
Hans masih terlelap dalam tidurnya ketika adzan subuh berkumandang dengan merdunya. Sementara Dira sudah siap dengan mukenanya... setelah selesai menunaikan kewajibannya Dira turun menyapa para tamu yang menginap di rumahnya.
"Sayang... mana suamimu?" tanya Ina.
"Masih tidur ma..." jawab Dira singkat.
"Tumben... biasanya dia tidak pernah melewatkan berjamaah di masjid kompleks..." Dira hanya tersenyum... "Kalian tidak sedang bertengkar kan?"
"Kok mama bisa bilang begitu?"
"Matamu sembam, seperti orang yang habis menangis..."
"Oh ini tadi pas Dira berdo'a tiba-tiba inget Mama Dewi... Andai mama masih ada, pasti Mama Dewi ikut bahagia melihat kita bisa berkumpul seperti sekarang..."
"Mama tau... Syukurlah jika kalian tidak bertengkar..."
"Bukan bertengkar ma tapi bertempur..." celetuk Alex yang baru pulang dari masjid kompleks yang tak jauh dari rumah Hans.
"Ngaco ih... Kak Alex sok tau..."
"Iyalah... dia hari ini nggak masuk ke kantor, katanya pingin seharian di rumah. Sebab hari Minggu nanti, selesai acara Sila dia mau langsung terbang ke Singapura..."
"Oya? Kok Mas Hans nggak bilang apa-apa ke Dira..."
"Mungkin belum sempat..." ucap Ina menengahi. "Jangan pernah membiasakan diri berprasangka kepada suami ya... ingat selalu jika suamimu bekerja untukmu dan anak-anak..." Dira mengangguk paham. "Oke... karna papa dan kakakmu sudah pulang dari masjid,kami pamit pulang ke rumah ya..."
"Iya ma..."
"Jaga kesehatanmu ya Dir...gue nggak mau lu kenapa-kenapa. Lu harus sehat...lu kan mau dampingin gue minggu depan pas gue nikah..."
"Iya... InsyaAllah..."
"Gue pulang dulu ya.,. I love you..." Sila memeluk Dira.
"Love you too..."
Dira mengantar tamunya sampai pintu depan, melambaikan tangan lalu kembali ke dalam rumah. Tak berapa lama Hans turun sudah dengan pakaian casual yang rapi.
"Sudah pada pulang? Kok kamu nggak bangunin mas sih..."
"Mas tidurnya nyenyak sekali, jadi Dira nggak tega banguninnya..." jawab Dira datar. Hans tau mungkin Dira sedikit kecewa dengan perbuatannya semalam. Hans langsung mendekati istrinya kemudian memeluknya erat.
"Maaf untuk yang semalam ya sayang... mas khilaf..." Hans mencium pucuk kepala istrinya dan Dira pun menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Dia tidak mau sampai suaminya melihat jika matanya sembam karena menangis semalaman akibat perlakuan suaminya.
"Lupakan saja... Dira mau ngurusin Hara dulu..." Dira melepaskan pelukan suaminya lalu meninggalkan Hans yang terpaku melihat kepergian istrinya. Hans ingin menahannya tapi sekarang memang sudah waktunya Hara bersiap untuk berangkat sekolah, jadi dia berusaha menahan keinginannya.
__ADS_1
"Papa nggak kerja? Kok belum ganti baju?"
"Iya sayang... papa mau nganterin mama periksa dedek bayi ke dokter..." jawab Dira mewakili suaminya.
"Bukannya biasanya sore ma... Hara jadi nggak bisa ikut deh..."
"Cuma kali ini sayang, sebab pak dokternya mau pergi ke luar kota..." Dira sengaja berbohong agar Hara tidak merengek ikut tidak berangkat sekolah... "Habiskan sarapanmu terus berangkat di antar Aunty Hanna ya... nanti pulangnya baru di jemput sama mama dan papa... oke?"
"Oke mama..."
🌹🌹🌹
Dira sedang membereskan kamar tidurnya sambil mencari-cari ponselnya.
"Kamu cari ini?" tanya Hans mengagetkan Dira. Diliriknya benda pipih yang ada di tangan suaminya. "Maaf layarnya retak-retak... semalam mas lempar..."
"Oh..." Dira ingin mengambil ponsel yang ada di tangan suaminya, tapi Hans menghindarkan ponsel itu dari jangkauan Dira. "Mas please..." pinta Dira dengan nada dingin. Kekecewaan hatinya atas perbuatan Hans masih belum sirna, membuat Dira bersikap dingin kepada suaminya.
"Jangan seperti ini sayang... mas kan sudah minta maaf..." ucap Hans sambil memeluk Dira. "Mas nggak sanggup menghadapi sikapmu yang dingin..." Hans pun kemudian melepaskan pelukannya lalu menceritakan penyebab amarahnya memuncak semalam.
"Tapi haruskah kemudian mas bersikap seperti itu kepada Dira? Apakah salah Dira jika Damar mengucapkan selamat ulang tahun seperti itu? Mas terlalu mengedepankan amarah mas di banding perasaan Dira dan keselamatan anak mas... Taukah jika perbuatan mas semalam sangat menyakiti hati Dira? Apalagi Dira sedang mengandung tiga bulan... masih beruntung anak kita kuat dan tidak kenapa-kenapa. Kalau sampai dia juga harus pergi sebelum kita melihatnya seperti kakaknya, bagaimana? Hiks hiks hiks..." teriak Dira sambil menangis, sementara Hans diam tertunduk tidak berani menatap wajah istrinya.
"Astaghfirullah..." gumam Dira berusaha mengatur emosinya. "Sudahlah lupakan saja,toh semua sudah berlalu..." ucapnya lagi.
"Mas terlalu banyak janji dan terlalu sering minta maaf..." ucap Dira sinis.
"Tapi kali ini mas sungguh-sungguh sayang... lagi pula semua ini terjadi karena mas sangat mencintai kamu, mas takut kehilangan kamu... Maafkan perbuatan mas ya sayang... ayolah sayang... please..." Hans memohon sampai berlutut di hadapan Dira.
"Bangun dong mas, jangan begini..." Dira berusaha mengangkat tubuh suaminya.
"Maafin dulu..."
"Memangnya Dira punya alasan untuk tidak memaafkan mas?" ucap Dira masih bernada ketus.
"Jadi...?" Dira mengangguk.
"Tapi ingat... jangan diulangi lagi..."
"Siap boss..." Hans pun langsung bengkit lalu duduk di samping Dira dan memeluk erat tubuh istrinya. "Terimakasih sayang..." bisiknya. Namun tiba-tiba Hans melepas pelukannya, kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Dira. "Sayangnya papa dan mama... maafin papa ya... semalam papa telah membuatmu kaget, lain kali papa akan hati-hati biar tidak mengejutkanmu... Apa? Kamu mau main sama papa lagi?" omelnya seolah-olah sedang berbicara dengan anaknya yang masih berada di rahim Dira "Tuh sayang... si dedek katanya mau ngajak aku main sama dia..." ucap Hans sambil mengedipkan matanya untuk menggoda istrinya.
"Huu...itu kan maunya mas..."
"Yuk main sama dedek yuk..."
"Ogah ah... katanya mas libur karena mau ngajak jalan-jalan berdua... ayo dong..." rengek Dira.
__ADS_1
"Mau jalan ke mana?"
"Ya ke mana aja... ke mall kek ke taman kek... ke mana aja asal jalan-jalan berdua..."
"Oke-oke... mas ganti baju dulu..."
"Nggak usah... gitu aja... Mas nggak mau jadi perhatian cewek-cewek di luar sana kan? Atau memang...emph..." Belum lagi Dira menyelesaikan ucapannya, Hans sudah membungkam mulut Dira dengan ciumannya, membuat Dira diam mematung... sampai-sampai dia tidak tau jika Hans sudah melepas ciumannya.
"Kok bengong... Kita jadi jalan-jalan...atau kita di kamar aja dan kita lanjutkan ke situ?" bisik Hans sambil menunjuk tempat tidur mereka yang nyaman.
"Ish... mas ini bawaannya mesum aja... Ayo kita jalan sekarang..." Dira segera berdiri dan melangkah ke meja riasnya untuk merapikan penampilannya.
"Ha ha ha... mesum sama istrinya sendiri,siapa yang berani ngelarang?" Hans pun ikut berdiri kemudian memeluk istrinya dari belakang. "Jangan dandan cantik-cantik dong sayang... katanya kita mau jalan dengan penampilan gini aja..." omel Hans melihat Dira mulai membubuhkan warna merah muda pada bibirnya.
"He he he... mas aja yang tampilannya begitu tapi Dira kan cewek... lagi hamil pula, masak tampilannya seadanya..." ucap Dira yang terus mematutkan penampilannya.
"Oke-oke deh... bumil mah selalu menang..." Hans mengelus kepala Dira lalu menciumnya.
Selesai berdandan Dira pun kemudian menggandeng tangan Hans menuruni anak tangga. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara ribut-ribut di luar.
"Eh lu orang baru ya... gue ini adik majikan lu, gue mau ketemu kakak gue..."
"Iya non, tapi tunggu di sini sebentar...saya mau tanya majikan saya dulu..."
"Sejak kapan sih mau masuk rumah kakak sendiri aja ribet..." omel Angel.
"Pak... dia benar adik saya, biarkan dia masuk..."
Angel pun langsung menerobos masuk sambil sengaja menyenggol bahu sekuriti penjaga pintu gerbang.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1