
Hans dan Dira kembali ke kamar mereka untuk mengganti baju, kemudian turun menyambangi putra mereka dan Erik temannya... Sementara Jessica sudah duduk manis di ruang makan menunggu untuk sarapan bersama.
"Ah ya Kak Jessica, aku minta maaf karena kami tidak bisa menemani kakak sarapan pagi. Soalnya tadi pagi papaku mengirimkan pesan jika beliau ingin sarapan bersama kami... Maaf ya..." ucap Dira sambil mengaduk-aduk tasnya seperti mencari sesuatu.
"Tidak apa-apa..." jawab Jessica singkat.
"Eh mas, tunggu sebentar...ada barangku yang tertinggal di kamar..."
"Iya... pergilah cepat sayang tapi jangan lama-lama... takutnya papa sudah kelamaan menunggu kita..."
"Iya mas..."
Tanpa menunggu lama, dengan setengah berlari akhirnya Dira pun kembali ke kamarnya.
"Oya Jess, sebentar lagi mungkin Alex dan Pak Handoyo akan datang. Ajak saja mereka sarapan bersama untuk menemanimu, sekalian membicarakan langkah-langkah yang akan kamu tempuh untuk melawan Rico, putra sulung Tuan Hendrik itu... Lebih cepat terselesaikan masalahmu, akan lebih baik buat kamu dan buat Erik. Agar kalianl lebih cepat bisa menata masa depan kalian berdua dengan baik..." ucap Hans...
"Iya... terimakasih banyak atas bantuanmu ya Hans, aku tidak menyangka kamu masih peduli dan perhatian denganku. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu ini Hans..." Jessica mencoba meraih tangan Hans, tapi dengan cepat Hans menghindar.
"Jangan berfikir terlalu jauh Jess... aku mau membantumu, semua karena kebaikan istriku, bukan karena kita pernah mempunyai hubungan sebelumnya..." Jessica terdiam sesaat mendengar ucapan Hans, entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa kecewa dan sakit mendengar penuturan Hans padanya.
"Aku tau..." jawabnya singkat.
Dan di saat mereka sedang saling diam, tiba-tiba Dira pun datang.
"Ayo mas, Dira udah siap..."
"Ayo...ayo... anak-anak juga sudah ribut dari tadi..."
"Maa... kapan kita berangkatnya..." rengek Hara yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan opa dan oma nya.
"Iya sayang... Oya Kak Jess, kami pergi dulu ya kak..." ucap Dira sambil menyibak rambutnya.
"Iya..." jawab Jessica
Entah sengaja atau tidak, ketika Dira menyibak rambutnya, Jessica melihat tanda kepemilikan di sana... membuat Jessica mengepalkan tangannya karena cemburu.
'Br*******k... Hans sepertinya benar-benar sudah bisa melupakan gue. Delapan tahun lebih bersama gue, dia tidak pernah sekalipun memperlakukan gue seistimewa dia memperlakukan Dira. Jangankan menyematkan tanda kepemilikan pada gue,menyentuh gue pun dia tidak pernah. Dengan dalih ingin mempunyai malam pertama yang istimewa, sebuah ciuman pun dia tidak mau memberikannya kepada gue. Dira kini memang sudah menjadi istrinya tapi... Akh... harusnya gue dulu tidak melepaskan Hans begitu saja. Dan kini Hans benar-benar seperti orang yang telah dibutakan oleh cinta. Bahkan ketika berhadapan dengan gue pun, Hans sekarang seolah telah membangun benteng yang begitu kuat dan tinggi. Hingga begitu sulit gue menerjangnya. Tapi memang harus gue diakui jika Dira memang seorang wanita sekaligus seorang istri dan ibu yang baik, kalau tidak... mana mungkin dia mau menerima gue tinggal di rumahnya dan mengijinkan suaminya untuk membantu gue nyelesein masalah yang tengah gue hadapi? Padahal gue adalah bekas pacar suaminya yang pernah jahat padanya, hingga membuat mereka terpisah selama lima tahun lamanya... Ya Tuhan...ada apa dengan gue ini...? Mungkinkah gue akan berubah menjadi pribadi yang seperti dulu lagi? Pribadi yang egois, jahat dan tidak tau diri? Akankah gue tega menghancurkan rumah tangga orang yang telah dengan tulus ikhlas ngebantu gue dan menyayangi anak gue? Sepertinya gue nggak segila itu... tapi... terus terang gue iri melihat kebahagiaan Dira dengan Hans.... Kebahagiaan yang dulu pernah akan menjadi masa depan gue...'
🌹🌹🌹
Mobil Pajero Sport hitam milik Hans memasuki halaman sebuah rumah besar yang bergaya classic. Rumah yang menyimpan sejuta kenangan indah saat dia masih bersama Almarhumah mamanya, rumah yang menjadi saksi bisu betapa bahagianya hidup Dira pada masa kecilnya dulu... sekaligus rumah yang menjadi saksi sejarah kelam dalam hidupnya, sehingga dia terpaksa meninggalkan rumah itu dengan hati yang penuh luka.
"Sayang kita sudah sampai... Apa kita turun sekarang?" tanya Hans sambil memegang tangan istrinya. Mendengar pertanyaan dari suaminya, lamunan Dira pun buyar seketika.
"Ah...i...iya..."
__ADS_1
"Iya apanya..." goda Hans, dia tau dari sejak mobil memasuki halaman rumah papanya, Dira sudah terlihat melamun. Makanya Dira tidak menyahut ketika Hara bertanya padanya.
"Ah...ya iya kita turun sekarang..."
"Ma... ini rumah opa ya?"
"Iya..." jawab Dira singkat sambil mengangguk.
"Mama... Apa mama tidak senang kita datang ke rumah opa? Kok mama kelihatan sedih..." tanya Hara yang sedari tadi melihat mamanya terlihat murung.
"Enggak lah... mama enggak sedih kok... Mama kangen sama opa makanya mama juga senang mau bertemu dengan opa, sama seperti Hara..."
"Tapi..."
"Eh itu opa sama oma keluar menyambut kita... ayo kita turun..." ajak Hans mengalihkan perhatian Hara.
"O iya... ayo semua turun...Hara jangan tinggalin Erik nak..."
"Iya ma... Ayo Rik... kita ke opa dan oma ku..." ajak Hara semangat. Kedua anak itu pun segera melompat keluar dari mobil. Hans membukakan pintu mobil untuk istrinya dan setelah menutup kembali pintu mobil, tangan Hans menggenggam erat tangan Dira.
"Jangan sedih... mas selalu ada di sampingmu..."
Dira menoleh ke arah suaminya sambil tersenyum.
"Terimakasih mas..."
"I love you too..."
Hara dan Erik berlari mendekati Prasetyo papanya Dira dan Sonya mama sambung Dira.
"Assalamu'alaikum opa...oma... Perkenalkan, nama saya Hara Andika Saputra, umur empat tahun. Ini teman Hara... namanya Erik... umurnya empat tahun juga..."
"Wa'alaikumsalam... Masya Allah... cucu oma pintar sekali... Ayo ayo masuk, oma sudah masak banyak sekali... kita langsung sarapan saja ya..." sambut Sonya ramah. Sonya memang telah banyak berubah semenjak Dira merelakan Damar untuk Angel, apalagi Dira juga mau menikah dengan Hans, walaupun waktu itu Dira menikah tanpa cinta.
"Sayang... apa kabar...? Kamu kemana saja... hiks hiks hiks..." Sonya memeluk erat tubuh Dira sambil menangis, membuat Dira pun ikut menangis karna terbawa suasana.
"Ehem..." Suara Prasetyo yang berdehem, membuat Sonya melepaskan pelukannya pada Dira.
"Anak sulung kita pulang pa..." ucap Sonya.
"Papa..." panggil Dira... Prasetyo merentangkan kedua tangannya dan Dira pun menghambur ke pelukan hangat papanya.
"Maafkan Dira papa... hiks hiks hiks..."
"Papa yang seharusnya minta maaf sayang... selama ini, papa telah banyak bersikap tidak adil padamu. Dan ketika mengetahui kamu pergi jauh entah kemana, separuh jiwa papa seolah ikut hilang bersamamu... Maafkan papa sayang..."
__ADS_1
"Iya pa..."
"Sudah... sudah... ayo kita sarapan...tuh lihat anak kamu sudah duluan..." kata Sonya.
"Masya Allah Hara... Erik... kok kalian makan duluan..."
"Maaf ma... habisnya Hara sama Erik keburu lapar ma... Mamanya lama, nanti bisa-bisa Hara sama Erik keburu pingsan, kalo harus nunggu mama..." ucap Hara sambil mengunyah sarapannya. Sementara Hans menunggui putranya makan, sambil sesekali mengelap sisa makanan yang belepotan di sekitar bibir putranya itu.
"Lihat suamimu Dir... dia tampak begitu sayang dan sabar meladeni putranya..." ucap Sonya yang terkagum-kagum melihat perlakuan Hans ke putranya. "Kamu... sekarang bahagia kan sayang..." Sonya membelai lembut rambut Dira.
"Alhamdulillah mi... selain menyayangi Hara... Mas Hans juga sangat memanjakan Dira... Dia seorang ayah dan suami yang sangat baik..."
"Syukurlah... mami lega mendengarnya... Maafkan sikap mami selama ini ya nak?" Dira mengangguk sambil tersenyum kepada Sonya, kemudian keduanya pun duduk di kursi makan masing-masing untuk sarapan bersama.
"O ya mi... Angel dan Damar kemana ? Maaf kemarin Hans tidak bisa hadir dalam pernikahan Angel dan Damar..." tanya Hans sambil melirik ke arah Dira untuk melihat reaksi Dira ketika dia menyebut nama Dira. Tapi entah Dira tidak mendengar atau pura-pura tidak mendengar, yang pasti Dira terlihat biasa-biasa saja.
"Tidak apa-apa Hans... yang terpenting adalah do'anya saja... Alhamdulillah semuanya lancar, iya kan pi...?" Prasetyo mengangguk.
"Oh Angel sudah menikah mi? Syukur Alhamdulillah... Kapan itu mi?"
"Beberapa bulan yang lalu setelah Angel menyelesaikan S1 nya. Maaf ya sayang...tadinya kami ingin menunda pernikahan mereka sampai kamu pulang tapi... bahkan kabar keberadaanmu pun kami tidak pernah tau, sementara Angel sudah terlanjur positif mengandung anaknya Damar..."
"Tidak apa-apa mi... yang penting kini mereka sudah bersama... Semoga rumah tangga mereka samawa ya..."
"Iya sayang... terimakasih atas pengertianmu... Mami jadi merasa sangat bersalah padamu..."
"Jangan begitu mi... kita kan sudah sepakat menutup lembaran lama untuk membuka lembaran baru? Jadi jangan di ungkit lagi ya..."
Dira meraih tangan Sonya lalu menciumnya, sementara netra tua Prasetyo berkaca-kaca melihat keakraban Sonya dan Dira, terutama saat mendengar kemurahan hati Dira pada mami sambung dan saudaranya.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut...
__ADS_1
Hai Reader... terimakasih atas kesetiaannya menunggu kelanjutan ceritaku...
Yuk tinggalin jejakmu dengan like, komen, vote N giftmu yaa...