
Semenjak mengetahui dirinya akan kembali menjadi kakak, Hara begitu perhatian dengan mamanya yang mulai merasakan gejala-gejala selayaknya seorang ibu hamil. Sementara itu semua orang terdekat keluarga Dira dan Hans pun ikut merasa bahagia menerima kabar tentang kehamilan Dira kembali.
Keadaan Hans juga sudah kembali normal, dia sudah kembali berangkat bekerja di kantor seperti biasa.
Hari ini semua orang di rumah Hans sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
"Elu beneran nggak papa nih nganterin gue?" tanya Sila.
"Iya nggak papa... Alhamdulillah kehamilan gue yang ketiga ini nggak rewel seperti yang kemarin..."
"Emang lu udah dapet ijin dari Kak Hans?"
"Udah. Lagian gue gabut ni di rumah sendirian. Mas Hans ke kantor, Hara hari ini full day, Hanna ke kampus, sementara Tante Anita nganterin nenek terapi... Bisa stress gue kalo nggak ada kegiatan..."
"Iya juga sih... Oke deh kalo gitu... let's go..."
Akhirnya mobil merah milik Sila pun melesat membelah kemacetan ibukota, menuju ke sebuah mall.
Dira tampak bahagia begitu mereka memasuki sebuah mall terbesar di ibukota. Dia seperti anak kecil yang di ajak jalan-jalan oleh ibunya.
"Norak ih lu...kayak bocah aja..." ledek Sila.
"Biarin, kapan lagi kita bisa jalan-jalan berdua kayak gini Sil... Awal bulan depan lu udah nikah dengan Adit dan akan pindah ke Bali... Huuh benci deh gue kalo inget itu... kita bakal tambah jarang bisa pergi berdua. Iiih... jahat deh Adit, kok dia tega misahin elu dan gue... hiks hiks hiks..." Tiba-tiba saja Dira menangis seperti anak kecil.
"Ee busyet...nape lu pake nangis di mari? Malu tau..." ucap Sila sambil celingak-celinguk melihat beberapa orang yang lewat sambil menatap mereka.
"Awas nanti kalo gue ketemu Adit... akan gue cubit dia sampe berdarah. Gue sebel banget dah..."
"Eh jangan dong...tar laki gue bisa cacat tuh kalo lu cubitin sampe berdarah. Gue laporin ke polisi bisa kena pasal lu...ha ha ha..." Dira pun berhenti menangis lalu ikut tertawa.
"Lebay amat sih lu..." ucap Dira.
"Na elu...bumil labil...he he he" ledek Sila.
"Sil, lapeer..." ucap Dira dengan nada manja pada sahabatnya.
"Barang yang mo di cari aja belum dapet, udah minta makan... hadeehh..."
"Namanya juga bumil... emang lu mau, ponakan lu yang ada di perut gue kelaparan?" Dira memohon dengan memasang wajah memelasnya.
"Iye-iye... kita makan dulu... Lu mau makan dimana?"
"Di sana... gue mau makan masakan Jepang..." tunjuk Dira ke sebuah restoran Jepang di mall itu.
"Oke kita ke sana sekarang..."
__ADS_1
Mereka pun segera melangkah menuju restoran Jepang yang di tunjuk oleh Dira. Tapi tiba-tiba langkah Dira terhenti di depan sebuah toko perhiasan, netranya seketika nanar memerah dengan perasaan tidak karuan...antara marah dan sedih menjadi satu. Dira melihat dengan jelas sosok suaminya di toko perhiasan itu bersama seorang wanita yang tidak lain adalah Jessica.
"Kenapa berhenti?"
"A...aku mau pulang..." ucap Dira menahan air matanya supaya tidak terjatuh. Dia pun langsung membalikkan badan dan segera berlalu mempercepat langkahnya.
"Lho katanya mau makan? Kita belum sam..pai..." Tiba-tiba manik mata Sila menangkap bayangan Hans di toko perhiasan itu sedang asik memilih-milih bersama seorang wanita cantik. Dia adalah Jessica mantan pacar Hans. "Diraaa... tunggu gue..." teriak Sila yang sengaja di perkeras agar Hans mendengar, sambil mengejar sahabatnya yang sudah agak jauh.
Dan seperti prediksi Sila, Hans yang tengah berada di dalam toko perhiasan itu pun mendengar teriakkan Sila. Karna ketika Sila berteriak, ada seorang pengunjung toko yang membuka pintu kaca toko, sehingga teriakan Sila terdengar jelas di telinga Hans.
"Ada Dira di sini?" tanya Hans lirih pada dirinya sendiri.
"Kenapa Hans?"
"Kamu dengar seseorang berteriak memanggil nama istriku nggak?" tanya Hans sambil melongok ke luar toko.
"Aduh sori, gue kurang merhatiin..." jawab Jessica.
"Kenapa Tuan Hans? Ada seseorang yang sedang di cari?"
"Katanya dia tadi mendengar seseorang berteriak memanggil nama istrinya..."
"Ooo... sudah kamu dapat yang kamu mau sayang?" tanya laki-laki yang tadi bertanya pada Hans. Dia adalah Rico putra Tuan Hendrik.
Besok adalah hari ulang tahun Dira, Hans bermaksud mencarikan sebuah perhiasan berlian cantik untuk istrinya. Dan dikarenakan ini adalah sebuah kado istimewa, maka setelah selesai metting dengan kliennya, Hans sengaja mencari kado untuk istrinya itu sendiri. Ketika Hans masuk ke sebuah toko perhiasan langganan keluarganya, tanpa sengaja dia bertemu dengan Rico dan Jessica. Dan ada kabar mengejutkan datang dari mereka, karena ternyata mereka berdua akan memutuskan untuk menikah. Rico si perjaka tua itu ternyata jatuh hati dengan Jessica bekas ibu tirinya dan memutuskan untuk segera menikah di usianya yang sudah berkepala empat.
"Kali ini aku benar-benar jatuh cinta Hans..." jawab Jessica ketika Hans bertanya 'Kok bisa?'
"Ya Tuan Hans... cinta kadang datang memang tidak pernah bisa di duga. Saya yang selama ini terlalu fokus pada pekerjaan dan memutuskan untuk hidup melajang selamanya, tapi tanpa saya duga...saya jatuh cinta dengan mantan ibu tiri saya sendiri..." ungkap Rico sambil tersipu malu. Rico memang tipe cowok pemalu dan pendiam, walaupun jiwa pemimpin dan jiwa bisnisnya tidak perlu diragukan lagi. Ditangannya, perusahaan peninggalan Tuan Hendrik yang hampir bangkrut kini mulai bangkit.
"Syukurlah...semoga kalian berbahagia selalu..." ucap Hans tulus.
"Terimakasih... Oya Hans, kami berdua sedang mencari cincin buat pernikahan kami nanti. Kalo kamu? Kok sendirian aja..." tanya Jessica keheranan, karena baru sekali ini dia melihat Hans datang seorang sendiri ke sebuah toko perhiasan.
Hans pun menceritakan jika besok Dira ulang tahun dan saat ini dia ingin mencari sebuah perhiasan berlian yang cantik sebagai kado ulang tahun untuk Dira. Karena Hans kebingungan maka Jessica pun menawarkan diri untuk membantu memilihkan. Tentunya setelah meminta ijin kepada calon suaminya yaitu Rico.
Dan ketika mereka sedang asik memilih beberapa pilihan, terdengar oleh telinga Hans, seseorang sedang memanggil nama istrinya.
FLASH BACK OFF
"Ketemu sosok istri lu?" Hans menggeleng... "Mungkin lu salah dengar, atau mungkin itu Dira yang lain... Nama Dira kan banyak Hans bukan cuma istri lu aja kali...he he he..."
"Iya kali ya..." ucap Hans kayak orang bego.
"Wah... Tuan Hans ini ternyata seorang suami yang begitu mencintai istri ya, sampai-sampai nama istri tuan saja selalu terngiang-ngiang terus dimana pun tuan berada...he he he..." goda Rico. Hans hanya menjawab godaan Rico itu dengan senyuman.
__ADS_1
"Maaf Tuan Hans... ini jadinya yang akan di pilih yang mana ya...?" tanya pramuniaga di toko perhiasan itu.
"Kalung ini cantik Hans, aku yakin Dira pasti suka..." kata Jessica.
"Iya ya... tapi... anting berlian ini juga bagus. Akh... aku nggak bisa milih yang paling bagus..." Hans membuang nafas panjang, lalu... "Aku pilih semua deh mbak... kasih tempat perhiasan yang bagus ya..."
"Baik tuan..."
"Oya, bisa minta tolong di bungkus kado sekalian?"
"Bisa tuan... Oya maaf tuan, bayar cash atau..."
"Ini..." Hans menyerahkan black card miliknya.
'Gila... dengan enteng Hans membelikan semua perhiasan berlian itu untuk Dira. Andai dulu gue mau lebih sabar menunggu Hans... pasti semua itu akan menjadi milik gue...
Astaghfirullah... gue ngomong apa sih, gue kan udah ngikhlasin Hans buat Dira, kenapa gue bisa punya pikiran seperti itu lagi. Mereka berdua itu memang pantas bersama. Dua orang baik yang saling jatuh cinta...'
"Kenapa? Kamu juga kepingin dapet kado sebanyak itu? Aku bisa beliin sekarang jika kamu mau..." bisik Rico di telinga Jessica.
"Ih apaan sih mas... aku sudah sangat bahagia dengan cincin nikah yang nanti bakal melingkar di jari manisku..."
"Serius?"
"Serius dong... aku kan sudah berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, buat kamu dan anak-anak kita nanti..." Rico tersenyum mendengar ucapan Jessica... calon istrinya.
"Perasaan aku agak nggak enak, kalo gitu aku pamit dulu... Terimakasih sudah bantu aku milihin model perhiasan buat Dira ya..."
Setelah pamit, Hans pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit tinggi agar segera sampai rumahnya...
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1