Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Kembali Ke Ibukota


__ADS_3

Seminggu pun berlalu, Dira sudah menyelesaikan tanggung jawab pekerjaannya dan telah menyerahkannya kepada Sekar. Sekolah Hara pun sudah resmi dipindahkan ke ibukota dan kembali satu sekolahan dengan Erik. Lho kok bisa...?!


Ya bisa dong... !! Sebab ternyata ujung dari pembicaraan mereka kemarin, pada akhirnya Hans bersedia membantu kesulitan yang tengah dihadapi oleh Jessica, yang tentunya atas persetujuan Dira. Hans dan Dira membantu Jessica dengan alasan kemanusiaan karena mereka tidak tega melihat masa depan Erik yang tidak jelas, apalagi melihat penderitaan anak kecil itu yang selama ini selalu dijadikan pelampiasan amarah Darma. Dan dikarenakan kedua orang tua Jessica sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, serta rumah orang tua Jessica sudah di sita oleh bank maka Dira pun menawarkan untuk tinggal sementara di rumahnya.


"Iiih... serius berangkat Jakarta sekarang?" tanya Hanna pagi itu.


"Iya... memang kenapa?"


"Yaaa... setidaknya tunda sampai aku selesai KKN di sini kek, jadi kita kan bisa pulang bareng... Hanna kan pingin menikmati kebersamaan Hanna dengan Kak Dira dan Hara kak..." rengek Hanna kl ketika Hans berpamitan padanya.


"Hmm... lalu menurutmu kakak harus bagaimana?" tanya Hans sambil bersedekap dengan sorot mata yang mengintimidasi membuat Hanna menjadi gugup dan salah tingkah.


"Ya.... ya itu tadi...Kak Hans harus... harus ngijinin Kak Dira tinggal di sini sampai aku selesai menjalani KKN..."


"Enak aja... emang aku nggak punya pekerjaan lain harus nungguin kamu?"


"Kakak kan bisa pulang duluan..." jawab Hanna tanpa dosa.


"Enak aja...dia punyaku bukan punyamu, jadi dia harus ikut aku pulang ke ibukota... Lagian kamu ini di sini kegiatannya juga banyak kan? Udah deh... lebih baik sekarang buru mandi aja sana, terus kita segera sarapan..." ucap Hans sambil menyambar pinggang Dira yang sedari tadi sibuk menata makanan di meja makan untuk sarapan. Hingga membuat Dira jatuh di pangkuannya.


"Ish apaan sih mas... ada banyak orang juga..." ucap Dira yang merasa sungkan karena perlakuan Hans di depan orang lain, terutama di depan Jessica yang diam-diam sedari tadi memperhatikan mereka. Sementara Bi Asih justru tersenyum bahagia melihat kelakuan jahil Hans kepada Dira.


"Biarin... kamu kan memang punyaku dan hanya punyaku..." ucap Hans sambil mencium punggung istrinya, menghirup aroma tubuh Dira yang selama lima tahun tidak pernah dirasakannya. Dira menggeliat sungkan dengan keusilan suaminya itu, sementara Hans tidak pernah memperdulikan apa pun, termasuk pandangan Jessica yang penuh dengan rasa cemburu. Baginya Dira dan Hara adalah hidupnya...hari ini... esok dan nanti sampai maut memisahkan.


🌹🌹🌹


Sekitar pukul tujuh malam, bersamaan dengan kumandang adzan Isya, mobil Hans memasuki halaman rumahnya. Dan ternyata Alex juga Sila sudah menunggu kedatangan mereka. Dira sudah nggak sabar ingin menghampiri Sila tapi ketika dia hendak keluar mobil, Hans menahannya.


"Tunggu...aku bantu..." ucap Hans sambil membukakan sabuk pengaman dan pintu mobil.


"Ih dasar lebay...aku kan bisa sendiri maaaasss, tapi... terimakasih ya sayang..." Dira mengusap wajah suaminya. Hans pun mengangguk senang diperlakukan Dira seperti itu, karena selama ini Dira memang belum pernah memperlakukan suaminya seperti itu. Seperdetik kemudian Dira pun turun dan langsung menghambur ke pelukan Sila.


"Kangeeen..." ucap mereka berdua bak tingkah anak SMA, membuat semua yang melihat pun hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Anak lu mana?" tanya Sila.


"Astaghfirullah... gue lupa kalo udah punya anak...he he he..."


"Nah loh..."


"Eh itu dia di gendong Mas Hans..."


Hans menggendong Hara dan diikuti oleh Bi Asih dibelakangnya, membawakan tas cangklong milik Hans dan Dira. Sementara beberapa ART Hans mengambil koper-koper milik majikannya lalu membawanya ke dalam rumah.


"Jam segini udah tidur dia?"

__ADS_1


"Kecapean di jalan kali..."


"Eh tunggu... cewek itu bukannya..." tanya Sila menggantung karena sambil mengingat-ingat nama seseorang. Dira pun menganggukkan kepalanya.


"Iya... dia Jessica, mantan pacar Mas Hans dulu..."


"Kok..."


"Ceritanya panjang, tar gue pasti cerita ke elu..."


"Harus! Kalo anak kecil yang bersamanya itu? Jangan bilang itu anak Kak Hans dengan dia..."


"Hush sembarangan... itu anak dia sama suaminya lah...ngaco aja..."


"Kirain... udah mo ngamuk aja gue liatnya...he he he he..."


Di saat mereka sedang mengobrol...Hans memanggil Dira...


"Sayang, tolong antar Jessica dan Erik ke kamar tidur tamu, mungkin mau bersih-bersih dan istirahat dulu, sambil nunggu makan malam... aku mau tidurin Hara ke kamarnya dulu..."


"Iya mas..." ucap Dira patuh..."Lu tunggu sebentar ya... gue tar sekalian mandi, jadi jangan kemana-mana..."


"Oke siap... gue tunggu, tapi jangan lama-lama..."


"Iya...iya... bawel..." Dira segera mendekati Jessica..."Mari aku antar kak..." ucap Dira.


"Lu serius mo bantu Jessica?" tanya Alex bingung dengan sikap sahabatnya.


"Awalnya aku ragu, tapi justru Dira yang meyakinkanku untuk mau menolong Jessica... Mendengar cerita Jessica, Dira jadi merasa iba..." jelas Hans.


"Iba kepada Jessica? Come on... lu kan tau gimana liciknya dia... Jangan sampai kebaikan adik angkat gue dia manfaatin untuk merebut elu dari Dira..."


"Ngaco...emang aku barang... yang bisa direbutin? Lagian Dira itu iba sama masa depan Erik... dan kamu nggak usah kuatir bro... hatiku sudah di kunci hanya untuk satu wanita yaitu Andira Zanitha Prasetya... tidak akan ada nama lain..."


"Semoga gue bisa percaya omongan elu... Gue hanya nggak mau kejadian lima tahun lalu terjadi lagi..." ucap Alex serius...


"InsyaAllah aku akan jaga amanah mu buat jaga adik angkat kesayanganmu itu..."


"Tapi bro..."


"Apalagi? Kamu masih ragu sama aku?"


"Bukan...bukan masalah itu... tapi... apa harus ya Jessica tinggal di rumah elu? Terus mau sampe kapan?"


"Nah... itu juga yang dari tadi pingin Sila tanya tuh..." Sila pun langsung ikut duduk di samping kakaknya.

__ADS_1


"Idih ni anak... nyamber aja kaya petir, bikin kaget aja..." ucap Hans.


"He he he...sori... sori..." Sila pun hanya bisa nyengir kuda.


"Nah tu dia... yang memutuskan hal itu adalah Nyonya Hans dan lagi-lagi alasannya karna Erik anak Jessica..." Hans pun akhirnya menceritakan semua pembicaraan yang terjadi antara dia,Dira dan Jessica. Pada intinya tujuan Dira menolong Jessica adalah untuk menyelamatkan masa depan Erik semata.


"Dira memang sangat baik dan selalu peduli dengan orang lain... walaupun orang itu sudah pernah menyakitinya... Yah semoga Jessica cukup tau diri untuk tidak menyalah gunakan kebaikan Dira..." ucap Alex yang terkagum-kagum dengan kepribadian Dira.


"Aduh... telingaku kok berdengung ya... kalian sedang ngomongin Dira ya...?" ucap Dira yang sudah terlihat segar karena habis mandi.


"Idih ni anak... dasar... ke-GR-an amat sih lu..." cibir Sila. Dira pun membalas dengan menjulurkan lidahnya.


"Eh sini sayang...kamu duduk sini dulu, gantiin mas yang sedang di sidang sama mereka dari tadi. Mas mau mandi dulu..." ucap Hans yang langsung ngeloyor pergi ke kamarnya.


Obrolan seputar keputusan mereka yang berniat membantu masalah yang tengah membelit Jessica pun, dilanjutkan.


"Dek, lu yakin dengan keputusan lu buat ngebantu Jessica?" tanya Alex kepada Dira.


"InsyaAllah kak... yang penting niat Dira tulus mau menolong demi Erik putra Kak Jessica. Anak sekecil itu sudah mengalami begitu banyak cobaan... kasian kalo dia sampai tidak punya masa depan... Tapi Dira sudah bilang ke Mas Hans untuk menyerahkan kasus ini pada pengacara perusahaan saja. Dira nggak bolehin Mas Hans ikut terlibat langsung dalam masalah ini..." jelas Dira.


"Good girl... I love you...muach... muach..." teriak Sila terkagum-kagum dengan pemikiran sahabatnya.


"Baiklah kalo memang begitu yang lu mau, kakak bisa bilang apa... Kakak hanya bisa berdo'a semoga semuanya berjalan sesuai keinginan lu. Kakak akan coba bantu lu dengan memantau sekaligus mengingatkan suami lu jika melanggar keinginan lu...."


"Terimakasih kak... Dira selalu aja ngerepotin kakak..."


"Sama-sama... lu juga kan adik kakak...apa yang kakak lakukan hanyalah kewajiban seorang kakak kepada adiknya..."


Obrolan mereka terhenti setelah Bi Asih mengatakan jika makan malam sudah siap. Mereka pun kemudian segera menuju meja makan, Jessica dan Erik pun sudah di minta turun oleh Bi Asih. Sementara Hans turun sambil menggendong jagoannya yang tampak masih ngantuk.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Hei...hei... terimakasih masih setia menunggu kelanjutan cerita Author...


Semoga terhibur yaaa....😘😘😘


__ADS_2