Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Senasib


__ADS_3

Hans menghela nafas panjang. Tak di sangka penolakan Dira bukan hanya karna ancaman Jesica,tapi justru karna ucapannya sendiri.


"Dira...maaf...jangan menangis lagi...aku akan ceritakan mengapa aku bisa mabuk malam itu dan selalu menyebut nama Jesica"


"Hari itu,paginya aku bertemu Jesica karna memang ada kontrak kerjasama antara perusahaanku dengan perusahaan suaminya. Biasanya yang datang dari pihak sana untuk tanda tangan kontrak itu Laura,sekertaris Tuan Hendrik karna memang kesehatan Tuan Hendrik sering terganggu. Tapi aku tidak menyangka kalo hari itu yang datang adalah Jesica,istri Tuan Hendrik yang nota bene adalah mantan kekasihku..."


Cerita seputar masa lalunya pun pada akhirnya mengalir begitu saja dari mulutnya. Tentang bagaimana keluarganya yang awalnya menolak keberadaan Jesica sampai bagaimana dia pernah memohon Jesica untuk tidak meninggalkannya,hingga akhirnya Jesica tetap memilih Hendrik sebagai suaminya hingga saat ini. Hans juga mengungkapkan jika Jesica hari itu meminta Hans untuk menunggunya sampai Hendrik menyerah pada penyakitnya hingga akhirnya meninggal,agar mereka bisa bersatu kembali. Tapi Hans menolak dengan alasan semua sudah berlalu dan Hans akan segera menikah dengan orang lain. Rupanya Jesica tidak terima hingga menyuruh orang untuk menguntit kegiatan Hans hingga dia bisa menemukan Dira.


"Dalam hidup yang kita jalani selama ini tanpa kita sadari banyak sekali persamaannya.


Kamu masih pantas bersyukur karna kamu masih mempunyai papa,sedangkan aku...17 tahun yang lalu,aku kehilangan kedua orangtuaku sekaligus. Kamu kini merasakan kehilangan Damar,orang yang selama 7 tahun bersamamu dan aku pun pernah merasakan kehilangan Jesica yang kurang lebih telah bersamaku 7 tahun juga..."


Dira terdiam dan tertunduk,tidak bisa berkata apa-apa. Dia tidak menyangka bahwa Hans pun pernah mengalami masa-masa sulit seperti dirinya saat ini. Hans tersenyum melihat Dira yang tak lagi berani menatap wajahnya,Hans tau apa yang sedang difikirkan oleh Dira saat ini,lalu dengan sangat lembut Hans pun kemudian meraih tangan Dira. Dan anehnya kali ini Dira tidak menghindar atau menepiskan tangan Hans seperti biasanya.


"Kita senasib Dira...apakah kamu tidak berfikir untuk bersama denganku,menghadapi masa depan kita bersama...agar kita sama-sama tidak merasa sendiri dan kesepian?" bujuk Hans.


"Bagaimana dengan Kak Jesica?" tanya Dira yang memberanikan diri menatap wajah Hans.


"Sudah ku bilang,seperti halnya Damar...dia adalah bagian dari masa lalu. Maaf jika malam itu aku selalu menyebut namamya. Mungkin itu karena kami habis bertemu dan bertengkar,sehingga dalam amarahku,aku tak sengaja menyebut namanya. Tapi demi Allah demi Rasulullah,aku sudah tidak mencintainya lagi..."


"Tapi...bagaimana dengan janji saya pada Kak Jesica?" tanya Dira lagi.


"Apakah harus ditepati? Toh dia juga pernah mengingkarinya...Yang penting kamu mau menerimaku,maka aku akan melindungimu seumur hidupku..."


"Beri saya waktu untuk berfikir,setidaknya saya butuh waktu untuk bertanya dan meminta petunjuk kepada Allah,agar saya bisa ikhlas menerima suratan takdir Nya jika memang takdir saya harus bersama Mas Hans... Beri saya waktu 3 hari untuk memantapkan do'a saya. Dan saya harap,selama 3 hari itu...mas jangan menelpon saya apalagi menemui saya..." pinta Dira.


"Aku akan kasih kamu waktu tapi kenapa harus tidak ketemu?" ucap Hans merasa keberatan dengan syarat Dira.


"Kan biar do'a saya kusyuk..."


"Berdo'a kan malam,jadi siangnya kan harusnya bisa bertemu..."


"Mas mau saya tolak sekarang juga tanpa saya berdo'a atau mas mau menunggu ikhtiar saya dalam do'a?"


"Iya deh aku tunggu,.. Aku akan selalu setia menunggumu sebab aku benar-benar tulus mencintaimu..."


"Gombal..." ucap Dira sambil menghempaskan tangan Hans pelan karna sedari tadi tangan Hans terus memegang tangannya. Hans pun tertawa melihat Dira yang tampak salah tingkah di depannya.


"Ha ha ha...ayo makan dulu...makanannya keburu dingin..."


🌹🌹🌹

__ADS_1


Sudah 3 hari semenjak Dira minta waktu bermunajat kepada Allah,Hans tidak bertemu Dira. Karna memang Dira tidak mau bertemu dengannya untuk sementara. Ini sudah hari ketiga dan harusnya Dira sudah punya jawabannya,saking nggak sabarnya ingin tau jawabannya dan saking nggak kuatnya menahan rindu,Hans nekat menyusul Dira di kampusnya. Awalnya Hans ke ruko Dira tapi kata Agni sejak pagi Dira sudah pergi ke kampus.


Kehadiran Hans di mana pun berada memang selalu menjadi perhatian kaum hawa. Apalagi dia selalu murah senyum kepada semua orang yang menyapanya. Dan segerombolan mahasiswi pun tak luput membicarakan kehadirannya di kampus siang itu.


"Eh liat tuh ada cogan turun dari mobil mewah..."


"Apaan tuh cogan?"


"Aduh lu ini modal tampang doang tapi otak lu oon...cogan itu cowok ganteng...huuu..."


"Eh bukankah dia itu pernah jadi dosen muda di sini ya...?"


"O iya...itu kan Kak Hans...Dosen muda di fakultas ekonomi..."


"Gila ganteng bener ya... Baru kali ini liat dia dari dekat...ini mah artis lewat..."


"Nggak cuma ganteng...tapi dia tuh tajir mlintir..."


"Ya iyalah...dia kan ceo nggak cuma satu perusahaan tapi ceo multi perusahaan..."


"Orangnya ramah dan baik lagi...nggak kaya ceo-ceo di novel-novel itu..."


"Emang kenapa kalo ceo di novel?"


"Huu...dasar kebanyakan baca novel sih lu...Baca tuh buku-buku di perpustakaan,biar tambah pinter...bukan baca novel mlulu yang bikin elu berhalusinasi...ha ha ha..."


"Enak aja lu...gini-gini IP gue nggak pernah minim ya..."


Kasak kusuk para mahasiswi itu pun menarik perhatian Dira dan Sila yang baru saja keluar dari ruangan Anton.


"Ada apaan sih,kok pada ngelongok ke bawah...bikin penasaran aja..." ucap Sila sambil menggeser gerombolan juniornya yang pada melongok ke bawah.


"Kepo ih..." sahut Dira.


"Pada liat apaan sih?" tanya Sila sambil terus menerobos mahasiswi-mahasiswi itu.


"Cogan kak..." sahut salah satu juniornya.


Seketika mata Sila terbelalak ketika melihat Hans sedang mengobrol dengan para satpam di dekat mobilnya.


"Cari penyakit ni orang..." gumam Sila yang di dengar oleh mahasiswi junior di sampingnya.

__ADS_1


"Kakak kenal sama tu cowok?" tanyanya.


"Dia kakak gue...tuh temen gue...die calon bininye..." ucap Sila geram.


"Dira ayo turun...laki lu bikin heboh cewek sekampus..."


"Laki gue yang mane ih..."


Sila nggak peduli dengan otak lemot Dira yang lagi kumat,dengan cepat dia pun menarik tangan Dira menuruni tangga darurat karna menunggu lift lama banget.


"Eeh...kalem dong Sil,sakit ni...ada apaan sih"


"Duh Dira...tuh lu liat,nggak di atas nggak di bawah semua cewek di kampus ini bergerombol dan berkasak kusuk ngomongin calon laki lu...tauuuu..."


Benar saja kata Sila,seketika Dira seperti geram melihat semua perhatian cewek-cewek sekampus berbisik sambil memperhatikan Hans yang siang ini memang tampak begitu tampan...


Hans masih asik mengobrol dengan para satpam tanpa menyadari jika dia sedang jadi pusat perhatian. Sesekali dia menengok ke arah lift,mungkin dia menunggu bidadarinya turun lewat lift di samping taman seperti biasanya. Sampai akhirnya dia melihat Sila dan Dira berdiri mematung sambil memandang Hans dari jarak yang tidak begitu jauh. Hans segera mengakhiri obrolannya lalu menyambangi Sila dan Dira yang tengah cemberut.


"Hai...kok lama sih...kalian turun lewat tangga darurat ya? Kok nggak lewat lift aja kenapa...kan capek..." sapa Hans tanpa dosa.


"Ngapain sih mas pake kesini segala?" tanya Dira ketus.


"Kangen...kan udah 3 hari nggak ketemu..."


"Lebay...tuh liat,gara-gara mas ke sini...semua cewek merhatiin mas terus..."


"Eh mana aku tau...niatku kan nggak gitu,aku cuma pingin ketemu kamu...jadi mana tau mereka pada terpesona denganku. Eh,ngomong-ngomong kamu cemburu ya...?" goda Hans.


"GR,.."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2