Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Akhir yang bahagia


__ADS_3

"Assalamu'alaikum Kak Hans..." salam Felisha yang seolah masih enggan menyapa keberadaan Dira. Sementara Vera dengan perasaan canggung hanya mampu tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.


"Wa'alaikumsalam... silahkan duduk..." ucap Hans mempersilahkan tamunya duduk sambil membimbing istrinya untuk duduk di sampingnya. "Ada perlu apa datang kemari?" tanya Hans dengan nada dingin.


"Emm... sebenarnya kedatangan aku ke sini untuk mengucapkan terimakasih kepada kakak yang telah mencabut laporan kakak ke kantor polisi..."


"Tunggu Ver... memangnya kamu nggak bilang sama adik kesayanganmu ini tentang hal yang terjadi sebenarnya?"


"Sudah Hans, tapi dia tidak percaya..." jawab Vera seperti merasa bersalah.


"Feli... bukan aku yang mencabut laporan tentang kamu di kantor polisi, tapi istriku di antar oleh Alex. Perlu kamu tau... sebenarnya sejak awal, ketika aku ingin mengkasuskan masalah ini, dia orang yang sudah kamu bikin celaka ini melarangku. Dia tidak ingin nama baikmu tercoreng karna berstatus bekas napi, tapi mengingat perbuatanmu yang menurutku sudah sangat keterlaluan, maka aku pun tidak menghiraukan ucapannya. Jadi...hari ini,seandainya kamu ingin berterimakasih... maka sudah seharusnya berterimakasih lah kamu sama istriku... Karena jika bukan karna istriku,aku masih akan tetap melanjutkan kasusmu ini hingga sampai ke meja hijau..."


"Ja...jadi yang diucapkan Kak Vera itu benar?"


"Hmm..." Hans mengangguk pelan. "Aaa... satu lagi perlu kamu tau... Jika aku mau... aku juga bisa saja melaporkan semua tindak kejahatan kakakmu kepadaku dan Jessica selama di Singapura itu kepada polisi karena aku telah memiliki banyak bukti tentang hal itu. Tapi aku memilih tidak melakukannya dan meminta Jessica juga untuk tidak melakukan pelaporan. Atas permintaan siapa kau pikir? Semua itu atas permintaan Dira istriku, kalau bukan permintaan dia,mungkin aku tak sudi melakukan semua itu." Hans membuang nafas kasar... "Istriku terlalu baik pada kalian, untuk itu... sudah sepantasnya jika kalian berdua berterimakasih kepada Dira... istriku." Hans merapatkan tubuh Dira sambil mencium pelipis istrinya.


'Br*******k... bisa-bisanya Kak Hans menunjukkan kemesraannya di depan gue. Huuh... pasti bangga tuh si Dira diperlakukan seperti itu oleh Kak Hans...' umpat Felisha dalam hati.


"Maaf Kak Feli saya ikut bicara... Bukan karena saya sok suci atau sok bijak, tapi saya hanya berusaha ikhlas saja. Apa yang terjadi di antara kita mungkin memang sudah takdir dari Allah. Kecewa itu pasti, sedih juga iya tapi saya berusaha untuk tidak marah, karena dengan marah kita tidak bisa mengubah keadaan menjadi seperti sebelumnya . Dan karena dengan marah pula semua kejadian ini tidak akan pernah bisa terselesaikan dengan baik. Kak Feli, saya sadar... tidak ada orang yang tau kapan dan kepada siapa kita jatuh cinta dan saya paham betul perasaan kakak kepada suami saya. Sebelumnya saya minta maaf... tidak bermaksud menyalahkan tapi sebenarnya memang dari awal saya sudah ingin berterus-terang kepada Kak Feli tentang siapa saya sebenarnya. Hanya saja waktu itu, saya tidak punya kesempatan untuk mengutarakannya. Jadi saya juga merasa perlu untuk minta maaf kepada Kak Feli, jika waktu itu gara-gara sikap saya, kakak jadi merasa saya permalukan dan saya permainkan..." Dira diam sesaat. "Kak Feli... demi Allah saya benar-benar tidak punya maksud seperti itu... Untuk itu saya berharap agar kakak bisa ikhlas menutup semua masalah ini dengan cara baik-baik, tanpa harus menyimpan rasa benci lagi, apalagi rasa dendam di kemudian hari..."


"Aku tau..." ucap Feli singkat.


"Saya berharap kedepannya kita bisa menjadi teman baik bukan lagi musuh atau rival..." Dira tersenyum tulus kepada kedua tamunya. Feli membalas senyum Dira walaupun sedikit dipaksakan.


"Kamu baik sekali Dira, kamu sanggup memaafkan kami yang terang-terangan sudah merugikan kamu... Hans beruntung mendapatkan istri sepertimu..." sela Vera.


"Hei apa maksudmu? Aku sedikit tidak suka dengan ucapanmu..." teriak Hans mengagetkan semua orang di situ... "Bukan aku yang harusnya bersyukur mendapatkan istri seperti Dira, tapi Dira yang harus bersyukur karena mendapat suami seperti aku...ha ha ha..." kelakar Hans.


"Walaupun ngedapetinnya maksa dan berawal dari sebuah kesalahan?" sindir Alex yang tiba-tiba muncul dari ruang tengah.


"Waktu dia patah hati ma gue ya Lex?" ledek Jessica pun ternyata sudah ada di dalam sejak tadi, ditemani oleh Sarah.


"Curang lu... sukanya main keroyokan, bisa tidur sendirian ni aku tar malem..." ucap Hans polos "Eh.. jangan didengerin omongan mereka ya sayang... apalagi omongan Jessica,itu hanya hoax... bener deh..." ucap Hans seperti orang ketakutan sambil menutup kedua telinga Dira dengan kedua tangannya.


"Ha ha ha..." Tak urung tingkah Hans pun jadi bahan tertawaan teman-temannya,termasuk Felisha.


'Ya Tuhan... sumpah demi apa, gue bisa liat tingkah Kak Hans yang lucu dan menggemaskan ini. Tak di sangka... seorang CEO besar bisa merendahkan harga dirinya di depan teman-temannya hanya demi seorang wanita? Yah memang tidak bisa dipungkiri lagi, jika Kak Hans memang benar-benar mencintai istrinya dan Dira memang layak mendapatkan cinta itu, karena dia memang wanita yang baik' ucap Feli dalam hati.


🌹🌹🌹


Beberapa bulan kemudian...


"Mas... hari ini mas jangan masuk kantor dulu ya... temani Dira..." rengek Dira pagi itu... Hans menoleh ke arah istrinya yang masih enggan bangun dari tempat tidurnya.


"Kenapa? Tumben... masih mau yang seperti semalam?" goda Hans karna semalam mereka sempat melakukan olah raga malam.


"Ngaco... tadi waktu mau bersih-bersih dan sholat subuh, perut Dira terasa sakit..."


"Apa? Padahal semalam aku kan melakukannya pelan-pelan sayang... apa sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang aja?" Mendengar ucapan istrinya Hans pun berubah menjadi sangat cemas.

__ADS_1


"Nggak usah mas... sakitnya udah ilang kok. Ini memang sudah bulannya tapi kalau sakitnya masih jarang-jarang, Dira rasa belum waktunya ke rumah sakit. Dira hanya pingin ditungguin aja... boleh kan?"


"Ooh... tentu saja boleh... apa sih yang enggak buat kamu..." Hans mencium kening istrinya.


Tiba-tiba...'tok tok tok...'


"Mama... papa... Hara boleh masuk?"


"Masuklah sayang..."


"Papa... mama... Hara sudah siap... Tapi kok..." Ucapan Hara terhenti, dia justru memandang lekat ke arah Hans yang belum juga memakai baju kerja.


"Kenapa sayang?" tanya Dira dengan nada lembut. "Oh ya, hari ini papa minta cuti sama Om Alex... papa mau nemenin mama. Tapi kakak jangan kuatir, papa akan tetap antar kakak sekolah kok..." lanjut Dira.


"Dedek udah mau keluar ya mah, makanya mama minta ditemenin papa, mama takut ya ..." ucap polos Hara yang seolah tau apa yang sedang dirasakan oleh mamanya. Dira tersenyum sambil mengangguk pelan... memang tak bisa dipungkiri, ikatan bathin Dira dan Hara memang begitu erat. Mereka selalu tau apa yang sedang mereka mau dan yang sedang mereka rasa tanpa harus berbicara.


"Kita sarapan dulu aja yuk..." ajak Hans..."Kamu mau makan di kamar, sayang?" tanya Hans kepada Dira, Dira pun segera menggelengkan kepalanya.


"Aku mau temani kalian sarapan di bawah..." Hans mengangguk senang begitupun dengan Hara, tapi baru saja Dira hendak turun dari tempat tidur... tiba-tiba dia merasa kesakitan. Hans pun menjadi cemas dibuatnya karena ini baru pertama kali dia alami.


"Hara tolong panggil Nenek Asih dan Pak Jono suruh siapin mobil papa..."


"Siap pa..." Hara pun langsung setengah berlari menuruni tangga untuk mencari bantuan.


🌹🌹🌹


"Oee...oee...oee..."


"Alhamdulillah..." ucap Hans dan Bi Asih bersamaan.


Tak lama kemudian pintu ruang bersalin pun terbuka dan keluarlah dokter Ariesta bersama dengan seorang suster yang tengah menggendong seorang bayi perempuan.


"Dokter... apa ini putri saya?"


"Iya tuan... kami akan membawa ke ruang bayi tapi sebaiknya tuan adzani terlebih dahulu..." Tanpa menunggu lama, Hans pun segera mengadzani putri cantiknya.


"Lalu bagaimana dengan istri saya dokter?"


"Alhamdulillah istri anda baik-baik saja, hanya saja tadi saya sengaja memberikan suntikan obat tidur, agar beliau bisa istirahat. Setelah nyonya terbangun, Nyonya Andira akan segera kami pindahkan ke kamar rawat inap..."


"Alhamdulillah... boleh saya melihatnya sekarang dok?"


"Tentu...silahkan..."


Hans masuk ke ruang bersalin bersamaan dengan bangunnya Dira dari tidurnya.


"Mas..." panggil Dira sambil tersenyum.


"Terimakasih sayang... baby kita cantik seperti kamu" Senyum Hans mengembang, Hans pun kemudian mencium kening istrinya dengan kedua netra yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Setelah Dira dipindahkan ke ruang VVIP, seluruh keluarga pun berkumpul jadi satu. Mereka begitu takjub melihat kecantikan bayi mungil Dira dan Hans. Dan lucunya lagi Hara tidak pernah beranjak sedikitpun dari sisi adiknya itu.



Hanifa Zanitha Saputra


Dua hari berselang... Dira dan putrinya sudah diperkenankan pulang ke rumah. Sore itu seperti biasa, dari sepulang sekolah Hara selalu setia di samping box baby tempat adiknya tidur. Tapi kali ini Hara terlihat mengerutkan keningnya sambil mengelus-elus tulisan nama adiknya.


"Kakak kenapa?" tanya Dira heran dengan kelakuan putranya.


"Ma... adikku kan cewek, tapi kenapa nama belakangnya Saputra bukan Saputri? Bukankah Saputra itu nama cowok yang artinya seorang laki-laki? Jadi harusnya nama belakang adikku Saputri dong ma yang berarti seorang perempuan..."


"Nama Saputra di belakang nama kalian bukan menunjukkan jenis kelamin sayang... tapi nama itu menjelaskan bahwa kalian adalah anggota keluarga Saputra, jadi nama Saputra itu adalah nama keluarga kita, makanya mau laki-laki ataupun perempuan nama belakangnya akan tertera nama Saputra..." jelas Hans yang baru saja pulang dari kantor kepada putra kebanggaannya. Hara tampak manggut-manggut paham, lalu dia pun kembali fokus memperhatikan adiknya sampai dia tertidur di sofa tempat biasa Dira duduk untuk menyusui putrinya.


Hans dan Dira pun saling berpandangan kemudian tersenyum geli melihat tingkah putranya. Hans pun kemudian memeluk istrinya dari belakang.


"Terimakasih ya sayang, kamu sudah memberiku seorang putra yang begitu tampan dan cerdas... juga seorang putri yang cantik dan lucu. Terimakasih juga karena kamu mau memaafkan aku, mau menerima aku kembali dan mau terus mendampingiku. Aku sangat mencintaimu sayang... Jangan pernah tinggalkan aku lagi ya..." bisik Hans di telinga Dira.


"Sama-sama mas, aku pun sangat berterimakasih padamu untuk semua cinta dan kasih sayang yang kau limpahkan kepada kami...aku dan anak-anak... Aku juga sangat mencintaimu mas..." ucap Dira sambil mengeratkan tangan Hans yang tengah memeluknya.


"Kamu tau sayang? Setiap manusia itu pasti akan sangat menyesal jika dia telah melakukan sebuah kesalahan... tapi tidak dengan aku..." Hans berhenti sejenak ketika melihat Dira membalikkan badannya sambil menatap tajam padanya.


"Iya... aku tidak akan pernah menyesali sebuah kesalahan yang pernah aku buat tujuh tahun yang lalu... Karena terbukti sebuah kesalahan yang aku buat itu, kini berakhir menjadi sebuah kebahagiaan yang sempurna..." Hans tersenyum licik karna telah berhasil menggoda istrinya.


"I love you Andira Zanitha Prasetya..." ucap Hans sambil mencium bibir istrinya sekilas.


"I love you too Hans Hendra Saputra..." Dira pun bermaksud mencium bibir suaminya sekilas tapi rupanya Hans tidak puas dengan hal itu. Hans pun langsung memperdalam ciumannya dengan menahan kepala Dira agar tidak bisa menjauh darinya.


.


.


.


.


.


.


.


TAMAT


Terimakasih tak terhingga untuk semua Raeder yang selalu setia membaca karya Author walaupun sering sekali telat update nya.


Semoga kalian terhibur dengan karya Author kali ini. Mohon maaf jika masih banyak kesalahan dan kekurangan Author dalam menyusun kata demi kata.


Sekali lagi terimakasih.... love you all...😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2