Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Tuduhan


__ADS_3

Hans melipat sajadahnya setelah menyelesaikan sholat malamnya,dia kini memilih berkeluh-kesah pada Tahun nya. Hans tidak mau kembali terjebak oleh minuman beralkohol seperti kemarin.


Tak berapa lama Hans mendengar suara ponselnya berdering, diliriknya jam yang tertempel di dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Hans mengambil ponselnya...tertera jelas sebuah nama yang sebelumnya selalu dia tunggu kabar beritanya tapi entah kenapa kini dia enggan menerima panggilan telpon itu.


Beberapa kali ponselnya berdering, beberapa kali pula Hans merejectnya, sampai akhirnya sebuah pesan pun masuk.


📥 "Assalamu'alaikum mas...Mas kenapa? Sakitkah? Atau sibuk? Kenapa seharian tidak ada kabar dan begitu sulit dihubungi? Dira khawatir tau.,."


📥 "Mas... kenapa hati Dira merasa jika sejak kemarin mas berubah? Apa benar begitu? Atau ini hanya perasaan Dira saja? Atau memang saat ini mas sedang marah sama Dira? Maass.,. Dira kangen mas...Dira pingin liat wajah mas...Dira pingin denger suara mas...Apa saat ini mas juga punya rasa yang sama?"


📥 "Tolong angkat telpon Dira mas... please..."


'Huuh kangen dia bilang? Dasar perempuan pembohong dan munafik...' gumamnya dalam hati.


Hans tidak membalas chat dari Dira, membuat beberapa panggilan telpon kembali masuk. Bohong jika saat ini Hans tidak ingin menerima panggilan telpon itu, karna saat ini di satu sisi ada rindu yang tidak ada satu orang pun tau seberapa besarnya. Tapi di sisi lain ada rasa amarah yang jelas begitu besar hingga mampu menghalangi rasa rindunya.


Ponsel Hans terus berdering tanpa lelah, hingga akhirnya Hans pun melirik panggilan itu.


'Akh panggilan video call...' gumamnya sambil menerima panggilan telpon itu tapi dia mengarahkan layar ponselnya ke arah dinding.


📞 "Ya..." jawabnya malas.


📞 "Assalamu'alaikum mas..."


📞 "Wa'alaikumsalam..."


📞 "Mas Hans baik-baik saja kan? Kenapa layar ponselnya diarahkan ke dinding? Mas marah sama Dira ya?"


Tak ada jawaban dari Hans,dia terdiam seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk menanyakan kebenaran tentang kehamilan Dira dan kesiapan hatinya untuk menerima kenyataan.


📞 "Mas...kok diam...mas bener-bener marah sama Dira ya? Tolong ngomong dong mas... tolong tunjukkan kesalahan Dira... jangan perlakukan Dira seperti ini... hiks hiks hiks..."


'Ya Tuhan...dia menangis...aku paling tidak tahan mendengar ataupun melihat dia menangis...' gumam Hans dalam hatinya. Lama mereka saling diam, hanya terdengar suara Dira menangis di seberang sana.


📞 "Dira..." Hans kembali diam.


📞 "Iya mas..." isak tangis Dira mulai terdengar samar. Terdengar Hans menarik nafas dalam-dalam, lalu...


📞 "Anak siapa dia Dira?" akhirnya keluar juga pertanyaan yang menurut Hans begitu sulit terucap.

__ADS_1


📞 "Anak? Anak yang mana yang mas maksud?"


📞 "Tolong Dira jujurlah padaku, jangan ditutup-tutupi lagi...aku siap mundur atau jika ayah anak itu sudah tidak mau tanggung jawab,aku mau menerima kehadiran anak itu asal kamu mau jujur..."ucap Hans lirih.


📞 "Anak-anak... anak yang mana yang mas maksud? Dira benar-benar nggak tau.... anak siapa yang mas maksud?"


'Astaghfirullah...' Hans beristighfar dalam hati untuk menahan emosinya,tapi jawaban Dira yang seolah tidak tau apa-apa,tak urung membuat emosinya tak mampu dibendung Hans lagi.


📞 "Anak yang ada dalam rahimmu saat ini Dira...anak siapa dia? Damar atau Aditya? Atau anak orang lain lagi?"


Dira tersentak kaget mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Hans. Apalagi pertanyaan yang terang-terangan menuduhnya berselingkuh.


📞 "Dari mana mas tau kabar soal anak ini?" tanya Dira lirih.


📞 "Tak perlu kamu tau aku dapat kabar itu dari mana... Jika kamu tidak mengelak, berarti kabar itu benar..." nada bicara Hans mulai meninggi..." Pantas saja kamu meminta aku menandatangani perjanjian pra nikah supaya kita tidur terpisah dan supaya aku tidak meminta hakku sebagai seorang suami dengan dalih kamu ingin menyelesaikan kuliahmu dulu. Tak disangka, semua itu ternyata karena rahimmu sudah berpenghuni. Aku tidak pernah menyangka kau sebegitu menjijikannya, hamil dengan orang lain lalu menerima pinanganku agar anak itu mempunyai keluarga yang lengkap. Dasar perempuan licik... kenapa kamu tidak bicara ini dari awal Dira...? Astaghfirullah Dira...tega kamu manfaatkan sekaligus mempermainkan perasaanku." Hans terdiam sejenak, lalu..." Tapi walaupun begitu Dira,andai saja kamu bicara dari sebelum kita berkomitmen menikah, mungkin aku bisa mempertimbangkan semuanya.... asal kamu mau mengatakannya dengan jujur..."


Dira tak bisa berkata-kata lagi walau hanya untuk sekedar memberikan penjelasan. Hatinya terlanjur sakit mendengar tuduhan dan umpatan dari suaminya yang seolah tidak memberikan kesempatan baginya untuk membela diri. Dira hanya bisa menangis... menangis dan menangis. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika apa yang selama ini ditakutkannya datang begitu cepat.


Tiba-tiba terdengar oleh Hans suara 'bruk' dari sebrang sana dan suara teriakan kaget dari seorang perempuan.


📞 "Astaghfirullah haladziim Dira...tolong...tolong..." teriak suara perempuan itu yang samar masih tertangkap oleh ponselnya. Tak lama kemudian terdengar suara gaduh di seberang sana,lalu hening tak ada suara apa-apa lagi.


Entah terjatuh di mana ponsel Dira, yang pasti ponsel itu belum ada yang mematikannya. Hati Hans tiba-tiba menjadi gusar dan cemas karna takut terjadi sesuatu pada Dira. Tapi emosi dan egonya mengalahkan rasa cemas yang dia rasakan.


Adzan subuh membuyarkan lamunan Hans,dia pun segera membersihkan diri lalu menjalankan kewajibannya.


🌹🌹🌹


Di Indonesia


Sila segera membawa Dira yang sudah di angkat ke dalam mobil oleh Pak Parlan dan Pak Yudi satpam ruko tempat Dira tinggal malam itu. Dira masih belum sadar, membuat Sila semakin gusar dan tidak bisa berfikir lain selain ingin melihat sahabatnya itu segera sadar.


Sesampainya di depan ruang IGD rumah sakit, Sila keluar dari mobil sambil berteriak-teriak minta tolong pada perawat yang berjaga pagi itu.


"Sus...tolong sahabat saya..."


Seperdetik kemudian dua orang perawat pria menghampiri Sila sambil mendorong brankar atau ranjang pasien kemudian memindahkan tubuh Dira dari dalam mobil ke atas tempat tidur itu lalu membawanya ke ruang IGD.


"Mbak silahkan urus administrasinya dulu dan biarkan kami yang akan menangani pasien..." ucap suster jaga pagi itu. Sila hanya bisa mengangguk kemudian mengikuti semua titah suster itu.

__ADS_1


Selesai mengurus administrasi rumah sakit, Sila kembali duduk di depan ruang IGD yang masih belum terbuka. Tiba-tiba Sila teringat menghubungi Aditya untuk menemaninya. Sempat terlintas Sila ingin menghubungi Hans tetapi dia teringat pesan Dira jika saat ini Hans tidak bisa di ganggu sampai seminggu ke depan. Ya... menurut cerita Dira,Hans akan pulang seminggu lagi bersamaan dengan kepulangan keluarga besar mereka yang baru saja dari pesiar.


'Cklek...' pintu ruang IGD terbuka, Sila langsung berdiri...


"Bagaimana keadaan sahabat saya dokter?" tanyanya tidak sabar.


"Suaminya mana?"


"Masih dinas di luar negeri dok... Bagaimana keadaan sahabat saya dok?Apa ada yang gawat dok?"


"Akh tidak...untuk sementara ini semua masih baik-baik saja... pasien mengalami sedikit pendarahan tapi untungnya janinnya begitu kuat, jadi tidak berpengaruh ke sana... Yang penting jangan sampai Nyonya Andira terjatuh lagi..."


"Siap...! Syukur Alhamdulillah Kalo semua baik-baik saja... Terimakasih dok..."


"Oya untuk sementara sebaiknya Nyonya Andira bedrest dulu di rumah sakit,biar terpantau kondisinya oleh dokter..."


"Siap dok, saya menurut gimana baiknya saja..."


Dira sudah dipindahkan ke ruang rawat inap,tapi selama seharian tak terdengar sedikit pun suara keluar dari bibir tipisnya itu. Dira seperti orang yang tengah putus asa. Makan pun dia juga tidak mau sehingga membuat Sila dan Adit menjadi bingung.


.


.


.


.


.


.


.


Lanjut...


Tinggal beberapa jam lagi kita akan segera masuki tahun baru 2022.


Selamat menyambut tahun baru...

__ADS_1


Semoga kedepannya... kebaikan, kesehatan dan keberkahan mengiringi langkah kita selalu...


Aamiin....🙏🙏🙏


__ADS_2