Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Masak Dan Makan Bersama


__ADS_3

Dira mengeluarkan semua bahan masakan yang ada di lemari es nya. Sementara Hans tengah menggulung lengan kemejanya setelah melepas jasnya bermaksud untuk membantu Dira memasak.


"Eee...mas mau ngapain?"


"Bantu kamu..."


"Udah deh...mas duduk aja,saya buatin minum ya...Tar biar saya di bantu Agni aja" ucap Dira sambil mendorong-dorong badan Hans agar mau menjauhi dapur dan duduk di kursi makan.


"Eh dengerin...Agni itu sedang sibuk,pekerjaannya banyak. Emang kamu tega masih menyuruh Agni buat bantuin kamu masak? Udahlah aku bantuin aja deh...gini-gini aku juga pinter masak tau..."


"Oya...?"


"Iya dong...mau bukti? Ayuk aku buktikan..."


Hans menggandeng tangan Dira kembali ke dapur.


"Mas..." Hans menengok ke arah Dira.


"Pake ini dulu..." ucap Dira sambil memakaikan celemek pads Hans.


Karna Hans lebih tinggi dari Dira,maka Hans pun menunduk agar Dira lebih mudah memakaikannya.


"Hmmm...udah cantik,baik...wangi lagi..." goda Hans sambil menghirup aroma tubuh Dira yang beraroma bunga mawar yang lembut.


"Iih jangan dekat-dekat...Jangan curi-curi kesempatan deh..."


Dira mendorong badan Hans yang seperti sengaja berlama-lama menunduk hingga jaraknya begitu dekat dengan Dira.


"Lho bukannya tadi kamu yang minta..."


"Tadi kan karna...karna Dira mau pakein celemek...Pakenya kan udah selesai tapi kok mas maunya masih main deket-deket aja..." ucap Dira sambil cemberut.


'Ya Tuhan...betapa imutnya bidadariku ini...andai kamu sudah resmi menjadi istriku,sudah bisa ku pastikan bukannya kita makan siang bersama tapi kamu yang akan ku makan habis-habisan Dira...' gumam Hans dalam hati.


"He he he...kamu lucu kalo lagi kesel gini...ayo kita mulai masaknya..." ajak Hans sambil menyentuh pucuk kepala Dira lalu mengacak rambut Dira pelan.


Acara memasak pun di mulai.


Dira tampak terheran-heran melihat Hans mengerjakan tugas masaknya dengan dengan sangat mendominasi. Bahkan Hans hampir tidak pernah membiarkan Dira memegang pekerjaan di dapur hari itu,dengan sangat cekatan Hans melakukan semuanya dengan benar-benar sempurna. Dari mulai menyiapkan peralatan yang akan di pakai,menyiapkan bahan-bahan yang akan di masak lalu memotong-motong bahan,sampai urusan membereskan sampah dan membersihan dapur,semua dikerjakan Hans dengan sangat lihai sambil sesekali terdengar senandung kecil yang keluar dari bibirnya. Hans sepertinya melakukan acara memasak hari itu dengan sangat happy.


Semua selesai dengan sempurna...


Hans melepas celemek masaknya lalu menggantungkannya di tempat yang semestinya. Di meja makan sudah tertata dengan rapi semua masakan yang dihasilksn oleh Hans. Bau harum menyeruak menusuk-nusuk hidung dengan sangat menggoda hingga mampu membangkitkan ***** makan orang yang menghirupnya.


"Bagaimana...?"


Hans bertanya seolah mengharap pujian dari Dira. Dalam bayangannya mungkin Hans berharap Dira akan meluapkan rasa senang dan terimakasihnya dengan langsung menciumnya...

__ADS_1


"Hmm...boleh juga...terimakasih ya mas..." ucap Dira datar...membuat Hans sedikit kecewa.


"Panggillah karyawan-karyawanmu,kita makan bersama..." titah Hans.


"Serius?" tanya Dira heran.


"Lho serius...memangnya kamu habis mskanan segini banyak? Bukannya tujuan kita tadi masak sekalian buat mereka?"


"Tapi memangnya mas nggak papa makan bareng mereka?"


"Memangnya kenapa? Kita kan sama-sama manusia,kenapa harus membeda-bedakan?"


"Bukan membeda-bedakan tapi sispa tau mas merasa risih jika harus makan bareng bersama orsng yang bukan keluarga..."


"Di restoran mewah sekalipun kita juga bakal makan bareng orang lain...Sudahlah,nggak usah repot,kita itu di mata Tuhan semua sama... Udah cepat sana panggil Agni dan teman-temannya..."


Dira pun akhirnya menuruni tangga menuju lantai bawah untuk memanggil Agni dan teman-temannya.


Kurang dari satu jam acara makan-makan mereka pun selesai.


"Makasih makan siangnya ya mbak...masakan Mbak Dira memang top" ucap Andi sambil mengacungkan jempolnya.


"Iya...nggak kalah sama masakan restoran..." tambah Anto.


"He he he...makasih Ndi...To...tapi itu tadi bukan masakan aku tapi masakan Mas Hans..." ucap Dira sambil melirik ke arah Hans.


"Iya...sama-sama..."


Dira tampak bingung melihat keakraban Hans dengan Andi dan Anto karyawannya.


'Kak Hans? Sejak kapan mereka berani memanggil Mas Hans dengan sebutan kakak dan...hei lihat...Mas Hans terlihat seperti akrab dengan mereka. Bahkan Yani yang begitu pendiam pun bisa mengobrol akrab dengan Mas Hans. Ya Allah,apa ada kejadian yang terlewatkan olehku di rumah ini?' gumam Dira dalam hatinya.


"Mbak Dira,semuanya sudah beres...kami mau lanjut kerja lagi...Kak Hans terimakasih atas hidangannya yang lezat..." ucap Agni.


"Iya sama-sama...terimakasih juga sudah membantu beres-beres ya...?"


"Iya kak,kami pamit dulu..."


Hans menjawab ucapan Agni dengan anggukan dan senyuman. Agni dan teman-temannya pun kemudian turun ke lantai bawah untuk kembali melanjutkan pekerjaan mereka.


"Ada yang bisa mas jelaskan pada saya?" tanya Dira.


"Tentang apa?"


"Tentang sikap mereka...kenapa tiba-tiba mereka seakrab itu dengan mas?"


Hans tersenyum lalu tanpa banyak bicara tiba-tiba tangannya menarik tangan Dira yang berdiri disampingnya hingga membuat Dira terjatuh di pangkuannya.

__ADS_1


"Eh...apa-apaan sih...jangan begini dong...Malu kalo sampai di liat sama anak-anak..."


"Jadi kalo nggak di lihat anak-anak boleh dong..." goda Hans.


"Iih...nggak lucu..." ucap Dira sambil berusaha bangkit dari duduknya.


"Emang bukan lawakan...jadi wajar dong kalo nggak lucu..." Hans berusaha menahan Dira yang hendak berdiri dan pergi dari pangkuannya.


"Maas...jangan gini ah..." Dira akhirnya bisa lepas dari pangkuan Hans,sementara Hans pun tertawa karna berhasil menggoda Dira hingga Dira tersipu malu dibuatnya.


"Jadi gimana?" tanya Dira.


"Apanya yang jadi gimana?"


"Ish...itu soal anak-anak...kenapa sekarang mereka bisa seakrab itu sama mas?"


"Ooo...soal itu? Kirain soal apa...."


"Iya soal itu...ck...mas ini berbelit-belit amat sih..." ucap Dira mulai kesal.


"Iya-iya...tapi setelah aku jawab nanti,kamu juga harus mau memberikan jawabanmu yang sudah ku tunggu selama 3 hari ini...oke?"


Dira mengangguk. Kemudian Hans pun menceritakan semua tentang penyebab karyawan-karyawan Dira yang kini begitu akrab dengannya. Bahkan,Hans berencana akan merekrut dua orang satpam untuk menjaga toko Dira dan menjaga Dira jika malam hari saat Hans tak bisa menjaganya.


"Ih Dira rasa itu berlebihan deh...satpam komplek ruko sini kan udah ada,ngapain harus pake satpam lagi..."


"Aku hanya ingin memastikan kejadian malam itu,saat Damar bisa menerobos masuk dan hampir saja menodaimu itu terulang lagi... Apalagi kini Damar sudah bebas dan tidak jadi menjalani hukumannya. Bukan tidak mungkin dia akan datang kembali ke disini kan?"


"Akh,mas terlalu berprasangka,saya berani jamin Damar tidak akan berani melakukan hal konyol itu lagi. Karna pada dasarnya Damar itu orangnya baik..." Mimik muka Hans seketika berubah muram ketika mendengar Dira seperti sedang memuji Damar didepannya.


"Oya...segitu yakinnya...Pake dipuji-puji segala lagi...kamu masih cinta dia ya?" tanya Hans dengan nada sinis karna terbakar api cemburu.


"Kalo pun iya...mas nggak berhak melarang saya,karna itu hak saya. Tapi sayangnya rasa itu sekarang sudah tidak ada lagi. Saya harus kembali belajar untuk ikhlas dan melepaskan sesuatu ysng tidak ditakdirkan untuk saya. Walau itu berat...tapi saya berusaha bersahabat dengan keadaan dan kenyataan..."


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2