
Hans masuk ke kamar membawa nampan berisi sarapan untuk istrinya yang lagi ngambek. Dia sudah pamit kepada Alex akan terlambat datang. Dilihatnya Dira sudah berganti baju dan sedang duduk di tempat tidur sambil membaca novel online dari ponselnya. Dia tau suaminya masuk kamar tapi karna sedang ngambek, maka Dira tidak menghiraukannya.
"Sayang... kenapa nggak kembali turun untuk sarapan?"
"Nanti saja, Dira belum lapar..."
"Kamu marah sama mas?" Dira menggeleng.
"Kalo tidak marah ya makan sekarang... ada adiknya Hara di sini, kasian... dia juga butuh makan" Hans mengusap perut Dira yang masih datar, Dira masih tak berkeming samai kemudian Hara masuk kamar mereka yang memang pintunya tidak di tutup.
"Maa..."
"Hei.,. iya sayang..." Dira meletakkan ponselnya.
"Mama jangan marah lagi... Hara nggak akan rewel lagi kok. Kan Hara mau jadi kakak..."
"Hara sudah tau?" Dira melirik suaminya dan Hans pun mengangguk sambil tersenyum.
"Iya... papa yang kasih tau. Maafin kakak ya ma..."
"Iya sayang..." Dira memeluk putranya.
"Sekarang mama makan ya... kakak mau berangkat sekolah" Dira mengangguk sambil berkaca-kaca karena terharu. Hara kemudian mengusap penuh kasih, lalu mencium perut mamanya. "Dedek jaga mama ya... jangan nakal dan jangan ngrepotin mama, kakak mau berangkat sekolah dulu sama Aunty Hanna..." Melihat tingkah Hara, Dira tak lagi sanggup membendung air matanya.
"Mama jangan nangis... kakak bolehin mama ikut ke kantor papa kok, tapi mama makan dulu ya..." Hara mengusap air mata di pipi mamanya lalu mencium mamanya. "Assalamu'alaikum... kakak berangkat sekolah dulu ya ma... pa..." ucap Hara sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Wa'alaikumsalam... kakak hati-hati..." pesan Dira kepada putranya dan Hara pun menjawab dengan anggukan kecil sambil tersenyum.
"Sekarang kita makan terus berangkat ke kantor..." Dira mengangguk sambil tersenyum tapi air matanya tidak berhenti mengalir. "Jangan menangis sayang... ayo buka mulutmu..." Dira mengusap air matanya sementara Hans menyuapkan sarapan kepada Dira dengan telaten sampai nasi di piring ludes.
🌹🌹🌹
Suasana kantor heboh melihat boss mereka datang dengan menggandeng seorang wanita cantik. Karena memang selama ini mereka tidak pernah melihat Hans datang ke kantor bersama seorang wanita. Mereka tau jika Hans pernah menikah tapi setau mereka, istri Hans sudah meninggalkan Hans lima tahun yang lalu dan belum kembali hingga sekarang. Jadi melihat pemandangan pagi ini terasa sangat aneh bagi mereka, apalagi bagi para pemuja boss mereka, melihat Hans berjalan mesra dengan seorang wanita cantik tentunya membuat mereka merasa patah hati. Tidak ada seorang pun tau jika orang yang bersama Hans kali ini adalah Dira istri tercintanya, karena wajah istri Hans pun belum ada yang tau, kecuali Desi sekertaris Hans. Maklum saja karena waktu itu, mereka menikah secara diam-diam dan Dira pun tidak mau diperkenalkan oleh Hans kepada semua orang.
Hans melangkah menuju lift pribadinya dengan tanpa melepas tangan Dira, sementara Dira pun seolah tak pernah jauh dari suaminya. Tak ada satu karyawan pun yang berani menyapa bossnya itu, mereka hanya bisa menunduk untuk memberi hormat ketika Hans melewatinya. Dira yang baru pertama kali datang ke kantor suaminya pun sampai heran melihatnya, karena setau Dira... selama dia mengenal Hans lewat cerita Sila, Hans adalah sosok seorang CEO yang berbeda dengan CEO-CEO kebanyakan yang selalu bersikap dingin kepada karyawan-karyawannya. Tapi apa yang dia hadapi saat ini sangat bertolak belakang dengan cerita Sila dahulu. Dira tidak pernah tau, jika perubahan sikap Hans adalah semenjak dia meninggalkan suaminya itu yaitu semenjak lima tahun yang lalu.
Hans mengerutkan dahinya ketika sampai di depan ruangannya dan tidak mendapati Feli di meja kerjanya.
"Masuklah dulu sayang, istirahat dulu di dalam mas mau ke ruangan Alex sebentar... ini meja sekertaris kok kosong..." Dira pun mengangguk patuh.
"Iya... tapi jangan lama-lama ya mas..."
__ADS_1
"Iyaaa... masuklah..." Hans mencium kening istrinya, lalu melangkah ke ruangan Alex.
"Lex..." panggil Hans sambil membuka pintu.
"Hai boss... katanya mau berangkat siangan..."
"Nggak jadi... adikmu tercinta ngambek tadi tapi setelah aku luncurkan rayuan mautku... lumer deh dia..."
"Halah gue yakin, yang betul itu pasti lu yang memohon-mohon, bukannya lu itu suami-suami takut istri? Ha ha ha..."
"Br*******k lu... Eh itu si Feli kemana jam segini belum juga datang? Nggak profesional banget sih..."
"Tadi dia memang ijin terlambat sama gue, katanya ada perlu sebentar..." ucap Alex sambil membereskan berkas-berkas untuk rapat kerja pagi ini. "O iya, karena lu nggak jadi masuk siang,jadi lu yang pimpin rapat kali ini ya... Feli biar diwakili sama Arum sekertaris gue aja..."
"Hmm oke, lu siapin semua berkas dan kasih tau Arum tugasnya di rapat nanti. Aku ke ruanganku sebentar buat ijin Dira dulu..."
"Lho emang Dira di sini?"
"Iya, ada di ruanganku..."
"Gue ikut ke ruangan lu kalo gitu, gue mo ngasih selamat ke adik gue..." Alex pun segera mensejajarkan langkahnya dengan langkah Hans.
"Ngasih kok cuman selamat...kasih kado dong..."
"Hmm..."
"Dira..."
"Kak Alex..." Dira menghambur ke pelukan Alex. Hubungan Dira dan Alex memang layaknya kakak adik kandung, apalagi setelah tau bahwa Mama Ina mertua Alex adalah sahabat Mama Dewi mamanya Dira, maka tali kekeluargaan di antara mereka semakin erat.
"Sayang... pelukannya jangan lama-lama dong..." protes Hans sambil berusaha melepaskan pelukan Dira dan Alex.
"Selamat ya Dir..." Alex tak menghiraukan ucapan dan tindakan Hans, dia justru mengusap kepala Dira layaknya seorang kakak kepada adiknya.
"Terimakasih kak..." Dira melepaskan pelukannya karena dia sudah melihat suaminya cemberut. Hans pun langsung menarik Dira menjauh dari Alex, kemudian mencium bibir Dira di depan Alex.
"Dasar boss gila... boss mesum, main nyosor aja... lu pikir gue di sini hanya sekedar mannequin?" protes Alex.
"Bodo... salah sendiri kamu peluk-peluk istriku lama banget..."
"E busyet... lu cemburu ma gue? Dira itu adik gue dodol..."
__ADS_1
"Biarin... Eh jangan lupa tu kadonya...jangan ngaku kakak tapi cuma ngasih selamat doang..."
"Iye... cerewet amat sih lu... boss kok ribut aja minta kado, kayak orang miskin aja..." gerutu Alex.
"Heh ini buat Dira adikmu dan cslon keponakanmu... perhitungan amat sih.."
"Iye-iye... pan gue udah bilang iye..." Melihat suami dan kakak angkatnya bertengkar, Dira justru terkekeh sendiri.
"Oya sayang, kamu tunggu di sini sebentar ya... mas mau rapat dulu. Tar kalo capek,kamu bisa istirahat di kamar itu" Hans menunjuk ke arah sebuah pintu yang sekilas terlihat seperti dinding penyekat.
"Tapi bener jangan lama-lama ya... Dira nggak bisa jauh-jauh dari mas..." bisik Dira di telinga Hans karena takut terdengar oleh telinga Alex.
"Iya... nanti kalo lapar delivery order aja ya..." Dira pun mengangguk patuh.
Sepeninggal Hans dan Alex, Dira pun duduk di sofa dengan menaikkan kedua kakinya yang terasa pegal. Tiba-tiba pintu ruang kerja Hans di buka seseorang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kak Hans..." panggil seseorang itu yang ternyata seorang wanita yang cantik yang berpakaian sangat seksi. Kemeja warna pink dengan membiarkan beberapa kancing atasnya terlepas, sehingga terlihat jelas belahan dadanya yang sangat montok dengan memakai bawahan rok span panjang di bawah lutut tapi dengan belahan di kiri kanannya yang sampai sepuluh senti dari lututnya.
Dira terbengong-bengong melihat penampilan wanita cantik yang kini berada di depannya. Begitu pun wanita cantik itu, yang tidak menyangka jika ada seorang wanita di dalam ruang kerja bossnya.
"Eh lu siapa? Kok bisa masuk di ruang kerja Kak Hans... Kak Hans nya mana?" tanya wanita itu.
"Sa... saya..." belum sampai Dira memperkenalkan dirinya, wanita cantik itu sudah memotong ucapan Dira.
"Aakh gue tau... lu pasti adiknya Kak Hans ya... kenalin gue sekertaris Kak Hans... Nama gue Felisha, lu bisa panggil gue Feli atau Kak Feli juga boleh, sebab sepertinya gue lebih tua dari lu dan mungkin juga, sebentar lagi gue akan menjadi kakak ipar lu...he he he..." Feli terkekeh geli sambil mengulurkan tangan kanannya yang kemudian disambut oleh Dira sambil tersenyum...
" Dira..." ucap Dira datar. Dalam hatinya sudah mulai tersulut api cemburu tapi dia coba menahan demi mengetahui sejauh mana wanita ini berhubungan dengan suaminya. Sebatas boss dan sekertarinya atau ada hubungan lebih, mengingat ucapan Feli yang begitu yakin akan menjadi penggantinya sebagai istrinya Hans.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...