
Kalau semua orang mau jujur...di dunia ini, tidak akan ada seorang wanita pun yang rela berbagi suami dengan wanita lain. Jangankan berbagi suami, melihat suaminya akrab dengan wanita lain saja rasanya sudah tidak terima, apalagi jika akrab dengan mantan pacar. Begitupun juga dengan apa yang tengah dirasakan oleh Dira kini, rasanya sakit banget melihat suaminya akrab kembali dengan Jessica. Tapi apa daya... karena pada kasus Dira, justru Dira sendiri lah yang membawa sang mantan pacar suaminya masuk ke dalam ranah rumah tangganya.
Setelah kejadian semalam Dira melihat perubahan yang terjadi pada diri suaminya. Hans memang jadi lebih perhatian kepadanya, tapi anehnya dia juga mulai melunak pada Jessica. Seperti pagi itu, ketika Hans masih mengutak-atik laptopnya di ruang kerjanya setelah sarapan. Jessica sengaja meletakkan secangkir teh hangat di meja kerja Hans tanpa suara.
"Terimakasih sayang..." ucap Hans sambil meminum teh itu tanpa mengalihkan pandangannya kearah orang yang masih menunggu di sampingnya.
"Enak...?" tanya Jessica dengan nada berbisik menggoda.
"En...nak..." ucap Hans sambil menoleh karena dia merasa yang menjawab bukan suara istrinya. "Lho kok kamu... Dira mana?" tanya Hans.
"Kan lagi ngurusin Hara yang mau berangkat sekolah... benar-benar ibu teladan ya dia, pantas kamu bisa jatuh cinta sama dia..." ucap Jessica dengan senyuman sinisnya. Pagi itu Jessica terlihat berdandan Go all out... mengenakan dress selutut dengan lengan tiga per empat dan krah berbentuk V yang agak rendah, sehingga memperlihatkan sedikit belahan dadanya. Jessica sengaja memilih dress warna coklat, karena warna itu warna favorit Hans. Kulitnya yang putih mulus, membuat Jessica terlihat begitu cantik dan bersinar. Tapi biarpun Jessica begitu, sejak tadi Hans tetap tidak melirik penampilan Jessica.
"Tapi sebenarnya aku agak ragu... kamu ini benar-benar cinta sama dia, atau hanya pelarian saja? Soalnya aku liat, kamu ini semenjak menikah kok menjadi orang yang munafik..." ucap Jessica sambil berdiri di hadapan Hans. Hans menghentikan aktifitasnya sesaat lalu menatap Jessica dengan tatapan membunuh.
"Maksud kamu apa bicara begitu?"
"Yaa... kamu sendiri yang tau Hans... contoh simpel aja... soal minuman. Kamu bilang kamu sudah tidak suka teh racikanku karena menurutmu teh bikinan Dira lebih enak daripada teh buatanku. Tapi pagi ini, semua terbantahkan sudah. Kamu masih menyukai teh racikanku seperti dulu, dan apa yang kamu katakan kalo seleramu sudah berubah adalah bohong semata. Kamu hanya ingin menyenangkan hati istrimu saja kan? Padahal di hatimu masih ada aku..." tuduh Jessica.
"Kamu tadi sarapan apa sih? Pagi-pagi udah ngomong ngaco, apa sebenarnya maksudmu mengatakan itu semua? Lebih baik kamu pergi sana... Lagi pula emangnya kamu nggak ngurusin anakmu? Erik kan juga harus sekolah..."
"Erik mah nggak manja kayak Hara...dia bisa apa-apa sendiri, kalo kurang-kurang dikit kan ada Dira..." jawab Jessica enteng.
"Jangan kurang ajat ya... kamu pikir istriku pembantu?! Perlu kamu camkan dalam otakmu...Dira adalah nyonya rumah di rumah ini. Jangan sekali-kali kamu berani merendahkan Dira, atau memposisikan dirimu lebih tinggi dari Dira, jika kamu tidak ingin aku suruh angkat kaki dari rumahku ini...." bentak Hans emosi.
"Wow wow... santai boss... jangan marah-marah lah... nanti kamu cepat tua lho...he he he..." Jessica terkekeh sendiri melihat ekspresi wajah Hans. "O ya Hans, gimana menurut lu penampilan aku hari ini. Liat dress ini, kamu masih inget kan? Ini dress yang kamu beliin waktu kita di Malaysia dulu. Aku nggak nyangka masih muat...aku pikir setelah hamil Erik nggak akan muat lagi...he he he..." Hans menutup laptopnya lalu melihat ke arah Jessica. Dan sadar Hans mengamati tubuhnya eh dressnya... Jessica kemudian melenggak-lenggokkan tubuhnya bak pragawati.
'Benar, dress itu memang dress yang pernah aku belikan untuknya dulu dan memang masih apik ditubuhnya. Tapi seapik apapun tubuhnya tetap tidak seapik tubuh istriku, karena bagiku tubuh Dira adalah tubuh wanita yang paling sempurna...' gumam Hans dalam hati.
"Hei... kenapa bengong? Kamu lagi mengenang masa lalu kita ya... Aku masih cantik kan pake dress ini? Warna dress ini warna favoritmu kan? Makanya aku pake hari ini, soalnya kita kan mau pergi bareng. Serasa kembali ke beberapa tahun yang lalu... saat kita masih bersama...he he he..."
"Jaga omonganmu... aku nggak ingin istriku mendengar dan menjadi salah faham karena mendengar ucapanmu itu..."
"Lho emang kita akan pergi bersama kan?"
'Tok tok tok...' terdengar suara ketukan di pintu yang sejak tadi terbuka.
"Mas..." panggil Dira.
"Iya sayang... masuklah..."
"Anak-anak sudah siap dan ini teh ma...s" Dira melirik sebuah cangkir teh yang masih ada isinya setengah.
"Hans sudah aku bikinin teh tadi..."
__ADS_1
"Ooh..." gumam Dira lirih dan terlihat kecewa.
"Akh sayang...sini tehnya biar mas minum... Mas haus..."
"Tapi..." ucapan Dira menggantung, netranya terlihat fokus pada cangkir yang ada di meja kerja Hans.
"Teh itu tidak enak... makanya sama mas nggak dihabisin..."
"Hei Hans... kamu bilang tadi teh buatanku enak kan? Itu teh kesukaanmu dari dulu."
"Diam kamu..."
"Cukup mas, Dira bukan anak kecil yang bisa mas bohongi... Mas tidak perlu meminum teh buatan Dira kalau hanya untuk menyenangkan hati Dira..." Dira meletakkan cangkir teh yang hampir jatuh di nakas yang ada di ruang kerja suaminya, karena tangan kirinya menekan dada kirinya yang terasa nyeri tiba-tiba. Dira menyandarkan tubuhnya pada dinding dan Hans pun langsung mendekati istrinya, dia begitu cemas melihat keadaan istrinya tapi tangan Dira memberi aba-aba padanya untuk tidak mendekatinya. "Stop...mas di situ saja, Dira tidak apa-apa... Bersiaplah pergi, takut nanti anak-anak terlambat sekolah..."
Hans tidak memperdulikan omongan Dira lagi, tangannya begitu cepat mengangkat tubuh Dira yang akhirnya pingsan dalam gendongannya.
"Kamu harus kuat sayang... hiks hiks hiks... maafkan mas ya..." Hans menangis melihat kondisi istrinya lalu membaringkan Dira di tempat tidur yang ada di ruang kerjanya. Dia sengaja tidak membawa Dira ke kamar mereka karena takut Hara tau kondisi mamanya.
"Assalamu'alaikum...Dira...?! Apa yang terjadi kak?" teriak Sila yang langsung nyelonong ke ruang kerja Hans setelah diberi tahu Bi Asih, jika Dira sedang berada di ruang kerja suaminya. "Dira kenapa kak...hiks hiks hiks...?" Sila bertanya kepada Hans sambil menangis melihat keadaan sahabatnya itu.
"Wa'alaikumsalam... Dira tiba-tiba pingsan Sil... Oya.. tolong panggil dokter Harun, kontaknya ada di meja kerjaku, dekat telpon... Setelah itu tolong antar anak-anak sekolah, jangan sampai Hara tau mamanya sakit..."
"Eh iya kak..."
"Terserah... tapi awas jangan ngomong macam-macam sama Hara..."
"Aku tau..." jawab Jessica yang langsung menghampiri Hara dan Erik di kamar Hara.
Tak berapa lama kemudian dokter Harun sudah sampai di kediaman keluarga Hans.
"Bagaimana dengan istriku dok?" tanya Hans tidak sabar.
"Alhamdulillah tidak begitu membahayakan, tapi jika serangan seperti ini sering datang,akan menjadi membahayakan keselamatan Dira..." jelas dokter Harun.
"Apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya?"
"Penyebabnya adalah adanya rasa cemas dan tertekan yang berlebihan pada pikirannya. Dan sepertinya asupan gizinya pun kurang. Aku heran, seorang CEO sukses macam kamu, istrinya bisa kekurangan gizi... Sesibuk apapun perhatikan kesehatanmu dan keluargamu dong... Apalagi istrimu yang mempunyai riwayat penyakit jantung bawaan, kamu harus menyisihkan waktumu untuknya lebih banyak lagi. Jangan selalu kamu bikin dia khawatir dan tertekan. Ajak dia liburan Hans..."
"Iya dok, akhir-akhir ini aku sedikit mengabaikannya... Terimakasih ya dok..."
"Iya... sama-sama... ingat pesanku ya Hans? Ajak istrimu liburan, dia butuh refreshing... Aku pamit dulu... Assalamu'alaikum..."
"Sekali lagi terimakasih, InsyaAllah aku akan pertimbangkan saran dokter... Wa'alaikumsalam..."
__ADS_1
"Hei lu mau kemana? Istirahat dulu..." teriak Sila mengingat Dira yang keluar dari ruang kerja suaminya.
"Hara...mana Hara...? Mana Hara Sil...?"
"Ada apa ini kok ribut-ribut...? Sayang, kenapa turun dari tempat tidur?" tanya Hans sambil merangkul istrinya.
"Hara mana mas? Dia bisa telat ke sekolah...ini sudah jam berapa?" ucap Dira balik bertanya dengan keadaan kacau dan berusaha melepaskan rangkulan suaminya.
"Aku sudah mengantar Hara dan Erik ke sekolah... Hans yang menyuruhku..." ucap Jessica seperti sedang memanas-manasi Dira.
"Oh... terimakasih..." Dira memperhatikan penampilan Jessica yang terlihat lebih cantik dari biasanya. "Mas akan pergi dengan Kak Jessica kan...? Pergilah..." ucap Dira lirih.
"Aku tidak akan pergi, aku akan menungguimu di sini..."
"Tapi Hans... bukankah kamu sudah janji..." Ucapan Jessica belum lagi selesai tapi Dira sudah memotongnya.
"Pergilah mas... aku ada Sila dan Bi Asih. Kasihan Kak Jessica sudah berdandan begitu cantik untuk pergi denganmu..." Dira kembali memegang dada kirinya seperti sedang menahan sakit.
"Apa maksudmu? Sayang kepergianku dengan Jessica ini menyangkut kasusnya dengan Rico... bukan pergi untuk yang lain..."
"Pergilah..." Dira mendorong tubuh suaminya... "Selesaikan semua yang harus mas selesaikan bersama dia..."
"Sayang..." Dira menggelengkan kepalanya pelan.
"Oke mas akan pergi sekarang, kamu istirahat dengan baik di rumah. Mas secepatnya akan kembali... jangan berfikir macam-macam ya...?" Dira diam tanpa ekspresi tapi ketika Hans ingin menciumnya dengan refleks Dira memalingkan wajahnya.
"Kak Jessica sudah menunggu mas..." Hans tampak mendengus kesal,lalu pergi meninggalkan istrinya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1