
"Kamu...?!"
Dira terkejut melihat Hans sudah berada di belakangnya. Cepat-cepat Dira mengusap sisa air mata yang ada di pipi mulusnya agar tidak terlihat oleh Hans.
"Kau sudah terlalu banyak menangis untuknya...ini..."
Hans memberikan sapu tangan miliknya tapi Dira tidak mengambilnya.
"Sok tau...nggak usah" ucap Dira sambil masih mengusap-ngusap pipinya.
Hans pun kemudian mendekati Dira yang tengah bersandar di dinding lalu membantu mengusap sisa air mata Dira dengan sapu tangannya.
"Eh...saya bisa sendiri..." ucap Dira sambil mengambil sapu tangan yang berada di tangan Hans,membuat Hans tersenyum.
"Ayo kita keluar dari sini,kita cari tempat yang nyaman untuk ngobrol. Sebab ada sesuatu yang butuh aku bicarakan serius denganmu..."
"Bicara tentang apa?"
"Nanti juga kau akan tau..." ucap Hans sambil meraih tangan Dira,tapi dengan cepat Dira menepisnya lalu Dira mengekor dibelakang Hans.
Tak ada obrolan selama perjalanan,Hans membiarkan Dira larut dalam kesedihannya. Entah sejak kapan kesedihan ini dimulai tapi yang pasti Hans merasa ada andil kesalahan yang dibuatnya hingga membuat Dira merasakan kesedihan seperti saat ini.
"Kita sudah sampai..." ucap Hans membuyarkan lamunan Dira.
"Eh...udah sampai ya..." ucap Dira gugup.
'Lho ini kan kafe yang deket danau yang pernah aku kunjungi dengan Jesica...' gumam Dira dalam hati.
"Kenapa malah bengong lagi...punya kenangan di sini ya?"
"Kenangan dengan siapa?" tanya Dira sambil melepas sabuk pengamannya.
"Yaa...mana ku tau? Dengan mantan pacar mungkin atau dengan yang lain lagi?" sindir Hans.
"Cemburu...?" goda Dira diam-diam sambil membuka pintu mobil.
"Pastilah..."
'Idiih imutnya kalo lagi cemburu...wajah tampan Mas Hans jadi keliatan seperti anak kecil yang sedang merajuk...' ucap Dira dalam hati.
Dira pun tersenyum penuh arti mendengar ucapan Hans yang begitu polos dan jujur itu.
Tapi tiba-tiba 'brak...' Hans menutup kembali pintu mobil dan menahan Dira turun.
"Setauku kamu ke sini hanya bersama Jesica tapi kalau kamu punya kenangan di kafe ini dengan cowok lain,kita pindah tempat saja..."
"Hei...mas tau dari mana kalo saya pernah ke sini dengan Kak Jesica? Mas mata-matain saya ya?" ucap Dira seperti sedikit marah.
__ADS_1
"Eh bukan...bukan aku,tapi kakek...kakek yang menyuruh anak buahnya mengikutimu"
"Kakek? Kakek siapa? Mas jangan mengada-ada deh...Nggak usah cari alasan yang nggak masuk akal..."
"Eh iya betul kakek kok...Emm...jangan-jangan kamu belum tau ya?"
"Belum tau apa?"
"Belum tau kalau Kakek Sasongko itu adalah kakekku..."
"Apa...? Ya Allah...astaghfirullah hal adziim...permainan apa lagi ini. Kenapa saya selalu dipermainkan oleh banyak orang... Apa salah saya Ya Allah..."
Dira menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi mobil. Hans begitu bingung menghadapi sikap Dira.
"Apa anak buah kakeknya mas juga tau apa yang sedang kami perbincangkan?"
"Sepertinya enggak,karna kakek tidak memberitahukan hal itu padaku. Makanya saat ini aku ingin menanyakan hal itu padamu,aku juga ingin tau apa karna pertemuanmu dengan Jesica,membuat kamu selalu menolakku?" tanya Hans sambil menatap Dira dengan intens.
"Kita bicara di luar aja sambil minum,saya haus..."
Dira memalingkan wajahnya menghindari tatapan Hans. Hans lalu mengangguk dan segera keluar dari mobil,diikuti oleh Dira.
"Kau duluan,carilah tempat yang menurutmu nyaman..." titah Hans.
Dira mengangguk lalu menuju ke meja yang ada di pinggir danau. Tak lama seorang pelayan mendekat kemudian pergi lagi setelah menerima pesanan mereka berdua.
"Hmm...segitu yakinnya mas kalau saya akan cerita..."
"Ayolah Dira jangan berputar-putar lagi...jangan buat aku merasa lelah mengejarmu..."
"Berhentilah jika mas merasa lelah...toh selama ini saya tidak meminta mas untuk mengejar saya..." ucap Dira ketus.
"Astaghfirullah...harus dengan cara apa aku bisa mendapatkan cintamu Dira? Mau sampai kapan kamu main tarik ulur terus?"
"Sampai mas menyerah..." jawab Dira ngasal sambil menyeruput jus mangga pesanannya.
"Aku tidak akan menyerah,sampai kau bisa menjadi milikku..."
"Walaupun mas sudah merasa lelah?"
Hans mengangguk.
"Walaupun saya selalu menolak mas?"
Hans kembali mengangguk. Bola matanya tak pernah bergeser dari pandangannya kepada Dira,membuat Dira menjadi salah tingkah.
"Huuh...kenapa sih mas harus suka sama saya?"
__ADS_1
"Karna kamu baik dan cantik..." ucap Hans sambil tersenyum.
"Gombal..."
'Gila...kenapa semakin lama di pandang,Mas Hans semakin terlihat tampan ya... Dan kenapa tiba-tiba aku merasa senang ketika dia mengatakan aku baik dan cantik... Akh...Dira,lu sudah gila...' gumam Dira dalam hatinya.
"Kenapa bengong lagi? Kamu suka kan jika aku bilang kamu baik dan cantik?"
"Ngaco..."
"Tapi kok wajahmu bersemu merah tadi..."
"Mas ini jadi pingin tau apa yang saya bicarakan dengan Kak Jesica enggak?" tanya Dira mengalihkan obrolan yang sepertinya lama-lama akan mempermalukan dirinya sendiri.
"Jadi dooong..." jawab Hans dengan senyum nakal menggoda.
Dira pun akhirnya menceritakan semua pembicaraan yang pernah terjadi di antara dia dan Jesica. Dari pertama pertemuan tak sengajanya hari itu hingga beberapa hari yang lalu ketika Jesica sengaja menjemput Dira di kampusnya. Hans menyimak secara seksama setiap ucapan yang keluar dari bibir Dira.
"Sudah ku duga,Jesica ikut andil dalam hubungan yang terjadi di antara kita. Dira...aku dan Jesica sudah lama berpisah,aku sudah tidak mencintai dia lagi. Apalagi dia kini pun sudah menikah dengan salah seorang pengusaha terkenal di kota ini. Jadi di antara aku dan dia sudah tidak ada ikatan apa-apa lagi dan tidak akan pernah bersatu kembali..."
"Saya lelah mas... Saat ini satu-satunya yang ingin saya wujudkan hanyalah menyelesaikan kuliah saya hingga bertitel sarjana dengan predikat lulusan terbaik. Dan setelah itu saya ingin bisa punya pekerjaan yang mapan sambil berkesempatan untuk melanjutkan sekolah lagi. Saya tidak ingin apa-apa,karna itu adalah janji saya kepada mama saya waktu saya masih kecil dulu,sebelum mama saya meninggal. Saya tidak ingin menyusahkan hidup papa saya bersama keluarga barunya,saya hanya ingin hidup tenang dan mandiri... Tapi kenapa jalan menuju keinginan saya selalu banyak rintangannya. Apakah keinginan saya itu terlalu berlebihan?"
Butiran kristal bening kembali menetes di pipi mulus Dira...
"Saya tidak ingin merebut milik orang lain,karna saya tau betul rasa sakitnya seperti apa. Semenjak kecil apa yang saya sayang selalu di rebut dari saya. Mulai mama yang begitu cepat menghadap Yang Kuasa,papa yang di rebut oleh mami Sonya dan akhirnya Damar yang di rebut oleh Angel.
Mas memang saat ini sedang tidak bersama dengan Kak Jesica,tapi saya tau jika Kak Jesica masih mencintai mas...begitu pun sebaliknya..."
"Apa maksud dari sebaliknya? Sudah ku bilang aku sudah tidak mencintai Jesica... Bagiku dia adalah masa lalu,seperti halnya Damar yang kini telah menjadi masa lalumu..."
"Ketika sadar,mungkin orang bisa berbohong sesuka hati tapi ketika dia sedang tidak sadar karna dikuasai oleh minuman keras,masihkah ucapannya bisa di anggap berbohong? Dulu,ketika mas merenggut kehormatan saya malam itu,nama Kak Jesica lah yang terus mas sebut. Itu menandakan bahwa masih ada cinta di hati mas untuknya dan saya ini hanya sebagai alat pelampiasan kemarahan mas semata...hiks hiks hiks... Lalu sekarang bagaimana mungkin saya bisa menerima mas begitu saja..,hiks hiks hiks..."
Pecah sudah tangis Dira yang sedari tadi ditahannya,rasa sakit yang selama ini menghimpitnya kembali datang satu per satu. Sementara Hans bingung akan memberi pembelaan seperti apa.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...