
Melihat kondisi Dira yang ketakutan karna menyadari dirinya tengah mengeluarkan darah, dokter Haris pun dengan sigap segera membopong tubuh Dira ke dalam mobilnya, yang kemudian diikuti oleh Bi Asih. Dengan kecepatan sedikit kencang, Haris membawa Dira ke klinik bersalin tempatnya membuka praktek.
Yaa...tanpa diketahui oleh Dira dan Bi Asih, ternyata dokter Haris adalah seorang dokter kandungan. Dan memang sudah menjadi tugasnya, setiap seminggu sekali, Haris datang ke puskesmas yang terletak di dekat rumah Bi Asih,guna memantau kesehatan ibu-ibu hamil yang berada di sana.
"Tolong segera bawa ke ruang bersalin..." titah dokter Haris kepada perawat setelah membaringkan tubuh Dira di atas branker rumah sakit. Sementara Dira mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya.
Tak lama setelah Dira masuk ke ruang bersalin, tiba-tiba seorang suster lari tergopoh-gopoh menyambangi dokter Haris yang sudah berjalan menuju ke ruang bersalin.
"Kenapa sus?"
"Dok, sepertinya pasien tidak bisa melahirkan secara normal,sebab setelah kami periksa tadi detak jantungnya lemah. Dan ketika saya tanya pada bibinya,beliau mengatakan jika memang keponakannya itu ternyata punya kelainan jantung sejak kecil..." ucap suster menjelaskan sambil berjalan menuju ruang bersalin kembali.
"Oke...kalo gitu tolong siapkan ruang operasi sekarang juga..."
"Ruang operasi sudah siap dok" teriak seorang perawat laki-laki.
"Bagus...good job...bawa pasien segera ke ruang operasi..." titah dokter Haris sambil mengacungkan jempol pada tim nya.
Dira tengah ditangani oleh dokter Haris dan tim nya, sementara Bi Asih hanya bisa harap-harap cemas menunggu jalannya operasi sambil terus berdo'a dan berdzikir untuk keselamatan Dira dan bayinya. Namun tiba-tiba disela do'anya Bi Asih teringat untuk menghubungi Sila. Melihat Dira yang teramat kesakitan tadi dan mengingat jantungnya yang bermasalah sejak kecil,maka Bi Asih pun jadi ketakutan sendiri. Kemudian Bi Asih pun segera menekan nomer ponsel Sila yang pernah disimpannya.
📞 "Hallo... Assalamu'alaikum..." sapa seorang wanita di sebrang sana.
📞 "Wa'alaikumsalam non..."
📞 "Bi Asih...!" teriak wanita itu terkejut.
📞 "Iya non...ini saya...."
Bi Asih pun segera menjelaskan keadaan Dira saat ini dan memohon Sila untuk datang ke alamat yang diberitahukan olehnya. Tapi Bi Asih pun meminta agar Sila merahasiakan keberadaan Dira sekarang pada siapapun. Sila menghormati keinginan Bi Asih, untuk itu dia pun berjanji untuk merahasiakan semuanya dari siapapun dan tanpa menunggu lama lagi, detik itu juga Sila pun segera memesan tiket pesawat untuk segera terbang ke Yogyakarta.
Sekitar satu jam berselang, terdengar suara tangis seorang bayi dari ruang operasi.
"Alhamdulillah..." gumam Bi Asih.
Tak lama,pintu ruang operasi pun di buka dan dokter Haris pun keluar... tanpa menunggu lama Bi Asih pun segera menghampiri dokter Haris.
"Bagaimana keadaan Neng Nitha dan bayinya dok..." tanya Bi Asih tidak sabar.
"Alhamdulillah bayinya lahir dengan selamat dan tidak kurang suatu apa. Lengkap, sehat dan normal... bayi laki-laki yang tampan..."
"Lalu ibunya...?" tanya Bi Asih penuh rasa khawatir.
__ADS_1
"Mari duduk sini dulu Bi Asih... ada hal yang ingin saya sampaikan berkenaan dengan kondisi Nitha..." ucap dokter Haris hati-hati sambil menuntun Bi Asih duduk kembali di kursi tunggu depan ruang operasi.
Deg...
Jantung Bi Asih pun tiba-tiba terasa seperti mau berhenti, tubuh rentanya pun tiba-tiba lemas.
"Ada apa dengan Neng Nitha dok...?" tanyanya kembali pada dokter Haris. Netra tuanya mulai terasa panas karna menahan tangis kecemasannya. Dokter Haris menarik nafas panjang lalu...
"Pada dasarnya saat ini Nitha dalam keadaan selamat...tapi dikarenakan penyakit jantung bawaannya kambuh bersamaan dengan waktu persalinan,maka saat ini Nitha berada dalam keadaan koma..." jelas dokter Haris dengan sangat hati-hati.
"Astaghfirullah haladziim..." Bi Asih menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Tapi Bi Asih tidak usah khawatir karena saya sudah pasti akan mengupayakan perawatan yang maksimal agar Nitha cepat tersadar dan segera kembali pulih kesehatannya seperti sedia kala..." dokter Haris menggenggam tangan Bi Asih untuk sekedar memberikan kekuatan. "Setelah ini, Nitha akan kami pindahkan ke ruang ICU..."
"Sampai kapan Neng Nitha akan seperti ini dok..."
"Saya belum tau bi...tapi percayalah,kami terutama saya akan bertindak sebaik mungkin..." ucap dokter Haris mencoba meyakinkan..." Oya,bi...kemana suami Nitha, apakah dia tidak ingin mengadzani putranya?" tanya dokter Haris lagi.
"Suaminya tengah bekerja di luar negeri dan Neng Nitha sendiri sudah lama tidak berkomunikasi..."
"Kalau begitu... boleh saya yang mengadzani putranya Nitha?"
"Apa tidak apa-apa jika dokter melakukan hal itu? Saya takut dokter Haris akan jadi bahan gunjingan di rumah sakit ini... mengingat Neng Nitha melahirkan tanpa di dampingi suaminya..."
"Baiklah kalau begitu... silahkan... Saya boleh melihat keadaan Neng Nitha dan putranya kan dok?" tanya Bi Asih.
"Tentu saja... mari silahkan masuk, sekalian Bi Asih turut menyaksikan saya mengadzani putranya Nitha..."
Akhirnya mereka berdua pun masuk ke ruang transit pasien operasi, sebelum dipindahkan ke ruang ICU.
Tangis sedih tak bisa di tahan oleh Bi Asih lagi, ketika netranya menyaksikan sendiri keadaan Dira pasca melahirkan putranya lewat operasi caesar. Dira terbaring tak berdaya dengan mata terpejam dan beberapa alat bantu medis yang terpasang pada tubuhnya.
"Neng... kenapa Neng Nitha jadi begini...bangun neng, buka mata Neng Nitha... lihatlah putra Neng Nitha sudah lahir... dia tampan sekali seperti papanya tapi matanya indah seperti mata indah Neng Nitha waktu dulu baru lahir... Neng Nitha tau nggak, dokter Haris baru saja mengadzaninya. Neng Nitha bangun neng... jangan bikin Bi Asih takut... jangan biarkan kami tanpa ada Neng Nitha ditengah-tengah kami... hiks hiks hiks..." Bi Asih menangis sambil memangku putra Dira.
Tak berapa lama kemudian Dira pun dipindahkan ke ruang ICU, sedangkan baby nya di bawa ke ruang baby di klinik itu. Dan bersamaan dengan itu, dari jauh tampak Sila dan Aditya berlari menghampiri Bi Asih yang mendampingi kepindahan Dira ke ruang ICU.
"Bi...Bi Asih..." panggil Sila. Mata Sila sontak terbelalak kaget melihat Dira yang tengah tak sadarkan diri hendak di bawa ke ruang ICU.
"Astaghfirullah Dira... kenapa jadi seperti ini? Hiks hiks hiks... Apa yang telah terjadi pada Dira bi... kenapa Dira tidak sadarkan diri... hiks hiks hiks..." tangis Sila pecah seketika melihat sahabatnya dalam keadaan koma.
Sampai di depan pintu ruang ICU, semuanya diperingatkan untuk menunggu di luar ruangan, sehingga mereka hanya bisa melihat Dira dari balik jendela kaca saja.
__ADS_1
"Bi Asih, tolong ceritakan semuanya... dari mulai kalian pergi diam-diam sampai kejadian selama hampir satu tahun ini..." desak Sila.
Bi Asih pun kemudian menceritakan semuanya dari awal hingga akhir perjalanan hidup Dira selama hampir satu tahun ini.
"Astaghfirullah...apa memang Dira dari kecil sudah punya penyakit kelainan jantung bi? Kok selama ini Dira tidak pernah cerita ke saya... beberapa kali memang saya liat dia minum obat,tapi katanya itu hanya vitamin..."
"Iya non... maka dari itu non sampai Neng Dira dewasa pun, Bi Asih masih selalu mengontrolnya karena kadang Neng Dira susah untuk di suruh minum obat..."
"Kalo gitu Kak Hans harus tau soal ini..." ucap Sila.
"Jangan non... jangan..." cegah Bi Asih.
"Kenapa bi...?" tanya Adit..."Kak Hans kan suaminya, dia perlu tau jika putranya sudah lahir dan dia juga harus tau keadaan Dira saat ini..." ucap Adit lagi.
"Tolong jangan dulu... tolong tunggu sampe Neng Dira sadar dari koma..."
"Tapi sampai kapan? Apakah Bi Asih tidak takut di salahkan jika nanti terjadi sesuatu pada Dira?" tanya Sila.
"Saya tidak tahu non, tapi tolong tunggu beberapa hari ke depan... jangan sekarang..."
"Baiklah...saya dan Adit akan di sini bantu Bi Asih merawat Dira, setidaknya sampai Dira sadar..." ucap Sila.
"Terimakasih non...den..."
"Bi Asih nggak usah sungkan,karna Dira adalah sahabat terbaik kami..."
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk menunggu Dira sampai sadar, baru memikirkan langkah selanjutnya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Lanjut...