
Mobil melaju dengan kecepatan sedang dengan Hans yang masih setia dengan diamnya. Situasi ini sudah pasti membuat Dira sedih, bingung dan salah tingkah.
"Kalau ternyata setiap aku merayakan ulang tahun selalu membuat orang-orang di sekitarku marah dan tidak bahagia, ingin rasanya aku memilih untuk tidak dilahirkan di dunia ini, agar mereka bisa bahagia karena aku tidak ada..." gumamnya lirih sambil menatap lurus ke depan dan mata yang mulai berkaca-kaca. Suasana hati Dira saat ini memang benar-benar sedang kacau, di tambah lagi Dira kini harus menghadapi suami yang sejak semalam selalu marah padanya tanpa dia tau apa alasannya.
Mendengar gumaman istrinya itu, Hans pun langsung menepikan mobilnya.
"Kenapa bicara begitu sayang? Mas nggak suka mendengarnya..." ucap Hans sambil membelai-belai rambut Dira.
"Suka tidak suka, itulah yang Dira rasakan saat ini. Tak bolehkah Dira mengungkapkan isi hati Dira sendiri?" Hans terdiam... "Menurut mas... apa yang salah dengan Dira coba... Dira itu tidak pernah butuh ucapan ulang tahun dari orang lain, Dira juga tidak butuh kado dari orang lain apalagi dari mantan yang jelas-jelas sudah tidak ada di hati Dira lagi... Tapi kenapa Dira masih saja disalahkan... Kalau nanti setiap Dira merayakan ulang tahun akan terjadi seperti ini lagi, apa salah jika Dira menyesal terlahir di dunia ini?" Dan air mata itu pun lolos dari pertahanan Dira... Dira menangis tanpa bersuara. Hans segera melepas sabuk pengaman mobil di tubuhnya dan yang terpasang di tubuh Dira. Diraihnya tubuh istri kesayangannya itu ke dalam pelukannya, membuat tangis Dira semakin menjadi.
"Dira lelah mas... Dira capek jika selalu disalahkan... hiks hiks hiks..."
"Astaghfirullah... jangan bicara begitu, tidak ada orang yang menyalahkanmu sayang...." Mendengar ucapan Hans, Dira pun tiba-tiba mendorong tubuh suaminya.
"Mas bohong... mas memang tidak mengatakan aku yang salah, tapi apa yang terjadi semalam? Aku tau semalam mas sedang marah dengan seseorang, tapi kenapa mas melampiaskan kemarahan mas itu kepada Dira. Dengan tega mas memperlakukan Dira dengan kasar seolah Dira lah yang telah berbuat salah, bahkan ponsel Dira yang tidak ada salahnya pun ikut mas banting... Sekarang Dira mau tanya sama mas... kesalahan apa yang telah Dira perbuat hingga mas memperlakukan Dira sekasar itu, sampai-sampai mas juga tidak memikirkan kondisi Dira yang sedang berbadan dua?"
Hans terdiam sejenak... kemudian dia mulai menceritakan penyebab amarahnya semalam.
"Maaf... mas terlalu kekanak-kanakan..."
"Hmm..."
"Tapi mas benar-benar tidak suka dengan gaya Damar mengucapkan selamat ulang tahun padamu... Apaan tuh my princess... norak. Apa salahnya sih ngucapinnya biasa aja... selamat ulang tahun Dira...gitu... Mas kan jadi emosi ngebacanya." Dira tersenyum tertahan ketika mendengarkan suaminya bercerita... persis kaya Hara yang sedang mengadu padanya, tapi Dira masih memilih untuk diam dan memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh Hans.
"Di tambah lagi dia jelas-jelas berusaha memprovokasi kamu tentang pertemuan mas dengan Jessica di mall... mas kan jadi tambah emosi... Jadi deh mas lempar tu ponsel sayang... Tapi kamu nggak usah kuatir, hari ini juga mas beliin gantinya... ponsel terbaru dan termahal untukmu..."
"Udah selesai ceritanya?" Hans mengangguk kaya orang bego... "Sekarang bukan masalah mas mau mengganti ponsel Dira dengan ponsel yang baru, tapi yang perlu mas garis bawahi dari semua itu... salah Dira apa dan letak salahnya di mana?"
"Tidak ada sayang..."
"Na... tuh mas tau... tapi kenapa mas semalam seolah tengah menghukum Dira?"
"Mas kan udah minta maaf sayang... mas khilaf, soalnya mas emosi... mas cemburu... mas nggak rela jika kamu di rayu oleh orang lain... mas takut kehilangan kamu lagi..." Hans memeluk tubuh Dira dengan erat.
"Sejak kapan mas krisis percaya diri? Dan sejak kapan mas merasa ciut bersaing dengan Damar?" Hans pun melepas pelukannya dan memegangi kedua bahu istrinya.
"Eh enak aja ciut... Mas Hans mah nggak pernah merasa ciut bersaing dengan Damar ya... sebab mas yakin jika mas lah yang akan menjadi pemenangnya..."
"Na... So what ...? Why...?"
Bukannya menjawab Hans kembali memeluk Dira.
"Kita tutup buku aja soal semalam ya... mas kan udah janji nggak akan mengulanginya lagi..." bisiknya di telinga Dira.
__ADS_1
"Hmm..." Hans melepas pelukannya lalu kembali memakaikan sabuk pengaman Dira dan juga dirinya.
"Kamu pingin pergi ke mana? Hari ini adalah hari milikmu, mas siap menjadi pelayan tampanmu...he he he..."
"Termasuk siap membelanjakan apa pun yang Dira mau?"
"Siap..."
"Hari ini Dira pingin ke mall, belanja yang banyak untuk anak-anak panti lalu kita ke Panti Asuhan Harapan Kasih setelah Hara pulang. Boleh?"
"Tentu sayang... tapi Hara hari ini pulangnya sore... jadi kita bisa jalan-jalan dulu sebelum belanja untuk anak panti kan?" Dira mengangguk. "Jadi kita mau kemana dulu?"
"Kemana aja asal bersama mas dan Dira nggak ditinggalin..."
"Ngaco... mas nggak mungkin ninggalin kamu... mas nggak mau sendirian lagi. Cukup lima tahun saja yang dulu pernah kita lewati... I love you sayang..." Hans mencium kening Dira.
"I love you too... Kita berangkat sekarang?"
"Let's go..."
🌹🌹🌹
Kedatangan pasangan suami istri itu mampu mengalihkan perhatian para pengunjung mall hari itu. Sebenarnya Dira merasa risih melihat mata para pengunjung mall yang rata-rata cewek itu memperhatikan suaminya.
"Kayanya salah tempat deh..." gerutu Dira lirih sambil cemberut.
"Nggak papa... Oya mas, Dira laper..."
"Hmm... kamu mau makan apa sayang?"
"Masakan Jepang boleh?" tanya Dira sambil menggelayut manja pada suaminya. Dira sengaja bersikap begitu karna semakin banyak cewek-cewek cantik yang memandangi Hans, lalu berkasak-kusuk dengan temannya.
"Boleh tapi makan makanan yang mateng ya... jangan makan makanan yang mentah..." jawab Hans sambil menowel hidung mancung istrinya. Hans tau saat ini, istrinya pasti merasa tidak nyaman dengan tingkah para cewek itu.
"Iya... tapi Dira mau ke toilet sebentar, mas..."
"Mas antar..."
"Ih apa-apaan sih... Dira ke toilet wanita lho, bukan toilet umum..."
"Pokoknya mas antar, nanti mas tunggu di depan toilet. Mas nggak mau kejadian dulu terulang lagi..." ucap Hans mencemaskan istrinya.
"Tapi..."
__ADS_1
"Kenapa selalu harus ada 'tapi' sih...? Please sayang, nurut aja bisa nggak sih..."
"Iya deh iya... tapi apa mas nggak..."
"Enggak..."
"Ish... belum juga selesai ngomong... udah main potong aja..." gerutu Dira. "Ayok deh... keburu kebelet pipis..."
Setelah perdebatan nggak penting itu, akhirnya mereka pun berjalan menuju toilet wanita.
"Ih beruntung banget sih cewek itu punya pasangan kaya gitu... udah ganteng... sayang banget lagi. Sampai-sampai ke toilet aja mau nganterin..."
"Iya... kenapa ya yang ganteng-ganteng itu cepet laku... Bikin iri aja..."
Dira mendengar semua kasak-kusuk itu, ingin marah tapi masalahnya apa? Toh Hans tidak melirik cewek-cewek itu, dan cewek-cewek itu pun sebatas kagum saja.
Hans berdiri tidak jauh dari toilet wanita, sambil memainkan gawainya, ketika ada seorang cewek cantik dan sexy mendekatinya. Bersamaan dengan itu, Dira pun sudah keluar dari toilet.
"Permisi mas, boleh kenalan?"
"Tidak boleh..." teriak Dira "Dia suami saya... Jangan coba-coba berani mendekatinya..." ucapnya lagi sambil berkacak pinggang dan berdiri di depan Hans dan cewek sexy itu pun segera pergi karena malu. Hans yang bahkan belum melihat wujud cewek yang mengajak berkenalan dengannya pun menjadi terkejut mendengar suara Dira yang marah-marah.
"Mas, kita pulang sekarang..."
"Lho kenapa? Katanya mau makan di restoran Jepang..."
"Udah nggak laper..."
Hans bingung dengan perubahan sikap Dira yang begitu tiba-tiba, tapi pada akhirnya dia hanya bisa menurutinya saja.
'Dasar bumil...' gumam Hans dalam hati...
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...