Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Bertemu Dengan Hanna


__ADS_3

Motor matic Dira memasuki halaman rumah Bi Asih. Sesaat setelah memarkir motornya itu Dira pun turun...tapi tidak dengan anak kecil yang sedari tadi duduk diam sambil menunduk di atas boncengan motor Dira.


"Sayang...kenapa tidak turun? Kita sudah sampai..." ucap Dira dengan penuh kelembutan. Hara masih tidak berkeming dari tempat duduknya. "Kenapa sayang...?" tanya Dira lagi sambil mendekati putranya. Tangan Dira mengelus lembut rambut Hara yang hitam pekat, kemudian perlahan Dira menarik kepala putranya ke dalam pelukannya.


"Maafin Hara ma..." kata itulah yang kemudian meluncur dari bibir anak yang berusia empat tahun itu sambil masih menunduk.


"Kita masuk dulu ya..." bujuk Dira yang kemudian diangguki oleh Hara.


"Assalamu'alaikum..." ucap Dira memasuki rumah Bi Asih.


"Wa'alaikumsalam...lho kok tumben cucu nenek sudah pulang?" tanya Bi Asih sedikit heran, karena memang biasanya jam segitu belum waktunya Hara pulang dari sekolah. Hara tidak menjawab, dia malah memilih langsung duduk di kursi tamu sambil terus menundukkan kepalanya. Dira pun memberi kode kepada Bi Asih untuk tidak bertanya lagi, makanya Bi Asih pun segera memilih kembali masuk ke dalam sambil membawa tas sekolah Hara.


"Mama... maafin Hara..." kata itu kembali keluar dari bibir Hara.


"Kenapa Hara minta maaf ke mama?" tanya Dira yang sudah duduk di hadapan putranya itu.


"Hara telah bikin masalah lagi...Hara berkelahi di sekolah lagi...Hara sudah nyusahin dan bikin mama malu lagi..." ucapnya dengan kepala yang masih tertunduk tanpa berani menatap wajah mamanya.


"Hara anak pintar... Hara sudah tau letak kesalahan Hara... tapi kenapa masih saja di ulang lagi?" tanya Dira dengan ucapan sehalus mungkin.


"Maaf ma..." ucapan itu kembali yang terlontar dari bibir mungil Hara. Dira terdiam... Suasana pun hening sesaat lalu tiba-tiba Hara berani mengangkat wajahnya dan menatap wajah mamanya.


"Ma..."


"Iya sayang..."


"Apa benar Hara tidak punya papa?" tanya Hara tiba-tiba, membuat jantung Dira seakan berhenti berdetak. Setelah sekian lama Hara hanya diam, kini bocah dihadapannya ini berani menanyakan hal itu kepadanya. Hara memang terlalu pintar untuk ukuran anak seusianya, untuk itu setiap Hara menanyakan sesuatu,Dira harus memutar otak agar dia tidak salah menyampaikan jawabannya.


"Siapa yang bilang begitu?" tanya Dira yang kini telah berjongkok di depan putranya duduk. "Bukankah mama sudah sering bercerita jika papa Hara adalah seorang laki-laki yang gagah dan tampan? Dan Papa Hans, papanya Hara itu wajahnya sangat mirip dengan wajah Hara..." Pangeran kecil Dira itu pun menganggukkan kepalanya.


"Tapi Hara belum pernah melihat wajah papa... dan setiap Hara bercerita tentang papa sama teman-teman, teman-teman Hara bilang Hara pembohong. Mereka bilang Hara tidak punya papa karna Hara nakal... jadi tidak ada papa yang mau mengakui Hara sebagai anaknya dan tidak ada papa yang menyayangi Hara seperti mereka, yang selalu disayangi oleh papa mereka... Apa benar itu ma? Apa benar papa tidak mau mengakui Hara karna Hara nakal? Apa benar papa nggak sayang Hara?" akhirnya Hara berucap begitu lancarnya seolah dia sedang mengeluarkan semua unek-unek di dalam hatinya. Dira pun sampai tertegun melihat putranya mengucapkan semua kata-kata yang tidak pernah dia duga sebelumnya.


'Ya Allah... apakah sudah waktunya aku mengatakan hal yang sebenarnya pada anakku? Apa sudah waktunya aku mengenalkan Mas Hans secara langsung kepada Hara?' gumam Dira dalam hati. Tapi baru saja Dira berusaha memantapkan hatinya untuk mulai bercerita tentang Hans kepada putranya... sebuah panggilan telpon masuk ke ponselnya. Dira berdiri lalu mengusap layar gawainya untuk menerima panggilan itu.


📞 "Hallo Assalamu'alaikum..."


📞 "Wa'alaikumsalam... Mbak Nitha bisa ke sini lagi? Tamunya sudah datang mbak dan saya butuh teman untuk mendampingi para mahasiswa dan mahasiswi yang KKN mbak..."


📞 "Oh ya oke... tapi aku bawa Hara nggak papa kan?"

__ADS_1


📞 "Nggak papa mbak...yang penting Mbak Nitha cepat ke sini..."


📞 "Siap... aku gantiin bajunya Hara dulu, lalu aku segera kesana..."


📞 "Oke...saya tunggu ya mbak... terimakasih... Assalamu'alaikum..."


📞 "Sama-sama... Wa'alaikumsalam..."


Dira mengakhiri obrolannya lalu kembali menghampiri putranya.


"Sayang... obrolan kita, kita lanjutkan nanti lagi ya...? Kamu dengar sendiri kan kalo mama harus kembali bekerja... sekarang Hara ganti baju kemudian Hara temani mama kerja, mau?" tanya Dira yang kemudian dijawab oleh Hara dengan anggukan.



Hara Andika Saputra


Dira memarkirkan motor maticnya di parkiran kantor balai desa, kemudian dengan langkah sedikit tergesa Dira menggandeng putranya menuju pendopo desa, tempat acara penyambutan di gelar. Dari jauh pendopo desa sudah terlihat ramai, karena rupanya acara sudah di mulai.


"Mbak Nitha...Hara...sini..." panggil Intan yang ternyata juga ikut berada di situ. Dira dan Hara pun segera melangkah menyambangi Intan, karena Dira bermaksud menitipkan Hara pada Intan selama dia bekerja. Tapi karena langkah Dira terburu-buru membuat dia hampir menabrak salah seorang mahasiswi.


"Akh maaf... saya terburu-buru..." ucap Dira sambil menunduk memastikan keadaan putranya... "Kamu nggak papa kan sayang?" tanya Dira kemudian kepada Hara.


"Alhamdulillah... jagoan mama memang pinter..." ucap Dira yang sesaat kemudian mengangkat kepalanya.


"Kak Dira?!" teriak mahasiswi yang tadi menabrak Dira dan Hara. Dira sangat terkejut melihat mahasiswi itu mengenalinya sebagai Dira dan bukan sebagai Nitha. Dira pun kemudian memastikan bahwa dia pun mengenali gadis itu lalu seperdetik kemudian...


"Astaghfirullah haladziim... Hanna?" teriak Dira nggak kalah kagetnya.


Dira memang belum begitu hafal dengan wajah adik iparnya itu karena pertemuan mereka pun hanya beberapa kali,di tambah lagi hampir lima tahun mereka tidak pernah bertemu. Tapi garis wajah Hanna yang begitu mirip dengan suaminya tidak bisa mengelabuinya bahwa gadis cantik yang saat ini berada di depannya adalah Hanna adik dari Hans suaminya. Hanna pun kemudian menghambur ke pelukan Dira sambil menangis, membuat Dira terbawa suasana dan kemudian ikut menagis. Melihat mamanya menangis Hara pun jadi bingung, apalagi Hara merasa keberadaannya diabaikan oleh mamanya.


"Mama..." panggil Hara sambil menarik baju yang dikenakan mamanya.


"Akh..iya sayang...maaf..." ucap Dira sambil melepas pelukannya pada Hanna lalu berjongkok di samping putranya.


"Mama... aunty ini siapa kenapa dia bikin mama nangis? Mama sedih ya ketemu dia...?" tanya Hara sambil mengusap sisa air mata yang ada di pipi mamanya.


..."Enggak sayang...mama bahagia sekali bisa bertemu dengan aunty.... Aunty ini aunty nya Hara... namanya Aunty Hanna, dia adik dari Papa Hans, papanya Hara..." jelas Dira dengan hati-hati agar bisa di mengerti oleh Hara....


"Kak Dira...dia..." Hanna mempertanyakan tentang Hara dan Dira pun mengangguk pelan.

__ADS_1


"Ya... dia putra kakakmu..."


"Siapa namamu sayang?" tanya Hanna yang masih berkaca-kaca, tapi Hara hanya diam dengan netra yang intens menatap Hanna penuh selidik.


"Sayang... aunty tanya namamu...kenapa tidak di jawab?" bujuk Dira.


"Hara...namaku Hara Andika Saputra..."


"Boleh aunty peluk Hara?" Hara menoleh ke arah mamanya seolah minta ijin pada mamanya, dan Dira pun mengangguk memberi tanda bahwa dirinya boleh di peluk oleh Hanna.


"Alhamdulillah... setelah sekian tahun kami mencari... akhirnya ketemu juga...hiks hiks hiks... Kamu ganteng dan pintar Hara seperti papamu..." ucap Hanna kembali menangis karena tak kuasa membendung rasa harunya.


"Aunty...bisa Hara ketemu papa? " Hanna hanya mengangguk berulang-ulang karena tak sanggup menjawab lewat kata-kata..."Aunty apa papa sayang sama Hara?" Hanna kembali mengangguk sambil menangis, sementara itu air mata Dira pun kembali meleleh, Dira juga ikut menangis walau tanpa suara.


"Aunty... apa papa bisa datang sekarang ke sini? Hara akan kasih tau teman-teman Hara kalau Hara benar-benar punya papa. Hara mau buktiin kalo Hara nggak pernah bohong..." ucap Hara semakin antusias.


"Kita video call sama papa sekarang ya... nanti Hara bisa bilang sendiri sama papa... Papa Hans pasti senang bisa melihat Hara... Boleh kan kak?" Hanna meminta ijin kepada Dira, takut Dira tidak memperbolehkannya.


Dira mengangguk...pada akhirnya, Dira memang harus mengijinkannya. Dia hanya bisa pasrah... dia juga sadar jika selama ini, dia telah bersikap tidak adil pada putranya. Dan kejadian seperti pagi hari tadi di sekolah,sebenarnya adalah salah satu akibat dari keegoisannya.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Hai Reader... jangan lupa tinggalkan jejakmu ya...


Aku tunggu like,komen,vote N giftnya.... Makasih...🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2