
Hans menunggu jemputan Alex dengan hati yang gusar, padahal baru setengah jam dia menunggu. Berulang kali Hans melirik jam di tangannya kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling,dia benar-benar seperti orang stress. Tak jarang dia berjalan mondar mandir sambil mengetuk-ngetuk jam tangannya karna dia merasa jam tangannya seolah berdetak begitu lambatnya.
Beberapa menit kemudian sebuah mobil Honda jazz berhenti agak jauh dari tempat Hans berdiri sambil membunyikan klaksonnya. Hans yang hanya membawa tas jinjing berisi laptop dan beberapa dokumen pentingnya pun kemudian segera berlari kecil menghampirinya.
"Lama amat sih..." protes Hans sambil menggunakan sabuk pengaman mobil.
"Lu pikir Jakarta jalanannya sepi bung?" jawab Alex sinis.
"Lex...aku minta maaf..." ucap Hans tiba-tiba.
"Buat apa?"
"Buat kebodohanku yang tidak bisa menjaga Dira dengan baik..." jawab Hans sambil menunduk.
"Lu kan suaminya,lu bebas melakukan apapun padanya..." ucap Alex ketus tanpa melirik Hans sedikit pun. Baru kali ini Alex merasa benci terhadap boss sekaligus sahabatnya itu.
"Aku tau aku salah, makanya aku minta maaf padamu..."
"Lu nggak seharusnya minta maaf ke gue... salah lu bukan ke gue,tapi ke Dira... Gue hanya kecewa, kenapa lu nggak mau cari tau dulu kebenarannya,lu main percaya aja sama omongan orang. Ngomong-ngomong siapa sih yang udah ngasih berita bohong itu?"
"Jessica..." ucap Hans lirih karna dia tau, Alex pasti akan marah jika mendengar nama Jessica...
"What? Good ternyata lu lebih percaya omongan orang yang jelas-jelas sudah pernah membohongi lu,ketimbang lu telpon gue demi sebuah kebenaran... Apa jangan-jangan lu udah nggak percaya lagi sama gue?" ucap Alex mulai emosi. "Kalo lu udah nggak percaya ama gue lagi...gue siap mundur jadi asisten lu..."
"Lho kok kamu jadi mau mundur jadi asistenku segala..."
"Bukankah lu udah percaya lagi sama gue?"
"Bukan begitu... Tapi...yah mau digimanain juga emang aku yang salah... Aku terbawa emosi sehingga mudah terbakar api cemburu. Kamu berhak marah padaku Lex... bahkan kamu pun boleh memukuliku jika itu bisa membuatmu lega..."
"Gue bukan tukang pukul..." Mobil yang dikemudikan Alex sudah memasuki halaman rumah keluarga besar Saputra. "Tunggu Hans..." cegah Alex ketika Hans akan keluar mobil.
__ADS_1
"Apa?"
"Dira tidak pulang ke sini, makanya kakek dan nenek tidak tau kalo Dira sudah pulang dari Malaysia. Jadi pasti akan ada pertanyaan jika lu masuk sendiri... pandai-pandailah berpura-pura di depan kakek dan nenek... Aku mau pulang dulu..."
"Yaa...nanti gue hubungi lu..."
"Oke..." ucap Alex datar.
"Lex..." panggil Hans
"Apa?!"
"Thank you... atas semua bantuanmu, aku nggak tau apa jadinya jika nggak ada kamu. Sekali lagi maaf jika aku telah ngecewain kamu."
"Hmm... sama-sama... Nanti setelah lu bersih-bersih... kita coba cari Dira lagi..." Hans pun mengangguk sambil tersenyum senang.
Alex memutar mobilnya kemudian segera keluar dari halaman rumah keluarga besar Saputra...
🌹🌹🌹
"Apa kita sudah sampai bi?" tanya Dira ketika sudah turun dari bis yang dinaikinya.
"Dari sini, kita masih harus naik bis Transjogja dulu ke terminal kabupaten yang lebih kecil, dari sana baru kita naik angkutan desa untuk bisa sampai ke rumah Bi Asih neng. Tapi karna ini sudah malam jadi lebih baik kita cari tempat menginap dulu untuk istirahat.. Besok pagi baru kita lanjut lagi... lagian Neng Dira pasti capek kan?" tanya Bi Asih...Dira mengangguk. Semenjak dinyatakan positif hamil,Dira makin sering kelihatan gampang capek. Tapi untungnya Dira tidak merasakan mual-mual apalagi sampai muntah-muntah, hanya sesekali dia merasa pening ketika tumpukan masalah bersarang diotaknya.
Tak perlu berjalan jauh, mereka pun sudah mendapatkan tempat untuk menginap. Setelah melakukan registrasi di resepsionis penginapan,Dira pun segera merehatkan tubuhnya setelah sebelumnya Dira membersihkan diri di kamar mandi.
"Teh manisnya neng..." Bi Asih menyodorkan secangkir teh manis hangat untuk Dira.
"Pergi ke kampung Bi Asih ternyata butuh waktu sehari semalam ya.,.? Pantas saja Bi Asih selalu pulang pake bis malam. Kalau naik bis malam sampai sini siang ya bi?" tanya Dira. "Coba kita tadi nggak keburu-buru perginya,pasti kita tidak perlu menginap di sini ya bi..." ucap Dira lagi.
"Iya...tapi kan sudah terjadi... yang penting kita sudah sampai di sini dengan selamat, besok pagi perjalanan satu setengah jam lagi baru kita sampai... Sekarang Neng Dira makan terus istirahat tidur ya?" tanya Bi Asih mengalihkan pembicaraan sambil memijit-mijit kaki Dira. Dira menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Dira nggak lapar bi...Dira juga nggak bisa tidur... Dira kangen Mas Hans...tapi... hiks hiks hiks..." Dira tiba-tiba terisak menangis karena kangen dengan suaminya.
"Neng Dira pingin pulang ke Jakarta?" tanya Bi Asih...Dira menggelengkan kepalanya. "Kenapa neng? Mungkin dia ingin dibelai papanya..." ucap Bi Asih sambil mengelus perut Dira.
"Papanya tidak mau mengakui kehadirannya bi..." Dira mengusap air matanya yang menetes di pipi mulusnya.
"Neng... sebenarnya Bi Asih nggak percaya kalau Tuan Hans benar-benar tidak mau mengakui kehadiran buah hatinya. Ini pasti hanya sebuah kesalahpahaman yang di buat oleh orang yang tidak rela melihat Neng Dira dan Tuan Hans bahagia... Selama ini Tuan Hans orangnya sabar dan sangat sayang sama Neng Dira. Tuan bahkan mau menerima perjanjian yang Neng Dira buat, padahal perjanjian itu jelas-jelas tidak menguntungkan bagi dirinya..."
"Tapi orang bisa saja berubah bi... termasuk juga Mas Hans. Tapi biarkan saja... mungkin memang sudah takdir Dira harus begini... Dira janji,Dira tidak akan menangis lagi untuk seseorang yang tidak menginginkan Dira dan anak Dira ada. Dira harus kuat untuk dia kan bi?" tanya Dira sambil mengelus perutnya. "Bi Asih temani kami ya? Karena hanya Bi Asih lah yang kami punya..." Dira menghambur ke pelukan Bi Asih.
🌹🌹🌹
Esok harinya Dira dan Bi Asih pun berangkat menuju tujuan mereka yaitu rumah Bi Asih.
Memang benar kata Bi Asih...begitu angkutan desa memasuki kawasan dataran tinggi di kota Yogyakarta itu,hawa sejuk mulai terasa membelai kulit mulus Dira. Hawa sejuk yang tak pernah dia rasakan selama tinggal di ibukota. Semakin dekat dengan rumah Bi Asih,hawa sejuk pun perlahan berubah menjadi lebih dingin padahal hari sudah mulai merangkak siang...tapi hawa khas pegunungan...hawa lereng gunung Merapi.
Rumah Bi Asih memang tidak begitu luas tapi terlihat nyaman dan terawat. Menurut Bi Asih, rumahnya memang dirawat oleh keponakannya yang selalu rutin dikirimi uang setiap bulannya oleh Bi Asih.
"Ini tempat tinggal kita yang baru sayang, rumah Nenek Asih... kita akan tinggal bertiga di rumah ini. Bunda akan melahirkan dan membesarkanmu di sini. Tumbuhlah menjadi anak yang hebat, kuat, pemberani, baik hati dan penyayang. Bunda ingin kamu tumbuh menjadi pribadi yang sederhana dan taat pada agama..." Dira mengusap butiran kristal bening yang mengalir tanpa permisi di sudut netranya. 'Ya Allah kenapa harus seperti ini? Perih rasanya mengandung buah hati yang pertama tanpa didampingi suami...' gumam Dira dalam hati.
"Lho...kok malah melamun di sini...Ayo kita makan siang, setelah itu Neng Dira harus istirahat dulu... Soalnya nanti sore kita kan harus ke rumah Pak RT untuk laporan ijin tinggal, yuuk.,." bujuk Bi Asih. Dira mengangguk dan tersenyum...lalu dengan patuh dia mengikuti langkah Bi Asih...
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung