Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Penyesalan Hans


__ADS_3

Hans sekarang menjadi lebih pendiam, dia hanya akan bicara saat rapat ataupun saat-saat penting saja. Sementara senyum yang selalu terlukis di bibirnya begitu masuk kantornya pun telah sirna. Keramahan Hans yang membuat dia dinobatkan sebagai CEO teladan oleh karyawan-karyawannya, yang selalu menjadi trending topik di kalangan para karyawannya pun telah hilang. Penampilannya pun sekarang jauh lebih memperhatikan, badan kekarnya dulu kini terlihat lebih kurus dengan wajah yang juga lebih tirus. Tapi walaupun begitu dia berpakaian rapi di setiap kesempatan, sehingga karisma ketampanannya masih tetap terjaga. Hans sekarang juga terkesan lebih emosional dan mudah sekali marah... hingga kadang-kadang membuat Alex yang sampai detik ini masih setia menjadi asistennya pun kelabakan dengan tingkah laku Hans. Seperti waktu dia mengetahui persengkokolan teman-teman dan juga sekertarinya dengan Jessica.


"Maafkan saya pak,saya tidak bermaksud bersengkokol dengan Bu Jessica hingga membuat Bu Dira meninggalkan bapak..."


"Tapi dengan kamu bercerita tentang istri saya kepada Vera sama saja dengan membocorkan rahasia perusahaan. Kamu tau kan, jika pernikahan saya masih dirahasiakan tapi kenapa kamu malah mengumbar cerita pada orang lain? Saya sudah tidak bisa mentolerir lagi karena sekarang saya anggap kamu sudah tidak bisa di percaya lagi. Jadi habis dari ruangan saya, silahkan kamu pergi ke ruang HRD untuk mengambil uang pesangonmu..." teriak Hans penuh amarah.


"Jadi saya di pecat pak?" tanya Desi hati-hati karena takut melihat kemarahan Hans.


"Menurutmu... masih bisakah saya memperkerjakan seorang karyawan, yang sudah tidak bisa di percaya dan telah mengkhianati saya haah? Cepat pergi dari hadapan saya dan cepat selesaikan semua urusanmu dengan perusahaan ini di ruang HRD sekarang juga..."


Desi keluar dari ruangan Hans kemudian mengemasi semua barang-barangnya sambil menangis. Dalam hati, tak henti-hentinya dia menyesali perbuatannya. Hanya karna dia tidak bisa menjaga privasi bossnya, kini dia menjadi seorang pengangguran. Hampir lima tahun dia bekerja dengan Hans.


Tapi Hans memang benar-benar murka,tidak hanya Desi yang kena imbas dari insiden kepergian Dira tapi semua yang dianggap bersengkokol dengan Jessica pun terkena amukannya. Demikian pula dengan Sarah dan Anya... kerjasama yang bernilai milyaran rupiah antara perusahaan Hans dengan perusahaan mereka pun telah dibatalkannya, Hans tidak peduli walaupun dia harus menanggung kerugian yang tidak sedikit. Baginya, mengetahui dan dengan sengaja membiarkan Jessica melakukan hsl jahat kepada dirinya dan istrinya, hingga membuat istrinya meninggalkan dirinya adalah perbuatan yang tidak bisa ditolerir lagi. Rasa amarah yang begitu besar atas perbuatan mereka tersebut membuat Hans tidak memikirkan kerugian yang dialami oleh perusahaannya lagi.


"Gila lu Hans... kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan Sarah dan Anya itu bernilai milyaran rupiah... Kenapa lu batalin gitu aja... kita kan jadi merugi banyak... Emang sih,lu boss nya, tapi...akh, gue sampe bingung mo ngomong apa... Terus...itu, kenapa juga lu pecat Desi? Bukankah selama ini dia kerjanya selalu baik dan dia juga selalu setia sama lu kan? Lu inget nggak...lu aja dulu pernah bilang jika akan susah mencari sekertaris sehandal Desi, datang selalu on time, semua pekerjaan yang dibebankan padanya juga selalu beres tepat waktu... tapi kenapa sekarang, hanya karna kesalahan kecil lu begitu mudah memecatnya? Hadeehh Hans...Hans...gue nggak habis pikir deh sama kelakuan lu sekarang..." omel Alex panjang lebar.


"Udah selesai?" tanya Hans. " Harusnya kamu nggak perlu nanya kenapa aku memutuskan hubungan dengan semua orang yang kamu sebutkan tadi. Semua sudah jelas kesalahannya dan kamu juga sudah tau di mana letak kesalahan mereka. Aku tidak peduli aku harus merugi berapa milyar karena bagiku kehilangan Dira tidak pernah bisa dinilai dengan uang. Bahkan aku rela kehilangan semua milikku asal Dira bisa kembali lagi padaku. Masalah Desi...aku yakin ada ribuan Desi di luar sana yang butuh pekerjaan, jadi bukan Desi satu-satunya orang yang bisa jadi sekertaris yang baik. Kita pasti akan mendapatkan pengganti Desi dan mungkin akan lebih baik dari Desi..."


"Masalahnya selama kita belum mendapatkan pengganti Desi, siapa yang akan menghandle pekerjaannya?" tanya Alex dengan nada kesal.


"Kan ada kamu..." jawab Hans enteng.


"Enak aja ya lu ngomong... emang gue pengangguran? Ngurusin semua pekerjaanmu aja gue udah pusing, apalagi harus ngehandle pekerjaan Desi sebagai sekertaris...?" protes Alex.


"Halah cuma sementara ini... jangan kuatir, selama kerjaan Desi lu handle, gaji Desi pun buatmu..." jelas Hans pada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Huuh...lu mah nambah-nambain kerjaan gue aja deh...Lagian sebenarnya kepergian Dira itu semata-mata bukan salah mereka sepenuhnya juga, ada andil sifat keras kepala lu juga... Dari awal gue kan sudah bilang jika Dira tidak akan mungkin melakukan hal-hal yang melanggar norma hukum agama tapi lu nya nggak mau percaya. Dan gue juga pernah bilang waktu itu, jika lu masih bersikeras seperti itu maka jangan pernah menyesal jika suatu saat lu akan kehilangan dia....inget nggak?" Hans mengangguk pelan. "So... sekarang apa yang pernah gue bilang ke elu jadi kenyataan kan?" ucap Alex dan Hans pun kembali mengangguk. "Stop nyalahin orang lain Hans, perlu lu inget jika lu juga salah karna lu nggak percaya sama istri lu sendiri. Dan orang-orang yang lu tuduh selama ini semua tidak ada hubungannya dengan Dira. Damar yang masih setia sama Angel dan Aditya yang sebentar lagi akan menjadi adik ipar gue..."


Hans diam tertunduk mendengar semua penuturan Alex. Di dalam hatinya sejuta kata penyesalan tidak pernah berhenti dia ucapkan.


"Yah,aku tau aku memang telah melakukan satu kesalahan besar dalam hidupku. Kamu benar, seandainya waktu itu aku tidak dengan mudah termakan oleh hasutan Jessica...mungkin semua tidak akan terjadi. Lex, hubungi bagian HRD... suruh batalin pesangon Desi...dia tidak jadi di pecat..." ucap Hans. Alex pun tersenyum penuh kemenangan.


"Soal proyek kerjasama kita di Malaysia dengan Sarah dan Anya gimana? Ini berhubungan dengan nama baik bangsa lho... soalnya kan proyek itu ada di negeri tetangga..." bujuk Alex.


"Hmm...betul juga...kalo gitu batalkan pembatalan kerjasama kemarin. Lanjutkan proyek itu dan cari orang yang bisa di percaya untuk mengawasi pelaksanaan proyek itu. Aku tidak mau ke sana lagi dan setelah proyek ini selesai, hapus nama Sarah dan Anya dalam daftar kerjasama, kedepannya kita cari partner kerja dari perusahaan lain saja..."


"Oke.... siap boss..." ucap Alex yang langsung meninggalkan ruang kerja Hans.


Hans masih membuang pandangannya ke luar jendela ruang kerjanya, netranya memandang jauh entah kemana.


"Dira... kamu dimana..." bisiknya.


Bi Asih sedang memasak di dapur, sementara Dira sedang duduk di kursi malas yang terbuat dari rotan, sehabis membersihkan diri. Dia terlihat begitu kelelahan di usia kandungannya yang sudah memasuki sembilan bulan, padahal pagi ini Dira hanya berjalan di sekitar halaman rumah Bi Asih saja. Mungkin karena capek, atau mungkin karena udara pagi di rumah Bi Asih memang terasa sejuk hingga membuat Dira tertidur di atas kursi malasnya.


Bi Asih yang hendak mengajak Dira sarapan pun tersenyum melihat Dira tertidur di sana, perlahan wanita yang mulai renta itu mendekat kemudian membelai rambut Dira.


"Neng Dira sudah besar...dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu... Padahal sepertinya baru kemarin aku menimangnya,akh waktu memang berjalan begitu cepat. Kasian kamu cantik... semenjak di tinggal mamamu,hidupmu tidak pernah bahagia..." gumam Bi Asih. Tapi tiba-tiba Dira nampak gelisah dalam tidurnya.


"Neng...neng... bangun...bangun..." panggil Bi Asih bingung.


"Jangan... jangan... jangan ambil anakku...kamu jahat...kamu sudah ambil suamiku... jangan ambil anakku...aaahh... tolong..." teriak Dira dengan mata yang masih terpejam.

__ADS_1


"Istighfar neng...istighfar... Astaghfirullah haladziim... Astaghfirullah haladziim..." ucap Bi Asih yang mulai ketakutan. Untung tanpa di duga, dokter Haris datang berkunjung.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam... Alhamdulillah ada dokter Haris datang... tolong Neng Nitha..."


Belum lagi mereka berjalan masuk, keduanya dikejutkan oleh teriakan Dira dari dalam rumah.


"Mama...Bi Asih... tolong..." teriaknya.


Bergegas keduanya menyambangi Dira yang sudah terbangun dan terkejut melihat darah segar mengalir di pahanya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Lanjut


__ADS_2