Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
KKN


__ADS_3

Waktu tanpa terasa bergerak dengan begitu cepatnya. Dira sangat bersyukur karena lambat laun kehadirannya di desa itu semakin diakui. Masyarakat di sana tidak lagi memandang sebelah mata padanya lagi, walaupun masih ada beberapa orang yang mencibirnya tapi itu tak menyurutkan niat Dira untuk turut membangun desa itu lewat jalur ekonomi koperasi. Dira juga merasa lega dan bahagia, karna dokter Haris masih mau bersahabat dengannya. Bahkan kini Dira punya satu lagi sahabat di sana yaitu Sekar...putri dari Pak Kades. Perlahan tapi pasti Dira berusaha mendekatkan dokter Haris dengan Sekar.


Sementara di Jakarta, Hans seperti putus asa mencari Dira. Sepeninggal kakeknya menghadap Sang Khalik di tambah keputusan nenek yang ikut tante dan suaminya pindah ke Bogor, Hans menjadi orang yang gila kerja. Hanna yang sering protes karna merasa kesepian pun tidak digubrisnya.


"Kak, besok aku berangkat KKN ke Jogja... jadi besok kakak nggak usah telpon-telpon kalo aku nggak ada di rumah..." jelas Hanna. Semenjak mereka hanya tinggal berdua, Hans memang begitu protect terhadap adik semata wayangnya.


"Hmm...di daerah mana KKN mu?" tanya Hans.


"Aku dapat di desa yang lumayan terpencil di lereng gunung Merapi. Katanya desa itu adakah desa baru... warganya adalah warga desa yang dipindahkan ke desa itu karena desa mereka yang dulu terkubur oleh abu Merapi di tahun 2010 dahulu...."


"Berarti bahaya dong...kok kampusmu memilih tempat kayak gitu sih...kamu jangan berangkat KKN deh...tar kamu kenapa-kenapa lagi." ucap Hans yang langsung mengambil ponselnya..." Kakak akan mintain ijin kamu bilang kalo kamu nggak ikut KKN ke Jogja.. "


"Ish...kakak ni jangan malu-maluin Hanna dong... percaya deh nggak akan ada apa-apa. Lagian saat ini gunung Merapi nya lagi anteng-anteng aja kok..." kilah Hanna.


"Kok malu-maluin sih... Kamu tau nggak, gunung yang masih aktif itu tidak pernah bisa di duga kapan akan meletusnya..."


"Udah deh kak... kakak ini nggak usah lebay,aku kan ke sana kan nggak sendirian...ada sepuluh orang yang ditempatin di situ. Lagi pula,itu desa pindahkan dari desa yang dahulu,itu berarti keberadaan desa itu sudah di pastikan keamanannya..." Hanna terus berusaha meyakinkan kakaknya.


"Oke-oke...kakak ijinin kamu pergi tapi kamu harus janji untuk selalu ngabarin kakak setiap harinya. Kakak sayang sekali padamu dek...hanya kamu saat ini yang kakak punya. Kakak sudah gagal menjaga istri dan anak kakak. Yang membuat kakek kecewa sampai kakek jatuh sakit hingga meninggal dunia. Makanya kakak tidak mau kehilangan orang tercinta kakak lagi..." Mendengar ucapan Hans, Hanna pun segera berdiri menghampiri kakaknya lalu memeluk tubuh kakaknya.


"Hanna tau... Hanna juga sayang sekali sama kakak. Hanna berdo'a semoga Kak Dira segera ketemu dan mau pulang lagi ke rumah ini. Oya, bukankah setau Om Pras, Bi Asih itu rumahnya sekitar lereng gunung Merapi...siapa tau Hanna bisa ketemu di sana..." hibur Hanna kepada kakaknya.


"InsyaAllah... yang penting kamu harus janji untuk memberi kabar setiap harinya...oke?"


"Iya kakakku yang ganteng...cup.,." sebuah ciuman penuh kasih sayang disematkan Hanna di pipi kakaknya.


Hans pun tersenyum sambil mengulurkan tangannya mengacak rambut adiknya sebagai tanda kasih.


🌹🌹🌹


Hari ini Pendapa Desa Purbamartani tampak ramai. Pak Kades sejak seminggu yang lalu sudah mengumumkan bahwa akan ada mahasiswa dari ibukota Jakarta akan mengadakan KKN di desa mereka. Mereka pun segera menyusun kegiatan yang bermanfaat untuk desa mereka sebagai referensi para mahasiswa yang akan datang dan tinggal di desa mereka nanti,waktu itu.


Dira dan Sekar pun mendapat tugas mendampingi lima mahasiswi yang sekiranya ingin mengenal aneka kerajinan dan juga aneka makanan khas yang di produksi oleh warga desa sebagai oleh-oleh para wisatawan.

__ADS_1


Bapak Kepala Desa beserta ibu dan jajaran perangkat desa termasuk Dira dan dokter Haris yang kini menjabat sebagai kepala puskesmas desa setempat, sudah bersiap-siap menerima kedatangan bis tamu yang berisi para mahasiswa dari ibukota Jakarta. Namun tiba-tiba Intan adik Sekar yang masih duduk di bangku SMP kelas VII berlari-lari mendekati Dira, begitu dia turun dari angkutan desa.


"Mbak Nitha... Mbak Nitha... " panggil Intan membuat semua orang yang ada di situ menengok ke arahnya.


"Astaghfirullah dek, ada apa sih lari-lari sambil teriak-teriak... malu-maluin aja deh..." hardik Sekar pada adiknya.


"Hufh...hufh...biarin...ini urgent tau..." intan tampak masih mengatur nafas dan Dira pun segera memberikan sebotol air mineral.


"Minum dulu...ada apa?" tanya Dira.


"Itu mbak...tadi saya dimintain tolong sama Bu Ita untuk menyampaikan bahwa di sekolah Hara berkelahi lagi...hufh..." ucap Intan yang masih dengan nafas sengalnya.


"Astaghfirullah haladziim...kalo begitu tolong sampaikan ke ibu, saya pamit mau ke sekolah Hara dulu ya Sekar..." pinta Dira.


"Iya mbak..." jawab Sekar. 'Aduh Hara...Hara... padahal bis tamu akan segera tiba... Kasihan Mbak Nitha jadi pontang panting...' gumam Sekar dalam hati.


Dira pun segera memacu motor maticnya menuju sekolahan putranya dan tanpa sengaja dia berpapasan dengan bis tamu yang didalamnya teryata ada Hanna yang tengah menikmati keindahan pemandangan sepanjang jalan menuju Desa Purbamartani.


"Astaghfirullah..." Hanna terkejut saat netranya melihat seorang wanita mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.


"Itu tadi ada mbak-mbak naik motor kok kenceng gitu, padahal di jalan pedesaan dan berpapasan sama bis pula..."


"Wah mana? Keren dong..."


"Keren mate lu soek... bahaya tau..."


"He he he...iye juga sih..."


Dira memarkir motor asal dan setengah berlari menuju kantor kepala sekolah tempat Hara bersekolah.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam Bu Nitha...mari silahkan masuk..." Bu Ita guru Hara yang merangkap sebagai kepala sekolah pun mempersilahkan Dira masuk dan duduk dengan ramah, sementara di ruang yang sama, Hara dan temannya tengah di hukum seperti sebelumnya, keduanya berdiri di pojok menghadap ke tembok tetapi dengan jarak yang berjauhan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi bu...?" tanya Dira yang sebenarnya sudah tau kejadian dan alasan terjadinya perkelahian itu. Bu Ita menghela nafas panjang, lalu...


"Maaf bu...ini sudah yang kesekian kalinya Hara berkelahi dengan temannya dan dengan alasan yang sama... yaitu Hara tidak terima dikatakan anak yang tidak punya papa..."


Deg...


"Again..." bathin Dira sambil membuang nafas kasar.


"Maaf sebelumnya bu... sebenarnya kemana papanya Hara? Masih hidupkah atau...maaf...sudah meninggal dunia...?" tanya Bu Ita sedikit canggung.


"Papanya Hara masih hidup bu...kini beliau tinggal di Jakarta... tapi Hara memang belum pernah bertemu dengan papanya. Selama ini, Hara mengenal papanya hanya dari cerita saya. Bahkan seperti apa wajah papanya pun Hara belum pernah tau..." ucap Dira sambil menunduk.


"Maaf sebelumnya... apakah status Bu Nitha dengan papanya Hara bercerai atau malah belum pernah menikah dengan papanya Hara? Sekali lagi maaf bu... sebab hal satu ini yang sering diperbincangkan oleh para wali murid lalu ketika tanpa sadar putra-putri mereka mendengar... oleh anak-anak itu dijadikan bahan olok-olok kepada Hara. Dan kalau sudah begitu, perkelahian pun tidak bisa dihindari..." jelas Bu Ita.


Dira pun mengeluarkan kartu nikah miliknya yang di terima dari KUA.


"Kami menikah secara resmi secara hukum negara dan hukum agama. Hanya saja ada sesuatu hal yang membuat kami saat ini tidak bisa tinggal bersama. Alasan apa itu,biarlah saya sendiri yang tau... Maaf bu, boleh saya ajak pulang putra saya...?" tanya Dira.


"Silahkan Bu Nitha...sekali lagi maafkan atas kelancangan saya menanyakan hal tadi..." ucap Bu Ita sedikit merasa bersalah.


"Tidak apa-apa bu...saya mengerti dan saya bisa memahami posisi ibu... saya pamit dulu... Sayang ayo kita pulang...salim dulu sama hu guru... Assalamu'alaikum... "


"Wa'alaikumsalam..."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2