
"Sudah selesai bualanmu?" tanya Hans datar.
"Aku tidak membual kak... apa yang aku katakan adalah benar adanya. Aku memang benar-benar mencintaimu sejak dulu..." tegas Feli.
"Lalu apa maumu?"
"Aku mau kakak lihat aku,lihat kesetiaanku pada kakak. Aku mencintai kakak jauh sebelum perempuan itu datang, tapi kenapa perempuan itu justru yang kakak pilih. Apa kakak tau, jika sebenarnya Dira itu tidak mencintai kakak...? Bahkan ketika dia bertemu dengan aku pertama kali, dia mengaku sebagai adik kakak. Kalau memang dia mencintai kakak, harusnya sejak awal dia mengaku sebagai istri kakak, bukannya malah membohongi aku dengan mengaku sebagai adik... Bukankah itu membuktikan bahwa dia tidak bangga mempunyai suami seperti kakak?"
"Bukannya kamu yang tidak memberikan kesempatan pada istriku untuk menjelaskan siapa dia sebenarnya?"
"Memangnya dia bilang begitu pada kakak? Jika dia bilang begitu, berarti dia bohong sama kakak..." ucap Feli percaya diri.
"Cukup Feli...! Aku sudah tau semua kejadian yang sebenarnya. CCTV di ruangan kantorku sudah berbicara. Begitupun CCTV di toilet hotel saat kejadian itu berlangsung. Kamu tidak bisa menghindar lagi. Gara-gara ulahmu, istriku terluka dan kami pun harus kehilangan calon bayi kami yang sudah sangat aku nantikan..." ucap Hans dengan lantang dan tangan terayun ke atas, tapi dia menghentikan tangannya beberapa sentimeter dari wajah Feli. Felisha pun memejamkan matanya sambil menangis ketakutan. Tapi Hans tetaplah Hans... Bagaimanapun seorang Hans bukanlah seorang CEO yang kasar dan arogan. Dia tegas tapi tidak pernah main pukul, apalagi yang dihadapi saat ini adalah seorang perempuan, adik temannya lagi. "Kamu tau apa yang sebenarnya ingin aku lakukan padamu saat ini?" Feli menggeleng pelan sambil masih memejamkan matanya dan menangis. "Aku ingin membunuhmu...aku ingin sekali menghabisi nyawamu, seperti kamu yang telah menghilangkan nyawa calon bayiku..." bisik Hans di telinga Felisha.
Felisha menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat sambil masih terus menangis ketakutan.
"Maafkan Feli kak... maafkan Feli... hiks hiks hiks... Feli khilaf kak... Feli tidak sengaja...hiks hiks hiks..." ucap Felisha di tengah-tengah tangisannya.
"Kalo kamu memang tidak sengaja, kenapa kamu tidak menolongnya?"
"Feli takut kak..."
"Alasan...! Kalo kamu takut kenapa setelahnya kamu justru terlihat santai-santai saja menghadapi masalah ini bahkan kamu sempat-sempatnya melenggang ke mall untuk jalan-jalan... Feli... Feli... semua ucapan dan tindakanmu itu tidak singkron dan aku tidak akan pernah mempercayainya..."
"Feli... hiks hiks hiks..." Feli sudah tidak bisa mengelak lagi dan sudah tidak bisa memberikan pembelaan apa-apa lagi. Dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi, karena dia kini hanya bisa menyesali perbuatannya, Feli pun tertunduk sambil menangis tersedu-sedu dengan kedua tangan yang masih terikat.
"Sudahlah Lex, serahkan saja dia sekarang pada polisi... Aku ingin dia di hukum seberat-beratnya karna dia telah membuat istriku sedih dan terluka lahir batinnya..." ucap Hans yang langsung melangkah hendak meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
"Polisi? Kak Hans... ampuni aku kak... maafkan aku... aku tidak mau di penjara kak... Kak Hans... Kak Alex... tolong lepasin aku... aku tidak mau di penjara... hiks hiks hiks... Aku janji aku tidak akan mengganggu istri kakak lagi. Aku janji, aku akan menghilang dari kehidupan kakak... tapi please, jangan bawa Feli ke kantor polisi...Feli nggak mau di penjara kak..." rengek Felisha histeris.
"Hei Hans... hanya begini aja? Dia tidak di apa-apain nih? Rugi dong kita di bawa dia jauh-jauh ke sini kalo cuma di interogasi kaya gitu..." Hans berhenti melangkah lalu menoleh ke arah Alex.
"Lalu maumu dia diapain?" tanya Hans cuek.
"Ya di apain aja biar dia kapok... Di siksa kek, di perkosa kek atau di apain gitu, biar kaya di novel-novel atau di film-film action itu lho..." ucap Alex menakut-nakuti, membuat Feli terus memohon sambil menangis semakin keras. Akex tersenyum geli dibuatnya.
"Lu mau memperkosa dia? Aku di kasih suka rela aja ogah..." jawab Hans melanjutkan langkahnya lagi.
"Ooo jangan salah, gue suami setia ya... Tuh Bram sama teman-temannya pasti nggak nolak, secara mereka kan masih pada lajang tuh. Tenaganya juga lagi kuat-kuatnya... ya kan Bram? Lumayan tuh bisa mainan dan ngelonin boneka plastik yang cantik...ha ha ha..." Alex tertawa terbahak-bahak karena bisa puas mempermainkan Felisha, sementara Felisha pun semakin ketakutan mendengar ucapan Alex. Sedangkan Bram dan teman-temannya hanya tersenyum karena mereka tau jika boss-boss mereka hanyalah bercanda. Tapi tidak dengan Feli, dia menjadi histeris ketika pandangan Bram dan teman-temannya mengarah ke arahnya dengan sorot mata membunuh.
"Ampun kak... jangan lakukan itu sama aku. Aku mohon maaf... lepasin aku kak... Aku janji tidak akan mengulanginya lagi... tolong kak... please... hiks hiks hiks..." rengek Feli lagi sambil menangis.
"Enak aja lu... udah nyakiti adik gue terus lu minta dilepasin begitu saja... ha ha ha... mimpi lu ya..." ledek Alex..."Bram, tutup lagi matanya dengan kain, lalu antar dia ke kantor polisi terdekat. Kita nanti ketemu di sana..." ucap Alex yang langsung pergi meninggalkan mereka, dan menyusul Hans keluar gedung.
"Siap boss..." ucap Bram yang langsung sigap melaksanakan titah bossnya.
"Duh ribet amat ni cewek...mana sapu tangannya tadi?" Teman Bram pun langsung memberikan sapu tangan yang sudah di kasih obat bius. Dan akhirnya Feli pun diam untuk sementara.
🌹🌹🌹
Mobil Hans memasuki halaman rumahnya, setelah dia selesai menulis laporan atas kejahatan Felisha.
"Papa..." teriak Hara menyambut papanya, sambil berlari menyambangi papanya. Hans pun menangkap putranya lalu menggendongnya.
"Mama mana? Apa mama sudah bangun?" Hara mengangguk.
__ADS_1
"Mama sedang di taman belakang sama eyang, Oma Anita dan Aunty Hanna..." Hara diam sebentar lalu tangannya menangkup wajah papanya... "Papa, kakak mau tanya sesuatu boleh? Tapi ini rahasia, hanya Hara dan papa saja yang boleh tau..." ucap Hara yang tiba-tiba menjadi serius. Hans mengangguk sambil tersenyum menanggapi ucapan putranya yang sok dewasa dan sok serius itu...
"Sure...tentu saja, kalo gitu, kita bicara di ruang kerja papa saja ya...?" Hara mengangguk lalu Hans pun segera membawa Hara ke ruang kerjanya. "Emang kakak mau tanya soal apa?" tanya Hans sambil menurunkan Hara dari gendongannya lalu mendudukkannya di sofa ruang kerjanya.
Bukannya langsung menjawab, Hara malah turun dari sofa lalu membuka kembali pintu ruang kerja Hans yang tadi telah tertutup. Setelah melongok ke kanan dan ke kiri, Hara kembali menutup pintu ruang kerja Hans lalu duduk lagi di tempat semula. Hans hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya itu.
"Emang kakak mau tanya soal apa sih... kok sampe segitunya...?" tanya Hans mengulang pertanyaannya tadi.
"Papa... tolong papa jawab dengan jujur, apa yang terjadi dengan mama? Dan apa yang di maksud dengan keguguran? Kakak butuh jawaban pasti dari papa, sebab sejak tadi pagi kakak perhatikan mama tampak murung dan sering menitikkan air mata..." tanya Hara dengan mimik muka serius tapi terlihat menggemaskan bagi orang yang melihatnya. Hans menarik nafas panjang lalu...
"Kakak kok nanyanya banyak... papa harus jawab yang mana dulu nih?" tanya Hans mencoba mengulur waktu karena saat ini otaknya sedang berfikir keras... dia sedang mencari jawaban yang tepat dan yang mudah dipahami oleh putranya.
"Terserah papa... yang penting papa harus menjelaskan semuanya..." jawab Hara sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
'Putraku ini memang ajaib. Usia baru empat tahun, tapi rasa ingin tau dan ketertarikannya dalam mengulik satu masalah terlalu besar selayaknya orang dewasa. Apalagi jika masalah itu menyangkut mamanya. Huft... Hara memang sangat menyayangi Dira, mamanya...' gumam Hans dalam hati yang begitu terkagum-kagum pada putranya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...