
Di Malaysia
"Yes...!!!" teriak Jessica kegirangan.
'Mati lu setan kecil...! Berani-beraninya lu bo'ongin gue... main-main lu ama Jessica... Dengan foto-foto ini, gue bisa mencuci otak Hans. Gue yakin... sekecil apapun, gue masih tetap ada dihatinya.' ucap Jessica dalam hati.
Jessica kemudian melangkah keluar dari apartemennya, setelah meraih kunci mobilnya. Hotel tempat Hans menginap adalah tujuannya.
"Jika gue emang udah nggak bisa ngedapetin Hans lagi...lu pun nggak berhak berada di samping Hans, apalagi sampai hidup bahagia bersama Hans..." gumam Jessica sambil fokus mengemudikan mobilnya. "Kita lihat aja apa yang akan terjadi setelah Hans melihat foto-foto ini...mampus lu...he he he..." lanjutnya sambil tersenyum sinis.
🌹🌹🌹
Di Indonesia
'Cklek...' pintu ruang IGD terbuka.
"Keluarga Nyonya Andira..."
Sila dan Adit segera berjalan mendekat.
"Bagaimana keadaan sahabat saya Dok? Dia baik-baik saja kan?" tanya Sila tidak sabar.
"Alhamdulillah... semua baik-baik saja... Anda suami Nyonya Andira?" tanya dokter kepada Adit.
"Eh bukan..." jawab Adit gugup.
"Kami ini sahabat Andira dok... suaminya sedang dinas kerja di luar negeri. Tapi jika ada sesuatu, dokter bisa sampaikan pada kami..." jawab Sila.
"Kalau begitu mari ke ruangan saya saja, biar kita bisa mengobrol dengan enak..."
Sila dan Adit pun kemudian berjalan mengekor di belakang dokter yang menangani Dira menuju ruangannya.
"Mari silahkan duduk..."
"Apa ada sesuatu yang serius di balik keadaan sahabat kami dok?" tanya Sila cemas.
Bukannya langsung menjawab, dokter spesialis kandungan yang bernama Ariesta itu malah tersenyum sambil menyodorkan dua gelas air mineral kemasan.
"Silahkan di minum dulu...ini bukan kabar buruk kok tapi ini kabar gembira..."
"Maksud dokter?" tanya Adit.
"Nyonya Andira tidak sakit,tapi Nyonya Andira sedang mengandung..." ucap dokter Ariesta.
"What?! Alhamdulillah... Dit,kita mau punya keponakan,lu denger kan... kita mau jadi uncle dan aunty..." tanya Sila antusias.
"Iya..." jawab Aditya singkat.
Entah kenapa, ketika mendengar Dira mengandung...di hati Adit ada rasa kecewa. Sila tau itu, dia bisa menangkap perubahan wajah Aditya ketika dokter Ariesta mengatakan jika Dira tidak sakit tetapi sedang mengandung. Sila juga melihat betapa cemasnya Adit tadi ketika melihat Dira jatuh pingsan. Sila juga cemas saat melihat Dira pingsan tadi,tapi tak secemas respon Aditya.
Dan saat ini, bukan karna Sila tidak melihat perubahan wajah Adit tapi Sila cuek karna dia terlalu bahagia menerima kabar jika Dira tengah mengandung.
__ADS_1
"Kehamilan Nyonya Andira memang masih begitu dini terditeksi... karna usia kandungannya baru berumur satu minggu tapi dari tes darah dan tes urine yang sudah dilakukan sudah bisa terlihat jelas dan hasilnya akurat. Untuk itu bulan depan saya minta Nyonya Andira untuk datang kembali ke sini untuk memeriksa kembali kondisi dan perkembangan janinnya..."
Dokter Ariesta pun memberikan banyak pengarahan dan pesan untuk Dira kepada Sila dan Adit,
"Lu kecewa mendengar Dira mengandung ya..." tanya Sila kepada Adit ketika mereka meninggalkan ruangan dokter Ariesta menuju ruang IGD.
"Sok tau..."
"Gue sangat mengenal elu Dit.,.. Lu jatuh cinta kan sama Dira?" tebak Sila yang membuat Adit menghentikan langkahnya.
Adit kemudian duduk di sebuah kursi tunggu yang ada di sepanjang koridor rumah sakit dan Sila pun akhirnya mengikutinya.
"Iya... Jujur,gue selama ini telah menodai persahabatan kita dengan rasa cinta yang gue pendam dalam hati gue untuk Dira..." ucap Adit mengakui dosanya.
"Dari semenjak kapan lu punya rasa itu?" tanya Sila.
"Dari semenjak Dira masih jalan sama Damar" jawab Aditya tertunduk sambil mengusap wajah dengan tangan kanannya.
"Sebenarnya, gue sih nggak keberatan jika lu punya rasa dengan Dira.Bahkan seandainya lu dan Dira pacaran pun, gue nggak masalah. Cuman karna posisi Dira saat ini sudah menjadi istri orang, maka gue minta kerelaan lu untuk menghapus semua rasa cinta lu padanya. Lu tau maksud gue kan?"
"Gue tau posisi gue Sil... gue juga tau jika cinta itu tidak selamanya harus memiliki. Awalnya memang terasa sakit ketika Dira bilang bahwa dia kini telah menjadi istri Kak Hans,tapi melihat dia yang terlihat bahagia ketika menceritakan hidupnya kini... sudah cukup membuatku lega dan ikut berbahagia..." Adit pun mengurai rasa yang ada di dalam hatinya.
"Akh syukurlah jika lu bisa menyikapi semua ini dengan bijaksana. Lu emang sahabat kami yang terbaik...Thank you ya..." Sila menepuk bahu Aditya pelan sebagai tanda kekagumannya.
"Kita liat Dira dulu yuk..." Adit mengangguk mantap sambil tersenyum. Kemudian keduanya pun kembali berjalan menuju ruang IGD.
"Assalamu'alaikum..." Sila membuka pintu ruang IGD.
"Gue dan Adit barusan dari ruang dokter Ariesta...Ya kan Dit...?" ucap Sila sambil melemparkan pertanyaan pada Adit. Adit pun tersenyum dan menjawab pertanyaan Sila dengan anggukan pelan.
"Terus apa kata dokter? Gue kenapa bisa pingsan? Apa gue punya penyakit yang serius? Gue kenapa Sil... gue sakit apa? Gue takut, karna baru kali ini gue jatuh pingsan..." ucap Dira yang tiba-tiba melemah setelah menanyakan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Tenang...lu nggak sakit apa-apa kok. Lu sehat wal afiat..."
"Tapi kok..."
"Lu mau jadi ibu,Dira..." potong Aditya.
"Apa??? Gue hamil???" tanya Dira terkejut,seolah tidak percaya dan ragu dengan ucapan Adit.
"Iya... kenapa? Kok elu seolah tidak percaya gitu..." tanya Sila.
"Eh tapi...kok bisa sih... Astaghfirullah..."
"Maksud lu apa? Harusnya kan lu bahagia dan mengucap Alhamdulillah...ini kok malah istighfar... Bukankah lu udah nikah? Jadi wajar dong jika lu hamil..." ucap Sila bingung mendengar ucapan Dira itu, sementara Dira tampak terdiam bingung.
"Tapi...tapi...?" Dira sebenarnya ingin mengungkapkan sesuatu tapi Dira takut kedua sahabatnya nanti menjadi salah faham.
"Tapi apa? Apa ada sesuatu yang lu rahasiakan dari kami?" tanya Adit. Dira menggelengkan kepalanya tapi gelengan kepalanya itu seperti orang yang sedang ragu-ragu.
"Aa... gue tau,ada yang ingin lu sampein ke Sila sebagai sesama cewek tapi lu canggung karna ada gue kan?" tanya Adit dan Dira pun mengangguk sambil nyengir kuda.
__ADS_1
"Maaf..." Dira menyatukan kedua telapak tangannya dan meletakkan di depan dadanya.
"Huu...oke deh tapi karna lu udah nggak papa, gue tunggu kalian di mobil aja ya?"
"Siap..." ucap kedua sahabatnya.
Setelah Adit berlalu, Sila segera menanyakan apa yang ingin dikatakan Dira padanya.
"Lu mo ngomong apaan sih sampe harus ngusir Adit segala..." tanya Sila.
"Hei... gue nggak ngusir ya...lu kan liat gue nggak ngomong apa-apa ke Adit. Tapi dasar dia itu memang sahabat yang paling pengertian jadi tau yang gue mau...he he he..." jawab Dira.
"Hmm... Adit udah pergi... sekarang lu mau ngomong apa?"
"Sil gue mau tanya, apakah kita... seorang cewek bisa hamil hanya dengan sekali saja berhubungan intim?"
"Maksud lu selama satu bulan kalian menikah,lu baru melakukan itu dengan Kak Hans sekali saja?" tanya Sila nggak percaya sementara Dira mengangguk pelan.
"Itu pun nggak sengaja..."
"Maksudnya nggak sengaja itu apa?"
Dira pun akhirnya menceritakan semuanya, tentang pernikahannya dengan Hans yang dilandasi dengan perjanjian.
"Astaghfirullah Dira...lu sadar enggak sih kalo tindakanmu itu telah menyakiti perasaan Kak Hans?"
"Tapi kenyataannya dia oke-oke aja tuh..."
"Ampun deh Dir, gue nggak bisa ngomong apa-apa lagi..." ucap Sila sambil menepuk jidatnya.
"Jadi terus gimana ni..."
"Kita tunggu bulan depan aja deh kalo tu perut dah berusia sebulan,biar lu nggak nanya-nanya lagi ke gue. Soalnya dokter Ariesta tadi juga bilang gitu ke gue. Yang penting lu harus banyak istirahat dan makan makanan yang bergizi.., Sekarang kita pulang aja..."
Karna semua pemeriksaan dan administrasi rumah sakit sudah beres, akhirnya mereka pun pulang ke rumah.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1