Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Curhatan Dira


__ADS_3

Sila menghampiri Dira yang kini duduk di tepi pantai, dia tau sebenarnya sedang berusaha mendamaikan hatinya dengan perasaannya yang sedang bergejolak. Sila ingin tau... apa sebenarnya yang sedang dirasakan oleh sahabatnya itu saat ini, dan seperti yang sudah-sudah, Sila pun selalu menyiapkan ponselnya sebelum dia mengajak Dira bicara.


"Jangan melamun... nih minuman buat lu... Apa yang sedang lu pikirkan?" Sila duduk di samping Dira, diulungkannya minuman dingin kesukaan Dira.


"Entah... Otak gue seolah tengah berhenti berpikir... buntu..." Dira meminum jus kemasan yang diberikan oleh Sila tadi, lalu diletakkannya di atas pasir. Matanya menerawang jauh tak bertepi, mengamati derunya ombak yang sedang berkejaran kesana-kemari.


Dira menarik nafas dalam-dalam lalu... "Sil, apa menurut lu sikap gue konyol?"


"Kenapa kamu bertanya begitu?" Bukannya menjawab, Sila malah balik bertanya.


"Sebab saat ini, gue ngerasa seperti orang yang tengah menggali kuburan gue sendiri..." Dira tertunduk lalu merebahkan kepalanya pada kedua lututnya, jemari lentiknya mengorek-ngorek pasir seolah dia tengah benar-benar bingung.


"Lu menyesal sudah meminta Kak Hans membantu Jessica?" Dira mengangkat kepalanya lalu menggelengkannya pelan, kemudian kembali pada posisi sebelumnya.


"Kata Almarhumah mamaku, kita tidak boleh menyesal karena kita telah membantu seseorang, walaupun seseorang itu tidak pernah berterimakasih keapada kita. Walaupun seseorang itu justru membalas kebaikan kita dengan sikap buruknya... ikhlaskan saja, karena kata mama dengan keikhlasan, kita akan mendapatkan ganti kebaikan yang berlipat-lipat dari Allah... Tapi kalau keikhlasan itu mengharuskan gue melepaskan Mas Hans untuk Jessica... gue nggak bisa... hiks hiks hiks... gue nggak mau Sil... hiks hiks hiks..." Tubuh Dira terguncang karena tangisannya, Sila pun memberikan pelukan hangat kepada sahabatnya itu.


"Kenapa nggak bisa? Kenapa nggak mau? Apa karena sudah ada Hara?" Dira menggeleng.


"Lalu?" tanya Sila pura-pura bodoh.


"Karna gue... gue mencintai Mas Hans... hiks hiks hiks... Gue nggak mau kehilangan dia... tapi sepertinya sebentar lagi itu bakal terjadi... gue bakal kehilangan dia. Dan itu semua terjadi karena kekonyolan gue... karena kebodohan gue...hiks hiks hiks... Karena secara tidak sengaja, justru gue sendiri yang membuat mereka kembali dekat..." Dira mengangkat kepalanya lalu mengusap air mata yang menetes di pipinya. "Harusnya gue sadar bahwa mereka pernah bersama-sama selama hampir sepuluh tahun. Dan sepuluh tahun itu bukan waktu yang sebentar, pastinya telah banyak kenangan indah yang pernah mereka nikmati berdua... sementara dengan gue? Hampir enam tahun kami menikah tapi kami baru merasakan kebersamaan dalam beberapa minggu saja... Sil... lu lihat dress yang di pakai Kak Jessica tadi pagi?" Sila mengangguk pelan..."Itu hadiah dari Mas Hans untuk Kak Jessica yang khusus di pesan di sebuah butik ternama di Malaysia dan lu tau kenapa Mas Hans memilihkan warna cokelat...?" Sila menggeleng..."Itu karena warna cokelat adalah warna kesukaan Mas Hans... dan lu tau kenapa hari ini dia memakainya, di tambah dengan dandanannya yang maksimal?" Sila kembali menggelengkan kepalanya..."Karena mereka ingin merayakan hari jadi mereka... karena hari ini adalah hari dimana mereka telah berjanji untuk selalu bersama... hiks hiks hiks... sakit hati gue Sil... apalagi ketika Kak Jessica mengucapkan terimakasih padaku karena telah mengijinkan mereka bersatu kembali... hiks hiks hiks..."


"Omong kosong...! Mereka berdua itu kan sudah lama putus... dari semenjak Jessica memutuskan untuk menikahi bos ayahnya, papanya Erik... Dan selama kalian tidak bersama pun, setahu gue Kak Hans tidak pernah bertemu dengan Jessica... Sekarang gue mau tanya... lu tau itu semua dari siapa? Dari Jessica?" Dira mengangguk, sementara Sila menepuk jidatnya sendiri karena merasa jengkel dengan kepolosan sahabatnya itu.


"Astaghfirullah Dira... Dira... menurut gue, bukan sikap elu yang konyol tapi jalan pikiran lu dan prasangka buruk lu terhadap suami lu sendiri itu yang sangat-sangat konyol... Harusnya lu inget dong... gimana polah tingkah Jessica yang telah membuat elu dan Kak Hans berpisah selama lima tahun..." ucap Sila geregetan. "Please Dira... Kak Hans nggak mungkin kayak gitu... Jessica nya aja yang br*******k..."

__ADS_1


"Tapi Sil... lu nggak tau kan? Kemarin siang kira-kira pukul dua siang, Hara menangis hebatnya, padahal selama ini dia tidak pernah menangis seperti itu. Kata Hara Tante Jessica jahat karena Tante Jessica akan merebut papanya dari Hara dan gue... Mungkin kedengarannya lebay tapi lu tau kan bagaimana perasaan Hara yang baru beberapa hari menikmati memiliki papa, terus tiba-tiba ada seseorang yang umurnya dewasa mengatakan hal seperti itu. Kalau yang mengatakan itu umurnya sebaya dengannya, mungkin Hara akan melawan dengan bogem mentahnya. Tapi ini seseorang yang seusia dengan papanya, dia tidak mungkin memukulnya dan karena rasa jengkel yang tidak bisa memukul itulah membuat Hara menangis sejadi-jadinya. Setelah Mas Hans meyakinkan Hara jika tidak akan ada orang yang akan merebut Mas Hans dari kami, barulah dia bisa diam..."


"Lalu...?"


"Lalu Mas Hans pun memanggil Jessica ke ruang kerjanya untuk mengklarifikasi. Setelah selesai menidurkan Hara, gue bermaksud menyusul mereka ke ruang kerja. Tapi belum lagi gue masuk, Jessica keluar sambil membenarkan baju dan rambutnya yang berantakan. Dan ketika melihat gue, dia langsung menangis minta maaf sambil menceritakan apa yang baru saja terjadi... Seperti kata lu, Jessica itu banyak bohongnya, makanya kemudian gue masuk ke ruang kerja dengan setengah mati berusaha tenang... Gue kemudian mendekati Mas Hans, lu tau apa yang terjadi...? Mas Hans menghindar ketika gue hendak mencium bibirnya. Sekarang lu bisa menyimpulkan sendiri kenapa Mas Hans menghindari gue?" Dira tersenyum pias..."Itu karena apa yang diucapkan Jessica itu benar adanya... Telah terjadi sesuatu di antara mereka hari itu dan kemudian paginya mereka pun pergi bersama merayakan hari jadi mereka..." Air mata Dira kembali meleleh walaupun tanpa suara. Sila pun kemudian memeluk sahabatnya itu.


"Kita tidak bisa hanya mendengarkan ucapan Jessica saja, nanti kita klarifikasi ke Kak Hans ya..."


"Tidak perlu...! Apa pun yang terjadi, ini semua awalnya adalah kesalahan gue... biarlah gue yang menanggung konsekuensinya..."


"Maksudnya? Lu... lu nggak akan ninggalin Kak Hans lagi kan? Lu nggak akan buat Hara menjadi anak yang broken home kan? Lu bilang tadi lu nggak mau kehilangan Kak Hans kan? Jangan coba-coba bertindak bodoh Dira..." ucap Sila dengan nada meninggi.


"Sst... kecilkan suaramu..." Dira membungkam mulut sahabatnya dengan tangan kanannya. "Gue nggak akan pernah lakuin itu semua... Mungkin gue akan bertahan demi Hara, walaupun gue harus di madu..."


"What? Lu bersedia di poligami?" Sila kembali berteriak demi mendengar ide gila sahabatnya itu.


"Habisnya lu gila Dira..."


"Gila gimana... sebagai seorang ibu, tegakah gue melihat Hara yang baru saja bertemu papanya langsung gue pisahin begitu saja? Lebih baik gue sakit daripada melihat anak gue yang sakit karena dipisahkan dari papanya..."


"Oh no... Dan seumur hidup lu, lu akan hidup berdampingan dengan Jessica? Oh tidak bisa... lu tetap harus klarifikasi ke Kak Hans... sudah bisa dipastikan ini ada yang salah, karena setahu gue Kak Hans tidak seperti itu... "


"Sudahlah... nggak usah di bahas lagi... gue ajak lu kesini buat senang-senang... bukan buat sedih-sedihan... Ayo kita ke sana main ombak yuk..." ajak Dira mencoba memperlihatkan ketegarannya, tapi Sila malah terdiam dan hanya melihat keceriaan Dira yang jelas terlihat pura-pura.


"Ayo ih... kok malah melamun... "

__ADS_1


"Pergilah dulu, nanti gue nyusul... tapi inget--inget... hati-hati..."


"Siap boss..." ucap Dira.


Tak menunggu waktu lama, Dira pun segera berlari ke arah tepi pantai.


📞 "Halo... kakak sudah dengar sendiri kan? Apa sebenarnya yang telah terjadi di antara kakak dan Jessica. Kenapa kakak selalu melukai hatinya?" ucap Sila kepada Hans yang sejak tadi mendengarkan curhatan Dira.


📞 "Aku akan ke sana sekarang..."


Hans segera menutup telponnya, sementara Sila pun cepat-cepat berlari menyambangi Dira yang tengah bermain ombak.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2