Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Ungkapan Haris


__ADS_3

Hari berikutnya Sila dan Adit pamit pulang ke Jakarta. Sesuai saran Adit, Sila telah bisa menerima dan menghargai apa yang sudah menjadi keputusan serta pilihan hidup Dira. Sila tau...Dira tidak mau di ajak pulang ke Jakarta bukan karena dia sudah tidak mau kembali tinggal di Jakarta, juga bukan karena dia tidak mau bertemu Hans. Tapi lebih karena dia masih belum siap bertemu dengan Hans.


🌹🌹🌹


Pagi itu Dira tengah membawa Hara berjemur di halaman rumah Bi Asih ketika Haris datang menyambanginya.


"Assalamu'alaikum...pagi Nith... selamat pagi Hara.... Lihat...Om Haris bawa apa untuk kamu..." sapa Haris sambil memegang dagu si kecil yang berada di pangkuan Dira. Hara pun seolah mengerti dan hafal betul dengan siapa yang menyapanya, makanya bayi mungil itu pun langsung memperlihatkan senyumannya yang menggemaskan. Pagi itu Haris sengaja datang dengan membawa sebuah baby stroller untuk Hara.


"Wa'alaikumsalam dok...Apa ini untuk Hara?" tanya Dira.


"Tentu saja...emangnya buat kamu?" goda Haris untuk mencairkan suasana sebab semenjak kelahiran Hara, Haris merasa Dira seperti menjaga jarak dengannya.


"Akh bukan begitu... tapi seharusnya dokter tidak perlu repot-repot membelikan kereta bayi ini untuk Hara... soalnya...takut..." Dira seperti ragu melanjutkan ucapannya, tapi ternyata Haris justru melanjutkannya.


"Takut apa? Takut jadi gunjingan tetangga?" tebak Haris. Dira pun mengangguk pelan.


"Nggak usah didengerin apa kata orang, biarin mereka nanti juga bakal capek sendiri. Lagian apa salahnya aku membelikan Hara baby stroller? Ini kan kado buat kelahiran Hara, bukankah orang-orang juga banyak yang ngasih kado buat Hara?" Haris seperti tidak setuju dengan rasa keberatan yang diperlihatkan oleh Dira.


"Iya sih, tapi dokter kan nggak perlu memberikan kado semahal ini...ini terlalu mengundang prasangka bagi orang yang melihatnya..."


"Hara semakin bertambah besar, aku kasihan jika kamu terus menggendongnya, karena pasti juga bakal tambah nggak nyaman juga bagi Hara. Sudahlah, jangan banyak memikirkan omongan orang...toh kita tidak minta uang sama mereka. Lebih baik kita bawa Hara jalan-jalan ke taman dekat danau aja yuk... " ajak Haris.


"Tapi..." Dira ragu mengiyakan ajakan Haris. Sebenarnya dia ingin sekali menjaga jarak dengan Haris, dia capek menjadi bahan gunjingan para tetangga karena kedekatan dirinya dengan Haris.


"Tidak ada tapi...karna ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu..."


"Tak bisakah dokter sampaikan sekarang di sini saja?"


"Kenapa? Takut gunjingan tetangga lagi?"


"Sejujurnya iya..." jawab Dira. "Saya wanita bersuami dok... mungkin akan baik-baik saja jika saya wanita single... Tapi kenyataannya saya masih berstatus istri orang...."


"Sudah setahun suamimu tak berkabar dan tidak mencarimu, masihkah dia berhak kamu sebut suami?"


"Tapi kami belum bercerai dan saya yang meninggalkan dia waktu itu, apalagi ada Hara di antara kami..."


"Aku mencintaimu Nitha...dari sejak pertama kali kita bertemu di sini...waktu kamu menginginkan anggur hijau yang ku pesan dari Mas Tono... Sejak saat itu bayanganmu memenuhi ruang kosong di hatiku. Bahkan ketika aku bertanya banyak tentangmu pada Bi Asih,rasa itu semakin kuat melekat di hatiku. Aku tidak peduli kau memiliki anak dari orang lain dan aku berjanji...aku akan menyayanginya seperti aku menyayangi anakku sendiri."


"Maaf dokter... saya tidak bisa..."


"Kenapa? Kalau alasanmu karena kalian belum bercerai,aku akan bantu proses perceraianmu asal kamu mau menerimaku..." ucap dokter Haris mencoba meyakinkan Dira. "Aku akan kasih kamu waktu untuk mempertimbangkan semuanya jika itu yang kamu butuhkan... berapa lama yang kamu inginkan? Sehari...dua hari? Atau seminggu sampai satu bulan? Aku akan selalu sabar menanti jawabanmu..."


"Maaf dokter... saya benar-benar tidak bisa... Jangan buang waktu percuma hanya untuk menunggu saya... Carilah wanita lain yang masih sendiri... saya tidak layak berdampingan dengan dokter Haris. Biarlah hubungan kita sebatas sahabat saja seperti yang pernah dokter Haris bilang pada Sila dan Aditya sahabat-sahabat saya kemarin. Dan saya akan mendukung 100% jika suatu saat dokter memiliki kedekatan dengan wanita lain."


Haris terdiam, hatinya sangat kecewa. Sejak kekasihnya meninggal dunia,ini kali pertama hatinya bisa menerima kehadiran wanita lain. Tapi sayangnya dia harus kecewa, karna ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Oya... kemarin Bu Santi,istri Pak Kades sempat bertanya kepada saya tentang hubungan saya dengan dokter..." ucap Dira mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Lalu kamu jawab apa?" tanya Haris tak bersemangat.


"Ya saya jawab apa adanya, kalo kita hanya bersahabat saja...tidak lebih dari itu. Dan sepertinya jawaban saya cukup membuat beliau lega."


"Kenapa begitu?" tanya Haris yang tiba-tiba jadi penasaran dengan cerita Dira.


"Entah... mungkin dokter Haris akan dijodohkan dengan putrinya barangkali..." Dira mengangkat kedua bahunya. "Bukankah setau saya Sekar putri Pak Kades itu belum menikah ya..." lanjut Dira.


"Mana ku tau..." jawab Haris


"Lho dokter Haris ini bagaimana sih... yang lebih lama tinggal di sini itu kan dokter di banding saya...mosok sampe nggak tau..." goda Dira untuk mencairkan suasana, tapi Haris seolah enggan membahas soal itu.


"Oya... ngomong-ngomong, ada apa kok tumben Bu Kades menemuimu?" tanya Haris mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya silaturahmi... sekalian menjenguk Hara sambil meminta saya membantu beliau mengurusi koperasi desa. Bu Kades ingin menghidupkan kembali koperasi desa yang selama dua tahun terakhir terbengkalai. Karena kebetulan saya lulusan fakultas ekonomi jadi beliau meminta saya membantu beliau mulai tanggal satu bulan depan..." jelas Dira.


"Berarti kamu bakal punya kesibukan mulai bulan depan dong?"


"InsyaAllah... "


"Lalu Hara bagaimana?"


"Kan ada Bi Asih... lagian Bu Santi bilang saya kerja juga boleh bawa Hara kok..."


"Naa... berarti pas dong aku belikan Hara baby stroller..."


"Hara sudah mulai kepanasan ya...?" tanya Haris.


"Sepertinya iya...kalo gitu saya akan masuk dulu, apa dokter ingin mampir?" tanya Dira basa-basi.


"Lain kali aja..." jawab Haris. Dira pun mengangguk sambil tersenyum.


"Tapi Nith..." Haris seperti belum rela melepas Dira pergi...dan Dira pun menoleh...


"Ya..."


"Apa betul-betul aku tidak ada kesempatan menjadi papanya Hara?"


"Maaf..." Dira menggelengkan kepalanya... "Tapi saya berharap dokter Haris tetap masih mau menjadi sahabat saya..."


"InsyaAllah aku ikhlas, dengan hanya bisa menjadi sahabatmu..."


"Terimakasih atas pengertiannya dan terimakasih juga untuk baby stroller nya ya..." Haris mengangguk...


"Aku pulang dulu... Assalamu'alaikum..." pamit Haris.


"Wa'alaikumsalam..." Dira menjawab dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Sudah berjemurnya?"


"Sudah bi..."


"Duh kereta bayi siapa ini...bagus sekali...?"


" Punya Hara bi...dari dokter Haris..." jawab Dira seperti tidak bersemangat. Bukannya Dira menyesali penolakannya pada dokter Haris, tapi dia menyesal karena telah mengecewakannya.


"Dokter Haris kasih kado Hara tapi Neng Nitha kok terlihat sedih...? Kalian bertengkar?" Dira menggeleng.


"Lalu...?" tanya Bi Asih sambil menyiapkan air hangat buat Hara mandi.


"Nitha sudah mengecewakan dia bi..."


"Memang kenapa?"


"Ternyata benar kata Bi Asih, jika dokter Haris ternyata mencintai Nitha, tadi dia menyatakan perasaannya pada Nitha..." ucap Dira melemah.


"Lalu Neng Nitha menolaknya?" Dira mengangguk.


"Neng Nitha menyesal menolak dokter Haris?"


"Tentu saja tidak...! Nitha hanya menyesal karena telah mengecewakannya. Andai saja dokter Haris tidak pernah punya rasa cinta kepada Nitha, pastinya Nitha tidak perlu memberikan jawaban yang pada akhirnya hanya membuatnya kecewa... Nitha jadi merasa bersalah... Bagaimana perasaan dokter Haris sekarang ya bi...?" tanya Dira sambil melepaskan baju Hara karna akan segera dimandikan.


"Neng Nitha tidak usah khawatir... dokter Haris bukan anak remaja lagi... beliau sudah lebih dari dewasa. Dokter Haris pasti akan bisa menyikapi rasa kecewanya dengan baik..."


"Semoga ya bi..." Bi Asih mengangguk sambil tersenyum kemudian tangannya pun begitu cekatan memandikan Hara.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Yuhuuu... maaf update nya lama ya...karna Author menulis disela aktivitas kerja...


Semoga tidak membuat kalian meninggalkan ceritaku...

__ADS_1


Terimakasih buat semua yang masih setia menunggu, walaupun menunggu itu kadang membuat kita merasa jemu...😘😘😘


__ADS_2