
Alex ingin tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Hans malam itu. Tapi dengan cepat tangannya membungkam mulutnya sendiri.
"Kenapa mulutmu kamu tutup? Kamu sedang ngetawain aku ya? Emang ada yang lucu?" ucap Hans sedikit kesal melihat tingkah sahabatnya.
"Ehem...emm nggak papa kok..." Alex mencoba mengontrol ekspresinya melihat penampilan Hans. Dia kemudian mencoba fokus pada berkas-berkas yang harus ditandatangani oleh Hans. Tapi sesekali ekor matanya masih melirik memperhatikan kaos yang di pakai oleh Hans.
"Baju baru ya...? Kok baru liat..." tanya Alex hati-hati. Matanya masih tetap tertuju pada berkas-berkas di depannya.
"Iya... keren kan? Aku suka pake kaos ini..." tanya Hans minta pengakuan.
"Bua ha ha ha..." akhirnya Alex tak dapat lagi menahan hasrat untuk tertawa yang tertahan sejak tadi.
"Br******k lu...kamu ngetawain aku? Emang ada yang salah dari aku?"
"Ha ha ha... enggak... enggak ada yang salah dari elu,tapi...tapi kaos yang lu pakai itu...he he he..." Alex mulai mengontrol emosinya.
"Emang apa yang lucu dari kaosku? Menurutku kaos ini bagus...aku suka kok pake kaos ini..." ucap Hans sambil tersenyum dan mengelus dadanya.
"Gue tau kalo kaos lu itu bagus...di lihat dari bahannya aja orang bakal tau kalo itu kaos mahal...tapi tulisan yang ada di dada lu itu yang bikin gue geli ngeliatnya...norak tau. Bukan gaya lu banget...ha ha ha..." Tawa Alex kembali terdengar.
"Sstt...kecilin tawamu. Kaos ini Dira yang beliin dan aku nggak ngerasa kalo tulisan di kaos ini norak...aku justru suka...apa yang salah dengan tulisan 'HUSBAND'? Bukankah memang aku sekarang memang seorang suami?" bela Hans.
"What? Jadi ini kaos yang beliin Dira? Ya Tuhan...dasar pasangan lebay..." teriak Alex yang terkaget-kaget.
"Sstt...dasar brisik... jangan keras-keras ngomongnya bisa nggak sih...Tuh yang beli kaos turun dan menuju ke sini..." bisik Hans pada Alex. Alex pun langsung terdiam dan kembali memeriksa berkas-berkas yang ada didepannya.
"Malem Kak Alex..." sapa Dira sambil berjalan mendekati mereka berdua.
"Hai... malam dek...belum tidur?" ucap Alex basa-basi.
"Tadi dah tiduran tapi tiba-tiba dapet telepon dari Kak Tiara,suruh bilang ke Kak Alex cepet pulang... soalnya Alika tiba-tiba rewel dan badannya panas..."
"Apa? Kok Tiara nggak telepon gue langsung sih..." omel Alex sambil membereskan pekerjaannya.
"Emang ponsel kakak dimana?" tanya Dira sambil memperlihatkan foto ponsel Alex yang tertinggal di rumah.
"Ya ampun... gara-gara buru-buru ponsel gue ketinggalan...Aduh,gue pulang dulu ya Hans... pokoknya yang di map itu berkas yang harus lu bawa ke Malaysia dan tumpukan berkas yang disebelahnya,itu yang harus lu tandatangani... Gue pulang sekarang..." ucap Alex buru-buru.
"Oke... pulanglah, hati-hati di jalan..." ucap Hans.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Hans masih sibuk dengan beberapa berkas yang harus dia tandatangani di ruang tengah. Sementara Dira pamit ke kamar setelah selesai membuatkan kopi hitam untuk Hans.
Hujan di luar begitu deras disertai angin dan petir yang menggelegar. Tiba-tiba 'klek' dan rumah pun menjadi gelap gulita.
"Tuan...tuan...apa tuan masih di bawah?" Bi Asih tergopoh-gopoh dengan membawa senter.
"Iya bi...saya masih di sini..." jawab Hans.
"Ya Allah... cepat susul Non Dira tuan...dia pasti sedang ketakutan. Selama ini dia sangat takut pada petir dan gelap..."
"Ya Allah...Bi Asih kok nggak pernah cerita... Kamar saya kan kedap suara,kita tidak akan bisa mendengar jika Dira teriak" ucap Hans dengan kecemasan tingkat dewa. Dia pun kemudian berjalan menuju kamarnya di tengah kegelapan dengan sedikit tergesa.
"Bawa ini tuan..." Bi Asih menyerahkan senter miliknya.
"Makasih bi..." Hans menyaut senter dari tangan Bi Asih lalu kembali mempercepat langkahnya.
Sementara di dalam kamar,Dira duduk meringkuk di pojok kamarnya sambil membalut tubuhnya dengan selimut.
"Mama... mama...Dira takut...hiks hiks hiks...mama... mama..." bisik Dira dengan rasa ketakutan. Dia tidak mungkin berani melangkah keluar kamar dan dia juga tidak mungkin berteriak minta tolong karna dia tau tidak akan ada yang bisa dengar.
"Dira... kamu dimana?" ucap Hans cemas sambil menyorotkan senternya keseluruh pojok kamarnya.
"Mas Hans...Dira di sini...Dira takut...hiks hiks hiks..."
"Mas Hans... Dira takut... Jangan tinggalin Dira...hiks hiks hiks..." ucapnya tanpa ada rasa canggung lagi.
"Iya...iya...mas di sini..." ucap Hans menenangkan istrinya.
Hans pun kemudian mengangkat tubuh istrinya lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Dira memang terlihat begitu ketakutan hingga dia tidak mau melepaskan pelukan pada suaminya. Bahkan ketika Hans hendak mengambil selimut yang masih tergeletak di lantai pun Dira tidak mau di tinggal.
"Mas mau kemana?" tanya Dira seolah takut ditinggalkan.
"Aku nggak akan kemana-mana,aku hanya mau ambil selimutmu yang masih tergeletak di lantai..."
"Nggak usah di ambil...mas di sini aja... jangan tinggalin Dira" ucap Dira sambil menggelayut manja di tangan Hans.
"Oke...oke...mas nggak akan pergi..." ucap Hans yang kemudian menarik tubuh Dira ke dalam pelukannya.
Hujan masih belum juga reda bahkan malah semakin deras... sesekali petir pun terdengar begitu menggelegar. Dan listrik yang sedari tadi mati pun sepertinya masih belum mau menyala. Dira semakin merapatkan tubuhnya ke dalam pelukan suaminya dan Hans pun menyambutnya dengan pelukan terhangat untuk istrinya tercinta.
Tak ada yang salah dengan suasana malam itu dan pastinya juga tidak akan ada yang menyalahkan dengan adegan mereka berdua saat itu. Adegan ketika keduanya sama-sama terbawa oleh suasana
__ADS_1
,hingga pada akhirnya terjadilah apa yang seharusnya telah terjadi sejak keduanya resmi menjadi pasangan suami istri beberapa hari yang lalu.
Adzan subuh membangunkan Dira dari tidur lelapnya dan betapa terkejutnya dia ketika melihat dirinya tengah berbaring di tempat tidur seorang diri dengan keadaan yang tanpa busana dan hanya berbalut selimut. Dira merapatkan selimutnya,netranya menyapu seluruh ruangan untuk mencari suaminya.
'Ya Tuhan, apa yang telah terjadi? Apakah kami semalam sudah melakukannya?' Dira menggosok-gosokkan kedua tangan pada wajahnya. "Astaghfirullah..." gumamnya lirih.
Tiba-tiba pendengaran Dira menangkap suara gemericik air dan suara orang yang tengah bersenandung dari dalam kamar mandi kamarnya. 'Cklek...' Dira kembali merapatkan selimut pada tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun.
"Mas..." panggil Dira lirih bercampur takut.
"Hei sudah bangun?" tanya Hans sambil mendekati istrinya lalu duduk di samping Dira.
Dira merapatkan selimutnya dan sedikit menggeser posisi duduknya.
"Maafin mas ya...mas sudah mengingkari perjanjian kita... Semalam mas tidak bisa mengendalikan hasrat mas padamu..." ucap Hans sambil membelai lembut rambut Dira.
"Sudahlah,semua sudah terjadi... mungkin semua ini sebagian salah Dira juga..." Dira mencoba bersikap bijaksana,toh kejadian semalam sudah halal hukumnya dan memang sudah seharusnya terjadi.
"Terimakasih ya...jika kamu bisa memahaminya" ucap Hans sambil tersenyum.
"Mas berangkat jam berapa?"
"Sebentar lagi..."
"Kok mas nggak bangunin Dira dari tadi sih..." ucap Dira sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lalu bergegas menuju kamar mandi. "Mas siap-siap dulu...Dira mau mandi... jangan berangkat sebelum Dira keluar..."
'Brakk' pintu kamar mandi di tutup kasar oleh Dira karna tergesa-gesa. Sementara Hans hanya bisa terbengong-bengong melihat tingkah Dira.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Lanjut...-