Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Mencari Keadilan


__ADS_3

"So jadi langkah apa yang akan lu ambil sekarang?" tanya Alex kepada Hans setelah mereka berdua berada di dalam ruang kerja Hans.


"Aku akan bertanya dulu kepada Dira tentang kejadian yang sebenarnya siang itu... Yang penting suruh anak buahmu untuk tetap mengawasi Feli, jangan sampai dia melarikan diri atau bahkan sampai menghilang. Oya, setelah kejadian itu, apa kemarin dia kembali ke kantor?"


"Kata sekuriti kantor iya... tapi tak berapa lama kemudian dia keluar dengan membawa dus yang entah apa isinya. Aku juga mendapat laporan dari bagian HRD jika dia juga telah mengajukan surat permohonan pengunduran diri per hari ini. Jadi mulai pagi ini dia sudah tidak masuk kerja. Dan tadi pas gue ke kantor, barang-barang Felisha memang sudah bersih dari mejanya. Jadi kemungkinan dus yang dia bawa kemarin itu berisi barang-barang dia yang ada di kantor..."


"Ooo... tapi aku kan belum menandatangani surat permohonan pengunduran diri yang diajukannya itu, kenapa dia main kabur aja... Hmm... rupanya tanpa sadar dia telah memperlihatkan rasa takutnya karena telah berbuat jahat kepada istriku..."


'Tok tok tok...'


"Mas..."


"Hmm... Masuklah sayang..." titah Hans pada istrinya..."Ada apa?"


"Mas nggak ngantor hari ini?"


"Enggak... kan aku mau nemenin kamu seharian di rumah..."


"Kok gitu? Dira udah nggak papa mas... Mas pergi aja ke kantor, jangan sampai mengabaikan pekerjaan mas hanya karena Dira... Dira sungguh sudah baik-baik saja kok, apalagi sekarang rumah jadi ramai karena ada nenek dan Tante Anita.


"Kamu nggak usah khawatirkan kantor, kan ada dia... kakak angkatmu tercinta..." Alex mengangkat kedua bahunya ketika Dira menoleh ke arahnya.


"Emang kakak nggak papa ngurusin kantor sendirian?" Baru saja Alex hendak menjawab, Hans sudah memotongnya.


"Dia aku gaji untuk itu sayang..."


"Jahat ih... kasian Kak Alex dong mas... jangan sering dibebani tugas banyak-banyak..."


"Itulah suamimu... dia itu seorang penindas!"


"Apa kamu bilang? Kalo aku penindas, ngapain kamu ngekorin aku dari dulu ha...?"


"He he he...kalem boss..." ucap Alex sambil nyengir kuda.


"Oya kak... Kak Tiara dan Alika sudah pulang bareng sama Mama Ina dan Papa Tio..." ucap Dira mencoba mengalihkan perhatian Hans.


"Baguslah, karena gue emang nggak bisa mengantar mereka pulang, soalnya habis ini gue harus balik lagi ke kantor..."


"Yang lain juga sudah pulang semua?" tanya Hans sambil menandatangani berkas-berkas kantor yang dibawa Alex.


"Iya..." jawab Dira singkat

__ADS_1


"Oya, apa tadi kamu sempat ngobrol sama Damar?" tanya Hans tiba-tiba sambil menghentikan kegiatannya.


"Iya... memangnya kenapa?" jawab Dira balik bertanya.


"Hmm... ngomong apa aja? Apa dia..." Belum sempat Hans menyelesaikan ucapannya, Alex langsung memotongnya.


"Wah gue kayanya harus balik ke kantor sekarang deh... Gue ogah liat orang bertengkar karena cemburu..." ucap Alex yang langsung ngeloyor keluar ruangan dengan membawa berkas yang sudah ditandatangani oleh Hans.


"Loh Kak Alex kok buru-buru sih..." ucap Dira yang tidak dihiraukan oleh Alex.


"Tutup pintunya sekalian..." titah Hans kepada Alex dengan sedikit berteriak.


"Siap boss..."


"Kak tunggu... Dira mau ngomong sesuatu..." Alasan Dira untuk menghindari pertanyaan suaminya yang ujung-ujungnya hanya akan menjadi ribut.


Dira hendak mengejar Alex tapi Hans segera menarik tangan Dira hingga Dira pun jatuh di pangkuan Hans.


"Akh... apa-apaan sih mas..." Dira menjerit pelan.


"Kamu belum jawab pertanyaanku..."


"Apa aja yang tadi kalian bicarakan? Apa dia mengatakan masih cinta lagi sama kamu?" tanya Hans sambil menatap tajam wajah cantik istrinya.


'Cup...' Dira mencium bibir Hans tiba-tiba.


"Idih serem amat sih pandangannya, emang Dira salah apa...?" ucap Dira mencoba mencairkan ketegangan Hans yang mulai dikuasai oleh rasa cemburu. "Dengerin ya mas...kalau pun seribu kali...eh bukan...sejuta kali dia bilang masih cinta sama Dira, tapi kalau Dira sudah nggak cinta, dia bisa apa? Lagi pula sekarang kami sudah punya kehidupan masing-masing dengan pasangan masing-masing jadi mengingat-ingat masa lalu itu tidak ada gunanya... Kan sekarang dan selamanya Dira cintanya hanya sama mas aja..." Dira menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya sambil melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya. Hans tersenyum puas mendengar jawaban istrinya, dia kini semakin yakin jika Dira sudah benar-benar mencintainya. Ucapan Dira benar-benar manjur, membuat rasa cemburu Hans pun berkurang.


"Hara dimana?" tanya Hans mengalihkan pembicaraan.


"Tidur" jawab Dira singkat.


"Tidur? Jam segini?"


"Kata Hanna, semalaman Hara nggak bisa tidur karena menanyakan Dira terus, begitu pun dengan Hanna... dia di buat begadang karena menemani Hara."


"Nenek?"


"Nenek dan Tante Anita istirahat di kamar..."


"Kita juga istirahat di kamar yuk... kamu pasti capek kan baru juga pulang dari rumah sakit, udah nemuin banyak tamu. Kamu kan masih belum pulih benar..." Dira mengangguk kemudian Hans pun segera mengangkat tubuh istrinya itu dan segera membawanya ke kamar.

__ADS_1


"Sayang sini deh, ada yang ingin mas tanyakan sedikit padamu..." titah Hans ketika melihat Dira selesai membersihkan diri dari kamar mandi.


"Ya.. mau tanya apa?" Dira menghampiri suaminya yang tengah duduk bersandar di sandaran tempat tidur mereka.


"Mas pingin tau kejadian tempo hari dan mas pingin tau siapa pelakunya..." Dira terdiam, netranya yang semula berbinar, tiba-tiba meredup sedih dan sedikit berkaca-kaca. Hans segera meraih tubuh istrinya untuk memberikan kekuatan.


"Ceritakan semuanya pelan-pelan, jangan takut... mas selalu ada di sini untukmu. Dia orang jahat sayang, orang itu pantas mendapat ganjaran yang setimpal, karena dia merenggut kehidupan calon bayi kita..."


Lama Dira terdiam seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan kejadian pahit yang dialaminya tempo hari, tapi kemudian perlahan dia mulai menceritakan kejadian yang menyakitkan hatinya itu. Beberapa kali dia berhenti bercerita sambil mengusap air matanya yang hampir menetes.


"Mas janji akan membawa Felisha ke hadapanmu untuk meminta maaf padamu sayang. Setelah itu mas akan bawa dia ke kantor polisi untuk ditindaklanjuti..."


"Dira nggak mau bertemu dia mas... Hati Dira masih terasa sakit... hiks hiks hiks... Dira nggak mau... hiks hiks hiks..." Hati Hans terasa sakit melihat Dira menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.


"Iya sayang... mas minta maaf ya... mas tidak akan biarkan dia menemuimu... oke..." Dira mengangguk pelan, lalu Hans membaringkan tubuh istrinya sambil mencium kening Dira berkali-kali. "Sudahlah jangan menangis lagi, sekarang kamu istirahat ya... mas akan menemanimu." Dira kembali mengangguk sambil masih sesekali terdengar isakan tangisnya. Mungkin karena badannya masih terasa belum fit dan capek, akhirnya Dira pun tertidur pulas dalam pelukan suaminya.


Setelah memastikan istrinya tertidur pulas, perlahan Hans keluar dari kamarnya. Melongok sebentar ke kamar putranya, lalu turun ke ruang kerjanya.


📞 "Tangkap dia sekarang lalu bawa dia ke gudang perusahaan yang ada di pinggir kota. Aku akan menemuinya sekarang juga..." titah Hans kepada seseorang yang berada di seberang sana.


📞 "Siap boss..."


Selesai memerintahkan seseorang, Hans pun kembali ke kamar tidurnya. Ditulisnya sebuah pesan untuk istrinya dan di taruh di nakas samping tempat tidurnya. Dira menggeliat pelan ketika Hans mencium keningnya, kemudian dia kembali terlelap dalam tidur siangnya. Hans tersenyum melihat tingkah istrinya.


"Mas akan memberikan keadilan untukmu dan untuk calon bayi kita sayang..." bisik Hans sambil membelai rambut indah milik Dira.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2