Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Sikap Yang Mulai Melunak


__ADS_3

Pras mendengarkan rekaman itu dengan seksama,dan tiba-tiba...


"Astaghfirullahaladziim..."


Pras memegang dada kirinya lalu 'bruk' Pras jatuh ke lantai.


"Papiiii..." teriak Sonya dan Angel,membuat Bi Asih,Ningsih,Joko dan Ujang lari masuk ke rumah utama.


"Ada apa nyonya?"


"Tuan pingsan...tolong angkat tuan dan bawa ke kamar...Bi Asih tolong telpon dokter Adrian segera..."


"Iya nyonya..."


Bi Asih segera menghubungi dokter pribadi majikannya,sementara Joko dan Ujang pun mengangkat tubuh majikannya dengan sangat hati-hati lalu membaringkannya ke tempat tidur.


🌹🌹🌹


'Krompyang...'


Suara benda kaca jatuh dan pecah,menggema di seluruh pojok pusat perbelanjaan yang sedang tidak begitu ramai itu. Rupanya gelas kristal yang berada di samping Dira tak sengaja tersenggol olehnya...sesaat Dira terbengong tak bergerak sama sekali.


"Papa..." gumamnya yang tanpa sadar langsung berlari meninggalkan gelas kristal yang tanpa sengaja dia pecahkan tadi. Seorang pelayan yang melihat Dira berlari pun segera memberitahukan sekuriti yang sedang bertugas di situ untuk mencegah Dira pergi.


"Minggir...saya mau pulang,saya mau ke papa saya...hiks hiks hiks..." ucap Dira menangis sambil memberontak mencoba melepaskan cengkeraman dua orang sekuriti penjaga di situ yang mencegatnya. Perasaannya pun bertambah kacau membayangkan jika sesuatu terjadi pada papanya.


"Tunggu...mbak boleh pergi tapi mbak harus bayar dulu gelas kristal yang mbak pecahkan tadi..."


"Tapi saya harus pulang dulu...hiks hiks hiks...lagian saya tidak sengaja memecahkan gelas itu..." kilah Dira


"Iya...sengaja atau tidak sengaja memecahkan barang dagangan kami,itu berarti membeli jadi sekarang mbak harus bayar dulu di kasir..."


"Oke...saya harus bayar berapa?" ucap Dira yang akhirnya mengalah.


"Karna mbak tadi punya niat tidak baik dengan ingin melarikan diri maka kami melipat gandakan harga gelas tadi menjadi satu juta dua ratus ribu rupiah..."


"Apa? Mahal sekali? Kenapa saya harus membayar dua kali lipat? Ini tidak masuk akal,sudah saya bilang saya tidak sengaja..."


"Itu salah mbak sendiri..."


"Tapi kan..."


"Dira ada apa?" tanya Sila yang tiba-tiba sudah berada di sisi Dira.


"Sila...lu dari mana aja sih,kok lama banget..."


"Gue kan pamit ke toilet tadi..."


Dira pun kemudian menceritakan kejadian yang menimpanya.


"Pak teman saya kan nggak sengaja,saya mohon kebijaksanaannya,jangan di lipat gandakan harganya dong...sekarang saya bayar harga jualnya aja ya..." Sila mencoba memohon keadilan untuk Dira.


"Berapa sih harga yang harus dia bayar?"


Sebuah suara bariton milik Hans tiba-tiba saja muncul di antara kerumunan beberapa pegawai dan beberapa sekuriti yang mengelilingi Sila dan Dira seolah takut jika mereka akan melarikan diri. Sila dan Dira pun langsung menengok ke arah suara itu dan melihat Hans tersenyum manis pada mereka.


"Huft...Alhamdulillah pahlawan kita datang tepat waktu...selamat..." bisik Sila di telinga Dira.

__ADS_1


"Lu ngehubungi dia ya?" tuduh Dira curiga.


"Ngawur lu...sembarangan aja kalo ngomong..."


"Abisnya lu suka mencurigakan..."


Salah satu sekuriti pun kemudian mendekati Hans.


"Satu juta dua ratus ribu rupiah tuan..."


"Biar saya yang bayar..."


Hans pun kemudian memberikan black card miliknya kepada seorang karyawan bagian kasir,membuat semua orang di situ seketika berhenti berbisik membicarakan Dira. Setelah selesai Hans pun kembali mendekati Sila dan Dira.


"Terimakasih... Saya nanti pasti akan ganti uang bapak..." ucap Dira ketus sambil mengusap sisa air matanya.


"Kamu nggak perlu ganti kok...bukankah sama calon istri itu nggak perlu perhitungan..." goda Hans.


"Tapi saya bukan calon istri bapak,jadi saya nanti pasti akan ganti...Sila antar gue ke rumah papa ya...perasaan gue nggak enak..." ucap Dira lagi.


"Siap ayo...makasih ya kak..."


"Oke...O iya kalian pulang naik apa?"


"Bukan urusan bapak..."


"Dira..." tegur Sila mengingatkan


"Tadi kami naik taksi kak jadi sekarang juga mau naik taksi lagi..."


"Taksi online?"


"Tapi belum pesan kan?"


"Belum kak..."


"Kalo gitu biar aku anter kalian ya..."


"Nggak usah,saya tidak mau banyak berhutang budi sama bapak..."


"Dira...apa salahnya sih? Lagian kita bakal nunggu lama jika harus order taksi online dulu kan?"


"Hmm...iya juga sih..."


"Na kan..."


"Hmm...oke deh,tapi sekali ini aja ya..."


"Kalo gitu kalian tunggu sini aja,aku ambil mobil dulu ya..." ucap Hans semangat.


Begitu mobil datang,cepat-cepat Sila masuk di jok bagian belakang dan dengan segera mengunci pintu belakang mobil Pajero Sport milik Hans.


"Sila,bukain pintunya dong,gue juga mau duduk di belakang..."


"Lu pikir Kak Hans supir kita sampe kita berdua harus duduk di jok belakang. Belajar menghargai kebaikan orang lain dong,lu kan suka ngomong gitu ke gue..."


"Hmm..." gumam Dira pasrah.

__ADS_1


"Na...gitu dong..." ucap Sila cuek tapi penuh kemenangan.


Dira pun masuk mobil dengan muka masam dan bibir cemberut,lalu membantingkan tubuhnya ke kursi mobil di samping Hans. Hans melirik sekilas dan tersenyum kecil melihat Dira sedikit kesusahan ketika hendak memakai sabuk pengaman.


"Apa liat-liat...pake senyum-senyum lagi..."


"Dira ih..." tegur Sila mengingatkan kembali sikap Dira yang selalu ketus sama Hans.


"Eh enggak...mari aku bantu...sabuk pengaman mobilku yang ini memang agak sulit..."


"Mo pamer ya kalo bapak punya banyak mobil..."


"Jangan su'udzon gitu dong..." ucap Hans sambil mendekati Dira.


"Eh jangan deket-deket dong...bapak ini cari-cari kesempatan ya..."


"Kalo aku nggak mendekat,bagaimana aku bisa bantu kamu pakai sabuk pengamannya Andira Zanitha Prasetya..."


"Ih...ck,nggak lucu..."


"Dira...! Sumpah deh,hari ini tu elu nyebelin banget... Kak Hans ini udah banyak bantu elu tapi bukannya berterimakasih,lu malah ketus mlulu dari tadi...Hargain dikit kek kebaikan Kak Hans"


"Lu mulai belain dia ya Sil?"


"Bukan gitu,tapi gue merasa sikap lu nggak adil aja buat Kak Hans. Lu jadi nggak seperti Dira sahabat gue aja...lu kayak jadi orang lain yang mengerikan..." ucap Sila melemah,dia teramat kecewa dengan sikap Dira.


"Eeeeh sudah-sudah...Aku nggak papa kok,kita jadi berangkat nggak ni...aku belum tau jalan ke tujuan kita lho..."


"Maaf...Jalan Kebangsaan nomor 5..."


Dira memperhatikan Sila yang sedang menyibukkan diri dengan ponselnya. Dira tau betul sahabatnya itu sedang kecewa atas sikapnya. Tapi Dira hanya bisa diam karna bicara lagi untuk saat ini,hanya akan memicu pertengkaran lagi.


Selang dua puluh menit kemudian,mobil sudah memasuki Jalan Kebangsaan,Hans memperlambat laju mobilnya untuk mencari rumah bernomor 5.


"Itu rumah saya pak,yang pintu gerbangnya terbuka..."


"Eh...kok tumben-tumbenan pintu gerbangnya terbuka sih Dir..." celetuk Sila setelah selama perjalanan dia diam saja.


"Iya juga ya...kemana Mang Ujang ya...padahal ini sudah jam 8 malem lho...Eee...langsung masuk aja pak..."


"Oke..."


"Mari silahkan masuk dulu pak..." ucap Dira tiba-tiba sedikit melunak pada Hans.


Dira langsung berlari masuk ke rumahnya,sementara Sila dan Hans pun berpandangan sambil saling melempar senyum kemenangan.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2