Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Pesta Nasi Kebuli


__ADS_3

FLASH BACK ON


Sila mengejar langkah panjang Dira hingga ke parkiran mobil.


"Lu liat..." Sila tak melanjutkan pertanyaan konyol yang akan diutarakan tadi.


'Akh begonya gue... sudah pastilah Dira berlari keluar karena melihat Kak Hans dan Jessica tadi. Untung gue nggak keceplosan... Tega amat sih Kak Hans...' bathin Sila.


"Siniin kunci mobil lu..." pinta Dira kepada Sila yang tengah memegangi kontak mobilnya.


"Lu mo ngapain? Biar gue aja yang nyetir, gue akan anter lu kemana saja lu pergi..."


"Tapi kali ini gue lagi pengen nyetirin mobil lu..." jawab Dira sambil merebut kunci mobil Sila.


"Eh... Dir, biar gue aja yang nyetir..."


"Lu nggak percaya sama gue?" tanya Dira sambil menatap tajam ke arah Sila.


"Bukan nggak percaya... tapi..." Tiba-tiba Dira melempar kunci kontak yang sejak tadi sudah berada di tangannya.


" Nggak jadi aja deh kalo lu nggak ngijinin... ini kan mobil lu... gue naik taksi aja deh..." ucap Dira sambil ngeloyor pergi. Sesaat Sila terbengong melihat kepergian Dira, dan setelah sadar Sila pun kemudian berlari mengejar sahabatnya sambil memanggil-manggil nama Dira. Tapi sayang... tubuh Dira terlanjur menghilang masuk ke sebuah taksi yang baru saja menurunkan penumpangnya.


FLASH BACK OFF


"Kita kemana nyonya?" tanya sopir taksi itu.


"Jalan saja dulu, nanti saya kasih tunjuk."


"Siap nyonya..."


Sampai di sebuah pemakaman, Dira turun.


"Bapak bisa tunggu saya sebentar?" Sopir taksi itu mengangguk... "Saya nggak lama kok.,."


"Siap nyonya..."


Dira menyusuri beberapa makam, hingga akhirnya dia sampai ke makam mamanya.


"Assalamu'alaikum ma..." sapa Dira yang kemudian dia duduk di lantai di area pemakaman mamanya. Di sana Dira mengungkapkan semua kegundahan hatinya. Dan tak lama kemudian... setelah dia puas berkeluh-kesah, Dira pun kembali ke taksi yang masih setia menunggunya.


"Kita ke ruko di Jalan Pattimura pak..."


"Siap nyonya..."


Sampai di ruko Agni terkejut dengan penampilan Dira yang sedikit berantakan dengan perutnya yang mulai tidak datar lagi.


"Astaghfirullah... Mbak Dira dari mana? Baju mbak kok kotor kaya gini..." Agni menghampiri bossnya yang terlihat terhuyung ketika keluar dari taksi. Dengan langkah pelan Agni memapah Dira lalu membawanya masuk ke ruko.


"Tolong bantu aku ke kamar ya... kepalaku pusing sekali..." pinta Dira pelan.

__ADS_1


Agni hanya bisa mengangguk, dia tidak berani berkata-kata lebih banyak lagi. Dia juga belum berani bilang jika Sila tadi datang mencarinya.


Sesampainya di kamar, Dira duduk di kursi meja riasnya yang menghadap ke jendela.


"Mbak... apa nggak sebaiknya mbak bersih-bersih dulu? Baju mbak kotor..." Dira mengangguk sambil tersenyum. "Saya bantu?" Agni menawarkan jasanya karena melihat Dira begitu lemas. Dira kembali mengangguk pelan.


"Terimakasih ya..."


"Sama-sama... saya siapin air angetnya dulu ya..." Lagi-lagi hanya anggukan yang di terima Agni sebagai jawaban tawarannya.


"Mbak bersih-bersih dulu,saya siapin makan buat mbak ya?" Untuk kesekian kalinya Dira hanya mengangguk sambil tersenyum.


'Ada apa lagi dengan Mbak Dira ya...? Biasanya dia selalu ceria jika datang ke sini, tapi ini kok diam saja dari tadi... Oya aku kasih tau Mbak Sila sekarang apa ya... kalo Mbak Dira sudah pulang ke sini... Akh tapi aku siapin makan buat Mbak Dira dulu aja deh... kesian, kata Mbak Sila, Mbak Dira kan belum makan...'


Dira keluar dari kamar mandi, tercium aroma khas nasi kebuli menusuk-nusuk hidungnya. Dira pun segera keluar kamar menuju dapur yang menyatu dengan ruang makan.


"Hmm... nasi kebuli ya...?" tanyanya pelan setengah bergumam.


"Iya mbak..."


"Eh tapi kok banyak sekali, emang ada yang ngadain pesta hari ini?"


"Sudah lama kita tidak makan bersama kan mbak..."


"Hmm...iya juga ya. Mumpung toko juga lagi sepi kan... Oke deh... panggil yang lain sekarang, kita makan siang bareng..."


"Siap mbak..."


"Mbak Dira emang sebenernya tanggalnya masih besok tapi besok pasti mbak akan ada acara bersama keluarga. Dan lagi tadi mbak kebetulan datang ke sini, jadi ini kami berikan saja sekarang. Ini kado dari kami berempat... selamat ulang tahun ya mbak...semoga panjang umur dan sehat selalu..."


"Eh... emang ini tanggal berapa?" tanya Dira bingung.


"Kan udah saya bilang, ulang tahun mbak besok tapi kami sengaja ngasih kadonya sekarang..."


"Jangan di liat harganya ya mbak..."


"Eh iya... gue jadi terharu deh, soalnya gue lupa kalo besok gue ulang tahun... terimakasih ya..." ucap Dira.


"Di buka dong mbak... semoga suka ya..."


"Oke, gue buka ya... Masya Allah cantik banget... tapi ini kan mahal... makasih ya..."


"Sama-sama mbak..."


🌹🌹🌹


"Maaf mbak... kami sudah mau pulang, apa Mbak Dira nggak pulang?" tanya Agni ketika jam sudah menunjukkan pukul lima sore.


"Mbak masih mau di sini... kalian pulanglah..."

__ADS_1


"Tapi apa Hara tidak akan mencari Mbak Dira nantinya?"


"Pulanglah kalian... biar Dira sama gue..."


"Oh Mbak Sila... kalo gitu kami pamit..." Sila menganggukkan kepalanya.


Sila mengikuti Dira masuk ke dalam ruko, setelah semua karyawan Dira pulang.


"Tadi gue ke sini, tapi lu nggak ada... Dari mana lu?"


"Makam mama..." jawab Dira sambil duduk di sofa kamar tidurnya sambil mengelus-elus perutnya yang mulai terlihat buncit.


"Kenapa sih lu masih main kabur-kaburan aja... apa lu nggak mikirin Hara? Bocah itu pasti akan ribut nyariin kamu sekarang..."


"Hati gue sakit Sil... gue belum mau ketemu Mas Hans dulu... Mau sampai kapan gue akan terus dibohongi sama Mas Hans? Kenapa Mas Hans tidak bilang aja jika dia sudah tidak menginginkan gue sebagai istrinya lagi..."


"Hush ngaco... Kak Hans itu cinta mati sama elu... lu harus percaya itu."


"Gue capek Sil... Kalo memang dia cinta mati sama gue, dia nggak mungkin pergi sama mantannya jalan-jalan, sementara selalu saja ada alasan jika gue yang ngajak dia jalan-jalan. Kejadian di mall tadi lu liat sendiri kan? Apa kelakuannya itu mencerminkan kelakuan seorang suami yang cinta mati sama istrinya?" Dira memijit-mijit dahinya. "Astaghfirullah... apalagi dia melakukan itu di saat gue sedang mengandung anak keduanya. Gue... gue... gue bener-bener capek Sil... hiks hiks hiks..." Air mata Dira akhirnya jatuh juga, setelah setengah mati dia menahannya. Tangisnya semakin menjadi ketika Sila menghampirinya dan memeluk tubuhnya.


"Sakit hati gue Sil... Sakit sekali..."


"Gue tau... tapi apa tidak sebaiknya kita tanya dulu dengan Kak Hans, agar kita tau kejadian yang sebenarnya, sebab gue nggak yakin kalo Kak Hans tega khianatin lu..." ucap Sila tapi tidak ada respon dari Dira. Tiba-tiba Sila sadar jika tangis Dira pun sudah terhenti dan tubuh Dira semakin terasa berat menempel ditubuhnya. Sila bermaksud melepaskan pelukannya tapi ternyata Dira sudah dalam keadaan pingsan dengan telapak tangannya menempel pada dada kirinya. Sila jadi ketakutan, dia takut Dira terkena serangan jantung.


Sila pun perlahan berusaha membaringkan tubuh Dira di sofa, kemudian dia segera menghubungi Hans dan Alex yang kebetulan sedang dalam satu mobil dan dalam perjalanan pulang menuju rumah Hans. Setelah menerima telpon dari Sila, Alex segera mengalihkan tujuannya ke Jalan Pattimura tempat ruko Dira berada.


"Ya Allah Dira, kita bawa ke rumah sakit sekarang..." Hans langsung membopong tubuh istrinya kemudian masuk ke mobilnya, diikuti oleh Alex dan Sila.


"Apa yang telah terjadi Sil?" tanya Hans begitu mobil melaju menuju rumah sakit.


Sila pun menjelaskan semuanya mulai dari kejadian di mall tadi pagi hingga tiba-tiba Dira pingsan dalam pelukannya. Hans membuang nafas kasar.


"Astaghfirullah haladziim... kenapa selalu begini Dira? Kenapa kamu tidak mau tanya langsung kepadaku?"


"So Sebenarnya apa yang terjadi antara kakak dan Jessica di mall tadi?" tanya Sila penuh selidik.


Hans pun kemudian menceritakan hal yang sebenarnya terjadi bahwa dia tidak sengaja bertemu Jessica dan Rico calon suaminya ketika dia akan mencarikan kado buat ulang tahun Dira. Sila pun mengangguk paham, teryata apa yang dia katakan kepada Dira benar adanya, bahwa Hans tidak mungkin mengkhianati Dira sahabatnya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2