Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Penolakan Dira


__ADS_3

"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam...eh Nak Hans,mari silahkan masuk..."


"Terimakasih...lho bapak sendirian?"


"Maminya Dira baru saja pulang...malah lebih enak begini kan nak,nggak ada yang ikut campur..."


"Iya pak..."


Hans duduk di kursi samping ranjang Pras.


"Jadi maunya Nak Hans ini gimana?"


"Saya ingin mempersunting Dira pak...Dan ini tidak ada hubungannya dengan rasa bersalah saya ataupun kewajiban saya yang mengharuskan saya bertanggungjawab pada Dira. Tapi ini murni dari hati saya...ini lebih dikarenakan saya yang benar-benar telah jatuh cinta pada Dira pak" ucap Hans sungguh-sungguh. Pras manggut-manggut mencoba memahami setiap kalimat yang disampaikan Hans padanya. Pras menangkap ketulusan dari sorot mata Hans.


'Dia benar-benar tulus nak,papa tau itu...tapi kenapa kamu menolaknya Dira...Dira...' ucap Pras dalam hati.


"Jadi gimana pak...bapak mengijinkan dan merestui saya kan?" ucap Hans nggak sabar.


"Emm sebelumnya bapak minta maaf,bapak tau kesungguhan Nak Hans pada Dira,tapiii...."


"Tapi apa pak?"


"Tadi sebelum Nak Hans datang,Dira sudah datang lebih dulu ke sini dan dia berpesan pada saya untuk tidak menerima pinangan Nak Hans. Dira malah lebih setuju menerima pinangan rekan bisnis bapak yang usianya jauh lebih tua...


Seperti Nak Hans tau,sebelum Nak Hans datang,Dira sudah terlebih dahulu di pinang oleh seorang pengusaha salah satu rekan bisnis bapak. Dan demi menikahi Dira,rekan bapak itu setuju untuk membantu bapak keluar dari masalah yang tengah dihadapi perusahaan kami. Beliau setuju menjadi investor di perusahaan bapak." jelas Pras dengan perasaan tidak enak.


"Saya juga bisa membantu bapak jika itu menjadi syarat agar saya bisa menikahi Dira..."


"Yah...sebenarnya bapak malu mengatakan ini semua pada Nak Hans,tapi.... Nak Hans,bapak ini memang bukan orangtua yang baik untuk Dira,karna bapak bukannya membahagiakan Dira tapi malah bisa di bilang bapak justru menjerumuskan Dira ke situasi yang akan membebani hidup Dira. Awalnya mendapatkan investor untuk perusahaan kami adalah tujuan utama bapak agar bisa bangkit kembali tanpa ada syarat. Tapi ternyata hal itu tidak mudah. Beberapa rekan yang dekat dengan bapak pun justru menjauh satu per satu. Sampai ada seorang pengusaha besar,justru menghampiri bapak dan menawarkan sebuah bantuan dengan syarat beliau diperkenankan meminang Dira."


Pras diam sejenak dan membuang nafas pelan. Rasa sedih dan malu membaur menjadi satu di dalam hatinya.


"Lalu...?"


"Awalnya Dira menolak dengan perjodohan ini karna dia merasa di jual dan dijadikan tumbal. Tapi entah kenapa ketika Nak Hans ingin bertanggungjawab,dia malah memilih menerima menikah dengan pengusaha yang sebenarnya lebih pantas menjadi kakeknya,ketimbang menikah dengan Nak Hans. Padahal bapak senang jika Dira mau menerima Nak Hans...karna setidaknya rasa bersalah bapak sedikit berkurang,usia kalian tidak terpaut begitu jauh. Tapi entah apa yang ada dalam pikiran Dira hingga dia memilih Pak Sasongko untuk menjadi suaminya..."


"Apa..??? Jadi pengusaha yang meminang Dira itu bernama Pak Sasongko?"


"Iya...memang beliau sudah tidak begitu aktif dalam dunia bisnis,karna sebagian besar bisnisnya sudah dilimpahkan pada cucunya...."

__ADS_1


"Tapi bukankah istri Pak Sasongko masih hidup? Dan bagaimana dengan status Dira yang maaf...sudah tidak perawan? Apakah Pak Sasongko sudah tau?" tanya Hans masih penasaran.


"Pak Sasongko bilang istrinya setuju jika beliau meminang Dira dan tadi pagi bapak sudah berbincang mengenai keadaan Dira saat ini,menurut beliau...beliau tidak masalah dan mau menerima Dira apa adanya. Mungkin karna tanggapan Pak Sasongko itu,membuat Dira mantap menerima pinangan Pak Sasongko...


Tapi Nak Hans...sepertinya Nak Hans kok mengenal Pak Sasongko?" tanya Pras melihat ekspresi Hans saat dirinya menyebut nama Pak Sasongko.


"Astaghfirullah...Pak Sasongko itu,kakek saya pak..."


"Apa...???"


"Iya Pak,beliau adalah kakek saya...kalo begitu saya pamit dulu...Assalamu'alaikum..."


Tanpa menunggu jawaban Pras,Hans pun segera melesat menuju rumah kakeknya.


🌹🌹🌹


'Entah akan seperti apa tampang Mas Hans ketika mendengarkan bapak menyampaikan pesanku... Bukannya aku ingin mempermainkan dia,juga bukan karna aku tidak tau terimakasih. Tapi ucapan cewek itu...'


FLASHBACK


Demi menghindar dari Damar,siang itu Dira tampak berjalan buru-buru sampai-sampai dia tak memperhatikan jalannya. Dan...'bruk' Dira menabrak seorang cewek,walaupun keduanya nggak sampai jatuh tapi akibat dari tabrakan itu Dira dimaki-maki habis-habisan oleh cewek itu.


"Aduh maaf mbak saya nggak sengaja...mbak nggak papa kan?


"Maafkan saya mbak..."


Lagi-lagi hanya itu yang bisa Dira ucapkan sambil menahan malu di depan orang-orang.


"Mbak...mbak...udah berapa kali gue nggak suka lu panggil gue mbak..."


"Iya...maaf kak..."


"Nah...itu lebih baik. Gue mo ngomong sama lu...lu ikut gue sekarang...!" titah Jesica dengan congkaknya.


"Ikut ke mana kak?" tanya Dira bingung.


"Nggak usah banyak nanya...ikut aja..."


Jesica segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju cafe kebun dekat sebuah danau,jauh berada di pinggiran kota.


"Lu mau minum apa?"

__ADS_1


"Terserah kakak saja..."


"Racun tikus mau?"


"Kok Kak Jesica bilang gitu...sebenarnya apa sih maksud Kak Jesica mengajak saya ke sini? Kenapa harus di kafe yang jauh dari pusat kota,bukankah di pusat kota banyak kafe? Apa tujuan Kak Jesica sebenarnya mengajak saya ke sini?"


"Brisik amat sih lu...nih...jelasin foto-foto ini sama gue..."


Jesica melempar beberapa foto Hans dan Dira di berbagai kesempatan.


"Lu bilang lu nggak kenal dia tapi kenapa begitu banyak keintiman lu dengan Hans...Lu tertarik dengan Hans kan? Atau jangan-jangan elu udah mulai jatuh cinta dengannya?"


"Kak Jesica memata-matai saya?"


"Hei siapa elu sampai gue merendahkan harga diri gue buat mata-matain elu? Tentu saja Hans yang gue awasi,tapi ternyata yang selalu mendekati Hans seperti lalat adalah elu..."


"Kak Jesica salah faham...bukan aku yang mendekatinya tapi dia yang selalu muncul di hadapanku seperti hantu. Kalau Kak Jesica punya mata-mata,jangan hanya bisa ngasih foto tapi coba suruh cari bukti yang lebih akurat selain hanya lembaran foto..."


"Heh,gue ngajak lu ke sini itu buat jelasin itu foto,bukan untuk menggurui gue apalagi ngatur-ngatur gue..."


"Masalahnya kalo saya jelasin satu-satu soal foto ini,bakalan lama kak. Yang pasti bukan saya yang mendekat tapi cowok Kak Jesica yang selalu bikin saya risih. Asal Kak Jesica tau aja,dia sudah berulang kali melamar saya tapi saya menolaknya. Saya masih punya batasan untuk tidak merebut pacar orang,kecuali cowok itu sudah putus dengan pacarnya. Kalo Kak Jesica pingin tau lebih jelas,tanya aja deh sama cowok Kak Jesica itu,buang-buang waktu saya ajah...Permisi..."


"Eh tunggu...Gue anter lu pulang..."


"Nggak perlu...saya masih punya kaki untuk berjalan dan saya juga masih punya uang untuk ongkos naik taksi..."


Dira pun akhirnya pergi meninggalkan Jesica yang terbengong-bengong dengan keberanian Dira. Jesica tidak menyangka orang yang didekati Hans adalah seorang cewek yang cerdas dan tangguh.


FLASHBACK OFF


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2