
Dira masih terlihat berdebat dengan Hans sampai-sampai mereka melupakan keberadaan Sila yang masih setia menyaksikan perdebatan mereka. Sila tersenyum melihat tingkah sahabatnya karna tanpa Dira sadari,setiap kata yang diucapan oleh Dira terdengar seperti seorang pacar yang sedang cemburu.
'Mungkinkah pada akhirnya Dira sudah mulai jatuh cinta dengan Kak Hans ya?' tanya Sila dalam hati.
"Mas sebenarnya tau kan jika mas sedang diperhatikan banyak orang? Mas bangga ya dikagumi cewek-cewek sekampus...mas senang sudah membuat cewek-cewek sekampus pada heboh..."
"Mas sengaja kan datang ke sini hanya untuk tebar pesona...? Genit...Mas mau bikin saya cemburu ya? Huuh...nggak bakalan mempan..."
Dira tampak kesal dan tidak mau memberi kesempatan pada Hans untuk menjelaskan kedatangannya sedikit pun. Jelas terlihat Dira memang sedang cemburu,hanya saja dia terlalu gengsi untuk mau mengakuinya.
"Sila ayo kita pulang...aku muak di sini lama-lama bersama dengan orang yang nggak penting" ucap Dira yang akhirnya menyadari bahwa ada Sila di situ.
Dira berjalan mendekati Sila tapi dengan cepat Hans menarik tangan Dira hingga Dira hampir jatuh lalu di tangkap oleh Hans hingga akhirnya Dira berada dalam pelukannya. Adegan itu pun memancing para mahasiswi untuk kembali berbisik-bisik mengomentari kelakuan Hans yang kini membuat Dira kembali menjadi topik pembicaraan mereka.
"Eh bener loh,Kak Hans ternyata udah punya pacar..."
"Yaaa...kecewa deh gue..."
"Ooo...pacarnya ternyata senior kita..."
"Iya...namanya Kak Dira anak ekonomi juga..."
"Katanya pacar tapi Kak Dira kok tampak ketus ya sama Kak Hans..."
"Iya,padahal ada yang bilang malah sebentar lagi mau nikah..."
"Kak Dira ketus,mungkin karna dia sedang di landa cemburu..."
"Ya gimana nggak cemburu coba kalo melihat pacarnya dikagumi oleh cewek-cewek sekampus..."
"Ya resiko lah punya pacar ganteng,tajir dan ramah..."
"Tapi kalo gue jadi Kak Dira seharusnya mah nggak usah cemburu.seharusnya dia justru bangga dan percaya diri aja...Kak Dira kan cantik,anggun,baik dan pintar. Dia juga termasuk bunga kampus di kampus kita ini kan? Dan menurut gue...mereka itu pasangan yang sangat cocok kok... Apalagi Kak Hans terlihat benar-benar cinta sama Kak Dira. Tuh lihat aja perlakuannya pada Kak Dira...Duuuh Kak Hans itu romantis banget siiihhh...jadi baper gue ngelihatnya"
Dira meronta dalam pelukan Hans,tapi Hans tak mau melepaskan Dira begitu saja.
"Jangan begini dong mas...kita ini sedang di kampus...nggak enak kan di liat banyak orang..." bisik Dira yang malu karna diperhatikan para penghuni kampus. Tapi Hans seolah tak memperdulikan ucapan Dira.
"Oya Sil...kamu bawa mobil sendiri enggak?"
"Bawa kak...memang kenapa?"
"Kalo gitu kamu nggak keberatan kan pulang sendirian?"
"Oh siap kak...laksanakan..." ucap Sila
Sila yang langsung tanggap dengan maksud Hans tapi tak lupa Sila pun memberi kode kepada Hans dan Hans pun mengangguk paham. Tak menunggu waktu lama,Sila pun segera menuju parkiran untuk mengambil mobilnya terus pulang.
"Kalian saling ngasih kode apaan sih? Mas kong kali kong buat ngerjain saya ya...?"
"Ih sukanya kok kepo dan su'udzon..."
__ADS_1
Dira cemberut dikatain begitu oleh Hans.
"Sila tungguin gue dong...gue ikut sama lu...kok gue di tinggal sih,kita kan tadi berangkatnya barengan..." teriak Dira yang masih di kunci oleh Hans dalam pelukannya.
Sila terus berjalan menengok sebentar untuk melambailan tangan sambil mengucap " Bye...bye..." tapi tanpa bersuara,kemudian kembali melangkah meninggalkan Dira bersama Hans.
Dira menghentakkan kakinya dengan kesal,sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Hans. Namun tanpa di duga oleh Dira...tiba-tiba Hans kembali mengangkat tubuh mungil Dira ala bridal style seperti beberapa waktu yang lalu menuju mobilnya.
"Mas,apa-apaan sih...turunin,Dira bisa jalan sendiri. Dira malu mas... Iih...nggak lucu deh..."
"Bisa diam nggak,dari tadi kamu itu sudah kebanyakan bicara..." hardik Hans yang membuat Dira kemudian bungkam...tidak bicara juga tidak meronta lagi.
Dira menyembunyikan wajahnya di dada Hans,dia terlalu malu melihat tatapan para pengagum Hans di kampusnya yang sedari tadi memperhatikan mereka.
'Untung gue udah nggak aktif ngampus,kalo masih aktif...habis gue jadi bahan gosip...' gumam Dira dalam hati. Sementara Hans mengulas senyum penuh kemenangannya.
"Fer,bisa tolong bukain pintu mobilku..." titah Hans kepada Fery,salah satu petugas sekuriti kampus,setelah Hans membuka kunci mobil dari remot yang berada ditangannya.
"Siap..."
Hans mendudukkan Dira dengan hati-hati,lalu memasangkan sabuk pengamannya.
"Makasih ya Fer...ini buat makan siang kamu dan temen-temenmu..." ucap Hans sambil mengeluarkan lima lembar uang ratusan dari dalam dompetnya.
"Siap makasih kembali boss... Makasih juga buat uang makan siangnya..." ucap Fery memberi hormat pada Hans dan Hans pun mengacungkan jempolnya. Fery pun kemudian memberi aba-aba kepada Hans yang tengah mengemudi untuk keluar lokasi kampus.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Dira pun masih diam sambil sibuk memainkan ponselnya.
Dira menggelengkan kepalanya.
"Kalo nggak ngambek kenapa nggak ngomong?"
"Katanya tadi suruh diam..."
"Astaghfirullah haladziim Diraaa...kamu kan bukan anak kecil...yang kalau di suruh diem terus nggak mau ngomong lagi..."
"Dira nggak mau kalau Dira ngomong nanti di bentak lagi...Dira nggak suka dibentak-bentak..."
'Ciiiittt'
Hans menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Astaga...jadi itu yang membuat kamu nggak mau ngomong?"
Dira mengangguk.
"Astaghfirullah...Ya Allah Ya Tuhan...Diraaa...maafin mas ya? Mas nggak bermaksud membentak kamu,tadi mas begitu cuma supaya kamu nggak meronta-ronta aja...nggak bermaksud apa-apa...Maaf ya..." pinta Hans sambil mengusap kepala Dira.
Dira pun kembali mengangguk.
"Sekarang kita mau kemana?"
__ADS_1
"Pulang..."
"Pulang ke rumah orangtuamu?"
Dira menggeleng.
"Lalu...?"
"Pulang ke ruko aja..."
"Oke...kamu udah makan?"
Dira kembali menggeleng.
"Kamu mau makan apa? Kita cari restoran dulu buat makan siang...Mas juga kebetulan belum makan"
"Mas suka spaghetti nggak?" tanya Dira tiba-tiba
"Suka...memang kenapa? Kamu mau makan itu? Tunggu...kita cari resto yang punya menu itu ya...atau kamu punya rekomendasi resto yang spaghettinya enak mungkin?" ucap Hans sambil melajukan mobilnya perlahan.
"Enggak...saya suka masak sendiri di rumah..."
"Oya? Kalo gitu kita mampir ke supermarket aja beli bahan-bahannya,terus nanti kita masak bareng ya..."
"Nggak usah,di rumah bahannya udah ada kok...."
"Tapi di rumah kan banyak orang...ada banyak karyawanmu kan? Kita ajak mereka makan sekalian "
"Iya...tapi mereka cuma 4 orang kok bahan di rumah masih lebih dari cukup,yang penting mas nggak masalah makan masakan sederhanaku..."
"Aku akan makan apapun jika itu adalah masakanmu..."
"Walaupun itu masakannya tidak enak?"
"Masakan terenak bagi seorang suami adalah masakan istrinya. Walaupun mungkin terasa aneh dilidahnya,tapi semua itu akan terasa lezat karna telah disempurnakan oleh rasa cinta,.."
"Huh dasar perayu...! Sepertinya mas sudah begitu lihai berbicara manis terhadap seorang wanita. Apa memang mas sudah terbiasa berbicara manis seperti ini pada semua wanita? Lagi pula siapa juga yang akan menjadi istri mas...saya kan belum memberi jawaban sama Mas Hans..." ucap Dira sedikit sinis membuat percaya diri Hans sedikit terusik.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...