
Dira melangkah perlahan mendekati rukonya...sayup terdengar obrolan antara Hans dan Agni yang sedang membicarakan dirinya.
"Mbak Dira dari tadi pergi sama Kak Hans,belum pulang lagi..." ucap Agni menjawab Hans yang menanyakan keberadaan Dira.
"Astaghfirullah...kemana lagi dia? Kenapa selalu kabur-kaburan gini sih...bikin khawatir aja... Ya Allah Dira...kamu dimana?"
Hans meremas rambutnya sendiri sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding seperti orang yang frustasi.
"Aku sudah di sini dan seharusnya mas tidak perlu mencariku lagi..." ucap Dira dengan nada datar.
Hans menoleh ke sumber suara lalu merengkuh tubuh Dira dan memeluknya erat,sementara Agni pun segera pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Kenapa kamu bilang begitu Dira,aku cemas mencarimu...kamu dari mana,kenapa kamu ninggalin kami?"
Hans melepas pelukannya menatap Dira yang menunduk mencoba menutupi bekas tamparan Jessica dengan gerai rambutnya. Tapi terlambat,Hans terlanjur melihat pipi Dira sebelah kiri yang tampak merah. Perlahan Hans mengangkat dagu Dira dengan jari telunjuknya yang di tekuk.
"Tunggu...kenapa dengan pipimu? Kenapa terlihat merah dan seperti ada bekas telapak tangan? Siapa yang berani menampar pipimu?"
Dira mencoba melengos ke kiri.
"Jangan sok tau...aku tadi terjatuh di makam karna kurang hati-hati...terus kebentur nisan..." kilah Dira sambil hendak masuk ke kamar.
"Omong kosong...aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi Dira...jawab siapa yang berani menampar pipimu?" tanya Hans sambil menahan tangan Dira. Dira mencoba melepaskan pegangan tangan Hans tapi Hans justru mempererat cengkeramannya.
"Aauu...sakit mas...hiks hiks hiks..."
Dira menangis...cengkeraman tangan Hans yang begitu kuat,tiba-tiba membuat Dira teringat tamparan Jessica di toilet tadi,yang bekasnya masih terasa nyeri hingga kini. Hans menarik tubuh Dira ke dalam pelukannya.
"Maaf...maaf...aku tak bermaksud menyakitimu...Jangan menangis Dira...jangan menangis..." ucap Hans sambil mencium pucuk kepala Dira.
"Kenapa sih semua orang selalu ingin menjahatiku...salahku itu apa...? Hiks hiks hiks...Nggak Mami Sonya,nggak Angel,nggak Damar...bahkan kini mas dan Jessica juga menyakiti aku...hiks hiks hiks...apa salahku pada kalian semua...? Hiks hiks hiks...kenapa kalian jahat sama aku..."
Dira memukul-mukul dada bidang Hans hingga sesekali Hans meringis menahan sakit. Hans memegang tangan Dira agar berhenti memukul dan kini Dira menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Hans.
'Dasar perempuan br*******k...perempuan tidak tau malu... Berani-beraninya dia menyentuh orang yang ku cintai. Berani-beraninya dia menampar pipi Dira...Tunggu saja balasannya dariku...' gumam Hans dalam hatinya dengan geram.
"Maafkan aku Dira...aku tak pernah bermaksud menyakitimu...aku sangat menyayangimu,kau tau itu kan?" Dira mengangguk.
"Oya...apakah ini masih sakit?" tanya Hans sambil membelai lembut pipi Dira. Dira pun menjawab pertanyaan Hans dengan gelengan kepala.
__ADS_1
"Kalo begitu,sekarang kamu istirahat dulu...setelah kamu tenang,kamu bisa ceritakan semuanya padaku soal kejadian di toilet resto tadi..."
Dira pun menurut begitu saja ketika Hans membantu Dira berbaring di tempat tidurnya.
"Mas..." panggil Dira ketika Hans hendak keluar kamar Dira.
"Yaa...Kamu mau aku temani?" ucap Hans sambil tersenyum.
Dira menggeleng kemudian dia duduk bersandar di tempat tidurnya.
"Kenapa? Istirahatlah dulu...aku akan keluar sebentar..."
"Mas,bisakah jika perjanjian yang telah kita sepakati kemarin kita batalkan saja?"
"Maksudmu?"
"Yaa... Jika memang perusahaan papa harus bangkrut sekarang...biarlah bangkrut,mungkin itu memang sudah menjadi takdirnya harus begitu. Mas Hans ataupun Kakek Sasongko tidak perlu lagi membantunya dengan menjadi investor di perusahaan papa Dira..."
Dira diam sesaat sambil menarik nafas pelan.
"Lalu...?"
"Whattt...??? Apa aku nggak salah dengar?"
"Dira...sampai kapan kamu akan mempermainkan aku? Astaghfirullah hal adziim...Apa sebenarnya yang telah terjadi tadi siang di toilet resto itu,hingga membuat kau kembali berubah pikiran? Bukankah aku sudah menyetujui semua persyaratan yang kau mau walaupun semua itu tidak masuk aksl bagiku..."
"Tapi bukankah mas tau,jika aku melakukan semua ini dengan terpaksa? Aku tidak mencintai mas..."
"Omong kosong...itu hanya ucapan orang munafik,yang tidak mau jujur pada dirinya sendiri. Aku bisa merasakan Dira,jika akhir-akhir ini kamu telah mulai membuka hati untukku,tapi...entah kenapa kini tiba-tiba saja kamu berubah?"
"Maaf...maafkan Dira mas. Dira sungguh tidak bisa melanjutkan perjanjian ini lagi mas..."
"Dira...apa kamu lupa,bahwa saat ini kamu tidak hanya terikat janji padaku? Bukankah kamu juga sudah berjanji pada Hanna untuk menjadi kakak iparnya?"
"Dira tau...tapi Hanna bukan anak kecil lagi. Dan jika Hanna tau bahwa aku menjalani ini semua dengan terpaksa,pasti dia juga akan mengerti..."
"Dira aku mohon...Kau tidak perlu mencintaiku jika kau tidak mau,cukup aku saja yang mencintaimu. Aku akan selalu membuatmu nyaman berada disisiku,aku akan membuat kau bisa menerima kehadiranku dan aku pun akan setia menunggu sampai waktunya tiba kamu akan mencintaiku. Tidak perlu buru-buru,biarkan semua berjalan secara natural,yang penting tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan semua janji tulusku itu..."
Dira terdiam,dia seolah kehabisan kata-kata untuk menyanggah semua perkataan Hans
__ADS_1
"Maaas..."
Dira membentangkan kedua tangannya dan Hans pun segera memeluk Dira dengan erat,seolah tak ingin dilepaskannya lagi. Dira menikmati belaian lembut Hans saat membelai rambutnya,dia benar-benar pasrah berada dalam pelukan hangat Hans. Memang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sedikit demi sedikit,Dira memang mulai merasa nyaman jika berada di sisi Hans. Entah itu apa namanya...yang pasti Dira tidak berani mengakui jika itu adalah 'cinta'. Dira terlalu takut merasakan cinta lagi karna Dira tak ingin cinta itu hanya aksn singgah sesaat seperti orang-orang yang pernah dicintai Dira sebelumnya. Tanpa terasa,air mata haru pun tak bisa di bendung Dira lagi,ketika Dira menerima perlakuan lembut Hans padanya.
'Ya Allah...sebesar apa Kau isi hati laki-laki ini dengan cinta tulusnya padaku? Belum pernah aku merasakan cinta sebesar ini...tapi...'
"Dira...kau mau melanjutkan hubungan ini kan? Jangan pernah tinggalin aku Dira..."
Ucapan Hans membuyarkan lamunan Dira dan permohonan tulus Hans pun seketika meluluhkan kerasnya hati Dira. Perlahan Dira mulai melepaskan pelukan Hans.
"Tapi mas,aku tidak ingin mempunyai hubungan yang hanya membuat sakit hati orang lain...aku juga tidak ingin mempunyai hubungan yang nantinya akan selalu diusik oleh orang lain... Aku ingin membangun sebuah hubungan dengan rasa nyaman dan tenang. Aku ingin jika kita bersama,kita bisa menikmati setiap proses yang bisa menyatukan kita selamanya..."
"Aku tau...Aku janji dan berani pastikan jika tidak akan ada orang yang berani mengusik hubungan kita dan jika suatu hari nanti ada orang yang merasa sakit hati dengan hubungan kita,itu bukan salah kita...tapi itu salah dirinya sendiri yang tak mampu menjaga hatinya sendiri... "
"Sudahlah...jangan terlalu banyak berfikir...Kau istirahat saja dulu,aku akan kembali ke kantor dan sepulang dari kantor nanti,aku akan kemari lagi..."
"Eh nggak usah..." jawab Dira cepat.
"Kenapa? Apa akan ada yang ke sini?"
"Ish su'udzon aja...Maksudnya pulang kerja nanti mas jangan langsung datang kemari,tapi mandi dan ganti baju dulu...setelah wangi baru boleh kemari...he he he..."
"Eh sudah pinter menggoda ya..."
Hans mencubit pelan hidung mancung Dira kemudian mencium pucuk kepala Dira lalu pergi meninggalkan kamar Dira dengan aura yang bahagia...
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...