Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Babak Baru


__ADS_3

Beberapa jam yang lalu...


Setelah siuman dari pingsannya,Dira pun segera meninggalkan apartemen Hans dengan menaiki taksi yang sudah dipesankan oleh pegawai resepsionis apartemen itu.


"Maaf kakak...kite nak kemane?" tanya sopir taksi itu dengan sopan.


"Bisa tolong carikan saya hotel yang dekat dengan bandara? Soalnya besok saya akan bertolak ke Indonesia dengan penerbangan pertama..."


"Oh siap kak..."


Seperdetik kemudian taksi yang ditumpangi oleh Dira pun segera melesat membelah keramaian jalan raya di Kuala Lumpur Malaysia malam itu. Sepanjang perjalanan...Dira mengedarkan pandangannya ke luar mobil lewat kaca jendela mobil.


'Ya Allah... Aku tidak pernah menyangka,kedatanganku jauh-jauh ke sini...inilah yang ku dapat. Kenyataan ini sangat menyakitkan...tapi aku tidak boleh menyerah pada keadaan,aku harus bisa menghadapi kenyataan. Hidup harus tetap berlanjut bersama dia ataupun tidak bersama dia lagi... Seperti pesan Kak Tiara padaku kemarin,aku harus bisa mandiri dan menjadi ibu yang kuat untuk anakku... walaupun tanpa Mas Hans lagi...' Dira mengalihkan pandangannya ke arah perutnya sambil mengelus-elus perut yang terlihat masih rata itu lalu kembali memandang ke luar, menikmati suasana malam di negeri Jiran Malaysia.


"Maaf kakak,kite dah sampai..." ucap sopir taksi itu membuyarkan lamunan Dira.


"Ah ya... " Dira melirik argo lalu mengeluarkan uang kemudian memberikannya kepada sopir taksi itu.


"Kakak, kembaliannya..." Sopir itu mengeluarkan uang dari saku bajunya.


"Ambil saja untukmu..."


"Tapi ini terlalu banyak..."


"Itu Rizkimu malam ini... terimakasih sudah mengantar saya dan mencarikan hotel untuk saya..."


"Same-same kak..."


Dira segera mengistirahatkan tubuhnya di sofa setelah dia selesai membersihkan diri. Tiba-tiba saja dia teringat ponselnya yang tadi kehabisan baterai. Dan begitu ponsel itu di cas dan dinyalakan... terdengar notifikasi teru dan pesan masuk bersahut-sahutan.


"Mas Hans..." ucapnya dengan senyum getir sambil memencet tombol 'delete' tanpa ingin membaca pesan dari suaminya terlebih dahulu.


"Maaf mas, tidak akan aku biarkan kau menyakiti aku terus menerus..." ucapnya lagi. Dira pun kemudian mengganti kartu ponselnya dengan kartu yang baru, lalu membaringkan tubuhnya ke tempat tidur.


🌹🌹🌹


Esok harinya Dira pun bertolak pulang ke Indonesia. Dan kurang lebih dua jam penerbangan,Dira pun kini telah sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta Jakarta. Dengan di antar taksi bandara,Dira pun segera pulang ke rukonya.

__ADS_1


Bi Asih tengah menyapu lantai teras ruko ketika sebuah taksi berhenti tepat di depan ruko. Dan betapa terkejutnya Bi Asih ketika tau siapa yang keluar dari taksi tersebut.


"Neng Dira?!" ucapnya sedikit teriak karena terkejut melihat kepulangan majikannya. "Kok sudah pulang neng...?" tanya Bi Asih terheran-heran sambil mendekat untuk menyambut kedatangan majikannya itu.


"Urusannya sudah selesai kok bi..." jawab Dira sambil tersenyum dipaksakan.


"Maksudnya neng? Bi Asih kok nggak paham..."


Dira meraih kedua tangan Bi Asih.


"Ceritanya panjang... nanti Dira pasti cerita tapi jangan sekarang ya...Dira masih capek..." ucap Dira.


"Ah iya...Neng Dira sudah makan?" Dira menggeleng pelan.


"Wah kok gitu, kalo gitu ayo cepet masuk,Bi Asih bikinin sarapan kesukaan Neng Dira ya...?"


"Iya..." jawab Dira singkat.


"Tapi neng... bukannya kalo di dalam pesawat itu juga di kasih makan...?"


"Iya di kasih,tapi Dira pingin makan masakan Bi Asih.... boleh kan?"


Bi Asih meletakkan koper Dira di sisi pintu kamar Dira, kemudian mulai beraktifitas di dapur ruko yang bergaya minimalis modern itu.


"Oya bi... sudah berapa lama Bi Asih tidak pulang kampung?" tanya Dira tiba-tiba.


"Ada mungkin tujuh tahun... terakhir pulang, waktu itu pas ibunya Bi Asih meninggal dunia. Eh tapi ngomong-ngomong memangnya kenapa neng? Kok tiba-tiba Neng Dira tanya gitu?" Bi Asih balik nanya tapi dengan tangan yang masih sibuk membuatkan sarapan buat Dira.


"Nggak papa sih...cuma nanya. Oya bi...kampung Bi Asih pasti pemandangannya indah dan masih asri ya..."


"Iya neng, hawanya juga sejuk...kan kampung Bi Asih berada di lereng gunung Merapi neng..."


"Oya? Dira jadi pingin ke sana... Kalo papa dan mama sudah pernah pergi ke sana bi?"


"Mama Dewi, mamanya Neng Dira yang pernah datang ke rumah Bi Asih..,waktu itu Mama Dewi belum menikah dan masih tinggal di kota Yogyakarta. Waktu itu mamanya Neng Dira datang bersama sahabatnya yang bernama...Ina...ya...kalo nggak salah nama sahabatnya itu Ina..." cerita Bi Asih sambil sedikit mengingat-ingat dengan ingatan tuanya. "Ayo ceritanya sambil sarapan,ni mumpung udah mateng..." sela Bi Asih sambil meladeni majikan yang sudah seperti anaknya sendiri itu.


"Bi Asih duduk...kita sarapan bareng ya...,Bi Asih juga belum sarapan kan?" Bi Asih mengangguk lalu duduk di depan majikannya dan mulai menikmati masakannya sendiri.

__ADS_1


"Bi... Boleh nggak seandainya Dira tinggal di kampung Bi Asih...?" tanya Dira tiba-tiba.


"Uhuk uhuk uhuk..." saking kagetnya Bi Asih sampai terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Dira. Dira pun segera memberikan segelas air mineral.


"Maksud Neng Dira? Apa Bi Asih nggak salah dengar?" Dira menggelengkan kepalanya pelan.


"Kenapa neng? Bagaimana dengan Tuan Hans? Bagaimana juga dengan keluarga Neng Dira lainnya...?"


Dira diam sesaat kemudian dia pun mulai menceritakan semua kejadian yang tengah terjadi antara dia dan Hans, termasuk kejadian yang baru saja Dira alami kemarin di negeri Jiran Malaysia.


"Astaghfirullah haladziim... Bi Asih serasa nggak percaya deh neng,masak iya Tuan Hans bisa seperti itu neng. Bukannya Tuan Hans begitu sayang sama Neng Dira dan bukankah akhir-akhir ini, hubungan Neng Dira dengan Tuan Hans juga sudah mulai membaik?" Bi Asih tampak sedih hingga menitikkan air mata..."Padahal Bi Asih sudah sangat bahagia ketika akhirnya Neng Dira mempunyai suami yang baik dan sangat menyayangi Neng Dira. Apalagi ketika mengetahui Neng Dira telah berbadan dua...Bi Asih membayangkan jika Tuan Hans pasti sangat bahagia sekali. Dan pasti Tuan Hans akan menyayangi Neng Dira lebih dari sebelumnya... Setiap hari Bi Asih pasti akan terus tersenyum melihat perlakuan Tuan Hans kepada Neng Dira... seperti yang ada di sinetron-sinetron itu neng..." ucap Bi Asih.


"Ini bukan sinetron bi...ini kenyataan... Kenyataan jika ternyata Mas Hans sudah berubah. Tapi tidak apa-apa bi,Dira kuat kok...Dira akan menjadi ibu yang kuat untuk dia yang sekarang ada di sini. Makanya Dira ingin melahirkan dan membesarkan dia dengan tenang. Dira ingin kita tinggal jauh dari hingar bingarnya ibukota...boleh kan bi,jika Dira tinggal di rumah Bi Asih yang di kampung?" Dira menggenggam kedua tangan Bi Asih..."Kita pergi sekarang juga sebelum Agni datang,nanti setelah kita sampai di kampung Bi Asih...baru Dira kasih tau kalo kita pulang ke kampung Bi Asih..." ucap Dira memohon dan Bi Asih hanya bisa mengangguk sambil tersenyum walaupun air matanya tak henti-hentinya mengalir.


"Bi Asih akan siap-siap dari sekarang..." ucapnya sambil mengelus rambut Dira dan Dira pun hanya sanggup mengangguk.


"Bawa baju secukupnya saja bi,biar kita tidak kesusahan bawanya..."


"Iya neng..."


Tepat pukul delapan, semuanya beres... Dira pun segera memesan taksi online untuk mengantar mereka berdua pergi ke terminal.


Satu babak baru dalam kehidupan Dira pun akan segera dijalani,tapi perjalanan hidupnya kali ini terjadi di luar rencananya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Lanjut...


__ADS_2