Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Jessica Terjebak


__ADS_3

Sementara di rumah Hans


"Sil, kita ke pantai yuk..." ajak Dira


"Mabuk lu...bisa di penggal pala gue sama Kak Hans, berani ngajak lu pergi..." jawab Sila sambil meletakkan ponselnya di meja.


"Apa hubungannya sama dia?"


"Apa hubungannya lu kata? Dia suami lu dan lu sekarang sedang sakit, jelas dia pasti khawatir kalo gue ngajak lu pergi..."


"Yang ngajak pergi hue bukan lu..." Dira pun langsung berdiri dari duduknya... "Lu nggak kasian ma gue? Gue butuh hiburan Sil...ayolah...kita ke Ancol aja... keluarga Mas Hans kan punya cottage di sana..."


"Tapi..." Sila terlihat masih mikir-mikir, sebab sebenarnya dia memang pingin pergi ke pantai tapi dia kan udah janji sama Hans buat nemenin Dira di rumah.


"Ayolah Sil...please..." rengek Dira.


"Hara dan Erik gimana?" alasan Sila.


"Hara dan Erik biar nanti sama Bi Asih saja. Lagi pula kalo nggak salah, hari ini ada les sempoa, jadi mereka pulangnya sore... Nanti kalau mereka rewel biar Bi Asih nyusul ke sana minta anter Mas Jono, toh masih di Jakarta ini... cuma dekat kan non..." ucap Bi Asih ikutan nimbrung. Merasa di bela, Dira pun langsung mengacungkan jempol ke arah Bi Asih.


"Kalau Kak Hans marah gimana bi?"


"Nanti biar Bi Asih yang bilang sama tuan... Tolonglah non... temani Neng Dira ke pantai ya..." Bi Asih pun ikut membantu Dira membujuk Sila. Sila masih terlihat mikir-mikir, sementara Dira sudah melangkah menuju kamarnya untuk siap-siap. Tak lupa dia menyematkan ciuman di pipi Bi Asih.


"Terimakasih bi... 'cup' Bi Asih memang paling the best..."


"Eh lu mo kemana?"


"Ganti baju...kita kan mo ke pantai..." sahut Dira.


"Astaghfirullah... tapi..."


"Nggak ada tapi-tapian... lu tadi kan diem aja, itu berarti iya...he he he..." Dira setengah berlari dan sambil bersenandung melangkah menuju kamarnya.


"Bi Asih janji ya... tar Bi Asih bantuin ngomong ke Kak Hans..."


"Iya...tenang aja non... pokoknya semua beres. Lagian melihat Neng Dira sebahagia itu, apa Non Sila tega bilang 'tidak'? Walaupun sebenarnya Bi Asih kurang yakin jika saat ini Neng Dira itu benar-benar sedang bahagia..." ucap Bi Asih melemah sedih.


"Saya tau perasaan Bi Asih... pasti terasa sangat berat melihat masalah-masalah yang kini sedang dihadapi Dira, secara Bi Asih telah merawat Dira sejak kecil. Dira itu terlalu baik bi, hingga terkadang kebaikannya dimanfaatin oleh orang lain..."


"Tara... aku udah siap... ni baju buat lu..." ucap Dira sambil memberikan paper bag kepada Sila.


"Gue juga harus ganti baju?"

__ADS_1


"Emm-emm..." Dira mengangguk... "Pokoknya hari ini gue mau hepi-hepi... gue mau seharian sama elu. Elu mau kan temenin gue?"


"Mau dong..."


"Kalo gitu buruan ganti baju..."


"Hadeehh... lagian kapan sih lu sempetin beli baju couple kaya gini?"


"Udah deh jangan brisik... cepetan gantiiii...."


"Iye-iye..." Sila pun kemudian mengganti baju di kamar tidur tamu yang berada di bawah.


"Wuih... keren juga bajunya..."


"Siapa dulu yang pilih... nih topinya..."


"Busyet lengkap amat... kayak mo pemotretan aja..."


"Brisik..." ucap Dira..."Bi...Dira pergi dulu... nitip Hara ya..."


"Iya... walah Neng Dira keliatan kayak masih gadis... nggak kelihatan kalo udah punya anak...he he he..." ucap Bi Asih terkekeh sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


"Ih Bi Asih ngaco..." sahut Dira tersipu oleh pujian Bi Asih.



🌹🌹🌹


Sementara Jessica merasa kaget bukan kepalang ketika memasuki ruang VVIP di cafe itu. Karena sejak awal dia berfikir bahwa hari ini dia akan menghabiskan waktu hanya berdua saja dengan Hans. Dia pun sudah berdandan habis-habisan demi untuk pergi berdua bersama Hans. Tidak di sangka, di dalam ruangan itu sudah berkumpul Alex, Rico, Reno, Pak Boy dan Pak Handoyo.


"Apa ini? Apa maksud dari semua ini Hans? Kalian mau mengeroyokku?" tanya Jessica sedikit cemas. Dia takut jika kehadiran Rico dan Reno akan menghakimi dia atas uang yang telah dia ambil dengan memalsukan tanda tangan Tuan Hendrik suaminya. Dia juga takut dimintai pertanggungjawaban atas habisnya tabungan suaminya selama tinggal di Malaysia.


"Duduklah dulu... bukankah kamu ingin menyelesaikan masalahmu kan? Di tambah lagi Dira sudah memintaku untuk membantumu dan aku pun sudah mengiyakan permintaan Dira. Jadi sebagai seorang suami yang baik aku harus bisa mempertanggungjawabkan janjiku untuk membantumu kepada Dira.." Jessica mendengus kesal tapi akhirnya dia mau juga mendudukkan pantatnya pada kursi sofa yang ada di ruangan itu.


'Dasar Hans br*******k... bisa-bisanya dia menjebak gue dengan mengundang Rico dan Reno, tapi gue nggak percaya kalo ini adalah rancangan Hans. Gue yakin, ini semua pasti rencana licik yang diprakarsai oleh Alex. Ya... pasti dia karena gue tau betul jika Alex adalah orang yang selama ini paling tidak suka jika Hans dan Dira membantuku. Dia juga pernah secara terang-terangan bilang jika dia tidak suka aku berlama-lama tinggal di rumah Hans..." gerutu Jessica dalam hati.


"Oke kalo begitu Rico... Reno... karena tugasku untuk mempertemukan kalian sudah selesai, maka sekarang kelanjutan dari penyelesaian masalah ini aku serahkan pada kalian. Karena sebenarnya ini adalah masalah keluarga kalian dan aku tidak bisa masuk ke dalamnya..." ucap Hans sambil berdiri untuk pergi.


"Siap tuan... terimakasih atas bantuannya..." jawab Rico dengan sopan.


"Eh Hans... maksudnya apa ini... kamu mau pergi kemana? Kamu mau ninggalin aku sendiri?" tanya Jessica gusar sambil memegang erat tangan Hans dan dengan cepat Hans pun segera melepaskannya.


"Kamu tidak sendiri...ada Rico,Reno, Pak Boy dan Pak Handoyo... merekalah yang berkompeten dalam menyelesaikan masalahmu..." jawab Hans datar.

__ADS_1


"Tapi aku mau kamu juga ada di sini..." rengek Jessica yang membuat Hans dan Alex jijik melihatnya.


"Hei... lu pikir, pekerjaan Hans hanya ngurusin elu doang? Hans punya perusahaan... Hans juga punya keluarga yang lebih penting dari pada mengurusi urusan elu...." sahut Alex ketus.


"Gue nggak ada urusan sama elu, so nggak usah ikut-ikutan komen deh..." ucap Jessica nggak kalah ketus. Alex memelototkan netranya kepada Jessica demi mendengar ucapan Jessica.


"Sudahlah Jess... jangan bertengkar..." lerai Hans. "Dengar baik-baik olehmu Jessi...aku sebenarnya dari awal tidak ingin turun langsung membantumu demi menjaga perasaan Dira istriku. Tapi ketika Pak Handoyo dan Alex melaporkan tingkahmu yang sulit di ajak kerjasama, maka aku terpaksa menanganimu sendiri agar masalahmu cepat selesai dan kamu juga cepat meninggalkan rumahku..."


"Maksudmu... kamu ingin segera mengusirku dari rumahmu?" tanya Jessica heran.


'Sial... kenapa Hans tiba-tiba berubah sikapnya? Bukankah beberapa hari ini Hans sudah mulai bersikap manis sama gue? Apalagi ketika gue dengan sengaja memakai dress yang dia belikan, dia terlihat begitu terpesona. Tapi kenapa sekarang begini sikapnya terhadap gue? Sia-sia gue dandan cantik habis-habisan, ternyata semua sikap manis Hans adalah jebakan buat gue agar gue mau bertemu dengan Rico dan Reno untuk menyelesaikan masalah gue secara kekeluargaan seperti saran Pak Handoyo kemarin...huuh..." gerutu Jessica dalam hati.


"Bukan bermaksud mengusir tapi kehadiranmu di rumah kami ternyata telah membuat anak dan istriku merasa tidak nyaman. Apalagi kejadian beberapa hari yang lalu yang membuat anak dan istriku menangis. Jadi sebagai seorang suami dan ayah yang baik, aku harus bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi orang-orang yang aku sayangi... "


"Tapi Hans... apa kamu lupa, jika Dira sendiri lah yang ingin membantuku dan menawarkan aku untuk tinggal di rumahmu?"


"Oh tentu saja aku tidak lupa, apa yang dilakukan oleh Dira itu karena dia adalah orang yang terlalu baik kepada siapapun. Tapi sayangnya kamu tidak bisa menghargai kebaikan istriku... kamu justru menyalahgunakan kebaikannya. Kamu memang tidak berubah Jessi...selamanya mungkin kamu tidak akan pernah bisa berubah. Sepertinya aku dan Dira hanya bisa sampai di sini saja membantumu, selebihnya selesaikanlah sendiri. Pak Handoyo, dampingi Jessica sampai urusannya selesai..." titah Hans.


"Siap tuan..." jawab Pak Handoyo


"Oke karena aku rasa semuanya sudah selesai,maka... Rico... Reno... aku pamit dulu... Selamat siang..."


"Selamat siang tuan... sekali lagi terimakasih..."


"Sama-sama..." Hans pun segera meninggalkan ruangan itu tanpa memperdulikan Jessica lagi diikuti oleh Alex, sementara Jessica pun terduduk lemas di sofa.


'Apa sebenarnya kelebihan Dira dibandingkan gue Hans... kenapa lu begitu mencintainya hingga begitu sulit digoyahkan...' gumam Jessica dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2