
Hans membuka pintu ruang VVIP, kamar tempat Dira di rawat. Ada rasa berdebar nyeri ketika melihat wanita cantik itu terbaring lemas tak berdaya di atas ranjang pasien. Selang infus dan selang oksigen terpasang di sana, membuat hatinya seperti teriris-iris. Dia pun menjadi geram dan emosi mengingat apa yang telah terjadi pada istrinya, dan dia pun berjanji tidak akan membiarkan orang yang telah mencelakai Dira itu bebas begitu saja.
"Maas..." panggil Dira lirih membuyarkan lamunannya.
"Eh iya sayang..." jawab Hans gugup.
"Kenapa hanya berdiri di situ...ke sini..." Hans pun mendekat kepada Dira sambil tersenyum tapi tidak pernah ada yang tau bahwa di dalam hatinya diam-diam Hans sedang mengumpulkan keberanian untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari istrinya nanti.
"Duduklah... kenapa mas hanya berdiri saja?" Hans duduk namun sebelumnya dia mencium kening istrinya yang terbalut perban lalu turun ke bibir istrinya yang manis.
"Apakah masih terasa sakit?" tanya Hans sambil mengusap luka di pelipis kanan Dira. Dira menggeleng pelan.
"Sudah tidak begitu sakit, hanya saja... kenapa Dira merasa ada yang aneh di daerah sini..." Dira menarik tangan Hans ke arah perutnya. "Apa sebenarnya yang sudah terjadi pada Dira mas? Kenapa Dira merasa perut Dira seperti kosong?"
'Deg'
Jantung Hans seolah berhenti berdetak mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya. Dia ingin mengatakan yang sebenarnya tapi dia masih takut untuk menyampaikannya. Apalagi mengingat kondisi Dira yang mempunyai riwayat penyakit jantung.
"Mungkin karena kamu lapar sayang... kamu kan belum sempat makan tadi siang..." Hans masih belum sanggup mengatakan yang sebenarnya kepada Dira.
"He he he... iya kali ya..."
"Kamu mau makan apa? Ada request masakan? Nanti biar mas suruh Jono untuk beli atau mau masakan Pak Mus aja? Biar mas telpon orang rumah? Atau kita mau delivery order aja? Tapi di ponsel mas nggak ada aplikasinya... di ponselmu ada kan? Coba mas liat..." Dira hanya diam saja, tidak menanggapi ucapan Hans namun netranya intens menatap wajah suaminya, membuat Hans salah tingkah.
"Sayang... kenapa?"
"Tidak apa-apa..." jawab Dira datar.
"Tapi kenapa kamu menatap mas seperti itu? Apa karena mas ganteng ya...? He he he..." Hans terkekeh sendiri.
"Apa yang mas sembunyikan dari Dira?"
"Sembunyikan apa sayang? Mas tidak menyembunyikan apa-apa..."
"Dira kenapa mas... apa yang terjadi pada Dira? Tolong katakan dengan jujur mas, jangan sembunyikan apapun itu dari Dira..."
"Tapi sayang..."
"Please... Dira berhak tau apa yang telah terjadi pada Dira kan?" Hans pun berpindah tempat duduk, kini dia berada di samping Dira sambil merangkul pundak istrinya.
"Sayang..." Hans terdiam sejenak, sementara Dira menoleh ke samping untuk kembali menatap wajah suaminya. "Hara... Hara tahun ini belum jadi punya adik..." Hans merapatkan tubuh istrinya sambil mencium pucuk kepala Dira.
"Maksudnya... hiks hiks hiks..." Dira mulai menangis setelah sesaat dia berusaha mencerna ucapan suaminya.
"Iya sayang... dokter sudah berusaha tapi adiknya Hara tidak bisa dipertahankan..."
__ADS_1
"Astaghfirullah haladziim... ibu macam apa aku ini, untuk menjaga buah hatiku saja aku tidak bisa... hiks hiks hiks... maafkan Dira mas... hiks hiks hiks... maaf karena Dira tidak bisa menjaga anak kita... hiks hiks hiks..." Dira menangis sejadi-jadinya sambil memegang dada kirinya yang tiba-tiba merasa begitu nyeri.
"Sayang ini bukan salahmu... dan mas pun tidak menyalahkanmu. Ini adalah takdir sayang, mungkin memang belum waktunya kita menimang momongan kembali... Jangan menyalahkan dirimu sendiri... Istighfar..." Hans memeluk erat istrinya, sedangkan Dira masih terus menangis hingga tiba-tiba tangisnya tidak terdengar dan tubuhnya pun tiba-tiba melemah. Ternyata Dira pingsan sambil memegang dada kirinya. Melihat keadaan istrinya, Hans pun menjadi terkejut, kemudian dia memencet tombol panggilan dokter.
Tak berapa lama dokter Iwan pun datang untuk memeriksa kondisi Dira.
"Bagaimana keadaan istri saya dok? Kenapa dia tiba-tiba pingsan?"
"Istri tuan punya penyakit jantung bawaan, dalam situasi tertentu penyakitnya akan datang, terlebih di saat beliau merasa sedih yang berlebihan atau dalam keadaan tertekan. Sejauh ini memang masih bisa tidak begitu membahayakan tapi jika beliau terus menerus dalam kondisi tidak nyaman, penyakit beliau bisa mengancam keselamatan jiwanya..." jelas dokter Iwan.
"Lalu apa yang harus saya lakukan untuk bisa mencegah serangan jantung itu datang?"
"Jaga pola makan, waktu istirahat yang tepat, jangan kecapekan, olahraga-olahraga kecil dan yang paling penting adalah memberikan rasa nyaman pada istri tuan, jangan buat Nyonya Andira merasa tertekan jiwanya... Dan untuk kali ini, karena Nyonya Andira baru saja mengalami hal yang pastinya membuat beliau merasa bersalah, maka tugas tuan sebagai seorang suami harus bisa menyemangatinya dan saya harap orang-orang di sekitar nyonya juga bisa membantu menentramkan hatinya..."
"Baik dok... InsyaAllah saya akan perhatikan semua saran dokter. Oya dok, kira-kira kapan istri saya boleh pulang?"
"Jika hari ini beliau sudah bisa stabil kondisinya, besok siang sudah bisa pulang..."
"Oke kalo begitu... terimakasih atas bantuannya dok..."
"Sama-sama tuan, ini semua sudah menjadi kewajiban saya..."
Dira sudah mulai tenang dan bisa menerima kenyataan, semalaman dia terus berdo'a agar mendapat kekuatan dari Allah.
"Seriusan mas, Dira sudah tidak apa-apa... Dira memang masih sedih sih tapi Dira sudah bisa menerima semuanya dengan ikhlas kok.... Makanya ayo kita pulang mas... Dira kangen Hara..." rengek Dira dengan mata yang berkaca-kaca, membuat Hans tak kuasa menolak permintaan istrinya.
"Mas tanya dokter dulu ya...?"
"Pulang..." ucap Dira dengan nada manja.
"Iya.... mas ketemu dokter Iwan dulu ya..." Dira mengangguk patuh.
Tak berapa lama Hans datang bersama dokter Iwan untuk melakukan pemeriksaan terakhir sebelum Dira diijinkan pulang.
Netra Dira berbinar-binar ketika dokter Iwan mengijinkan dirinya pulang ke rumah tanpa menunggu waktu siang.
Mobil sedan mewah milik Hans pun keluar dari halaman rumah sakit, dikemudikan oleh Pak Jono. Hans memang tidak mau mengemudi sendiri, dia hanya ingin berada di sisi istrinya.
Sepanjang perjalanan Dira hanya berdiam diri saja, pandangannya menatap keluar jendela menyapu keramaian jalan ibukota. Sementara Hans sedang sibuk membalas sebuah chat penting dari Alex tentang tersangka yang telah mencelakai Dira siang itu. Dan kini Hans sudah mengantongi nama orang yang menjadi penyebab Dira kehilangan calon bayinya. Tapi untuk sementara waktu Hans masih belum melakukan tindakan apa-apa, Hans masih ingin bertanya kepada istrinya kejadian yang telah dialaminya di dalam toilet siang itu. Mengingat CCTV hanya di pasang di luar toilet saja, jadi hanya Dira dan si pelaku lah yang mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Sejak kemarin, seharusnya Hans bisa saja langsung bertanya kepada Dira, tapi mengingat kondisi kesehatan Dira, membuat Hans mengurungkan niatnya itu. Dan hari ini, setelah Dira diijinkan pulang, Hans bermaksud menanyakan kejadian sebenarnya yang telah dialami oleh Dira.
Mobil Hans sudah memasuki halaman, dan betapa terkejutnya mereka karena kedatangan mereka ternyata telah di sambut oleh keluarga besar mereka. Ada keluarga dari pihak Dira, ada juga keluarga dari pihak Hans yaitu Nenek Amirah dan Anita beserta suaminya. Bahkan Ina dan suaminya,Tiara dan Alex, tak ketinggalan Sila dan Adit pun ada di sana.
Dira menangis haru dalam pelukan Sila yang pertama menghampirinya.
__ADS_1
"Yang sabar ya..." Dira hanya bisa mengangguk dalam isakannya. Sila pun kemudian membimbing Dira menemui orang-orang yang sudah menunggunya. Memeluk mereka satu per satu hingga akhirnya Dira bersujud... sungkem di hadapan Amirah yang tengah duduk di sofa.
"Nenek... maafkan Dira selama ini ya nek... Dira pergi tanpa pamit dan setelah datang pun Dira belum sempat menjenguk nenek. Dan kini ketika Dira mendapat musibah, nenek datang menyambangi Dira... hiks hiks hiks..."
Amirah tersenyum lalu membimbing Dira untuk bangkit dari sujudnya dan kemudian didudukkan disampingnya.
"Kamu anak baik, terbukti kamu masih menjaga kesucianmu selama lima tahun berpisah dengan cucu nenek yang tidak tau diri itu... Jadi tidak ada alasan bagi nenek untuk tidak memaafkanmu..."
"Terimakasih nek..." Dira memeluk Amirah neneknya Hans.
Seperdetik kemudian mereka pun asik bercerita satu dengan yang lain.
Hans berjalan menuju ruang kerjanya, namun langkahnya terhenti ketika Damar menghampirinya.
"Apa kakak sudah tau siapa pelakunya?"
"Untuk apa kamu bertanya?" jawab Hans datar.
"Aku hanya ingin tau saja, siapa yang berani mencelakai Dira..."
"Kalau sudah tau mau apa? Ingat Damar, Dira itu istriku jadi... adalah kewajibanku untuk menjaganya. Kamu tidak perlu repot-repot memikirkan istriku... apalagi sampai menyatakan cinta berulang-ulang padanya. Dira tidak pernah kekurangan cinta dariku, itulah makanya dia tidak butuh cinta dari orang lain. Kita urus saja keluarga kita masing-masing..."
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Maaf Slow Update...
Ditunggu jejakmu untuk penyemangatku...
Like, komen, vote N giftnya...
Thank U ya....😘😘😘
__ADS_1