
Hari masih pagi...Dira baru saja menyelesaikan sholat subuhnya, ketika terdengar sebuah ketukan pintu. Dira merapikan pakaian dan menyisir rambutnya sebentar baru menuju pintu depan
'Tok tok tok...' ketukan itu terdengar lagi tanpa diikuti dengan sebuah salam tapi seolah si tamu sudah tidak sabar, ingin segera dibukakan pintu.
"Astaghfirullah haladziim...iya...tunggu sebentar... siapa sih pagi-pagi udah bertamu... nggak sabaran amat sih..." ucap Dira .
'Cklek...' pintu di buka oleh Dira tanpa mengintip siapa tamunya terlebih dahulu dari jendela seperti biasanya.
"Dira..." panggil tamu itu yang tak lain adalah Hans. Hans telah sampai desa itu bersamaan dengan terdengarnya kumandang adzan subuh, maka dari itu dia pun memutuskan untuk mampir ke masjid terlebih dahulu untuk menjalankan ibadah sholat subuh sekalian menanyakan alamat tempat tinggal Dira yang ternyata di kenal oleh orang di desa itu dengan nama Nitha.
"Astaghfirullah haladziim..." Dira kembali menutup pintu lalu menyandarkan tubuhnya pada pintu.
"Dira... mas datang untuk bicara padamu... mas datang untuk memohon ampun padamu... Mas sadar begitu besar salah dan dosa mas padamu, mas ingin meminta maaf... tolong bukakan pintunya sayang, biarkan mas masuk. Kita harus bicara... ada banyak hal yang ingin mas bicarakan padamu... beri mas kesempatan untuk menjelaskan semuanya"
"Ini masih terlalu pagi untuk bertamu... pergilah dulu... ada beberapa rumah yang dijadikan homestay di sekitar sini..."
"Mas datang bukan untuk bertamu, mas datang untuk bertemu dengan istri dan anak mas..."
"Istri? Istri mas yang mana dan anak mas yang mana? Bukankah istri mas sudah berselingkuh hingga mengandung dengan laki-laki lain? Buat apa mas menemui istri yang tidak setia itu lagi? Dan anak mas... anak mas yang mana yang mas maksud? Pergilah...Bukankah mas sekarang sudah mempunyai kehidupan baru bersama dengan wanita dari masa lalu mas itu? Untuk apa mas masih mencari kami lagi? Atau... datang mencari kami itu hanyalah sebuah alasan, karena sebenarnya mas datang untuk memberikan surat talak untukku?"
"Astaghfirullah haladziim Dira...mas memang telah banyak melakukan kesalahan padamu dan mas menyesal akan hal itu tapi jangan pernah sekali-kali kamu bicara tentang perpisahan... Perlu kamu tahu, selama ini sedetikpun mas tidak pernah punya keinginan berpisah darimu... mas tidak sanggup kehilanganmu Dira, terlebih lagi jika harus kehilangan anak kita... Tolong bukakan pintunya sayang...beri mas kesempatan untuk menjelaskan semuanya..." ucap Hans memohon.
"Sedang bicara dengan siapa pagi-pagi neng? Apa ada tamu? Kalo ada tamu kenapa tidak dibukakan pintu?" tanya Bi Asih.
"Ini masih pagi untuk menerima tamu bi...apa kata tetangga jika kita menerima tamu pagi-pagi buta begini... tamunya itu yang nggak tau diri..." Dira mengusap sisa air mata di pipinya setelah itu tangannya kemudian mengunci kembali pintu depan lalu berjalan menuju ke kamarnya.
'Tok tok tok...' Hans kembali mengetuk pintu.
"Bi... Bi Asih... Assalamu'alaikum bi...ini saya bi...Hans... tolong bukakan pintunya bi... saya butuh bicara dengan Dira bi..." panggil Hans begitu mendengar suara seorang wanita yang memanggil Dira dengan sebutan neng.
"Wa'alaikumsalam... Astaghfirullah haladziim... apa itu Tuan Hans....?" tanya Bi Asih sambil membuka kunci pintu depan.
"Masya Allah... mari silahkan masuk tuan..."
__ADS_1
"Terimakasih bi..."
"Papa...?" panggil Hara yang langsung menghambur ke dalam pelukan Hans,. Hans pun menyambut Hara dan tidak hanya pelukan yang Hans berikan, tapi tangan kekarnya itu segera menggendong Hara sambil menciuminya berkali-kali.
"Haraaa..." teriak Dira yang keluar dari dalam kamar tidurnya. Netra Dira langsung melotot begitu melihat Hara sudah berada di dalam gendongan Hans dan tengah mengalungkan kedua tangannya di leher Hans.
"Hara sayang sama papa... Hara juga kangen sama papa... terimakasih papa beneran datang untuk Hara ya pa..."
"Iya sayang..." Hans pun membalas pelukan erat putranya. Sementara Dira hanya bisa menangis sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding rumah, melihat adegan yang terjadi di hadapannya juga ucapan bahagia putranya karena telah bertemu papanya. Bi Asih membelai kepala Dira untuk menenangkannya.
"Mama... papa beneran datang kan?" ucapnya seolah sedang meyakinkan mamanya jika papanya tidak bohong. Dira hanya mengangguk sambil mengusap sisa air matanya,agar putranya tidak melihat jika dia sedang menangis.
"Papa...papa jadi anter Hara sekolah kan?" tanya Hara.
"Iya...pasti sayang..."
"Kalo gitu sekarang Hara mandi sama nenek terus nanti kita sarapan bareng, baru sekolah di antar papa ya...?" bujuk Bi Asih.
"Yea...iya nek..." teriak Hara bahagia. "Papa tunggu Hara ya..." pesannya kepada sang papa.
"Kalian butuh bicara berdua, bijaklah dalam menyikapi masalah yang terjadi di antara kalian berdua. Apa pun keputusan kalian... Neng Dira dan Tuan Hans harus bisa mengutamakan dan memikirkan kebahagiaan Hara..." bisik Bi Asih kepada Dira yang kemudian langsung menggandeng Hara untuk memandikannya.
Suasana hening sejenak...Hans dan Dira keduanya berdiri mematung di tempatnya masing-masing. Hans menatap istrinya yang sedari tadi menunduk, bersandar pada dinding. Ingin rasanya Hans meraih tubuh istrinya dan memeluknya erat untuk mengobati rindunya, tapi dia sadar saat ini Dira masih dikuasai rasa kecewa bahkan mungkin rasa benci kepadanya.
"Silahkan duduk mas..." Dira akhirnya mempersilahkan suaminya duduk tanpa melihat ke arah suaminya.
"Terimakasih..." ucap Hans lirih. Netranya benar-benar tak bisa lepas dari wajah istrinya hingga membuat Dira salah tingkah.
'Lima tahun tidak bertemu, dia tidak banyak berubah... tetap cantik, hanya saja badannya terlihat lebih kurus...'
"Bisa nggak liatnya biasa saja..." ucap Dira ketus. Bukankah tersinggung dengan sambutan istrinya yang ketus, Hans justru tersenyum melihat istrinya terlihat salah tingkah oleh sikapnya.
"Apa kabarmu sayang? Mas kangen sekali padamu..."
__ADS_1
"Nggak usah pake sayang-sayang... Mas bisa liat sendiri kan, aku baik-baik saja..."
"Yah kamu memang terlihat baik-baik saja... masih tetap cantik, hanya saja kamu terlihat sedikit kurus..." Dira diam tak merespon ucapan suaminya.
'Mas juga masih tetap ganteng, walaupun badan mas juga terlihat lebih kurus...' jawab Dira dalam hati.
"Sayang...mas minta maaf...mas terlalu banyak salah padamu. Mas juga merasa berdosa besar, karena telah menelantarkanmu dan Hara anak kita." Dira masih diam membisu dengan kepala yang sedari tadi menunduk seolah enggan melihat suaminya. "Sayang kamu pasti saat ini benci sekali sama mas ya... Maafkan mas ya... kamu mau maafin mas kan?" Hans berjalan mendekati Dira dan berjongkok di depannya. Hans meraih kedua tangan Dira dan Dira pun tidak berusaha menolaknya. Dira tetap menunduk sampai tiba-tiba Dira tidak bisa lagi menahan air matanya. Dira menangis tanpa suara, hanya air matanya yang menetes membasahi tangannya dan tangan Hans yang sedang menggenggam tangannya.
"Sayang jangan menangis, bicaralah jangan diam saja... tampar wajah mas jika itu bisa membuatmu puas... pukul badan mas agar rasa sakit hatimu terlampiaskan...asal jangan menangis dan diam saja..." Hans mengarahkan tangan Dira agar menampar wajahnya dan memukul badan Hans, tapi Dira menarik tangannya.
Dira terus menangis terisak-isak sampai badannya bergetar...Hans segera menarik tubuh Dira ke dalam pelukannya.
"Kenapa mas sejahat ini sama Dira... kenapa mas nggak pernah percaya sama Dira...kenapa mas selalu menyakiti Dira... kenapa mas? Hiks hiks hiks..." Dira akhirnya bisa meluapkan emosinya sambil memukul-mukul dada Hans. "Mas tega menuduh Dira selingkuh padahal mas sendiri yang kembali bersama perempuan itu...Dira benci sama mas..." Dira tiba-tiba mendorong badan Hans agar menjauhi dirinya..
"Itu tidak benar sayang..." Hans berusaha meraih kembali tubuh Dira, tapi Dira segera menjauh. "Sayang,mas berani bersumpah demi Allah demi Rasulullah jika mas tidak pernah berselingkuh dengan siapapun, apalagi dengan Jessica. Mas akui jika saat itu mas begitu bodoh percaya dengan kata-katanya dan video editnya, tapi mas tidak pernah kembali menjalin hubungan dengannya... Bahkan mas langsung percaya padamu setelah mas melihat bukti-bukti yang kamu letakkan di depan apartemen mas di Malaysia waktu itu..."
"Bohong...! Jika mas tidak berselingkuh dengan wanita itu, kenapa setiap malam mas pergi dengannya bersenang-senang. Dan jika mas langsung kembali percaya sama Dira, kenapa mas tidak pernah mencari Dira?" teriak Dira emosi.
"Sayang pelankan suaramu... jangan sampai terdengar oleh Hara dan tetangga..." Hans mencoba mengingatkan Dira yang mulai lepas kendali karena amarahnya. Namun tiba-tiba Dira memegang dada kirinya, kemudian Dira pun jatuh pingsan.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...