
Hans masih berada di ruang kerjanya,mengemasi berkas-berkas yang akan di bawa dalam perjalanan bisnisnya ke Malaysia pagi ini.
"Mas..."
"Ya" jawab Hans tanpa menoleh ke arah sumber suara. Dia masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya.
"Udah beres semua belum?"
"Ini sebentar lagi juga kelar..."
"Memangnya mas berangkat jam berapa sih? Terus berapa hari mas di sana? Lama nggak?" tanya Dira. Mendengar runtutan pertanyaan Dira,Hans pun kemudian menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arah istrinya.
'Eh, apa aku nggak salah dengar,Dira menanyakan hal itu? Ajaib... ini merupakan perubahan yang sangat besar. Apa ini gara-gara kejadian semalam atau memang karna dia sudah mulai luluh padaku?' gumam Hans dalam hati.
"Kenapa?"
"Nggak papa... cuma tanya aja..." jawab Dira sambil menyodorkan secangkir kopi hitam kesukaan Hans.
"Belum berangkat aja udah kangen ya..."goda Hans sambil menerima secangkir kopi hitam dari tangan Dira lalu menikmatinya.
"Idih keGRan amat sih... seminggu lagi Dira kan sidang wisuda dan mungkin paling cepat dua minggu setelahnya Dira wisuda. Mas Hans mau dampingi Dira di acara wisuda Dira nanti kan?"
"Tentu saja...mas nggak mungkin akan melewatkan saat-saat itu. Kalaupun urusan di sana belum selesai,mas akan tetap pulang ke Indonesia beberapa hari untuk menghadiri acaramu. Bisa jadi setelah acara wisuda selesai,kamu akan mas bawa ke Malaysia sekalian bulan madu..." ucap Hans sambil menowel hidung Dira yang mancung.
"Iih nggak gitu juga maunya Dira...Dira cuma pingin ada yang ngedampingin Dira pas wisuda nanti...Mas kan tau, keluarga kita sedang pergi ibadah umroh sambil liburan dan nggak tau pulangnya kapan..." Dira tampak tersipu malu mendengar ucapan Hans. "Udah ah ayo kita sarapan dulu sebelum mas berangkat..." ucap Dira mengalihkan pembicaraan dan langsung membalikkan badan untuk meninggalkan ruang kerja Hans. Tapi baru selangkah kaki Dira melangkah, tangan Hans sudah menarik tangan Dira, hingga kini Dira berada dalam pelukan hangat suaminya. Tidak ada perlawanan lagi seperti sebelumnya,Dira diam bahkan seolah dia begitu menikmati pelukan Hans itu.
"Kamu tau sayang...jika bisa...saat ini mas tidak ingin pergi meninggalkanmu. Mas ingin di sini menunggu sampai kamu selesai wisuda lalu mas akan bawa kamu kemana pun mas pergi... Sayang,terimakasih untuk yang semalam ya... kamu sudah membuat mas bahagia, biarpun semalam kita melakukan itu tanpa sengaja...
Dira...kamu tau kan mas cinta sekali sama kamu...mas nggak ingin pisah sama kamu...Mas ingin kita bisa sama-sama terus selamanya..." Hans mencium pucuk kepala Dira lama sampai akhirnya secara perlahan Dira mulai melepas pelukan suaminya untuk mengajak Hans sarapan.
"Kita sarapan dulu mas, kalo begini terus...mas bisa ketinggalan pesawat..." ucap Dira mengalihkan pembicaraan. Dira pun kemudian kembali membalikkan badan untuk keluar ruang kerja Hans.
"Dira..." panggil Hans
"Ya..." Dira berhenti sambil menoleh ke arah Hans.
"Apakah kamu sudah bisa mencintaiku?" tanya Hans penuh harap.
"Kita bicarakan itu nanti saja ya, jika mas sudah selesai melakukan perjalanan bisnis...? Biar kita punya waktu yang banyak... Sekarang kita sarapan dulu..." Dira meraih tangan Hans lalu menggandengnya menuju ruang makan,Hans pun pasrah mengikuti istrinya dengan senyuman bahagia di bibirnya. Hans tau sudah mulai ada rasa cinta di hati Dira untuknya, hanya saja Dira masih enggan untuk mengakuinya.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Selesai sarapan Hans pun di antar Mas Jono supir pribadi mereka untuk segera berangkat menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
"Kabarin langsung jika mas sudah sampai sana ya mas... Hati-hati di jalan..." Dira mencium tangan Hans seperti dulu ketika mereka selesai melakukan ijab kabul dan Hans pun tersenyum bahagia.
"Insyaallah... kamu juga harus hati-hati di rumah selama mas nggak ada ya..." Dira mengangguk pelan lalu Hans pun mencium pucuk kepala Dira dengan mesra...
"Hufs..." Hans membuang nafas panjang sambil tersenyum-senyum sendiri di dalam mobil yang mengantarkannya ke bandara.
"Ada apa bos?" tanya Jono mendengar bosnya membuang nafas panjang dan melihat bosnya tersenyum-senyum sendiri dari kaca spion mobil.
"Ah nggak ada apa-apa... kepo aja kamu Jon... nyetir aja yang bener..." ucap Hans salah tingkah.
🌹🌹🌹
Setelah menempuh perjalanan selama hampir dua jam,Hans pun akhirnya sampai di Malaysia dengan selamat. Hal pertama yang dia lakukan begitu mobil jemputannya datang adalah menelpon istrinya sesuai dengan janjinya.
'Tutt tutt tutt...' beberapa kali Hans mencoba menghubungi ponsel Dira,tapi Dira tidak mengangkatnya. Hans mengulang panggilan di ponselnya, tapi berulang-ulang pula tidak di angkat oleh Dira. 'Akh... kemana dia...apa jangan-jangan sikap manisnya tadi pagi hanya pura-pura belaka?' gumam Hans dalam hati.
Hingga tanpa terasa,mobil jemputannya itu sudah memasuki halaman hotel tempat dia menginap.
"Maaf tuan...sudah sampai..." ucap sopir mobil jemputannya.
"I'ts oke tuan... I'm sorry tapi apa tuan baru pertama kalinya dapat tugas ke luar negeri?" tanya sopir itu sambil menurunkan koper milik Hans.
"Sebenarnya tidak tapi saya baru kali ini tugas ke luar negeri dengan meninggalkan istri di rumah..." jawab Hans.
"Ah pantas dari tadi saye perhatikan,tuan tampak gelisah sangat...Apakah anda baru saja menikah tuan?"
"Yes..." jawab Hans sambil tersenyum.
"Wow congratulations tuan... semoga sakinah mawadah warohmah..."
"Aamiin... terimakasih pak cik..."
"Same-same...Oke tuan, saye hanya mengantarkan tuan sampai di sini...ini kartu nama saye, tuan bisa hubungi saye jika tuan ada perlu... Selamat siang dan selamat beristirahat..."
"Terimakasih Pak Ciiik...Harun... sepertinya saya akan merepotkan pak cik selama saya berada di sini..."
__ADS_1
"Same-same Tuaaan..."
"Hans... nama saya Hans Hendra Saputra...ini kartu nama saya..."
"Oh oke... senang bisa berkenalan dengan tuan... Insyallah saye siap selalu jika tuan butuhkan..."
"Terimakasih sekali lagi..." ucap Hans sopan kepada sopir yang usianya sudah tidak muda lagi itu.
Kemudian Hans pun melangkah menuju resepsionis hotel untuk cek in kamar.
"Reservasi presiden suite room atas nama Tuan Hans Hendra Saputra sudah kami terima dua hari yang lalu... Silahkan Tuan Hans mengikuti pegawai kami untuk di antar ke room yang sudah di reservasi..."
"Thank you..."
"You are welcome... Selamat menikmati room kami dan selamat beristirahat..."
Hans mengangguk sopan lalu mengikuti pegawai yang membawakan kopernya.
Hans menghempaskan tubuhnya ke ranjang hotel, perjalanan bisnis kali ini terasa berat baginya. Apalagi sejak tadi ponsel Dira tidak bisa dihubunginya. Mengingat Dira,..Hans pun segera meraih ponselnya untuk kembali mencoba menghubungi istrinya tapi sayang...kali ini justru ponsel Dira mati jadi tidak bisa dihubungi sama sekali. Hans membanting ponselnya ke tempat tidur dengan perasaan tidak karuan.
"Akh Dira... Dira...kamu dimana? Apa kamu saat ini tengah mempermainkan aku? Apakah kejadian semalam dan kemanisan sikapmu tadi pagi hanya pura-pura semata?" gumam Hans dengan amarah yang mulai datang.
Hans.,. seorang CEO muda yang sukses dan berbakat... yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata orang pada umumnya, bisa tiba-tiba menjadi idiot dan kehilangan semua kepintarannya hanya karna 'cinta'. Padahal jika dia bisa berfikir dengan tenang, dia tidak perlu uring-uringan sendiri... Bukankah dia bisa menghubungi telpon rumahnya atau menghubungi orang-orang terdekat istrinya?
Akh cinta...satu kata yang sanggup mengacaukan perasaan banyak hati manusia dan sanggup membodohi pikiran mereka.
Hans yang sedari tadi uring-uringan nggak jelas itu pun, pada akhirnya tertidur karna kelelahan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Lanjut...