Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Selamat Ulang Tahun Dira


__ADS_3

Dira diam tak bereaksi ketika Hans menarik tubuhnya ke pelukannya, hanya isakan tangisnya yang masih pelan terdengar.


"Siapa yang bilang istri mas bodoh. Istri mas itu pintar... bahkan sangat pintar, saking pintarnya dia selalu saja menyimpulkan satu kejadian menurut versinya sendiri. Tanpa mau mencari faktanya, tanpa mau bertanya dulu bagaimana kejadian yang sebenarnya..."


"Sekarang mas tanya dulu... kenapa kamu memilih pergi ketika kamu melihat mas bersama Jessica? Kenapa kamu tidak mau mendatangi kami di toko itu?" Dira menggelengkan kepalanya pelan sambil masih terisak-isak..." Kenapa?"


"Dira... hiks... Dira nggak sanggup liat mas berduaan dengan wanita lain... hiks... apalagi dia adalah Kak Jessica, mantan pacar Mas Hans... hiks hiks hiks..." Dira menggeser tempat duduknya, sedikit menjauh dari Hans.


"Kamu cemburu?"


"Nggak tau... hiks hiks hiks...?" Dira menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bilang cemburu dong... biar mas senang, mosok yang cemburu mas terus...he he he..." goda Hans.


"Bodo... hiks hiks hiks..."


"Memang susah ya jadi orang ganteng? Anak udah mau tiga aja, masih banyak yang suka..." ucap Hans bangga, sementara Dira masih memalingkan wajahnya ke arah lain sambil menidurksn kepalanya di atas lipatan tangannya yang ditopang oleh kedua lututnya.


"Sayang sini dong, kasian dedeknya dong kalo kamu cara duduknya begitu..." Hans mencoba meraih tangan Dira tapi Dira mengibaskannya. "Jangan menangis terus...kasian anak kita juga... Kamu memangnya nggak ingin tau kejadian yang sebenarnya?" Mendengar ucapan Hans, Dira langsung mengangkat kepalanya dan memalingkan wajahnya ke arah suaminya. Dalam hati kecilnya sebenarnya Dira tidak percaya jika Hans mengkhianati cintanya, tapi ketika dia melihat Hans berduaan dengan Jessica kemarin, hatinya langsung mendidih hingga dia tidak ingin melihatnya lagi.


"Memangnya apa yang sebenarnya terjadi?"


"Sini dong yang dekat... mosok ngobrol jauh-jauhan..." Dira menggeser duduknya, kemudian pelan Hans meluruskan kaki Dira. "Na... duduknya harusnya begini, biar dedeknya nggak kepencet kaki mamanya... Kan sakit ya sayang..." ucap Hans pada putranya yang masih berada dalam perut Dira sambil mengelus-elus perut Dira.


"Apaan sih... katanya mau cerita..."


"Iya... tapi jangan marah-marah dong... nih liat dedeknya jadi kaget loh kalo denger mamanya teriak-teriak terus sama papanya..."


"Ish lebay..." ucap Dira kesal.


"Oke-oke...mas cerita sekarang ya..."


Hans pun akhirnya menceritakan semuanya. Berawal dari dia yang selesai metting di salah satu restoran di mall itu, kemudian tanpa sengaja dia bertemu dengan Jessica dan Rico, anak tirinya Jessica yang kini akan menjadi calon suaminya. Tetapi ketika Dira dan Sila kebetulan melihat, Rico sedang berbincang dengan pemilik toko perhiasan itu, jadi kesannya Hans di toko itu berdua bersama Jessica.


"Terus ngapain tiba-tiba masuk ke toko perhiasan itu?"


"Mas masuk ke toko perhiasan itu ya buat beli perhiasan lah..."


"Untuk orang yang cemburuan tapi tidak mau mengakui kalo cemburu... tunggu..." Hans mengambil sebuah kotak berukuran 10 x 10 cm lalu memberikannya kepada Dira. "Selamat ulang tahun sayang... do"a terbaik untukmu selalu...'cup'..." Hans mencium kening Dira.


"Jadi mas beli perhiasan untuk Dira? Hiks hiks hiks... terimakasih mas... hiks hiks hiks... Maaf Dira sudah salah sangka... hiks hiks hiks..." Dira memeluk Hans dengan erat sambil terus menangis tersedu-sedu.


"Loh ulang tahun kok malah nangis... nggak suka ya di kasih hadiah?"

__ADS_1


"Suka... suka banget malah, tapi... maaf Dira sudah salah sangka sama Mas Hans... hiks.."


'Tok tok tok...'


"Selamat ulang tahun..." suara orang-orang terdekat Dira bersamaan. Hanna, Hara, Alex,Tiara, Alika, Sila, Mama Ina dan Papa Tio.


"Selamat ulang tahun mama..." ucap Hara.


"Selamat ulang tahun tante..." ucap Alika


"Terimakasih... tapi kok kalian malam-malam nggak tidut?"


"Kan tadi udah tidur awal tante..."


"Hara juga..."


Satu per satu dari mereka mengucapkan selamat kepada Dira dan tak lupa memberikan kado untuk Dira.


"Tapi ngomong-ngomong ini kamar kok kaya kapal pecah ya..." celetuk Mama Ina.


"Habis ada yang ngamuk karna cemburu ma..." goda Hans.


"Aaa... Mas Hans nggak lucu deh..."


"Iya ma..."


"Eh ini sampe belum tiup lilin... ayo make a wish dulu..."


"Hara bantuin ya ma..."


"Alika juga..."


"Ayo kita tiup bareng-bareng..." ucap Dira bahagia.


"Yeaaa... selamat ulang tahun mama..." teriak Hara sambil mencium pipi Dira... rupanya Alika pun tidak mau ketinggalan. Tingkah kedua bocah itu pun mengundang tawa semua yang ada di kamar tidur Hans dan Dira.


Acara pun dilanjutkan dengan makan-makan dan bercengkerama di tengah malam, hingga pukul setengah dua pagi. Sayang Amirah, Anita dan suaminya serta keluarga Dira tidak ada di sana. Selesai acara mereka tidak langsung pulang ke rumah masing-masing, tapi mereka menginap di rumah Hans yang besar dan mempunyai banyak kamar itu.


Hans memastikan putranya tertidur kembali dengan pulas seperti penghuni rumah lainnya, ketika sebuah pesan masuk ke ponsel istrinya.


"Seperti ada pesan masuk... dari siapa?" tanya Hans yang tiba-tiba merasa terusik dengan bunyi notifikasi pesan dari ponsel Dira.


"Entah... mungkin papa ngucapin selamat ulang tahun... Mas buka aja, Dira mau ke kamar mandi dulu..."

__ADS_1


Hans meraih ponsel Dira di nakas. Ada beberapa pesan dan memang benar salah satunya pesan dari papa mertuanya yang mengucapkan selamat ulang tahun. Tapi ada satu pesan dari seseorang yang menarik perhatian Hans, dan pesan itu di kirim tepat di jam dua belas malam. Itu adalah pesan dari Damar.


"Sayang... pesannya boleh mas baca?"


"Baca saja, Dira sedang gosok gigi ni..."


"Oke..."


Tak menunggu lama lagi, Hans segera membuka pesan dari Damar yang ternyata tidak hanya satu.


📥 "Selamat Ulang Tahun My Princess... Semoga Tuhan selalu memberimu kesehatan, kesuksesan dan kebahagiaan. I Love U... Always and Forever..."


'Br*******k... rupanya dia mengabaikan peringatan dariku kemarin, dia benar-benar tidak menganggap aku ada. Bisa-bisanya dia menulis ucapan selamat ulang tahun kepada Dira dengan kata-kata seperti itu...' gumam Hans yang langsung mendidih darahnya karena terbakar api cemburu. Kemudian dia melanjutkan lagi membaca pesan berikutnya. Dalam pesan berikutnya Damar terang-terangan mengingatkan kembali ketika mereka merayakan ulang tahun Dira di saat mereka masih bersama dulu. Damar juga mengatakan bahwa tadi pagi dia sempat melihat Hans di toko perhiasan bersama Jessica. Damar pun mencoba memprovokasi Dira dengan menjelek-jelekkan Hans kepada Dira. Darah Hans semakin mendidih, dia benar-benar di buat geram oleh pesan WhatsApp dari Damar hingga tanpa sadar dia pun melempar ponsel Dira karena sudah dikuasai oleh amarah.


"Br*******k... baj*******n..." teriaknya. Untung kamar tidur mereka kedap suara,sehingga teriakan dan bunyi barang dilempar tidak sampai membangunkan penghuni rumah yang lain. Hanya Dira yang mendengar dari dalam kamar mandi.


"Mas, ada apa?" tanya Dira setelah keluar dari kamar mandi.


Hans tidak menjawab, matanya nanar memandang Dira, membuat Dira sedikit takut pada suaminya.


"Mas..." panggil Dira lirih. Melihat istrinya, Hans pun tiba-tiba menarik tubuh Dira ke dalam pelukannya. Kemudian dia pun menciumi istrinya itu dengan rakusnya, dan tak lama berselang, Hans pun membanting tubuh Dira ke tempat tidur, membuka baju tidur Dira dengan kasar hingga tubuh polos istrinya kini terpampang nyata di depannya. Dengan buas Hans menggauli istrinya, tanpa menghiraukan istrinya yang berkali-kali mengingatkan pada Hans bahwa dirinya saat ini sedang mengandung.


Perih hati Dira, menerima perlakuan suaminya yang tiba-tiba menjadi sosok yang tidak dia kenal. Tapi Dira pun sadar... di balik semua ini, pasti ada sesuatu yang kini tengah mengusik ketentraman hati suaminya. Untuk itu pada akhirnya, dia pun hanya bisa pasrah dan membiarkan suaminya melampiaskan amarahnya pada tubuhnya sambil menangis tanpa suara. Jelas Dira tidak menikmati sentuhan suaminya seperti biasanya, dia hanya bisa berdo'a semoga perlakuan suaminya itu tidak mempengaruhi kesehatan janinnya.


Hans membanting tubuhnya ke samping istrinya, sesaat setelah dia sudah merasa puas. Tak lupa tangan Hans menarik selimut untuk menutupi tubuh Dira yang polos tanpa sehelai benang pun. Sementara tanpa Hans sadari air mata Dira masih saja belum berhenti mengalir.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Hai para reader semua...maap up nya kacau waktunya, sebab sedang banyak kegiatan... Terimakasih buat yang masih setia mengikuti jalannya cerita ini...🙏🏻🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2