Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Cinta Posesif Hans dan Dira


__ADS_3

Seperti halnya acara bulan madu yang selalu gagal, jalan-jalan berdua kali ini pun gagal total. Sepanjang perjalanan menuju rumah, Dira hanya diam saja, tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Mungkin suasana hatinya sedang tidak bersahabat. Entah karena capek jalan atau capek marah-marah, pads akhirnya dia tertidur di mobil.


Hans membopong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar lalu merebahkan tubuh Dira secara perlahan. Melepaskan alas kakinya, lalu menyelimutinya.


"Di mataku kamu selalu cantik sayang... paling cantik. Tak ada wanita lain yang melebihi kecantikanmu. Bahkan ketika kamu tertidur pun, kamu terlihat sangat cantik. I love you sayang..." Hans mencium kening istrinya lalu duduk di sofa sambil terus tersenyum memandangi wajah Dira. Tapi sesaat kemudian terdengar Hans mendesah, membuang nafas panjang.


"Sedetik pun rasanya aku tidak ingin berpisah denganmu... berat rasanya untuk jauh darimu. Lalu bagaimana nanti jika aku harus berangkat ke Singapura? Padahal sepertinya aku akan lama di sana... Akh... " Hans kembali mendesah risau, dia pun kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu naik ke tempat tidur menyusul istrinya. Memeluk belahan jiwanya itu dari belakang. Dira menggeliat sesaat, membalikkan badan ke arah Hans dan membenamkan wajahnya ke dada suaminya tanpa membuka matanya.


"Jangan pergi... jangan tinggalin Dira..." gumam Dira dalam tidurnya sambil memeluk erat suaminya.


"Aduh sayang, kamu ni siang-siang tidur kok nggak mau diam sih... Udah tidurnya sambil ngelindur, badan juga dari tadi gerak-gerak mlulu... Bisa-bisa ada yang bangun ni... huuh mancing-mancing aja..." gerutu Hans yang mulai tidak tahan dengan gesekan-gesekan yang dilakukan tanpa sadar oleh Dira. Hans pun segera beranjak dari tempat tidur, dia takut tidak bisa mengendalikan diri lagi, padahal saat ini Dira terlihat kelelahan. Baru saja dia hendak melangkah keluar, rupanya Dira terbangun dari tidurnya.


"Mas mau kemana? Loh kita kok ada di rumah? Bukannya tadi kita jalan-jalan?"


"Hmm dasar tukang ngelindur... mata udah melek aja masih ngigau... Kita itu sudah pulang dari tadi, gara-gara kamu cemburu terus ngajak pulang... Lalu dalam perjalanan pulang tadi kamu tidur... na baru bangun sekarang..."


"Ooo...terus yang dianggap cemburu tadi siapa?


"Ya kamulah... tadi aja mau makan di restoran Jepang sampai nggak jadi... kenyang katamu..."


"Idih ngaco deh... siapa juga yang cemburu..." jawab Dira sambil melangkah ke kamar mandi.


"Siapa lagi? Ya mesti kamulah...mosok Bi Asih... Mas kan perginya sama kamu..."


"Masak iya sih, kok Dira nggak ingetp..." ucap Dira sambil duduk di pangkuan Hans dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Hans. "Mas laper..." rengeknya manja.


"Mas juga laper... tapi bukan laper terus pingin makan nasi..."


"Terus laper pingin makan apa? Makan lontong? Apa makan baso?" tanya Dira bego.


"Laper pingin makan kamu..." Hans langsung menyambar bibir tipis istrinya, kemudian dengan perlahan Hans pun membaringkan tubuh istrinya tanpa melepas tautan bibirnya.


"Ummh... tunggu dulu dong..." Dira memaksa melepaskan ciuman suaminya.


"Kenapa?"


"Tapi Dira laper beneran... perut Dira keroncongan..."

__ADS_1


"Emang tahan sebentar nggak bisa?" Dira menggelengkan kepalanya sambil cemberut, membuat Hans berdecak kesal.


"Maaf ya sayang tapi baby kita beneran laper... Kita makan dulu ya... nanti kalo udah selesai makan, mas bisa ketemuan sama si dedek, terus mas bisa main deh sepuasnya... ya sayang ya..." Hans tersenyum mendengar bujukan Dira sehingga akhirnya dia pun mengiyakan kemauan istrinya. Lagi pula Hans juga sadar jika ibu hamil itu butuh banyak asupan gizi. Apalagi memang dari pagi Dira belum makan.


"Tapi bener ya... boleh main sepuasnya..." goda Hans sambil mengerlingkan mata kirinya.


"Siapa takut... yang penting papa nggak boleh kasar ya...'cup'..." tantang Dira sambil mencium nakal bibir suaminya.


"Heeh sejak kapan kamu pintar menggoda?" teriak Hans, sementara Dira langsung kabur keluar kamar.


'Awas kamu ya sayang... ku jawab tantanganmu sehabis makan nanti...' gumam Hans sambil senyum menyeringai.


🌹🌹🌹


"Assalamu'alaikum..." Terdengar suara lantang seorang anak kecil laki-laki mengucap salam sambil langsung nyelonong masuk rumah Hans Senyumnya mengembang ketika dia melihat mamanya yang langsung menyambut kedatangannya.


"Wa'alaikumsalam sayang..." Dira merentangkan kedua tangannya menanti pelukan dari pangeran kecilnya.


"Mamaaa..." Hara pun segera menghambur ke pelukan hangat mamanya.


"Capek sayang?"tanyanya dengan lembut.


"Kakak memang hebat dan pintar... kalau dedek nanti sudah lahir, pasti akan bangga punya kakak seperti Hara..." Hara pun tersenyum bangga mendengar sanjungan sang bunda.


"Sekarang kakak mandi lalu nanti kakak temani papa dan mama pergi ke panti asuhan ya..."


"Siap mama..." Hara pun segera masuk ke kamarnya.


"Mas..." Dira masuk ke kamar tidurnya dan tidak mendapati suaminya di sana.


"Mas..." panggilnya lagi.


"Apa sayang..." bisik Hans yang datang tiba-tiba sambil memeluk tubuh Dira dari belakang, telah sukses mengagetkan Dira.


"Astaghfirullah... mas nggak inget Dira punya penyakit jantung?" ucap Dira sambil memukul lengan suaminya.


"Maaf sayang..." Sebuah ciuman mendarat di bibir Dira. "Memangnya kenapa sih nyariin mas? Kangen ya? Kan tadi udah... mau lagi?"

__ADS_1


"Idih, mas mah mesum mlulu..."


"Sudah mas bilang berkali-kali... mesum sama istrinya sendiri itu, tidak salah. Kan udah halal... daripada mas mesum sama wanita lain? He he he..." Netra Dira langsung melotot seketika... dengan tangan yang berkacak pinggang.


"Mau coba? Sudah siap kehilangan Dira dan anak-anak?" tanya Dira dengan tatapan sadis. "Silahkan kalau mau coba tapi jangan harap Dira mau bertemu mas lagi, apalagi pulang ke rumah ini..."


Hans langsung menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


"Mas cuma bercanda sayang... jangan marah, jangan pernah sekalipun berfikiran untuk ninggalin mas ya..." Berkali-kali dia menciumi pucuk kepala Dira sambil mempererat pelukannya.


"Hari sudah bertambah sore... kita berangkat sekarang aja yuk... keburu Maghrib. Hara pasti sudah siap... Dira liat barang-barang yang mau kita bawa juga sudah siap..." Dira sedikit meronta berusaha untuk melepaskan pelukan suaminya.


"Janji dulu..."


"Janji apa?"


"Janji buat nggak ninggalin mas sendirian..." rengek Hans. Dira pun tersenyum dibuatnya demi mendengarkan rengekan suaminya.


"Iya... serius amat sih... lagian gimana mau ninggalin kalo Dira sendiri nggak bisa jauh-jauh dari mas... I love you my husband..." Dira menakup wajah Hans dengan kedua tangannya, lalu mencium bibir suaminya dengan lembut.


"I love you too my wife... I love you always and forever..." Hans pun membalas ciuman Dira dengan menciumi setiap inchi wajah istrinya.


Jangan pernah berusaha memisahkan mereka, karena cinta mereka berdua benar-benar begitu kuat dan tidak mungkin terpisahkan.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2