Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Positif Lagi


__ADS_3

Dira membuka pintu kamar mandi pelan dan ternyata semua orang di luar kamar mandi sudah menunggunya. Makanya ketika Dira membuka pintu perhatian semuanya pun langsung tertuju padanya.


"Bagaimana?" tanya Hans yang selalu tidak sabaran. Tapi Dira hanya diam tidak sanggup berkata-kata, kristal bening di netranya lolos satu-satu membuat Hans cemas melihatnya.


"Sayang...?!" tanya Hans lagi. Namun bukannya menjawab, Dira malah menghambur ke pelukan Hans yang tengah berdiri dengan lemas.


"Dira positif hamil...hiks hiks hiks..." bisiknya di tengah isak tangis harunya.


"Alhamdulillah..." ucap semua yang berada di situ bersamaan.


"Serius?" Dira mengangguk sambil memberikan testpack yang baru saja selesai dia gunakan. "Alhamdulillah... tapi kita kan baru..." Hans tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi karena mulutnya keburu di bungkam oleh tangan Dira.


"Mas mau mempermalukan Dira dan membanggakan diri di depan orang banyak?!" bisik Dira dengan nada mengancam. Hans pun menggeleng sambil tersenyum penuh arti.


Ya... saking bahagianya, Hans hampir saja keceplosan jika setelah dokter mengijinkan mereka bercinta kemarin, mereka baru melakukan penyatuan dua kali. Dan ternyata sudah langsung membuat Dira kembali mengandung.


'He he he... ternyata pusaka gue joss juga... Dulu saja, dengan sekali colok adonan Hara pun langsung jadi. Na sekarang... dua kali colokan aja, adonan adiknya Hara langsung sukses mengisi rahim Dira... Gue memang hebat... he he he...' Hans terkekeh sendiri dalam hati.


"Terimakasih sayang..." ucap Hans mempererat pelukannya sambil menghujani ciuman kepada istri cantiknya itu.


"Berhenti mas... kita sekarang sedang berkumpul dengan banyak orang..." bisik Dira.


'Hans memang begitu cinta dan sangat sayang kepada Nitha, begitupun Nitha... sorot matanya ketika menghawatirkan Hans tadi mengisyaratkan betapa dia begitu mencintai laki-laki yang pernah menelantarkan dia dan anaknya itu....' gumam Haris.


"Dasar bocah nggak tau malu... kamu anggap apa kami di sini Hans..." Amirah menyodok pinggang Hans dengan tongkat bantu jalannya.


"He he he... maaf nek..." Baru saja Hans duduk, tiba-tiba perutnya terasa mual kembali dan terdengar dia muntah-muntah di dalam kamar mandi. Dira sudah tidak begitu cemas lagi. Dia segera menuangkan air hangat dari dispenser yang ada di kamar hotelnya.


"Dira yang hamil tapi kenapa bisa Hans yang mual-mual begitu?" tanya Anita yang sejak tadi diam saja.


"Iya... kenapa begitu mas... apa secara medis ada penjelasannya?" tanya Sekar ikut bicara.


"Secara medis tidak pernah ada penjelasan yang pasti, karena ini tidak termasuk dalam gejala orang hamil. Ini lebih dikarenakan ikatan batin yang ada di antara mereka berdua-duaan begitu kuat. Bisa jadi kejadian waktu Dira keguguran kemarin tidak hanya Dira yang terpukul tapi Hans juga merasakan hal yang bisa jadi lebih dalam di banding Dira. Rasa bersalah dan rasa cinta yang besar kepada pasangan juga bisa menimbulkan hal seperti ini. Bahkan ada juga yang bilang, jika hal ini bisa terjadi karena adanya perjanjian di antara pasangan suami istri yang bersangkutan..." jelas Haris.

__ADS_1


"Tapi apa waktu mual-mual ini juga akan berlangsung lama seperti yang dialami bumil?" tanya Dira sambil mengelap bibir Hans yang baru selesai muntah-muntah.


"Oh enggak...paling lama seminggu sampai dua minggu saja karena ini bisa di bilang hanya emosi sesaat... Setelah itu semua akan kembali pada kodratnya yaitu kepada sang istri yang akan merasakan perubahan hormonal dalam tubuhnya" jawab Haris yang kurang fokus karena melihat kemesraan Hans dan Dira.


🌹🌹🌹


Sekar tengah menikmati pemandangan kota Jogja dari balkon kamar hotel. Ya... tak hanya menyediakan tempat resepsi dan memfasilitasi jalannya acara resepsi pernikahan Haris dan Sekar, Hans juga memberikan paket bulan madu, menginap di hotel yang ternyata salah satu milik Hans.


"Kamu sedang apa sayang...?" tanya Haris sambil memeluk Sekar dari belakang.


"Lama tidak bertemu dengan Nitha, dia tampak tambah cantik ya mas?" ucap Sekar yang terlihat mengabaikan pertanyaan suaminya... seperti Haris yang sekarang sudah sah menjadi suaminya tapi seharian mengabaikan perasaannya.


Bukan karena tidak tau, tapi lebih tepatnya dia pura-pura tidak tau, ketika di pelaminan tadi tatapan Haris tidak pernah lepas dari sosok Nitha atau Dira. Sebenarnya hatinya sangat sakit menyadari orang yang baru tiga jam berstatus sebagai suaminya itu, di atas pelaminan justru selalu memperhatikan wanita lain. Namun Sekar berusaha mengerti karena memang dari sejak awal, cinta Haris hanya untuk Nitha bukan untuk dia.


"Kamu juga cantik..."


"Mas masih mencintainya?" tanya Sekar seolah kembali mengabaikan ucapan suaminya.


"Maafkan aku mas, aku hanya takut jika rumah tangga kita tidak akan bahagia, jika selamanya ada bayang-bayang Mbak Nitha dihatimu... hiks hiks hiks..."


"InsyaAllah itu tidak akan terjadi... Nitha sudah bahagia dengan keluarganya dan aku pun akan menyongsong bahagia bersamamu... Kamu percaya aku kan?" Sekar mengangguk pelan sambil menyelesaikan tangisannya... "Sudah, jangan menangis lagi dong... mosok pengantin baru bukannya mesra-mesraan tapi malah mewek-mewekan... kita masuk ke kamar yuk... Sebentar lagi maghrib, setelah sholat kita mesra-mesraan di kamar ya..."


"Nunggu habis sholat isya..."


"Kenapa harus nunggu? Sholat isya itu panjang waktunya...keburu pengen... he he he..." Haris terkekeh sambil mengedipkan mata genitnya, membuat Sekar tersipu malu.


"Aku bersih-bersih dulu... tuh sudah terdengar suara adzan..."


"Idih udah nggak sabaran juga ya..." teriak Haris menggoda istrinya.


"Tau ah...mas genit... Sekar mau siap-siap sholat maghrib tau..." ucapnya sambil buru-buru pergi ke kamar mandi.


"Ha ha ha..." Haris tertawa penuh kemenangan, menertawakan istrinya yang terlihat salah tingkah terhadapnya.

__ADS_1


'Aku akan menuruti permintaanmu Nitha. Aku akan selalu berusaha membahagiakan Sekar, karena aku tau Sekar memang gadis yang baik. Walaupun hingga saat ini aku masih belum bisa mencintainya... tapi aku pun meyakini ucapanmu bahwa berjalannya waktu, aku akan bisa mencintainya. 'Tresno jalaran soko kulino' (cinta karena kebiasaan)... begitu pepatah jawa yang kamu artikan untuk hidup baruku saat ini. Kamu memang wanita dan seorang sahabat yang baik. Bersyukur aku pernah menjadi bagian dari hidupmu, walaupun aku tidak pernah bisa memilikimu...' gumam Haris dalam lamunannya.


"Mas... kita sholat berjamaah?" tanya Sekar.


"Mas...mas... Mas Haris..." panggilnya lagi.


"Eh iya sayang... apa?" tanya Haris sedikit gugup.


"Mas melamun ya...?" tanya Sekar cemberut, pikirannya sudah pasti langsung menuduh jika suaminya itu sedang memikirkan Dira.


"Iya... lagi ngelamunin kegiatan kita habis sholat maghrib nanti...he he he..." jawab Haris berbohong.


"Bohong..." ucap Sekar.


"Hmm... jangan suka su'udzon sama suami...'cup'..." Haris mencium bibir istrinya sekilas lalu ngeloyor ke kamar mandi.


"Maaass.,. aku udah wudhu...." teriak Sekar kesal tapi seperdetik kemudian reaksinya langsung berubah menjadi tersenyum sambil menyentuh bibirnya yang baru saja di cium oleh Haris, jantungnya berdegup kencang karena baru pertama kali bibirnya bersentuhan dengan bibir seorang laki-laki.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.,..

__ADS_1


__ADS_2