
Hans melirik jam tangannya lalu celingak-celinguk mencari istrinya. Entah kenapa tiba-tiba saja perasaannya jadi tidak enak.
"Lu kenapa Hans?" tanya Alex melihat sahabatnya tampak gelisah.
"Dira... kok belum balik-balik juga dari toilet..."
"Eh bener juga ya... padahal gue udah duduk di sini dari tadi loh..." ucap Jessica.
Tiba-tiba...
"Tolong... tolong... tolong... ada wanita pingsan di toilet bersimbah darah..." teriak seorang cleaning service.
"Dira..." teriak Hans yang langsung berlari menuju toilet wanita. Alex dan Jessica pun segera mengikuti sahabatnya itu.
FLASH BACK ON
Dira tengah membenarkan riasannya setelah selesai buang air kecil... ketika tanpa di duga, Feli masuk ke toilet yang sama.
"Hei siapa ini...ooo Nyonya Hans yang terhormat ternyata..." ucap Feli dengan nada sinis sambil mendorong kasar pundak Dira dengan jari telunjuknya
"Eh Kak Feli..." Dira terkejut, badannya terdorong ke depan karena dorongan telunjuk Feli yang kasar dan tiba-tiba.
"Dasar perempuan munafik...lu sengaja mempermainkan gue ya..." teriaknya dengan sorot mata penuh amarah. Dira pun kemudian membalikkan badannya membelakangi cermin.
"Maksud kakak apa? Sa... saya..."
"Puas lu bikin gue kaya orang bego... puas lu nertawain gue ha..." Feli mendorong kembali pundak Dira tapi kini Feli mendorong dari depan.
"Ma... maaf kak... tapi sumpah saya tidak bermaksud mempermainkan kakak..."
"Kalau lu nggak ada niatan mempermainkan gue, kenapa lu nggak bilang kalo lu itu istrinya Kak Hans? Kenapa lu malah mengaku sebagai adiknya Kak Hans ha...?" ucap Feli yang terus mendorong tubuh Dira.
"Saya tidak pernah mengaku sebagai adik Mas Hans, tapi kakak sendiri yang menyimpulkan begitu. Bahkan sejak awal saya ingin mengakuinya tapi kakak selalu memotong ucapan saya dan akhirnya saya pun memilih diam..." Dira mencoba berbicara tenang walaupun ada rasa takut di hatinya ketika melihat sorot mata Feli yang seperti orang yang kesetanan. Dira pun terus berjalan mundur tapi Feli terus mengejarnya dengan langkah yang pelan-pelan.
"Jadi menurut lu gue yang salah? Mentang-mentang lu istrinya boss sekarang lu terus merasa bebas menyalahkan orang lain?" Feli semakin keras mendorongkan telunjuknya ke pundak Dira hingga Dira terus berjalan mundur.
"Bu... bukan begitu kak tapi...aakh..." Karena Dira terus di desak oleh Feli, Dira pun terus berjalan mundur, sehingga tiba-tiba saja Dira terpeleset sabun cair yang tumpah karena botolnya tadi tersenggol oleh kaki Dira yang terus melangkah mundur. Akibatnya Dira pun menjadi oleng dan tubuhnya terpelanting ke belakang di tambah kepalanya terantuk dinding wastafel, sehingga Dira tergeletak di lantai... pingsan. Tak hanya sampai di situ, akibat lain dari insiden terpeleset itu, darah segar mengalir dari daerah kewanitaannya.
Feli terkejut dan ketakutan melihat keadaan Dira, dia pun tidak menyangka jika kelakuannya akan mengakibatkan seperti itu. Karena di toilet itu memang hanya ada mereka berdua maka bukannya menolong, Felisha justru diam-diam memutuskan untuk pergi meninggalkan Dira yang masih tergeletak di lantai dengan bersimbah darah.
Tak lama Feli pergi, seorang cleaning service masuk ke toilet tersebut dengan maksud untuk menunaikan tugasnya yaitu membersihkan toilet. Tapi betapa terkejutnya dia ketika melihat seorang wanita yang tergeletak pingsan dan bersimbah darah. Dia pun kemudian keluar toilet sambil berteriak-teriak minta tolong.
FLASH BACK OFF
Hans memaksa masuk dengan membelah kerumunan orang di depan toilet wanita. Dan betapa syoknya dia ketika melihat wanita yang tergeletak di lantai itu benar istrinya. Hans pun segera membopong tubuh istrinya sambil menitikkan air mata.
__ADS_1
"Alex cepat siapkan mobil..." teriaknya dengan lantang. Alex pun segera menuju tempat parkir dan begitu Hans sampai ke depan hotel, mobil pun sudah siap.
🌹🌹🌹
Alex mengemudi mobil dengan kencang seperti orang kesetanan. Karena tak hanya Hans yang berstatus suami Dira tapi Alex yang hanya sebagai seorang kakak angkat pun begitu cemas melihat keadaan Dira.
Begitu sampai depan ruang IGD, Hans pun segera mengangkat tubuh Dira ke atas brankar yang kemudian segera di dorong masuk ke ruang IGD.
"Maaf tuan tidak boleh masuk, serahkan semuanya kepada kami..." ucap suster menahan Hans yang ingin masuk.
"Tolong istri saya..."
"Pasti tuan,kami akan melakukan yang terbaik..."
Hans pun menghempaskan tubuhnya kr kursi tunggu yang tersedia di depan ruang IGD dengan wajah gusar dan cemas.
Jessica dan Alex yang menemaninya pun tak luput dari rasa khawatir.
"Br*******k... siapa yang berani mencelakai istriku. Aku tidak akan memaafkan jika terjadi sesuatu dengan istri dan anakku..."
"Lex... kamu tau apa yang harus kamu lakukan kan?" tanya Hans dengan tangan yang mengepal menahan amarah.
"Tentu.., gue sudah menugaskan anak buah gue untuk menyelidiki semuanya. Gue juga sudah menyuruh mereka meminta rekaman CCTV yang ada di sana, untuk kemudian dikirimkan ke ponselku..."
"Lu lupa? Dira adik gue..."
"Yang sabar ya Hans... gue ikut prihatin..." ucap Jessica berusaha menghibur Hans.
"Terimakasih Jess..."
'Ya Tuhan... mungkinkah ini semua Felisha yang melakukannya? Bukankah dia tadi juga bilang sama gue kalau dia akan pergi ke toilet? Akh ya Tuhan... habislah sudah jika memang benar Felisha pelakunya. Hans tampak begitu murka pada orang yang telah mencelakai Dira. Baru kali ini gue melihat Hans semarah ini. Terlihat jelas jika dia memang benar-benar mencintai istrinya.' gumam Jessica dalam hati.
Pintu ruang IGD terbuka...
"Keluarga Nyonya Andira..."
"Saya suaminya sus... bagaimana keadaan istri saya sus?"
"Dokter ingin bicara dengan anda tuan... mari ikut saya ke ruang dokter..." Hans pun akhirnya mengikuti suster itu untuk bertemu dengan dokter yang telah merawat Dira.
"Silahkan masuk... dokter Iwan sudah menunggu."
Hans mengetuk pintu ruangan itu, lalu masuk setelah dokter Iwan mempersilahkannya.
"Tuan Hans? Mari silahkan duduk dulu...ada yang ingin saya bicarakan."
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istri dan calon baby saya dok?" tanya Hans tidak sabaran.
"Istri tuan Alhamdulillah baik-baik saja, beliau sudah melewati masa kritisnya... Tapi untuk calon bayi tuan, dengan sangat menyesal saya harus mengatakan bahwa calon bayi yang ada di rahim istri tuan tidak bisa kami selamatkan..."
"Apa?" Hans berteriak sambil menggebrak meja,membuat dokter Iwan terkejut.
"Maafkan kami tuan... kami sudah berusaha sebaik mungkin. Tetapi akibat dari terpelesetnya Nyonya Andira, maka calon bayi atau janin yang masih berbentuk gumpalan darah tersebut tidak bisa diselamatkan."
"Akh maaf dok, saya tidak bermaksud menyalahkan dokter tapi saya marah kepada orang yang telah membuat saya dan istri saya kehilangan calon bayi kami. Karena kecelakaan yang terjadi pada istri saya ini diakibatkan oleh seseorang... Terimakasih atas semuanya dok... Permisi..."
Hans tidak lagi menunggu jawaban dari dokter Iwan yang masih syok dengan amarah Hans, walaupun Hans sudah menjelaskan jika dia tidak marah kepada dokter Iwan.
"Hans, bagaimana keadaan Dira?" tanya Alex.
"Dira baik-baik saja... tapi kami telah kehilangan calon bayi kami. Dira pasti akan sedih sekali jika tau calon bayi kami telah tiada..." Hans duduk di kursi tunggu sambil menarik-narik rambutnya seperti orang frustasi. "Aku tidak tau bagaimana cara menyampaikan kabar ini kepada Dira...."
"Lex..."
"Ya..."
"Cari sampai dapat orang yang telah mencelakai Dira dan calon bayiku. Aku ingin bertemu dengan orang itu sebelum dia kita jebloskan ke penjara..."
"Aku tau... Jaga adikku baik-baik dan sampaikan apa yang seharusnya dia tau dengan hati-hati..."
"Iya... Jessica tadi mana?"
"Dia tadi pamit pulang untuk menjemput putranya pulang sekolah..." Alex menepuk bahu Hans... "Aku pergi dulu, ingat pesanku...Dira berhak tau kondisi dia saat ini, sampaikan dengan sangat hati-hati... oke?"
Hans mengangguk paham, sementara Alex pun segera pergi meninggalkan rumah sakit.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1