Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Datang Untuk Kecewa


__ADS_3

Pesawat yang membawa Dira terbang ke Malaysia sudah landing dengan sempurna di Bandara Internasional Kuala lumpur. Dira keluar dari pintu kedatangan, netranya menyapu para penjemput untuk mencari orang yang membawa papan nama bertuliskan namanya.


"Selamat malam,maaf tuan...saya Andira Saputra dari Indonesia... Apakah tuan yang menjemput saya?" tanya Dira dengan sopan kepada seorang lelaki paruh baya yang membawa papan bertuliskan namanya.


"Ah ya... perkenalkan name saye Harun, panggil saye Pak Cik Harun. Tuan Hans memanggil saye begitu..."


"Oooh Pak Cik Harun kenal suami saya?"


"Tentu...tentu... kemanapun Tuan Hans pergi,saye yang selalu mengantarnya... Mari silahkan masuk..." Harun membukakan pintu untuk Dira,lalu memasukkan koper kecil Dira ke bagasi.


"Ooo... jadi ini rupanya bidadari Tuan Hans? Maaf... nyonya cantik sangat, pantas saje waktu kali pertame saye ada hantar Tuan Hans ke hotel, beliau tampak kusut karena rindu. Katenya beliau baru kali pertama dinas ke luar negeri dengan meninggalkan istri di rumah..., jadi sesampainye di sini, beliau berase ingin balik lagi ke Indonesia...ha ha ha..."


"Benarkah begitu? Pak cik bisa saja" tanya Dira tersipu.


"Tentu saja betul... Oya nyonya,kita langsung ke apartemen kah,atau kita hendak mampir membeli sesuatu..."


"Kita langsung ke apartemen saja, bukankah Mas Hans...eh maksud saya suami saya sudah ada di apartemen?"


"Ah iya nyonya, seharusnya memang tuan masih ada di apartemen...saye baru saje mengantar tuan pulang, sampai akhirnya saye dapat panggilan telpon untuk menjemput nyonya..."


"Oya? Siapa yang menelepon Pak Cik Harun?"


"Tuan Alex...katanya beliau adalah kakak nyonya..."


"Iya,dia kakak terbaik saya..."


"Nyonya,kita sudah sampai... Nyonya mau saye antar sampai atas atau nyonya saye antar sampai sini saje?"


"Pak Cik Harun antar saya sampai sini saja tolong kasih tau saja alamat kamar suami saya..."


"Oh bilik tuan lantai 7 nomer 07,biliknya tak jauh dari lift..." terang Harun.


"Oke terimakasih pak cik... sampai ketemu lagi..."


Dira pun masuk ke apartemen mewah itu, setelah memperlihatkan identitasnya,Dira pun di antar oleh seorang pegawai apartemen sampai lantai 7 dan menunjukkan letak kamar Hans. Setelah faham,Dira pun segera melangkah menuju kamar apartemen suaminya. Tapi di tengah langkahnya,Dira terhenti karna mendengar tiga orang wanita tengah memperbincangkan suaminya.


"Gile lu Jess...pake ilmu pelet apa sih lu sampe Si Hans itu sekarang nempel lagi sama lu..." ucap seorang wanita yang memanggil temannya 'Jess'.


'Jess? Apakah itu Jessica? Mantan pacar Mas Hans yang pernah mengancamku dulu? Dia ada di sini dan kembali dekat dengan Mas Hans lagi? Astaghfirullah... apakah mereka menjalin hubungan lagi? Apakah dia yang telah membuat Mas Hans salah faham denganku? Ataukah Mas Hans sengaja menuduhku selingkuh untuk menutupi perselingkuhannya dengan Jessica? Astaghfirullah haladziim... Astaghfirullah haladziim...' Dira menyandarkan tubuhnya yang tiba-tiba lemas pada dinding. Berkali-kali mulutnya beristighfar demi menguatkan hatinya, mendengar obrolan mereka.

__ADS_1


"Menurutku...mungkin sebenarnya kalian ini jodoh. Secara setelah lu menjanda karna suami lu meninggal...eee...kok secara tiba-tiba juga istrinya Hans ketauan selingkuh...So saat ini lu punya lebih banyak peluang kan?"


"Iya sih... dengan sedikit rayuan saja,gue yakin Hans pasti akan segera menceraikan istrinya itu..."


"Setuju...! Gue juga yakin itu... cinta Hans sama lu itu terlalu besar untuk bisa membuat Hans berpaling pada wanita lain. Apalagi pada bocah ingusan macam istrinya itu...?"


"Betul banget tuh..."


"Memang sih tapi... gue masih belum bisa naik ke ranjangnya euy... dia juga masih belum mau naik ke ranjang gue. Tapi gue yakin pertahanannya nggak akan bertahan lama. Semalam aja Hans sudah mulai diam waktu gue menyentuh pipinya, ya walaupun semalam dia dalam keadaan mabuk sih... Tapi biasanya dia itu tersentuh kulit tangannya saja, bakal marah-marah gitu deh... Sepertinya gue emang kudu lebih sabar ngadepin dia..."


"Ya...asal ditelatenin,gue yakin nggak akan butuh waktu lama..."


"Yah semoga..."


"Oya Jess, malem ini kita jadi keluar kayak kemaren kan?"


"Jadi dong..." jawab Jessica.


"Laki lu ikut juga?"


"Iya dong tapi dia tadi pamit gue mau tidur dulu sebentar,palanya pusing katanya,tar jam sepuluhan deh gue bangunin..."


"Kenape? Hans sakit?"


"Ooo kirain pusing karna semalam kebanyakan minum..."


"Bukanlah...Hans minum kan bukan kali ini aja... lagian semalam dia minum nggak begitu banyak kok jadi nggak mabuk parah gitu... Eh tapi kalian tau nggak, semalem Hans kasih ini ke gue..."


"What? Itu kan kunci apartemen dia kan?" Jessica mengangguk.


"Itu artinya dia udah mulai percaya sama gue..."


"Br*******k juga lu Jess...ha ha ha..." Mereka bertiga pun tertawa.


"Makanya gue bilang nggak bakal lama lagi dia pasti jadi milik gue. Seperti kalian tau, dia begitu mudah gue yakinkan untuk pindah ke apartemen ini. Kalian tau nggak maksud gue apa dia gue suruh pindah sini?"


"Lah biar bisa lu pantau lah pastinya..."


"Betul... 💯 buat Anya...ha ha ha..." Mereka bertiga pun kembali tertawa bahagia...

__ADS_1


Sementara itu tubuh Dira semakin terasa lemas mendengar obrolan Jessica bersama kedua temannya. Perutnya yang dari tadi baik-baik saja pun, tiba-tiba terasa mual.


'Aku harus kuat... walaupun aku tidak akan kuat jika bertemu Mas Hans dalam keadaan seperti ini...' gumamnya dalam hati.


Perlahan Dira melangkah mendekati kamar bernomor 07,lalu diketuknya pintu kamar itu.


'Tok tok tok...'


"Masuk aja Jess... bukannya kamu punya kuncinya kan? Aku lagi mau mandi ni..."


'Astaghfirullah... sejak kapan Mas Hans mengijinkan orang lain masuk ke kamarnya ketika dia akan mandi...? Sudah sedekat itukah mereka? Berarti benar kata Jessica pada teman-temannya tadi... berarti semalam Mas Hans memberikan kunci kamarnya dalam keadaan sadar... tidak dalam keadaan mabuk...'


'Tok tok tok...' Dira kembali mengetuk pintu kamar Hans,lalu meletakkan sebuah amplop warna coklat berisi dokumen-dokumen berserta rekam medis tentang kehamilannya. Dan tanpa menunggu Hans membukakan pintu,Dira pun segera pergi meninggalkan apartemen itu.


'Eh...kok sepi...tadi jelas kok aku dengar ada orang yang mengetuk pintu kamarku. Tapi kok tidak ada orang? Apa hanya orang iseng aja ya?' gumam Hans sambil akan menutup pintu. Tapi tiba-tiba netranya menangkap sebuah amplop tebal seukuran HVS, diambilnya amplop itu lalu dibawanya masuk ke kamarnya. Setelah itu, amplop itu di taruh di atas meja, kemudian dia tinggal melanjutkan ritualnya membersihkan diri alias mandi.


Hans membolak-balikkan amplop coklat itu, seperti ragu untuk membukanya. Sampai akhirnya ada pesan masuk ke ponselnya.


📥 "Assalamu'alaikum...maaf mengganggu...Dira tadi datang tapi sepertinya mas sedang menunggu seseorang, yang pastinya bukan Dira. Sebenarnya banyak yang ingin Dira bicarakan dengan mas tapi sepertinya akan sia-sia juga. Dira tau, saat ini mas sudah punya kegiatan baru yaitu minum-minum bersama seseorang yang telah mampu menggeser posisi Dira di hati Mas Hans. Atau mungkin lebih tepatnya seseorang yang tidak pernah bisa tergeser kedudukannya di hati Mas Hans walaupun saat ini Mas Hans sudah punya istri Dira."


📥 "Tapi bukan itu tujuan Dira datang jauh-jauh dari Indonesia ke Malaysia. Dira hanya ingin membersihkan nama Dira dari tuduhan perselingkuhan yang pernah mas tuduhkan pada Dira. Dira juga ingin memberikan bukti yang sangat akurat tentang kehamilan Dira saat ini. Demi Allah demi Rasulullah,janin yang ada di rahim Dira adalah anak Mas Hans. Tidak ada orang lain yang menyentuh Dira seujung kuku pun selain Mas Hans."


📥 "Silahkan mas buka amplop coklat itu baca dan tanyakan pada dokter ahli kandungan di sana jika mas ingin membuktikan kebenaran dokumen dan rekam medis tentang kehamilan Dira. Didalamnya ada hasil USG nya... walaupun dia masih sebesar biji kecambah,tapi dia anak kita...buah hati kita..."


📥 "Diakui atau tidak diakui, itu hak Mas Hans, Di sini Dira hanya ingin mengungkap kebenaran...bukan menuntut pengakuan. Karna setelah mas selesai membaca pesan ini,mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi. Dira akan pergi jauh dari kehidupan Mas Hans dan Dira akan membesarkan anak kita seorang diri. Dan satu lagi...Mas Hans tidak perlu khawatir,karna Dira juga tidak akan meminta finansial dari mas sepeser pun."


📥 "Selamat tinggal... semoga mas selalu berada dalam lindungan Allah dan mas bisa menemukan kebahagiaan bersama Mbak Jessica... Aamiin... Wassalamu'alaikum..."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Lanjut...


__ADS_2