Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Pengakuan Hans


__ADS_3

Dira melangkah pelan mendekati ranjang rumah sakit,tempat papanya berbaring. Air mata kesedihannya menetes melihat orang yang disayangnya terbaring lemah tak berdaya.


"Papa..." gumamnya lirih hampir tak terdengar.


Dia sudah kehilangan mamanya sejak kecil dan melihat keadaan papanya sekarang,membuat Dira takut jika dia juga harus kehilangan papanya. Dira duduk di kursi yang ada di sisi ranjang,pandangannya tak pernah bergeser sedikit pun dari tubuh papanya yang tengah tergolek lemas tak berdaya. Dira meraih tangan Pras lalu mencium dan menempelkan tangan yang sudah mulai berkerut itu di pipinya. Tetesan air mata Dira membuat Pras terjaga dari tidurnya,perlahan Pras membuka matanya.


"Dira..." panggilnya pelan,menyadarkan Dira yang tengah memegangi tangan papanya.


"Papa sudah bangun? Dira ganggu papa ya...?"


Pras menggeleng...tangan kanannya yang sedari tadi di pegang Dira pun mengusap lembut wajah putrinya.


"Maafkan papa ya nak...papa tidak bisa menjagamu dengan baik..."


"Kenapa papa tiba-tiba bicara begitu? Dira kan sudah dewasa papa,Dira sudah bisa jaga diri Dira sendiri...Dira bukan anak kecil lagi..."


"Kamu anak papa yang baik,kamu tidak pernah menyusahkan papa sedikit pun. Papa merasa sangat terpukul mendengar berita itu..."


"Berita apa pa? Papa jangan gampang percaya dengan berita yang belum jelas asal usulnya..."


"Sayang,papa sudah tau apa yang telah menimpamu...Tidakkah kamu ingin bercerita langsung pada papa nak?"


Pras memandangi putrinya dengan penuh perasaan bersalah. Betapa tidak...Dira kini hanya memiliki dia,tapi selama ini dia hanya disibukkan oleh pekerjaan dan memperhatikan keluarga barunya saja. Sementara Dira...walaupun kemarin-kemarin mereka tinggal bersama tapi semenjak kelahiran Angel,Pras jarang mencurahkan perhatiannya pada Dira.


"Kenapa kamu masih bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa nak,kenapa kamu masih tidak mau berbagi dukamu dengan papa?"


"Sudahlah pa,jangan banyak bicara dulu...Dira sungguh tidak apa-apa. Dan...untuk permintaan papa yang kemarin Dira akan menerimanya,jika memang itu bisa membuat perusahaan papa bangkit lagi..." ucap Dira mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Siapa laki-laki itu?"


"Laki-laki yang mana pa?"


"Laki-laki yang telah merenggut kehormatanmu?"


"Papa? Pa...papa tau berita itu dari siapa?"


Dira menjauhkan badannya dan melepaskan pegangan tangannya pada Pras.

__ADS_1


"Apa kamu perlu tau dari mana papa mendapat berita itu? Tidakkan?"


"Tapi...tapi bagaimana kalau berita itu bohong?"


"Aku yang memberitahukan pada papi dan aku tidak mungkin bohong pada papi..."


Tiba-tiba Angel muncul dari teras luar kamar VVIP itu. Rupanya dia baru saja selesai menelpon Damar kekasihnya.


"Apa buktinya kalau kamu tidak bohong?"


"Ooh rupanya kakakku tersayang ini masih berusaha mengelak? Pi,harusnya papi tidak perlu banyak bicara...papi juga tidak perlu merasa bersalah jika Kak Dira ada yang memperkosanya. Bukan tidak mungkin jika dia yang memberi peluang pada laki-laki itu untuk menikmati tubuhnya..."


"Tutup mulutmu Angel,aku ini kakakmu...kau harus bisa menjaga ucapanmu. Tega-teganya kamu berbicara begitu kepadaku..."


"Oya...ini dia bukti yang Kak Dira mau...dengarkanlah baik-baik..."


Angel pun memutar rekaman percakapan antara Dira dan Sila malam itu. Dira pun terkesiap kaget mendengarnya,Dira tidak menyangka Angel mendengar bahkan merekam percakapannya dengan Sila malam itu. Kini dia tak mampu mengelak lagi dari pertanyaan papanya,Dira yang sejak kedatangan Angel berdiri...perlahan berjalan mundur sedikit demi sedikit sambil menutup mulutnya.


"Sudah cukup akurat kan bukti yang ku berikan?"


Dira terdiam...kini dia tak mungkin lagi bisa memberikan pembelaan,karna semua pembelaan yang diucapkannya nanti hanya akan menjadi sebuah kebohongan baru.


"Pa...lebih baik kita fokus pada kesembuhan papa dulu. Aku sudah tidak apa-apa kok pa...kejadian itu adalah sebuah kesalahan yang akan aku tanggung sendiri..."


"Kenapa sih kakak masih belum mau menjawab pertanyaan papi? Kak jawablah pertanyaan papi agar masalah ini cepat selesai,agar papi tidak kepikiran lagi dan kakak pun bisa menuntut orang itu..."


"Masalah ini sudah aku anggap selesai,jadi siapa dia biar cukup aku saja yang tau karna aku sudah memutuskan untuk tidak menuntutnya..."


"Kenapa begitu? Apa karna orang itu jelek,jadi kakak tidak mau menuntutnya? Coba biar ku tebak,orang itu pasti kalah ganteng dan kalah kaya dari Damar kan? Jadi kakak merasa malu...ha ha ha..." Angel seperti tertawa puas dengan hinaannya pada kakaknya.


"Itu bukan urusanmu...urus saja Damarmu itu,aku sudah tidak ada hubungannya sama dia lagi. Dan satu lagi,jangan pernah banding-bandingkan orang itu dengan Damar..."


"Permisi...Pak Pras,sayalah orang yang bapak cari,sayalah orang yang telah menodai putri bapak dan saya minta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian malam itu,tapi dengan segala kerendahan hati saya bersedia bertanggungjawab pak..." ucap Hans yang tiba-tiba saja masuk ke kamar itu,setelah mendengar Dira dan Angel berdebat.


"Pak Hans! Kenapa bapak nggak tunggu di luar aja sih" bisik Dira kepada Hans tapi Hans mengabaikannya. Hans justru fokus berbicara dengan Pras.


"What?! Jadi kamu yang sudah menodai putri saya?"

__ADS_1


"Iya bu...saya minta maaf..."


"Dasar tidak tau malu,katanya kamu ini kan dosen pembimbing putri saya...kok bisa-bisanya kau melakukan itu...? Asal kamu tau ya,putri saya sudah di lamar oleh seorang konglomerat dan putri saya juga sudah setuju,jadi kamu tidak perlu lagi bertanggungjawab atas apa yang telah kau lakukan pada putri saya..." ucap Sonya yang tidak bisa di sela sedikit pun.


"Lagian mau di kasih makan apa coba Dira...jadi dosen aja cuma dosen cadangan,wiraswasta juga belum jelas hasilnya..." gumam Sonya yang masih terdengar oleh telinga semua orang di situ.


"Kamu...bukankah kamu yang pernah datang di acara jamuan bisnis di kediaman Pak Wijaya waktu itu?" Pras mencoba mengingat-ingat sosok yang ada didepannya karna sebelumnya mereka memang pernah bertemu dalam satu acara jamuan bisnis rekan mereka.


"Iya pak,kita pernah bertemu di acara jamuan bisnis di kediaman Pak Wijaya. Nama saya Hans Hendra Saputra..."


"Ah ya...duduklah mendekat sini nak,maafkan semua ucapan istri bapak ya nak,jangan dimasukkan hati..."


"Akh tidak apa-apa pak..."


Hans berjalan mendekati calon mertuanya tapi ketika dia menarik kursi untuk duduk,tiba-tiba Angel menahannya.


"Tunggu-tunggu...Kak Hans ini bukannya seorang eksekutif muda sukses,kenapa tiba-tiba bisa menjadi seorang dosen? Lalu dimana dan bagaimana kalian bisa saling kenal?"


"Eksekutif muda? Tapi tadi bukannya kamu mengaku sebagai dosen pembimbing skripsi Dira,itu pun karna kamu menggantikan temanmu dan bisnismu...bukannya bisnismu hanya bisnis kecil-kecilan?" tanya Sonya heran setelah mendengar ucapan Angel.


"Cukup...Sonya...Angel...biarkan Hans duduk dulu dan menjelaskan semuanya dari awal hingga akhir...kalau kalian tidak ingin mendengarkan,kalian bisa keluar sekarang..." hardik Pras dengan nada sedikit emosi.


Hans pun akhirnya duduk di samping ranjang Pras,sementara Dira yang ada di situ diam-diam akan melangkah keluar tapi dengan sigap Hans menahan tangan Dira lalu ditariknya pelan agar Dira tidak pergi.


Dira pun membuang nafas kesal dan dengan terpaksa serta memasang muka cemberut,Dira pun berdiri di samping Hans.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2