
Siang terasa begitu teriknya,Hans dengan setianya menunggu Hanna keluar dari sekolahnya. Sementara Hanna sejak tadi melirik jam tangan Aigner classic peninggalan mamanya lalu melihat keluar lewat jendela sekolah.
Jika menurut jadwal,seharusnya saat ini kelas Hanna sudah pulang tapi karna ada beberapa temannya yang melanggar peraturan sekolah,jadi semua teman sekelas termasuk dirinya di hukum atas kesalahan beberapa temannya itu.
Hans mengamati setiap anak yang keluar dari sekolahan Hanna,tapi batang hidung adiknya itu belum juga terlihat sejak setengah jam yang lalu.
Setelah sejam menunggu dan siswa siswi sekolah itu pun belum sudah tidak ada yang keluar lagi karna semuanya memang sudah pulang,Hanna keluar dengan langkah gontai dan wajah yang kusut seperti orang yang kelelahan.
"Lho...kamu kenapa? Kamu nggak papa kan?" tanya Hans mengkhawatirkan penampilan adiknya.
"Capeeek...hiks hiks hiks..." ucap Hanna sambil menangis karna kesal.
"Lho emangnya kamu habis ngapain? Kakak udah sejam lebih nunggu kamu di sini lho... Ni minum dulu lalu cerita ke kakak sambil jalan ya..."
Hanna mengangguk lalu meminum minuman botol yang diberikan oleh kakaknya. Sedetik kemudian Hanna pun mulai menceritakan kejadian disekolahannya tadi sambil meluapkan rasa jengkelnya.
"Ooo gitu...ha ha ha...kasian amat ya yang nggak ikut ngelakuin kesalahan...jadi ikut kena getahnya. Terus karna kamu capek,ini mau pulang apa tetap mau ke tempat Kak Dira?"
"Tetep ke tempat Kak Dira lah...kan semalem kakak udah janji,jadi kakak nggak boleh ingkar dong..."
"Kakak nggak ingkar,kakak cuma kasian aja liat kamu yang sepertinya kecapean gitu..."
"Hanna udah nggak papa kok...let's go ke tempat Kak Dira..."
"Udah nggak nangis lagi?" goda Hans pada adiknya...
"Aaaa...Kak Haaaannnsss..."
"Ha ha ha..."
Hans tertawa puas karna berhasil menggoda adik kesayangannya.
🌹🌹🌹
Hans memarkir mobilnya di depan ruko milik Dira,sementara Hanna terbengong-bengong melihat tempat yang di tuju kakaknya.
'Tempat ini...bukankah tempat ini tempat kejadian yang aku ceritakan pada Kak Hans kemaren? Setelah setahun berlalu,tempat ini tidak banyak berubah... Jangan-jangan Kak Dira adalah kakak yang dulu pernah menolongku...' gumam Hanna dalam hati.
"Heeh...kok malah bengong,ayo turun...kita sudah sampai"
Teguran Hans membuyarkan semua lamunan Hanna tentang kejadian setahun yang lalu.
"Eh iya kak...Lho rumah Kak Dira mana? Kok kita malah turun di komplek pertokoan. Kakak mau beli oleh2 dulu? Atauuuu Kak Diranya kerja di daerah sini?"
"Brisik ih...nanti kamu juga bakal tau..."
Dengan langkah panjangnya Hans segera menuju ke ruko Dira,dia seolah tak sabar ingin segera bertemu calon istrinya itu. Sementara Hanna tampak kerepotan mensejajarkan langkahnya dengan langkah kakaknya.
"Assalamu'alaikum Agni..." salam Hans pada Agni yang sedang memeriksa stock bunga di toko Dira.
"Wa'alaikumsalam...eh Kak Hans..."
"Dira?"
"Ada di atas...eh Kak Hans datang sama siapa ni...cantik amat..." ucap Agni kepo.
"Oh...ini adikku,Hanna kenalan dulu sama mbak Agni..."
Mereka pun saling berjabat tangan sambil menyebutkan nama mereka masing-masing.
__ADS_1
"Agni aku dan Hanna naik dulu ya..." jawab Agni mempersilahkan Hans dan Hanna masuk.
"Siap boss...silahkan..."
'Eh busyet...Agni kok main silahkan-silahkan aja,kan di atas lagi ada Mas Adit. Bisa terjadi perang ni... Boss Hans ksn cemburuan.'
"Eh Kak Hans tunggu..."
"Ada apa?" tanya Hans sambil menghentikan langkahnya.
"Emmm...emmm..."
"Ada apa? Kok malah am em am em aja.,."
"Mbak Dira lagi ada tamu..."
"Tamunya cewek apa cowok...?"
'Tuh kan,apa ku bilang...belum apa-apa aja udah gitu nanya nya...'
"Heeh bukannya di jawab kok malah bengong..."
"Emmm cowok kak...namanya Mas Adit...katanya temen kam...."
Belum juga selesai Agni berbicara,Hans setengah berlari masuk ruko meninggalkan adiknya.
"Kaaaak...kok aku di tinggal sih..." gerutu Hanna sambil menghentakkan kakinya.
Melihat Hanna di tinggal,Agni pun lalu memanggil Yani.
"Yan...Yani...tolong lanjutin ngecek barangnya ya...aku mau anter adiknya pak boss masuk dulu... Makasih yaaa..."
"Oke mbak...sama-sama..."
"Ayo mbak anter masuk...Kak Hans itu sekarang cemburuannya tingkat dewa..."
"Iya mbak,Kak Hans memang begitu...tapi waktu sama Kak Jesi dulu kayaknya nggak gini-gini amat dech..."
"Mungkin karna Mbak Dira adalah wanita yang istimewa...Mbak Agni yang sesama wanita aja kagum banget sama Mbak Dira. Wah kalo nanti Hanna jadi adiknya Mbak Dira...pasti deh Hanna bakal tau dan merasakan sendiri,betapa bahagianya punya kakak seperti Mbak Dira..."
Sementara Hans tampak geram melihat Dira dan Adit asik ketawa ketiwi di depan laptop berduaan.
"Wah asik ya berduaan...? Pantes aja di telpon nggak diangkat-angkat..."
Dira dan Adit pun menengok ke arah suara secara bersamaan.
"Eh Mas Hans...kapan datang,kok nggak kedengeran langkahnya..." ucap Dira.
"Eh Pak Hans..." ucap Adit sambil mengangguk hormat.
"Hmm..." jawab Hans dingin.
"Lagi pada ngapain? Ketawa ketiwi berduaan"
"Tadi sih Dira ngerjain skripsi,sampe Adit datang terus ngasih liat foto-foto waktu KKN kemarin..."
"Emang kamu nggak punya dokumentasi pas KKN?"
"Tadinya punya tapi micro SD saya kan rusak,jadi saya minta Adit copy in semua dokumentasi yang Adit punya... Lagian mas ngapain ke sini siang-siang,emang nggak ngantor?" Dira mencoba mengalihkan pembicaraan supaya nggak panjang urusannya. Sementara Adit jadi diam bingung mo ngomong apa.
__ADS_1
"Ponselmu mana?"
"Ada...tadi saya cas di kamar..."
"Ambil dan lihat udah berapa kali aku telepon dan udah berapa chat yang ku kirim yang nggak kamu balas..."
"Aduh maaf deh,ponsel saya tadi baterainya habis sampai 0% terus saya cas dalam keadaan mati...he he he... Sekarang saya ambil dulu ya..."
Dira mengambil dan langsung ngehidupin ponselnya yang baterainya sudah penuh.
'Cengling...cengkling...cengkling...'
Suara notifikasi pesan masuk pun berkali-kali terdengar dari ponsel Dira dan ketika di lihat...30 chat dan 30 panggilan tak terjawab semua dari Hans. Dira melirik ke arah Hans yang menatap tajam padanya.
"He he he..." Dira pun nyengir kuda.
"Berapa kali aku chat kamu? Berapa kali juga aku telpon kamu?"
"30 kali tapi kan bukan salah saya...saya kan nggak sengaja..."
Hans masih melotot jengkel.
"Besok lagi kontrol baterai ponsel jangan suka nunggu habis baru di cas..."
"Iya...tapi jangan marah-marah dong...Mas ini udah tua,kalo marah-marah terus...mau jadi tambah tua?"
"Apa kamu bilang? Aku tua?" ucap Hans sambil memegang dagu Dira.
"Ehemm..." Adit berdehem demi melihat kelakuan Hans,dia seperti tak rela jika Hans sampai kebablasan terus tiba-tiba mencium bibir Dira.
Dira pun langsung mendorong tubuh Hans.
'Sebenarnya ada hubungan apa sih antara Pak Hans dan Dira? Dira sih masih berbicara formal dengan kata 'saya' untuk menunjuk dirinya,tapi panggilan 'mas' menggambarkan hubungan yang begitu dekat. Apa benar gosip yang ku dengar,jika Dira akan menikah dengan Pak Hans? Pak Hans juga seperti cemburu melihat kedekatanku dengan Dira. Aku akan tanya Sila saja...'
"Dit...lu ngapain sih bengong di situ?" tanya Dira.
"Eh kayaknya gue mo balik dulu deh...takut ngeganggu juga..."
"Bukannya dari tadi" gumam Hans yang masih terdengar oleh telinga Adit dan Dira,membuat Dira melirik tajam ke arah Hans yang langsung membuang muka,pura-pura tidak tau.
"Ngaco ngeganggu apaan sih...kita kan juga belum selesai..."
"Lain kali aja deh...gue pulang dulu ya...mari Pak Hans...Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Aditya pun segera turun ke lantai bawah lalu pulang meninggalkan ruko milik Dira.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...