Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Wisuda


__ADS_3

'Aku tak pernah menyangka, ketika aku sudah mulai bisa menerima kehadirannya... ketika aku mulai merasakan rindu padanya...dia justru begitu kejam menuduhku tanpa memberiku kesempatan untuk memberikan penjelasan yang sebenarnya... Ya Allah kenapa ini mesti terjadi padaku? Kenapa Kau kirim anugerah indah ini... tapi kenapa pula Kau biarkan ayahnya menolak kehadirannya...' ucap Dira dalam hati.


Ini hari kedua sejak Dira di bawa ke rumah sakit oleh Sila... Dira masih seperti kemarin,seperti pertama kali ketika dia dipindahkan ke ruang rawat inap. Diam dan tetap tidak mau makan, hanya ada pandangan kosong serta air mata yang tak henti-hentinya menetes...Dira menangis tanpa suara. Untungnya kepulangan keluarga besar Dira masih tertahan karena adanya cuaca buruk sehingga terjadi penundaan penerbangan di luar negeri sana,sebab jika sampai mereka tau keadaan Dira saat ini, pasti akan menjadi masalah besar bagi rumah tangga Dira dan Hans. Sementara sejak Dira masuk rumah sakit, Hans pun tak pernah ada kabarnya, padahal Sila sudah nekat berkirim pesan pada Hans untuk memberitahukan keadaan Dira saat ini,tapi tidak ada respon, Hans justru seperti hilang di telan bumi. Hanya Bi Asih yang masih setia menemani putri majikannya yang sudah di anggap seperti anaknya sendiri itu. Sila dan Adit juga sesekali datang,di sela kesibukan mereka mempersiapkan acara wisuda.


Hari ini Alex dan Tiara datang menjenguk,Alex memang ditugaskan oleh Hans untuk mencari tau keadaan Dira. Karna semarah apapun Hans kepada Dira,rasa cintanya kepada Dira masih begitu besar, membuat dia diam-diam juga mengkhawatirkan keadaan Dira. Dan ketika mereka masuk ruang inap Dira,air mata Tiara pun tak mampu dibendungnya lagi, Tiara begitu sedih melihat keadaan Dira saat ini. Mata bengkak karna tak berhenti menangis dan juga lingkar hitam di matanya yang terlihat jelas akibat dia kurang tidur. Badannya juga tampak lemas dan kurus,karna memang selama dua hari ini,Dira hanya mendapat asupan makanan dari selang infus.


"Dira..." panggil Tiara lirih. Dira menoleh dan berusaha tersenyum.


"Kenapa kamu begini? Ada apa? Mama pasti akan sangat sedih jika pulang nanti melihat keadaanmu seperti ini..." Tiara memeluk tubuh Dira yang seolah tidak punya tenaga.


"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat kamu menjadi seperti ini..." ucap Tiara sambil melepaskan pelukannya. Dira memandang lekat wajah kakak angkatnya itu, Dira sadar dia tidak bisa seperti ini terus, dia harus bangkit dan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Dan dia butuh seseorang yang bisa menjadi penengah dan mempunyai posisi netral diantara dia dan Hans.


"Dira...Dira mau bercerita...tapi...maaf kak sebelumnya,bolehkah kita bicara berdua saja?" ucap Dira sambil menunduk, sementara Tiara memberi kode Alex supaya bisa keluar dulu.


"Ah kakak tau, kamu pasti canggung bercerita di depan kakak karna kakak cowok kan? Apalagi kakak juga asisten Hans... Kalo gitu,Kak Alex keluar dulu ya..." Dira mengangguk dan sesi curhat pun di mulai.


Dira menceritakan apa yang terjadi malam itu dan Dira tidak menyangka sama sekali jika berita tentang kehamilannya begitu cepat sampai di telinga Hans. Padahal dia baru mengumpulkan keberanian dan mencari waktu yang tepat untuk mengabarkan berita itu pads Hans.


"Kak,kakak kenal aku sudah lama kan? Kakak tau seperti apa aku orangnya,aku tidak pernah selingkuh walaupun saat itu aku masih setengah hati menerima Mas Hans menjadi suamiku. Demi Allah demi Rasulullah...ini anak Mas Hans kak... bukan anak orang lain. Aku juga tidak menyangka, hanya sekali kami melakukan hubungan suami istri... tapi Allah langsung memberikan kami keturunan..."

__ADS_1


"Awalnya aku pun syock berat ketika dokter Ariesta mengatakan bahwa ada janin dalam rahimku...aku juga merasa tidak percaya dan takut... aku takut Mas Hans tidak percaya sama seperti aku tapi yang lebih aku takutkan jika Mas Hans tidak mengakui bahwa ini adalah anaknya... Dan ternyata itu terjadi...bahkan lebih cepat dari yang aku bayangkan... Hati Dira sakit kak...sakiiit sekali...Dira merasa sangat terhina" Air mata Dira kembali menetes setelah berhasil mengeluarkan semua beban dihatinya dan Tiara pun hanya bisa memeluk untuk menenangkannya.


"Kakak tau perasaanmu... andai kakak jadi kamu, kakak pun pasti akan merasakan hal yang sama. Tapi semua itu jangan sampai membuat kamu menjadi seperti ini, apalagi sebentar lagi kamu akan wisuda. Kamu harus bangkit Dira,kamu harus tunjukkan pada Hans jika kamu benar-benar tidak seperti yang dia tuduhkan. Caranya dengan menyelesaikan kewajiban belajarmu sampai selesai wisuda. Dan setelah wisuda,kamu harus berani menyusul Hans ke Malaysia untuk memberikan penjelasan, tentunya tidak lupa kamu harus membawa surat bukti yang akurat dari dokter Ariesta."


"Dira sedih kak, karna sepertinya Dira akan melalui acara wisuda sendiri tanpa seorang pun yang mendampingi..." ucap Dira tertunduk sedih.


"Jangan sedih...ada Bi Asih dan kami di sini... Kakak akan dampingi kamu...kita kan keluarga. Ayo bangkit dan semangat, kalau kamu terus seperti ini, semua tidak akan terselesaikan dengan baik..."


"Iya kak... Terimakasih..."


Hari berikutnya Dira sudah diperbolehkan pulang. Dira sengaja pulang ke ruko bersama Bi Asih bukan pulang ke rumah keluarga besar Saputra. Sebagian baju dan barang pribadinya pun sudah dibawanya. Bukan bermaksud hengkang dari rumah itu,tapi dia ingin menenangkan diri sejenak sebelum dia menemui Hans seperti saran Tiara.


Hari berlalu begitu cepat, hubungan antara Dira dan Hans masih belum membaik. Mereka tengah disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing.


Tepat di hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Dira, Sila dan Adit. Karna hari ini adalah hari wisuda mereka. Semua wisudawan dan wisudawati tampak begitu bahagia dengan didampingi keluarga mereka masing-masing. Tapi tidak begitu dengan Dira,ada rasa sedih dan kecewa karna dia terpaksa datang seorang diri tanpa seorang pendamping.


'Kamu bisa Dira...kamu kuat...ingat kamu tidak sendiri,ada dia...malaikat kecilmu yang kini berada dalam rahimmu yang selalu menemanimu di setiap saat' ucapnya dalam hati sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Dan seketika kekuatan itu muncul...bahkan ketika dia diberikan kesempatan untuk berpidato sebagai lulusan terbaik,Dira sanggup dengan lantang menyebut nama Hans dan mengakui Hans sebagai suaminya yang selama ini ada di balik kesuksesannya meraih predikat sebagai wisudawati terbaik. Dira tidak peduli ada puluhan bahkan ratusan pasang mata yang memandangnya seolah tidak percaya dengan ucapannya yang mengaku sebagai istri dari seorang Hans Hendra Saputra, eksekutif muda sukses dambaan setiap wanita lajang dan dambaan setiap orang tua yang memiliki anak gadis.

__ADS_1


Dira tidak peduli apa yang saat ini ada dalam pikiran orang-orang, baginya hari ini adalah hari bahagianya, hari di mana dia dinobatkan sebagai wisudawati terbaik dan hari ini juga hari berakhirnya perjanjian yang telah disepakatinya bersama Hans.


'Kak Tiara benar,aku harus percaya diri dan harus bisa meyakinkan Mas Hans bahwa aku tidak seperti yang dia tuduhkan...'



.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Lanjut...


__ADS_2