Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Emosi Hara Tak Seimut Emosi Dira


__ADS_3

Di Sekolah Hara


"Sudah aku bilang aku nggak bohong... Aku beneran punya papa...!" teriak seorang anak kecil dengan lantang sambil berkacak pinggang.


"Tapi nyatanya kami nggak pernah liat kamu di anter apa di jemput tuh... dari dulu kamu cuma di anter sama om dokter... Dan katamu om dokter itu bukan papamu..."


"Emang om dokter bukan papaku... Kemarin papaku nganter aku kok...kamu aja yang nggak liat, soalnya kamu datangnya telat sih... Dasar pemalas..." ledek anak kecil itu tidak mau kalah. Anak kecil itu tidak lain adalah Hara.


"Halah...itu bisa-bisanya kamu aja...dari dulu kamu juga ngomongnya gitu. Tapi nyatanya mana...? Kata mamihku, sekali pembohong... selamanya juga akan jadi pembohong..." ledek teman Hara yang bernama Erik


"Aku bukan pembohong tau...!" Dan...'Buuk' bogem tangan kecil itu pun mendarat di pipi Erik,teman Hara.


"Aduh... hiks hiks hiks... dasar anak preman... anak perempuan nggak bener... anak haram... akan aku aduin kamu ke bu guru,biar kamu dikeluarin dari sekolah... hiks hiks hiks..."


'Buuk' bogem mentah Hara kembali mendarat di pipi Erik... membuat tangis Erik semakin menjadi.


"Jangan ngatain mamaku... cengeng...!" teriak Hara hingga mengundang perhatian banyak orang.


Beberapa guru dan beberapa orang tua murid pun langsung datang menghampiri kerumunan anak-anak TK itu.


"Astaghfirullah haladziim... ada apa lagi ini?" tanya Bu Ita. "Hara? Kamu apakan Erik? Kenapa Erik sampai menangis...?" tanya Bu Ita...sementara Hara hanya diam tertunduk.


"Bu Tanti, tolong bawa Erik ke UKS dan tolong kompres pipinya..." titah Bu Ita kepada guru yang lain.


"Baik bu,.." Bu Tanti pun segera membawa Erik ke UKS dan meminta semua yang ada di situ untuk bubar.


"Hara...sini duduk dekat ibu..." Hara mendekati Bu Ita yang memanggilnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Kepala Hara masih tertunduk ketika dia duduk di sebuah bangku taman.


"Hara..."


"Iya bu guru..."


"Bukankah kemarin Hara sudah berjanji untuk tidak akan berkelahi lagi ya...? Tapi kenapa hari ini Hara mengulangnya lagi...?"


"Maafkan Hara bu guru... Hara hanya nggak suka dikatain pembohong, karena Hara memang nggak pernah bohong... ?"


"Hara marah?" Hara mengangguk.


"Oke... Hara nggak mau dikatain pembohong, makanya Hara marah kalo ada teman Hara yang ngatain Hara pembohong... Tapi kan tidak harus memukul... di pukul itu sakit lho..."


"Tadinya Hara nggak mau pukul Erik... tapi Erik ngatain mama perempuan nggak bener... jadi Hara pukul Erik. Erik boleh ngatain Hara tapi Erik nggak boleh ngatain mamanya Hara. Bukankah sebagai anak laki-laki Hara harus lindungin mamanya...?" kata Hara dengan bangga.


'MasyaAllah... anak didikku yang satu ini memang istimewa... Bersyukurlah Bu Nitha punya anak sepintar Hara... sayangnya ayahnya tidak pernah tau, betapa cerdas dan hebatnya buah hati mereka...' ucap Bu Ita dalam hati.

__ADS_1


"Siapa yang mengajarkan itu nak?" tanyanya kemudian.


"Om dokter..." jawab Hara singkat.


"Bagaimana kata om dokter... waktu itu?" tanya Bu Ita yang ternyata adalah tante dari dokter Haris.


"Om dokter bilang, sebagai anak laki-laki...Hara harus selalu lindungi mama dan menjagain mama. Jangan sampai mama disakiti oleh orang lain dan dikatain dengan kata-kata buruk yang nantinya bisa membuat mama sedih dan menangis..." kisah Hara kepada gurunya.


'Sepertinya Haris begitu mencintai mamanya Hara, sampai-sampai dia mengajarkan hal sedalam itu kepada seorang anak yang walaupun cerdas tapi masih belum bisa mencerna kata-kata Haris dengan baik... Haris... Haris... kamu sukses dalam karir tapi kenapa kurang beruntung dalam percintaan... Nitha perempuan yang baik, yang mendidik anaknya dengan penuh kelembutan. Pantas saja Haris begitu mencintainya... tapi sayang Nitha begitu setia pada suaminya...' gumamnya dalam hati.


"Bu guru... apakah yang dikatakan om dokter itu benar?" tanya Hara membuyarkan lamunan Bu Ita.


"Eh iya sayang... yang dikatakan om dokter itu benar... tapi cara menjaga mama yang dilakukan Hara yang kurang tepat... Menjaga mama memang harus, tapi jangan pernah pakai kekerasan. Karena bu guru yakin kalo mamanya Hara juga tidak akan suka jika di jaga oleh putranya yang suka berkelahi. Hara mengerti kan yang dimaksud sama bu guru?" tanya Bu Ita guru Hara. Hara mengangguk pelan.


"Kalo gitu, sekarang kita ke UKS... sebagai anak laki-laki, Hara juga harus punya jiwa yang besar untuk meminta maaf kepada Erik. Hara bersedia kan?"


"Iya bu guru..."


Sedetik kemudian Bu Ita dan Hara pun segera berjalan menuju ruang UKS untuk menemui Erik.


Sementara itu mobil Hans baru saja masuk ke halaman sekolahan Hara.


"Wah mobil siapa tuh... keren amat ya..."


"Iya mobilnya keren... tapi sepertinya baru kali ini liat mobil itu. Tamu sekolah apa punya orang tua murid baru ya..."


Setelah selesai memarkir mobilnya, Hans pun segera turun lebih dulu, kemudian membukakan pintu mobil untuk bidadarinya.


"Wah gila...yang ngendarain mobilnya pun ganteng banget..."


"Betul banget.... wajahnya kaya artis ibukota.. "


"Tapi di mobilnya ada istrinya..."


"Ya Tuhan... kenapa setiap ada barang bagus itu selalu sudah ada yang punya... hu hu hu... patah hati deh aku..."


"Hush... kalian ini kan udah punya suami juga... istighfar... kalo suamimu di luar juga mengagumi wanita lain emang kalian rela?" ucap salah seorang wanita yang dandanannya lebih religius di banding yang lainnya.


Sayup-sayup Dira mendengarkan komentar mereka tentang suaminya, dan tiba-tiba Dira pun terlihat cemberut sambil menyedekapkan tangannya di dadanya.


"Kenapa?" tanya Hans lembut kepada istrinya.


"Harusnya tadi mas di rumah aja sama Bi Asih..." kata Dira ketus.

__ADS_1


"Lho...memangnya kenapa? Mas kan udah janji sama Hara..." ucap Hans yang kebingungan dengan perubahan sikap istrinya.. "Sayang... kamu nggak sedang ngidam kan?" tanya Hans dengan wajah memelas... Masalahnya kalo bener Dira ngidam berarti anak yang di kandung Dira bukan anaknya. Pasalnya sampai hari ketiga bertemu, Hans belum juga dapat jatah dari Dira...hi hi hi...


"Ngaco... mau nuduh Dira selingkuh lagi?" ucap Dira dengan mata melotot karena emosi.


"Bu... bukan begitu sayang tapi kenapa tiba-tiba kamu sikapnya berubah-ubah kayak orang yang lagi ngidam...he he he..." ucap Hans nyengir kuda sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Tuh mas perhatiin sekumpulan mamud-mamud di sana... liat om-om aja langsung pads kasak kusuk... ganjen amat..." gerutu Dira.


"Mamud? Apaan tuh mamud?"


"Ck...susah emang ngomong sama om-om... Apa-apa serba nggak tau... Mamud tuh mama muda tau..." gerutu Dira kesal, tapi bukannya marah atau ikutan kesal karena sedari tadi istrinya merajuk...Hans malah menanggapinya dengan senyum.


"Ooo... Yaa harap maklumlah... namanya juga liat cowok cakep... biarpun katamu mas ini sudah om-om, tapi ternyata penggemarnya masih banyak juga ya... he he he..."


"Seneng ya diperhatiin sama banyak cewek? Huuh...dasar om-om genit..." Dira mencubit lengan Hans, membuat Hans meringis kesakitan.


"Aauu...jahat bener kalo lagi cemburu..." ledek Hans.


"Siapa cemburu? GR... Udah ah...mas aja sana yang nyamperin Hara..."


"Lho kok gitu... jangan marah-marah mlulu ah..." Hans mencoba melepas sabuk pengaman mobil yang masih melekat pada tubuh Dira tapi dengan cepat tangan Hans di tepis oleh Dira... "Ayo dong sayang... jangan ngambek gitu... Kan bukan salah mas sampe mas jadi perhatian mereka... Ayo turun, kasian Hara nya... nanti kecewa lho..." bujuk Hans sambil memainkan alisnya biar Dira nggak marah lagi.


"Dasar om-om genit..." Dira pun akhirnya mau turun dari mobil juga, Dira selalu takut jika nanti bikin jagoannya kecewa.


Hans pun tersenyum bahagia karena begitu Dira turun dari mobil, tangannya tidak pernah lepas memeluk tangan Hans. Dira seolah tidak rela kehilangan Hans.


'Akh... ternyata bidadariku begitu imut jika sedang cemburu...' gumam Hans dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2