
Setelah berpamitan dengan kayawan-karyawannya,Dira dengan wajah cerah terlihat begitu bahagia melangkah menuju mobil papanya. Sambil fokus menyetir,sekali-sekali Pras melirik putrinya yang tampak begitu bahagia di sampingnya. Pras merasa putrinya begitu imut hari ini.
'Melihatmu sebahagia ini,tegakah papa menyampaikan pinangan Pak Sasongko padamu sayang...?' gumamnya dalam hati.
"Papa,kita parkir di bawah pohon mangga itu saja..."
Pras mengangguk lalu memarkirkan mobilnya di bawah pohon mangga yang di tunjuk Dira tadi. Dari jauh terlihat Pak Karta tampak tergopoh-gopoh menyambangi Pras dan Dira.
"Assalamu'alaikum Pak Pras,apa kabar? Sepertinya sudah lama tidak berkunjung kemari...Ini kok tumben siang-siang..." sapa Pak Karta.
"Wa'alaikumsalam...Alhamdulillah kabar baik pak...Iya ini karna mendadak kepingin kesini sama putri saya...Oya,mana Pak Wira?"
"Ooo...Wira sedang ada pekerjaan pak...Eh,neng ini bukannya yang minggu lalu pingsan di makam Bu Dewi kan?" ucap Karta tiba-tiba.
"Eh iya pak..." jawab Dira lirih.
"Tapiii...bukannya neng ini putrinya Bu Ina dan Pak Tio yang waktu itu" ucap Karta heran. Sementara Dira hanya tersenyum canggung penuh arti.
"Pingsan? Bu Ina dan Pak Tio? Siapa mereka? Kok papa nggak tau apa-apa Dira..."
"Ceritanya panjang papa...nanti Dira ceritain sambil makan siang,sekarang kita ke makam mama dulu ya..." Dira mencoba mengalihkan pembicaraan. Otaknya berputar untuk bisa menceritakan kembali kejadian malam itu,tanpa menceritakan soal sesuatu yang terjadi antara dia dan Hans.
"Oke,papa tunggu penjelasanmu sayang...sekarang kita ke makam mama dulu..."
Dira mengangguk...lalu dengan di antar oleh Karta,mereka segera pergi ke makam Dewi. Sampai di makam,Pras pun langsung masuk dan duduk bersila di depan makam istrinya.
"Assalamu'alaikum ma...papa datang menjengukmu. Papa datang bersama putri cantik kita ma...papa kangeeen sekali sama mama. Maafin papa ya ma,karna selama mama mendampingi papa,papa belum pernah membahagiakan mama,papa belum bisa menjadi suami yang baik untuk mama. Papa justru pernah mengecewakan mama dan papa pun sering menyakiti hati mama..."
Pras tertunduk di depan makam istrinya,setelah mengucapkan kata-kata yang ingin diucapkan,dia pun mulai hikmat membacakan do'a-do'a untuk Almarhummah istrinya. Sementara Dira pun begitu khusyuk membacakan do'a-do'a untuk mamanya.
Selesai ke makam,Pras benar-benar mengajak Dira pergi ke sebuah resto favorite keluarga kecil mereka dulu.
Dua porsi steak,dua porsi kentang goreng dan dua gelas jus sirsak. Itu adalah menu favorite mereka karna sedari dulu,ayah dan anak ini memang selalu memesan menu yang sama.
FLASHBACK ON
"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Dewi kepada putrinya.
__ADS_1
"Papa,makan apa ma...?" tanya Dira kecil.
"Papa mau makan apapun itu asal yang dipilihkan mama..." jawab Pras sambil memegang tangan kanan Dewi dan memandang Dewi dengan mesra.
"Kalo gitu,Dira juga mau makan apapun itu asal yang dipilihkan mama juga..." Dira pun ikut-ikutan memegang tangan kiri mamanya dan memandang Dewi dengan wajah jenakanya,membuat Pras dan Dewi tertawa.
FLASHBACK OFF
Dira memandangi menu pesanan mereka yang telah terhidang di hadapan mereka.
"Mama..." gumamnya lirih yang masih terdengar oleh Pras. Mata Dira yang berkaca-kaca tak mampu menyembunyikan kesedihan dan kerinduan hatinya kepada mamanya.
"Mama akan selalu ada di hati kita dan tidak akan pernah tergantikan kedudukannya sayang...Makanlah mama pasti melihat kita sedang makan di sini sambil mengenangnya. Bukankah kita tadi sudah berpamitan padanya...?" Pras memegang tangan kanan Dira sambil mengusap dengan lembut.
"Makanlah sayang,ini adalah menu pilihan mamamu,dia pasti akan bahagia jika melihat kita masih memakan menu pilihannya. Ayo makan sebelum dingin,bukankah habis ini kamu masih mau makan ice cream kan?"
Dira mengangguk. Mendengar semua penuturan papanya,membuat Dira menjadi begitu semangat melahap hidangan didepannya. Dira ingin menikmati hari ini dengan kebahagiaan,dia sadar...mungkin saja saat-saat seperti ini tidak akan hadir lagi dalam hidupnya.
Selesai makan,mereka pun berjalan menuju sebuah taman yang terdapat danau buatan didalamnya. Gambaran hari ini,benar-benar seperti kebiasaan keluarga mereka sejak 20 tahun yang lalu. Sejak Dira berumur 2 tahun hingga 7 tahun.
"Kau mau kesana?" tanya Pras...Dira pun mengangguk sambil tersenyum gembira.
Dira menggandeng papanya dan mengayun-ayunkan tangan papanya seperti dulu. Begitu jarak mereka dengan ayunan sudah dekat,Dira pun berlari bak anak kecil yang sudah tak sabar ingin bermain ayunan.
"Dira...ice creammu mulai mencair,habiskan dulu baru main ayunan..." teriak Pras.
"Papa suapin dong..." teriak Dira manja.
Sejenak Pras terdiam,tidak hanya kejadian-kejadian hari ini yang mirip dengan 15 tahun yang lalu tapi dialog antara mereka pun sama persis seperti waktu itu,saat-saat terakhir mereka bertiga datang ke tempat itu. Pras melirik bangku taman disebelahnya...'Akh ini bukan mimpi...ini memang nyata adanya,karna tak ada Dewi di sana dengan senyum manisnya melihat kemanjaan putri kami padaku...'
"Papa inget mama ya...?" tanya Dira yang mengejutkan papanya. Dira sengaja mendekat diam-diam ketika melihat papanya bengong memandangi bangku taman.
"Eh ini ice creammu,sudah hampir cair..." ucap Pras yang dikejutkan oleh kehadiran Dira yang tiba-tiba sudah berada disampingnya.
"Kita duduk di bangku itu yuk pa...papa kelihatannya sudah capek..." Dira menuntun papanya menuju bangku taman.
"Papa sudah kelihatan tua ya Dir...? Mengejar kamu jalan saja sudah ngos-ngosan,apalagi nanti jika main kejar-kejaran sama cucu ya..." gerutu Pras.
__ADS_1
"Aah...papa belum tua...50 tahun aja belum genap..." hibur Dira.
"Tapi papa sudah pantas punya cucu...akhir tahun ini papa 50 tahun lho...nggak kerasa udah setengah abad...Kapan kamu kasih papa cucu Dir?"
"Idih papa,nikah aja belom udah nanyain cucu..."
"Oya bagaimana hubunganmu dengan Damar,kenapa beberapa kali papa justru melihat Damar mengantar dan menjemput Angel sekolah,waktu kamu sedang tidur di rumah Sila. Ketika papa bertanya pada mamimu,mamimu bilang Damar menjemput Angel atas ijinmu,biar Angel bisa lebih akrab sama calon kakak iparnya yaitu Damar. Apa benar itu?"
Dira tertunduk diam.
"Sayang kenapa diam? Oya,kamu juga hutang penjelasan pada papa tentang apa yang di bilang Pak Karta tadi...Ada apa denganmu? Kenapa kamu bisa pingsan di makam mamamu,dan siapa Ina dan Tio itu? Apakah Ina itu,Ina sahabat mamamu dan Tio itu suaminya? Kalo iya,bagaimana kamu bisa kenal mereka?"
Sejenak Dira masih khusyuk dalam diamnya lalu Dira pun menarik nafas pelan untuk menenangkan hatinya.
"Sayang...papa butuh penjelasanmu...."
"Paaa,bisa nggak tanyanya satu-satu? Dira bingung mau jawab yang mana dulu..."
"Oke,jawablah satu per satu dan pelan-pelan saja...papa akan mendengarkan ceritamu dengan sabar,mulailah..."
Dira pun mulai menceritakan semuanya,termasuk sepenggal cerita di malam itu,tapi tentu saja tidak semuanya karna Dira belum siap jika harus menceritakan kejadian yang terjadi antara dirinya dan Hans. Pras pun mendengarkan dengan seksama.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1