Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Insiden Kedua


__ADS_3

Hans sedikit memacu mobilnya dijalanan yang sudah mulai lengang. Entah kenapa,jantungnya berdebar kencang sejak tadi,pikirannya pun melayang ke Dira terus,membuat perasaannya menjadi kacau.


Begitu memasuki Jalan Patimura,perasaannya semakin tak menentu,rasa cemas seolah menghantui pikirannya. Hans tiba-tiba menghentikan mobilnya di seberang ruko Dira.


'Malam-malam begini ada mobil parkir di depan ruko Dira... Eh tunggu,aku seperti kenal dengan mobil ini,mobil siapa ya...?' gumam Hans dalam hati.


Tiba-tiba netranya menangkap sticker berbentuk hati di kaca belakang mobil dengan tulisan '2D'. Fix...ini mobil Damar...


Hans segera memarkir mobilnya tak jauh dari mobil Damar,kemudian dia turun dan bergegas melangkah mendekati ruko Dira.


"Jangan Damar...jangan begini...hiks hiks hiks...please..."


'Krompyang...krompyang...'


Hans semakin gusar mendengar suara Dira memohon pada Damar dan suara benda-benda pecah.


"Percuma kau menghindar dariku Dira...lebih baik kamu patuh padaku..."


"Enggak...aku nggak mau...tolong jangan Damar...jangan begini..."


'Tok tok tok...'


Hans mengetuk pintu dengan keras...


"Dira...Dira...Kamu kenapa? Dira...Dira buka pimtu..."


Hans terus mengetuk pintu sambil memanggil-manggil Dira...


"Mas tolong aku...." teriak Dira.


"Br*******k...siapa dia?" tanya Damar sambil membentak.


"Aku tidak tau..."


"Bohong...!" bentak Damar sambil menarik rambut Dira.


"Astaghfirullah Damar lepasin...sakit...hiks hiks hiks..."


"Hei Damar...jangan sakiti Dira... Jangan jadi pengecut yang beraninya sama perempuan...buka pintunya...hadapin aku kalo berani..."


"Siapapun kamu pergi,jangan ikut campur urusan kami..."


"Dira buka pintu...Dira..."


Hans semakin gusar mendengar teriakan Dira yang kesakitan. Beruntung di saat Hans menggedor-gedor pintu hingga bersiap-siap akan mendobrak pintu,dua orang sekuriti yang sedang patroli menghampiri Hans.


"Selamat malam pak...ada yang bisa kami bantu..,"


"Oh Alhamdulillah...pak tolong calon istri saya ada di dalam bersama seseorang yang berniat jahat. Pintunya di kunci pak...saya bermaksud akan mendobraknya"

__ADS_1


"Bapak calon suami Mbak Dira?"


"Iya pak.."


"Siap... Kalo begitu mari kita dobrak sama-sama saja..."


Dan 1...2...3...'bruk'...pintu rumah terbuka tapi mereka tidak menemukan Dira dan Damar di sana.


"Dira...Dira...kamu di mana?" teriak Hans cemas.


Hans dan dua sekuriti itu menyisir ruangan mencari keberadaan Damar dan Dira di lantai bawah. Karna tidak juga diketemukan,mereka pun akhirnya menuju lantai atas,tapi baru setengah jalan mereka akan menaiki tangga,Damar pun berteriak.


"Stop...jangan naik lagi...! Kalo sampe ada yang berusaha naik lagi,aku akan dorong Dira ke bawah" Damar keluar dari kamar sambil memeluk Dira yang tangannya di ikat ke belakang.


"Oo oo oo...rupanya pahlawan Dira datang,lagi-lagi Pak Hans yang terhormat...ha ha ha..." ledek Damar sambil mencium pipi Dira. Dira menghindar tapi Damar menarik kepala Dira,membuat Dira menangis. Hans geram melihat kelakuan Damar,tangannya mengepal karna menahan kesal dan rasa cemburu.


"Jangan menangis sayang..." Damar kembali mencium pipi Dira membuat air mata Dira semakin deras.


"Damar lepaskan Dira...Bukankah kamu kemarin sudah berjanji untuk tidak akan mengganggu Dira lagi?"


"Oya...Maaf pak,saya lupa... Eemm...tapi kalo di pikir-pikir,kenapa ya dalam setiap kejadian yang menimpa Dira...selalu saja Pak Hans datang sebagai pahlawan. Apa jangan-jangan Pak Hans naksir Dira ya...atau...Pak Hans yang kemarin menodai Dira?"


Hans diam tak menjawab dan tanpa sepengetahuan mereka yang ada di situ tiba-tiba seseorang telah memukul tengkuk Damar hingga membuat Damar tersungkur. Tapi sebelum tersungkur Damar sempat mendorong tubuh Dira ke arah tangga.


"Aaakh...." teriak Dira yang hampir terjatuh dari tangga,untung Hans dengan cepat menaiki tangga dan dengan sigap menangkap tubuh Dira.


"Alhamdulillah aku mendapatkanmu..." bisik Hans memeluk Dira sambil melepas ikatan tangan Dira.


Hans memapah Dira ke mobilnya.


"Masuklah,istirahatlah dulu di sini ya..." titahnya.


Setelah membantu Dira masuk mobil,Hans pun akan kembali menemui polisi untuk memberikan keterangan yang dibutuhkan. Tapi baru saja Hans mau melangkah,tangannya sudah di tarik oleh Dira.


"Kenapa?"


"Jangan pergi...jangan tinggalin Dira...Dira takut..."


"Aku cuma sebentar Dira,aku hanya akan mencari Alex...Kalo takut,tutup pintu mobilnya dan kunci..." Dira menggelengkan kepalanya.


"Bapak nggak mau nemenin saya ya? Hiks hiks hiks..."


"Oke...oke...aku temenin kamu di sini..." ucap Hans sambil mengusap kepala Dira. Mungkin karna kelelahan dan habis mengalami kejadian yang menegangkan,Dira pun akhirnya tertidur di mobil.


"Dira nggak papa kan boss?" tanya Alex yang baru keluar dari ruko Dira.


"Aman...tuh dia tertidur di mobil... Tolong urus semua yang ada di sini dan tolong kamu 'handel' juga urusan yang berkaitan dengan polisi. Dan pastikan ruko aman serta rapi seperti sebelum kejadian... Aku akan bawa dia ke apartemen"


"Siap..."

__ADS_1


🌹🌹🌹


Matahari sudah menunjukkan sinarnya,ketika Dira mulai membuka matanya...


'Astaghfirullah...sepertinya sudah siang,Ya Allah...aku melewatkan sholat subuhku...' gumamnya.


Dira akan beranjak bangun tapi betapa terkejutnya ketika dia sadar bahwa dia tidak sedang di kamarnya.


'Eh...ini kamar siapa? Bukannya aku tadi malem pulang ke ruko...'


Netra Dira pun menyapu seluruh ruangan kamar itu,hingga dia dikejutkan dengan sebuah foto yang terpajang rapi di dinding.


'Pak Hans? Jadi ini kamar Pak Hans? Tapiii kok susunan kamar ini tidak seperti kamar yang waktu itu...furniturenya pun berbada semua'


Dira menyingkap selimutnya dan untuk kesekian kalinya dia di buat terkejut dengan baju yang dipakainya,karna baju yang sekarang dikenakannya bukan baju miliknya.


"Aaaakh..."


Dira teriak sambil kembali sembunyi di balik selimutnya. Dan Hans pun bergegas menuju kamarnya demi mendengar suara teriakan Dira.


"Eh...kamu udah bangun? Kenapa teriak...? Ada apa?" tanya Hans khawatir.


"Kenapa saya bisa tidur di kamar bapak? Dan...dan ini siapa yang ganti baju saya? Bapak ya? Apa...apa yang sudah bapak lakukan pada saya? Apa...apa bapak sudah...Astaghfirullah...apakah kejadian waktu itu terulang lagi?"


Dira mengeratkan selimut pada tubuhnya,air matanya pun mulai menetes dipipinya walau tanpa suara. Tapi bukannya bersimpati,Hans justru tersenyum melihat Dira yang menangis ketakutan.


"Ah ku kira kamu kenapa..."


Hans berjalan mendekati Dira...


"Stop...! Jangan mendekat...jawab dulu semua pertanyaan saya...hiks hiks hiks..." Dira mulai mengeluarkan suara tangisannya.


"Oke...oke...Kenapa kamu di sini,karna semalam aku bingung mau bawa kamu kemana. Tadinya mau aku bawa ke kamar Sila,tapi Sila sudah tidur pulas jadi aku dan Tiara tidak berani mengganggu tidurnya. Kalau soal baju,Tiara yang mengganti bajumu bahkan baju yang kau pake itu pun baju milik Tiara.


Dan demi Allah demi Rasulullah,aku nggak ngapa-ngapain kamu. Aku menjagamu semalaman tanpa tidur dan sekarang aku sedang masak sarapan buat kita. Jadi...cepat mandi sana lalu kita sarapan.."


Dira tak bisa menjawab lagi,dia pun akhirnya memilih patuh dengan perintah Hans kepadanya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2