Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Di Kantor Polisi


__ADS_3

"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam...eh Mbak Dira...sudah pulang,sudah sarapan mbak?" tanya Agni.


"Sudah...Agni,aku pinjam motormu ya? Sekalian tolong bayarin ojek di depan tuh..."


"Iya mbak,tapi Mbak Dira mau kemana lagi? Kan baru juga nyampe rumah..."


"Cari angin..." jawabnya singkat.


Agni diam tak berani bertanya lebih banyak lagi. Dia sudah hafal betul,jika Dira menjawab pertanyaannya dengan singkat,itu berarti suasana hatinya sedang nggak enak.


Dira pun langsung masuk ke kamarnya tanpa berbasa basi lagi dengan Agni. Dia mengambil ponsel dan tasnya lalu pergi lagi,mengendarai motor Agni menuju ke arah TPU tempat peristirahatan terakhir mamanya.


🌹🌹🌹


Hans memarkir mobilnya di depan ruko Dira.


"Pak Hans...?" sambut Agni.


"Dira sudah sampai rumah?"


"Sudah pak,tapi baru saja pergi mengendarai motor saya..."


"Dia bilang kemana?"


"Mbak Dira cuma bilang mau cari angin pak..."


"Kamu tau nggak biasanya kemana?"


"Pagi ini Mbak Dira keliatan lagi badmood,saya yang mau menanyakan soal kejadian semalam pun jadi nggak berani pak. Biasanya kalau Mbak Dira lagi badmood,kalo nggak ketemu Bi Asih ya ke makam mamanya pak...Tapi tadi Mbak Dira pergi ke arah barat,biasanya kalo ke arah barat,Mbak Dira pergi ke makam mamanya..."


"Oke...makasih infonya ya..."


"Iya pak,sama-sama..."


Hans langsung memutar mobilnya menuju ke arah barat,arah menuju ke sebuah tempat pemakaman umum. Tapi baru berjalan beberapa ratus meter,ponselnya sudah berdering sehingga memaksa Hans menepikan mobilnya sesaat karna dia tidak menemukan earphonenya.


📞 "Ya Lex..."


📞 "Boss bisa ke kantor polisi sekarang? Polisi butuh keterangan lu sekarang..."


📞 "Oke...aku meluncur kesana sekarang..."


Hans mematikan ponselnya lalu membelokkan mobilnya dan mengurungkan niatnya untuk mencari Dira di makam mamanya Dira.


Tak butuh waktu lama,Hans sudah berada di kantor polisi yang memang sudah dekat dari tempatnya berhenti tadi. Begitu keluar mobil,Alex sudah menyambutnya dan langsung mengantarnya masuk ke bagian penyelidikan. Sekitar 20 pertanyaan dijawabnya sesuai dengan apa yang dia ketahui tentang kejadian semalam. Selesai memberikan keterangan Hans keluar dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Dira tengah berbincang dengan kedua orangtua Damar.


"Dira sayang,mama mohon...tolong cabut laporanmu atas Damar ya nak...Mama tau Damar salah,tapi lihatlah mama dan papa yang sudah tua ini...Lihatlah dari sudut pandang kasih sayang kami padamu..." ucap Mama Ningsih,mamanya Damar memohon pada Dira.

__ADS_1


"Iya nak...dalam peristiwa semalam,tidak hanya kamu yang marah,tapi kami pun marah besar terhadap Damar. Namun demikian pertimbangkanlah hubungan kalian yang sudah begitu lama,pertimbangkanlah hubungan kita. Seandainya kamu memang tidak lagi berjodoh dengan Damar,setidaknya pandanglah dia sebagai seorang teman...atau saudaramu. Papa dan mama menyayangimu sejak dulu,sejak pertama kali kamu di ajak ke rumah oleh Damar dan hingga kini tidak pernah berubah..."


Papa Tris papanya Damar pun ikut angkat bicara. Memang tidak bisa dipungkiri,kasih sayang kedua orangtua Damar memang benar-benar tulus pada Dira dan Dira pun merasakan hal itu.


"Dira...maafkan kami yang tidak bisa mendidik Damar dengan baik...maafkan Damar yang telah punya niat untuk mencelakaimu. Setelah ini,papa dan mama janji dan akan kami pastikan jika Damar tidak akan mengganggumu lagi. Sekali lagi mama memohon padamu nak,tolong cabut laporanmu terhadap Damar ya... Kasihinilah kami jika masa depan Damar nanti terbebani dengan status sebagai mantan narapidana. Sayang,lembutkanlah hatimu...mama tau kamu anak yang baik..."


Kedua orangtua Damar berbicara dengan panjang lebar demi membujuk Dira tapi belum sepatah kata pun tanggapan yang keluar dari mulut Dira. Ini memang sebuah dilema bagi Dira karna tak bisa dipungkiri ada sisi hatinya yang memang masih menyimpan cinta untuk Damar,apalagi kasih sayang kedua orangtuanya yang begitu tulus selama ini kepadanya membuat Dira merasakan mempunyai keluarga yang utuh. Tapi pengkhianatan dan juga perbuatan Damar semalam,benar-benar tidak bisa dimaafkan.


"Ma...pa...boleh Dira minta waktu untuk berfikir? Semua masalah ini terasa begitu berat dan menyakitkan bagi Dira..."


Ningsih memeluk Dira penuh kasih,berkali-kali diciuminya pucuk kepala Dira.


"Iya sayang...iya...mama dan papa tidak minta kau jawab sekarang,sebagai sesama wanita mama tau betul perasaanmu saat ini...yang sabar ya nak...kami tetap menyayangimu..."


"Terimakasih ma..."


"Saudari Andira Zanitha Prasetya..." panggil seorang petugas kepolisian memanggilnya untuk memberikan keterangan.


"Iya pak..."


"Silahkan masuk..."


Dira pamit pada orangtua Damar lalu berjalan menuju ruang penyidik. Hans memandangi Dira yang hendak melewatinya tapi Dira berlalu begitu saja seolah tidak melihat ada Hans di situ.


'Dia benar-benar berusaha menjaga jarak denganku,bahkan menyapa pun dia tidak mau?'


"Tau ah Lex,baru kali ini aku di buat pusing sama cewek. Kadang baik...kadang marah... Dira bener-bener mengobrak-abrik hidupku dan gawatnya aku benar-benar jatuh cinta padanya,hingga aku tak bisa berpaling darinya..."


Hans diam tertunduk sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Eh iya,aku ada janji ketemu papanya Dira siang ini...kamu 'handel' dulu urusan kantor ya..."


"Hadeeh...bener-bener deh lu boss...ribet bener kisah cintamu..." ledek Alex.


Tak berapa lama Dira keluar dari ruang penyidik,namun tanpa di sangka-sangka Angel sudah menunggu Dira dan tiba-tiba 'plak' sebuah tamparan keras melayang ke pipi Dira membuat tubuh Dira terhuyung ke samping dan hampir jatuh. Untung ada seorang polisi muda dan ganteng segera menangkapnya. Sementara Hans yang merasa nggak suka melihat Dira di sentuh laki-laki lain segera akan menghampiri tapi di cegah oleh Alex.


"Eeh maaf..." ucap Dira pada polisi itu.


"Nggak papa mbak..."


"Angel...apa-apaan sih kamu?"


"Br*******k kamu kak...katanya kakak sudah melepas Damar untukku tapi kamu masih saja menggodanya"


"Aku tidak ingin ribut-ribut di sini,yang pasti bukan aku yang menggoda Damar tapi Damar yang datang padaku dan membuat masalah denganku. Buka matamu Angel...belajarlah menjadi dewasa jika ingin selalu di sisi Damar. Lihatlah masalah yang ada dengan benar dan cari tau yang teliti,biar kamu selamanya tidak dibodohi... Terimakasih tamparannya dan carilah kebenaran di dalam sana..."


Selesai berbicara Dira keluar dari kantor polisi tanpa menghiraukan siapa-siapa lagi. Hans setengah berlari mengejar Dira yang menuju parkiran sepeda motor.


"Dira,,.Dira tunggu..."

__ADS_1


Dira yang hafal betul dengan suara itu pun tetap melangkah tanpa menghiraukan panggilan itu.


"Andira Zanitha Prasetya...bisa berhenti nggak? Dalam hitungan ketiga jika kamu tetap nggak mau berhenti,aku akan tangkap kamu dan akan ku cium kamu di depan umum."


Dan sukses,ancaman Hans pun akhirnya mampu menghentikan langkah Dira.


"Ada apa?" tanya Dira datar.


"Kamu marah padaku?"


"Tidak !"


"Tapi kenapa kamu menghindar dan pura-pura tidak kenal denganku?"


"Bukan pura-pura,tapi aku hanya melakukan yang seharusnya aku lakukan. Karna aku sudah janji."


"Tapi aku tidak suka diperlakukan begini..."


"Itu urusan mas..."


"Siang ini aku akan ke rumah sakit bertemu ayahmu,melanjutkan obrolan kita semalam."


"Urungkan"


"Kenapa?"


"Karna aku tidak akan menerimanya...pikirkan itu" ucap Dira yang sudah mulai menyalakan motor Agni.


"Aku akan tetap datang"


"Terserah"


Dira pun akhirnya benar-benar melajukan motornya yang sejak tadi sudah dinyalakan,meninggalkan Hans yang hanya bisa terdiam memandang kepergian Dira.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2