Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Masih Piknik di Pantai


__ADS_3

Hans segera keluar dari kantornya. Rapat dengan klien hari ini dia serahkan semua pada Alex, membuat Alex jadi uring-uringan karena tugasnya jadi menumpuk.


"Sudah ku duga, Jessica pasti sudah bicara macam-macam kepada Dira, membuat dia salah paham dan selalu menghindariku.


FLASH BACK ON


HANS POV


Br*******k Jessica telah menjebakku. Aku jadi benar-benar merasa telah mengkhianati Dira.


Dan entah apa yang telah terjadi pada Dira, kenapa malam ini dia terlihat begitu berani untuk menciumku terlebih dahulu.


Aku terpaksa menghindar dari ciuman Dira karna bibir ini baru saja bersentuhan dengan bibir Jessica. Aku melihat rona kekecewaan di wajah istriku tapi aku tidak mau mencium istriku sebelum aku bersihkan. Begitu Dira keluar dari ruang kerjaku, aku langsung menuju kamar mandi untuk mencuci dan membersihkan bibirku, sebersih-bersihnya.


Aku merasa lega karena sikap Dira padaku biasa-biasa saja. Tapi entah kenapa aku merasa Dira sedikit menghindar dariku. Apakah karena penolakanku tadi?


FLASH BACK OFF


'Sampai tadi pagi aku pikir semuanya baik-baik saja, sebab sikap Dira juga biasa-biasa saja. Tapi ternyata... untuk kesekian kalinya Dira tersakiti hatinya olehku dan untuk kesekian kalinya juga aku telah membuat kesalahan padanya. Ish... suami macam apa kamu ini Hans... Hans... Astaghfirullah...' Hans memukul stir mobilnya karena jengkel dengan dirinya sendiri.


Hans mempercepat laju mobilnya menuju cottage keluarganya di pantai utara.


Sementara itu, Sila dan Dira pun menepi dari terjangan ombak, karena teriknya matahari mulai terasa menyengat di kulit mulus mereka.


"Ih nggak kerasa hari udah siang aja...Udahan yuk maen airnya...baju gue udah basah ni, kulit gue juga udah terasa kebakar..."


"Iya ih... celana gue juga bassh ni... " Keduanya pun kemudian berjalan menjauh dari pantai...


"Oya Dir, emang Hara bener-bener nggak akan rewel ni, lu tinggal dia pergi seharian? Kita pulang aja yuk..." ajak Sila ketika mereka sampai di kursi yang diteduhi dengan payung pantai.


"Lu pulang aja kalo lu udah pengen pulang, gue masih mau di sini sampe sore..."


"Bukan begitu, gue cuma khawatir sama anak lu doang... jangan cemberut gitu dong..."


"Gue tuh bersyukur sekali punya anak seperti Hara... Dia itu anak yang baik dan nggak pernah ngerepotin. Dia juga paling mudah diberi pengertian, apalagi kalo sama Bi Asih, dia pasti akan nurut dan diam karena Bi Asih itu kan pawangnya Hara... he he he..."


"Pawang... pawang... emang Hara itu binatang buas?"


"Ya... namanya juga anak-anak... kadang-kadang dia juga sering jadi buas jengkelin, tapi selama ada Bi Asih yang bujukin dia...semua mandali...aman terkendali...he he he... Tar deh kalo lu ma Adit udah punya anak pasti tau rasanya..."


"Seneng liat lu terkekeh dari tadi... lu terhibur dengan acara piknik kita ini?"


"Alhamdulillah... setidaknya gue bisa melepas sedikit penat di hati gue... Oya, ngomong-ngomong sampe mana tuh persiapan pernikahan lu?"


"Alhamdulillah sudah 90% tinggal dikit lagi, InsyaAllah bulan depan semua sudah siap..."


"Syukur deh kalo gitu, maaf ya... gue nggak bisa bantu. Gue malah ngrepotin lu mlulu.."


"Lu kayak sama siapa aja...santai aja kali..." ucap Sila. "Kita bersih-bersih di dalam yuk... terus kita cari makan siang...ini kan udah waktunya makan siang..."


"Kamu duluan aja, tar gue nyusul... gue masih pingin di sini..."


"Tapi celana lu basah, tar masuk angin lagi..."


"Iya-iya... nanti gue beneran nyusul... bawel amat sih..."


"Gue ambilin kain pantai deh biar lu nggak masuk angin... tunggu ya..."

__ADS_1


"Terserah lu aja deh...btw makasih ya... love you... lu emang sohib gue paling the best...he he he..." Dira terkekeh melihat Sila yang memanyunkan bibirnya sambil pergi menjauh menuju cottage.


"Kak Hans?!" teriak Sila yang terkejut dengan kedatangan Hans yang tiba-tiba berada di cottage. Tapi dengan cepat Hans membungkam mulut Sila agar tidak terdengar oleh Dira.


"Jangan teriak dong... Dira mana?" tanya Hans. Sila diam saja tidak menjawab, hanya tangannya yang menunjuk-nunjuk ke arah pantai.


"Di tanya kok malah diem aja sih... nggak sopan tau..." Sila pun akhirnya memukul tangan Hans yang masih membungkam mulutnya dan Hans pun melepas bungkamannya sambil nyengir kuda. "He he he... maaf..." ucap Hans, membuat Sila netranya melotot sempurna.


"Mulut di bungkam gimana mo ngomong..."


"Iya...iya... Kak Hans kan udah minta maaf..."


"Tuh bidadari kakak ada di bawah payung warna warni itu..."


"Oke..."


"Eh tunggu kak... bawa ini..."


"Apaan ini?"


"Itu kain pantai... aku tadi janji mo bawain kain pantai buat nyelimutin tubuhnya... kesian, angin pantainya lagi kenceng..."


"Oh oke... lu mo ngapain?"


"Mo mandi terus mo maksi sama Dira..."


"Apaan tuh maksi?"


"Makan siang kakak...huft kuno amat sih..."


"Abis kamu pake acara disingkat-singkat segala sih...mana tau aku... Eh kamu abis mandi, pulang aja deh...maksi sama Adit sana..."


"Kan udah ada aku suaminya tercinta...he he he..."


"Hmm boleh aja tapi..." Sila membuka telapak tangannya lalu mengarahkan ke Hans.


"Apaan ini maksudnya?"


"Ongkos maksi dan ongkos pulsa..."


"Hadeehh Sila...Sila... dasar cewek mata duitan..."


"Loh kan kakak sendiri yang janji..."


"Iya... iya..." Hans langsung mengambil ponselnya lalu mentransfer sejumlah uang ke rekening adik sahabatnya yang sudah seperti adiknya sendiri itu.


"Tuh liat diponselmu... dah masuk belum? Cukup segitu?"


"Wow...ini mah lebih dari cukup... thank you kakakku sayang...muach...muach..." ucap Sila sambil mengirimkan cium jauhnya.


"Buru mandi terus pergi sana..." usir Hans.


"Busyet dah...kok Sila ngerasa jadi cewek bayaran ya..."


"Terserah... yang penting bukan kakak yang bilang..." Hans pun langsung ngeloyor pergi meninggalkan Sila yang saat ini ngerasa sebel sama dia.


Dira masih termenung memandang hamparan ombak pantai yang tengah berkejar-kejaran. Entah apa yang saat ini ada dalam pikirannya. Badannya sedikit merespon ketika ada seseorang yang menyelimuti tubuhnya dengan kain pantai lembut.

__ADS_1


"Makasih Sil... buru mandi sana... bentar lagi gue nyusul..." ucap Dira tanpa menoleh ke belakang karena netranya masih menikmati pemandangan indah dihadapannya.


"Apa yang sedang kamu lihat, hingga kamu tidak ingin mengalihkan pandanganmu?"


Dira terkejut mendengar suara Hans yang tiba-tiba berada dibelakangnya. Dia pun langsung berdiri lalu membalikkan tubuhnya ke arah belakang.


"Mas Hans?! Kok bisa di sini... Si... Sila mana?" tanya Dira gugup. Hans menarik tangan Dira hingga Dira jatuh ke dalam pelukannya.


"Maafkan mas sayang..." bisik Hans lirih di telinga Dira.


"Sila mana? Mas minta maaf untuk apa? Mas tidak melakukan salah apa-apa sama Dira kok..." ucap Dira dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mas minta maaf karena mas tidak berani berkata jujur padamu, mas minta maaf karena mas telah bersikap egois tidak memikirkan perasaanmu hingga kamu berpikir yang tidak-tidak... maafkan mas ya sayang..." Dira menganggukkan kepalanya pelan, sementara Hans menciumi pucuk kepala istrinya. "Sekarang mas nyusul ke sini karena mas tidak ingin istri mas sedih lagi... mas ingin menjelaskan semuanya agar tidak ada prasangka di antara kita..." Kedua tangan Hans menyakup wajah Dira. "Tapi sebelumnya kamu harus memaafkan mas dulu... kamu juga harus janji untuk tidak marah setelah mendengarkan penjelasan mas nanti...oke?!" Dira mengangguk.


"Dira sudah memaafkan semua kesalahan mas, apa pun itu. Dira juga tidak akan marah, asalkan mas benar-benar berkata jujur..."


"Terimakasih sayang... kamu memang istri yang terbaik...'cup'..." Hans mencium bibir Dira. Dira terlihat ingin menghindar tapi sudah tidak sempat lagi.


"Jangan menghindar lagi sayang..."


"Tapi mas kemarin menolakku..." Tiba-tiba saja kristal bening itu lolos dari sudut mata Dira.


"Maafkan mas sayang, hari itu karena ada sebabnya..." Hans kembali memeluk tubuh istrinya. "Ternyata di tolak itu sangat menyakitkan... maafkan mas ya..."


"Mas jangan hanya pandai meminta maaf saja, tapi jangan pernah mas ulangi lagi dan sekarang ceritakan apa alasannya..."


"Iya sayang, pasti... tapi lebih baik kita masuk ke cottage aja yuk... di sini anginnya terlalu kencang..."


"Tapi di cottage ada Sila..."


"Emang kenapa kalo ada Sila? Emang kita mau ngapain di cottage? Kita cuma ngobrol kan? Anday Sila denger juga nggak papa kan? Toh kamu suka curhat sama dia..." goda Hans yang membuat Dira merona malu karena telah membayangkan yang bukan-bukan. Dira berdiri mematung padahal suaminya telah mengulurkan tangannya mengajak Dira masuk.


"Ayo...kenapa diam saja di situ?" Hans pun kemudian mendekati istrinya dan langsung membopong tubuh Dira ala bridal style.


"Eh mas...turunin...malu di liat Sila..." ucap Dira meronta.


"Sila sudah pergi dari tadi, paling sekarang dia sedang pacaran sama Adit..."


"Loh kok nggak pamit Dira sih... mas yang usir Sila ya..."


"Iya..." jawab Hans singkat. Dan Hans pun melangkah menuju cottage.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Hai Reader semua...maaf update nya suka telat-telat


Terimakasih buat yang masih setia menanti...😘😘😘


__ADS_2