Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Tak Bolehkah Aku Curiga


__ADS_3

Seminggu berlalu dan beberapa jam yang lalu, acara resepsi pernikahan Sila dan Adit di gelar. Dan tanpa menunggu lama, mereka pun langsung berangkat berbulan madu di Eropa, paket bulan madu yang dihadiahkan oleh Hans kepada Sila. Ada rasa iri sebenarnya dalam hati kecil Dira, karena selama menikah dengan Hans, Dira belum pernah merasakan pergi berbulan madu.


Dan sekarang, di saat sahabatnya sedang menikmati indahnya bulan madu, dia justru akan di tinggal oleh suaminya dinas ke luar negeri. Sebenarnya Dira sudah tau waktu dia berulangtahun beberapa waktu yang lalu dari Alex. Tapi Dira sempat menganggap perjalanan itu tidak jadi, karena Hans tidak kunjung memberitahukan padanya.


Kini Dira nampak termenung murung di kamarnya, setelah berdebat dengan suaminya tentang tugas Hans ke luar negeri. Matanya sembam karena sedari tadi dia tidak berhenti menangis. Seumur dia kembali bersama Hans, baru tadi dia dan suaminya itu berdebat cukup besar. Dira sangat kecewa karena Hans tidak pernah memberitahukan keberangkatannya...Dira marah sampai-sampai dia mau mendengarkan alasan yang disampaikan oleh Hans padanya. Bahkan kini dia tidak mau menyiapkan koper milik suaminya itu, dia justru membiarkan Bi Asih yang menyiapkan kebutuhan Hans selama di sana nanti.


Hans memasuki kamar tidurnya, dilihatnya Dira sedang berbaring dengan memeluk guling menghadap ke dinding kamar. Dia tau Hans masuk ke kamar tapi Dira tidak ingin membalikkan tubuhnya, dia tetap diam termenung... sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Sayang maaf... aku tidak bermaksud mengabaikanmu, aku juga tidak bermaksud membentakmu tadi... Aku khilaf..." Hans melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, tak ada penolakan tapi juga tidak ada respon dari Dira. "Mas janji, mas akan cepat pulang... mas akan lembur tiap hari biar pekerjaan di sana cepat selesai..." Dira masih diam... "Mas juga berat tau berpisah denganmu dan juga dengan Hara... tapi untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di sana memang harus mas yang berangkat. Pengajian tujuh bulanan dia masih dua bulan lagi kan?" Hans meraba perut Dira yang sudah terlihat membuncit. "Mas akan pulang dulu sebelum acara itu tiba..."


Tubuh Dira berguncang disertai isak tangis yang samar-samar terdengar oleh telinga Hans. Hans pun segera membalikkan badan Dira perlahan, kemudian menarik Dira ke dalam pelukannya. Dan perlakuan Hans yang seperti itu, justru membuat tangis Dira semakin menjadi. Hans tidak bisa berbuat apa-apa selain mencium pucuk kepala Dira sambil mengusap-usap punggung Dira.


🌹🌹🌹


Pada akhirnya Hans berangkat juga di esok harinya ke Singapura, setelah dia berhasil meyakinkan istrinya bahwa dia pergi untuk menyelesaikan masalah besar yang terjadi di sana. Sehingga kepergian Hans kali ini benar-benar tidak bisa di tunda lagi.


"Jaga diri dan jaga anak-anak baik-baik ya... kabari mas kalo ada apa-apa. Do'akan mas cepat selesai urusannya, jadi mas bisa cepat pulang..." Dira mengangguk lalu memeluk suaminya erat-erat, membenamkan wajahnya ke dada suaminya, seolah tidak rela ditinggalkan.


"Sayang jangan begini dong... mas nanti jadi berat perginya..."


"Mas selama di sana jangan macam-macam ya... jangan lirik-lirik cewek lain. Mas harus ingat kalo mas udah punya anak dan istri di sini... hiks hiks hiks..." ucap Dira merajuk sambil menangis.


"Iya... iya... mas akan selalu ingat itu... Kamu di rumah juga jangan nakal ya..." Dira mengangguk. Hans pun tersenyum lalu diangkatnya dagu Dira, ibu jarinya mengusap bibir istrinya itu kemudian sebuah ciuman lembut mendarat di sana. Sejenak bibir mereka saling bertautan, sampai sebuah nada pesan masuk dari ponsel Hans berbunyi. Hans melepas ciumannya... melirik deretan huruf yang ada di pesan WhatsApp dari Alex.


"Alex sudah di depan, kita turun sekarang... sudah waktunya mas berangkat... I love you sayang..." sebuah kecupan singkat kembali mendarat di bibir Dira.


"I love you too..."


Mereka berdua pun akhirnya turun, Dira masih saja memegang erat tangan suaminya.


"Mas berangkat ke bandara sekarang, takut terlambat... Jaga diri baik-baik..."


"Mas juga hati-hati ya... Sesampainya di sana mas harus langsung hubungi Dira ya..."


"Iya..." Hans mencium kening Dira lalu masuk ke mobil Alex untuk pergi ke bandara.


Tiga puluh menit berselang, Hans baru saja mengabarkan jika dirinya akan segera masuk ke dalam pesawat lewat sebuah pesan singkat. Selesai Dira membalas pesan itu, Dira pun mencium ponselnya yang terdapat foto Hans sebagai wallpaper nya. Entah kenapa tiba-tiba perasaannya terasa nggak enak.

__ADS_1


"Neng Dira kenapa? Kok melamun..." Tangan Bi Asih mengusap lembut bahu Dira.


"Eh Bi Asih... bikin kaget aja... Dira nggak papa kok..."


"Apanya yang nggak papa? Sejak tuan pergi tadi, Neng Dira belum beranjak dari kursi itu. Apa yang sedang Neng Dira pikirkan?"


"Entah... perasaanku tiba-tiba terasa nggak enak bi... Dira takut akan terjadi sesuatu di antara Dira dan Mas Hans... tapi entah itu apa..."


"Astaghfirullah... istighfar neng... berfikirlah hal-hal yang baik non, jangan punya pikiran yang jelek... Tuan kan pergi untuk bekerja, bukan untuk bersenang-senang... kita do'akan saja semoga pekerjaan tuan di luar negeri sana lancar dan cepat selesai... Jadi Tuan Hans juga jadi cepat pulang..."


"Iya bi..." Dira masih tampak mendesah risau. "Oya bi... Hara pulang jam berapa ya bi hari ini?"


"Hari ini Hara pulang pukul satu siang neng... Apa Neng Dira mau jemput Hara?"


"Iya... Kasian anak itu, Dira merasa... akhir-akhir ini Dira lebih sering mengabaikan dia. Padahal anak itu sangat perhatian dan pengertian terhadap Dira, kita jemput Hara terus kita jalan-jalan yuk bi... rasanya sudah lama kita tidak jalan bertiga..."


"Kita sholat Dzuhur dulu ya neng?" Dira mengangguk setuju dengan usulan pengasuhnya.


Dira duduk di tempat para wali murid menjemput, tapi raut wajahnya tidak bisa disembunyikan jika dia terlihat gelisah.


'Waktu perjalanan antara Jakarta-Singapura jika ditempuh dengan penerbangan hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua jam, dan seharusnya Mas Hans sudah sampai dari tadi. Tapi kenapa hingga detik ini dia belum mengabariku?'


'Kamu jangan terpancing Dira.. bisa saja Kak Jessica ada di Indonesia, dan lagi... bukannya dia sudah menikah dengan Rico? Dan rasanya tidak mungkin Mas Hans tega mengkhianati aku... Aku akan tanyakan kepada Erik, maminya sedang di mana..."


Tak lama Hara dan Erik pun keluar.


"Hai Erik..."


"Selamat siang tante..."


"Selamat siang sayang... Erik pulang di jemput siapa? Mami?" tanya Dira yo the point.


"Oh no tante... Erik di jemput Papi Rico..."


"Memangnya mamimu kemana?"


"Mami pergi dinas di luar negeri dan Papi Rico akan menyusul mami menunggu Erik libur tante, kan kesananya mau sama Erik..."

__ADS_1


"Emang luar negeri nya mana? Apa Erik tau?" tanya Dira hati-hati, dan bocah kecil itu tampak sedang mengingat-ingat sesuatu.


"Kata papi, luar negeri nya Singa...Singa..."


"Singapura?" Dira mencoba membantu Erik mengingatkan tempat itu.


"Ah iya... betul tante... Singapura...Wah tante Dira hebat..." Deg... jantung Dira seolah berhenti berdetak ketika Erik mengiyakan tebakannya... 'Astaghfirullah... jadi... jadi foto ini benar adanya' gumam Dira dalam hati.


"Waa...asik dong,kamu nanti pergi ke luar negeri sama papi mamimu..." celetuk Hara.


"Iya... nanti aku tanyakan kepada Papi Rico ya... Hara boleh ikut apa tidak..."


"Eh nggak usah... Papaku sedang dinas di luar negeri juga, jadi aku nggak bisa kemana-mana. Kan aku harus jaga mamaku dan adik bayiku ?" Hara mengelus bangga adiknya yang masih ada di dalam perut Dira. Sementara Dira pikirannya bertambah kalut mendengar jawaban Erik tadi.


"Neng...Neng Dira sakit?" tanya Bi Asih tiba-tiba. Dira menggelengkan kepalanya.


"Ayo kita jalan-jalan ke mall sambil main dan makan siang di sana..." ucap Dira ceria menutupi kegalauan hatinya.


"Yeaaa kita ke mall... Erik mau ikut?" tanya Hara. Erik menggeleng.


"Aku pingin, tapi aku takut Papi Rico nanti mencariku..."


"Oke Erik, kalau gitu kami pergi duluan ya..." pamit Dira. Dan mereka bertiga pun berlalu, tapi tak lama kemudian jemputan Erik pun tiba.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2