
Desa tempat rumah Bi Asih berada memang sangat terpencil, semua peradabannya masih begitu sederhana, namun demikian Dira merasa sangat nyaman tinggal di sana.
"Wah Budhe Asih...kapan datang? Gimana kabarnya.,.lama sekali kita nggak ketemu ya..." tanya penjual sayur yang berhenti di depan rumah Bi Asih.
"Walah Ton,awet tenan (bener) kamu dagang sayur... Alhamdulillah budhe baik-baik saja... Budhe datang sudah seminggu lebih,tapi kok baru sekarang ketemu kamu. Tak kirain udah ngga jualan..." kata Bi Asih.
"Saya memang habis libur jualan lama...istri saya melahirkan anak kedua..."
"Walah syukur Alhamdulillah... Selamat ya Ton, anakmu sekarang sudah dua ..."
"Injih (iya) budhe maturnuwun (terimakasih)..."
Lagi asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba Dira setengah berlari mendekati Bi Asih dan Tono dengan netra yang fokus pada sebuah kantong plastik yang menggantung di gerobak bagian samping.
"Bi Asih...Nitha mau ini..." rengek Dira sambil langsung memegang bungkusan berisi buah anggur hijau itu dan tidak mau melepaskannya. Nitha adalah nama panggilan baru Dira sejak mereka laporan ke rumah Pak RT beberapa hari yang lalu... sepertinya dia memang benar-benar ingin berusaha menghapus jejak hidup perihnya bersama Hans.
"Waduh maaf ya mbak, ini anggur hijau pesanan dokter Haris... saya tidak bisa menjualnya pada orang lain..." ucap Tono.
"Tapi saya pingin sekali anggur ini... Bi Asih... Nitha pingin ini..."rengek Dira lagi bak anak kecil yang tengah menginginkan sesuatu. Matanya berkaca-kaca seperti akan menangis sementara tangannya tidak mau lepas dari kantong plastik berisi anggur itu.
"Eh Ton,bisa nggak ya kalo anggurnya aku beli dulu,besok kamu bawa lagi buat Pak dokter Haris?" bujuk Bi Asih "Soalnya Neng Nitha ini sedang mengandung jadi kemungkinan saat ini Neng Nitha sedang ngidam..." bisik Bi Asih kepada Tono agar tidak terdengar oleh Dira
"Bagaimana kalo yang buat Neng Nitha besok saya bawakan lagi...tapi bukan yang sekarang? Soalnya dokter Haris sudah lama pesan, saya nggak enak banget kalo pesanannya sampai saya jual sama orang lain..." jelas Tono.
"Gimana neng?" tanya
"Nitha maunya sekarang...hiks hiks hiks... tapi kalo nggak boleh ya sudah,lebih baik nggak usah aja..." ucap Dira sambil melepaskan genggaman tangannya dari tas plastik itu lalu sambil mengusap air matanya, Dira pun pergi meninggalkan Bi Asih dan tukang sayur itu. Tapi belum lagi jauh Dira melangkah, sebuah suara laki-laki menghentikan langkahnya.
"Ambil saja anggur itu buatmu..." Dira menoleh ke belakang ke arah sumber suara itu.
"Serius,..???" tanya Dira dengan mata yang berbinar indah. Membuat laki-laki yang punya suara tenor itu takjub melihat kedua bola mata indah milik Dira.
__ADS_1
"Ini beneran boleh saya beli?"
"Iya...tapi nggak usah beli,ambil saja buat kamu..." Laki-laki yang tidak lain adalah dokter Haris itupun mengangguk sambil tersenyum.
"Terimakasih tapi nggak boleh gitu dong... nanti biar Bi Asih yang bayar... Ya kan bi?" tanya Dira
"Iya..." jawab Bi Asih.
"Akh tidak usah... anggap saja ini hadiah perkenalan dari saya.... perkenalkan nama saya Haris Pratama..." Dokter muda itupun mengulurkan tangan kanannya.
"Nitha..." jawab Dira singkat sambil menyambut uluran tangan dokter Haris.
Dan setelah berkenalan,Dira pun dengan cueknya kembali fokus pada anggur hijau yang telah didapatnya tadi. Dira terlihat begitu senang ketika apa yang dia inginkan sejak kemarin, sudah didapatkannya. Dengan segera tangan cantiknya pun memetik sebuah anggur dan langsung akan memakan buah anggur itu.
"Eee... jangan langsung di makan dong,buah itu kan masih kotor. Cuci dulu dengan air putih biasa atau air mineral... kasian baby mu jika nanti bakteri dalam buah itu ikut termakan olehnya..."
"He he he...iya ya, maaf saya lupa dok,..saking senangnya dapet buah ini,saya jadi lupa kalau buah ini yang makan bukan cuma saya saja..." ucap Dira sambil nyengir kuda.
"Neng, saya sudah selesai belanjanya,ayo kita masuk...biar buahnya juga bisa di cuci di rumah..." ucap Bi Asih. "Oya pak dokter...mari silahkan mampir, ngobrolnya dilanjutkan di rumah kami. Mumpung hari libur..." ucap Bi Asih lagi sambil mempersilahkan dokter Haris.
Hari demi hari, dokter Haris terlihat semakin akrab dengan Dira. Penampilan Dira dengan perutnya yang sudah mulai membuncit pun, tidak membuat dokter Haris malu berjalan dengan Dira. Bahkan tak jarang dokter Haris pun mau meluangkan waktu untuk sekedar menemani Dira jalan-jalan menghirup udara segar di pagi hari. Bi Asih sebenarnya sedikit khawatir melihat keakraban mereka, karena tetangga-tetangganya pun sudah mulai bergunjing melihat pertemanan yang terjalin di antara Dira dan dokter Haris. Hal itu pun ternyata juga disadari oleh Dira, gunjingan-gunjingan tetangga yang hanya berprasangka tanpa tau yang sebenarnya itu membuat Dira menjadi merasa sedih....
"Bi Asih...sini deh" panggil Dira di suatu sore.
"Iya neng..." Bi Asih yang baru saja selesai menyapu lantai pun segera berjalan mendekati majikannya itu.
"Semua pekerjaan Bi Asih sudah beres kan? Nitha pingin tiduran di pangkuan Bi Asih..." Bi Asih menganggukkan kepalanya dan dengan senyum yang terlukis di wajah senjanya Bi Asih pun kemudian duduk di kursi panjang tepat Dira berada.
"Neng Dira...eh Neng Nitha kangen mama? Neng Nitha sedang sedih ya..." tanya Bi Asih dengan nada lembut. Dia hafal betul kebiasaan majikannya itu,karna semenjak di tinggal mamanya pergi untuk selama-lamanya,Dira selalu bermanja-manja padanya sebagai pengganti mamanya.
Dira mengangguk lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Bi Asih.
__ADS_1
"Bi..."
"Ada apa neng...?" tanya Bi Asih sambil membelai rambut Dira yang hitam dan panjang.
"Maafin Nitha ya..."
"Maaf kenapa? Memangnya Neng Nitha salah apa ke Bi Asih? Tidak ada yang harus dimaafkan..."
"Nitha banyak nyusahin Bi Asih, Nitha bikin Bi Asih malu dan jadi gunjingan tetangga..."
"Jangan bicara begitu neng... Selama ini keluarga Neng Nitha juga sudah banyak bantu Bi Asih. Bahkan kehadiran Neng Nitha di sini justru merupakan anugerah terindah bagi Bi Asih di usia Bi Asih yang sudah mulai renta ini. Jika anda suara sumbang di luar sana, diamkan saja... jangan didengarkan. Itu hanya omongan orang iri saja... Bi Asih tau,hati Neng Nitha tidak akan berpaling pada siapapun...Bi Asih tau,hati Neng Nitha hanya untuk Tuan Hans. Oya neng... maaf... apakah Neng Nitha tidak bermaksud pulang lagi ke Jakarta? Apa neng tidak ingin melahirkan ditemani oleh Tuan Hans? Bi Asih yakin Tuan Hans pasti ingin bertemu dengan Neng Nitha..."
"Kalau dia pingin ketemu,dia pasti akan cari tau keberadaan Nitha saat ini. Bi Asih lihat sendiri? Sampai Nitha hampir melahirkan pun,dia tidak mencari keberadaan Nitha... Sekarang menurut Bi Asih,apa yang pantas Nitha harapkan dari seorang Hans Hendra Saputra? Bukankah Bi Asih juga tau...dia menolak kehadiran anak ini, dia tidak percaya bahwa anak ini adalah anaknya. Dan ketika Nitha menyusul dia ke Malaysia, ternyata dia sudah nyaman bersama wanita lain yang merupakan mantan pacarnya. Dia sudah melupakan Nitha bi, jadi untuk apa Nitha harus mengingat-ingat dia lagi?"
Air mata Dira pun meleleh tanpa permisi, membuat Bi Asih merasa bersalah karena telah menanyakan tentang Hans pada Dira. Padahal dia tau,saat ini hati kecil Dira pasti ingin bertemu dengan suaminya,tapi dengan semua yang telah terjadi pasti sangat membuat hatinya bersedih.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Mohon maaf jika slow up date ya...
Terimakasih untuk para Reader yang telah setia menanti kelanjutan cerita Author...🙏🙏🙏