastikan, akan ada banyak orang yang bersedia kita titipin dia... Dan seandainya tidak ada yang dititipin pun ada Bi Asih di rumah. Hanna juga sebentar lagi pulang kan? Ada Erik juga di rumah ini... Pokoknya, nggak usah kuatir deh...ya... ya..." bujuk Hans sambil membalikkan badan istrinya.
"Tapi mas... aku... aku nggak biasa jauh dari Hara..."
"Kan tidak selalu jauh... paling cuma seminggu... nggak lama kok...ya... please..." rengek Hans kepada istrinya, seperti anak kecil. Dira pun jadi ingin tertawa melihat tingkah suaminya itu.
"Kita pikirkan nanti ya mas... Hara juga baru senang-senangnya bertemu dengan papanya, mosok udah mau di tinggal aja, kan kesian...'cup'..." Dira mencuri ciuman di bibir suaminya.
"Iih udah mulai berani nakal ya sekarang..." seru Hans yang terkejut karena tidak pernah menyangka jika Dira mau menciumnya duluan.
"Ha ha ha..." Dira tertawa karena dengan ciumannya, dia bisa terlepas dari kungkungan tangan kekar suaminya.
"Ayo ah...mas bercanda mlulu, katanya kita mau ke rumah papa pagi-pagi kan...? Dira liat anak--anak dulu ya..." Hans mengangguk sambil tersenyum memberikan ijin pada istrinya.
'Drrtt...' tiba-tiba Hans mendengar suara getaran ponsel dan ternyata itu suara getaran ponsel Dira. Hans ingin menerima panggilan telpon yang masuk di ponsel Dira, tapi dia ragu-ragu karena dia tidak ingin mengusik urusan pribadi Dira. Dia sudah berjanji tidak akan ikut campur urusan pribadi Dira selama bukan Dira sendiri yang mengijinkannya.
'Drrtt...' ponsel Dira kembali bergetar membuat Hans jadi penasaran, siapa yang menghubungi istrinya pagi-pagi. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat tulisan di layar ponsel Dira...'HARIS'. Hans ingin menerima panggilan itu tapi akhirnya dia memilih untuk memberikan langsung pada istrinya, sekalian dia ingin mengetahui ekspresi wajah istrinya jika mengetahui dirinya di telpon oleh Haris.
"Wah gantengnya jagoan papa... udah siap bertemu opa sama oma ni...?" tanya Hans pada putranya.
"Oya...very good... good job boy..."
"Sekarang tunggu di bawah, mama mau beresin kamar kalian dulu..."
"Iya ma... Papa nggak ikut ke bawah?" tanya Hara melihat papanya masih berdiri di pintu kamarnya.
"Papa kan mau bantuin mama dulu..." jawab Hans sekenanya.
"Ooo..." Hara dan Erik pun langsung turun ke lantai bawah. Kemudian Dira melirik ke arah suaminya.
"Mau bantuin apa papa...? Kok malah cemberut..." goda Dira melihat wajah suaminya menjadi suram setelah Hara dan Erik turun. Hans tidak menyahut candaan Dira, dia hanya menyodorkan ponsel Dira.
"Kenapa?"
"Ada telpon...nih..." ucap Hans ketus lalu hendak melangkah pergi. Dira tau ada yang tidak beres dengan suaminya, untuk itu tangannya pun segera meraih tangan suaminya untuk mencegah suaminya itu pergi.
"Dari siapa sih...? Kenapa nggak di angkat aja....?" tanya Dira dengan lembut. Dira melihat layar ponselnya sambil tersenyum..."Ooo... telpon dari dokter Haris? Kenapa tidak mas terima?"
"Dia kan telpon kamu...bukan aku..."
__ADS_1
Dira tersenyum lalu mengusap layar ponselnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih memegang erat tangan suaminya, kemudian melingkarkan tangan suaminya ke pinggangnya. Dira memilih menyalakan speaker, agar Hans bisa ikut mendengarkan.
📞 "Ya halo... Assalamu'alaikum dok..."
📞 "Wa'alaikumsalam..."
Obrolan pun berlanjut, rupanya dokter Haris mengabarkan jika bulan depan dia hendak menikah dengan Sekar, wanita yang menjadi pilihan Dira.
📞 "InsyaAllah kami berempat dengan Bi Asih akan datang menghadiri pernikahan dokter. Terimakasih atas undangannya..."
📞 "Kami tunggu selalu... Assalamu'alaikum..."
📞 "Wa'alaikumsalam..."
Dira mengakhiri obrolannya dengan dokter Haris lalu tersenyum ke arah suaminya.
"Dira sudah membuktikan bahwa Dira tidak ingin ada rahasia di antara kita kan mas...?" Hans mengangguk sambil tersenyum.
"Terimakasih sayang... maafin mas ya... soalnya tadi mas sempat berprasangka buruk... Habis mas selalu tidak bisa mengendalikan rasa cemburu mas, jika ada laki-laki yang selalu berusaha mendekati istri mas yang paling cantik ini..."
"Halah gombal..." Hans memeluk Dira erat sambil menciumi istrinya, sementara dari balik pintu kamar tidur tamu yang sedikit terbuka, ada sepasang mata yang sejak tadi memandang iri dengan kemesraan mereka. Sepasang mata yang masih menyimpan rasa cemburu di hatinya... sepasang mata milik Jessica,..
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Hai Reader... terimakasih atas semua bentuk dukungan yang telah kalian berikan...
Yok buat yang belum ninggalin jejak...
Buruan tambahkan like,komen,vote N giftnya yaaaa... Terimakasih...😍😍😍
__ADS_1